Waktu Mengacungkan Jari Telunjuk untuk Isyarat Saat Tasyahud Shalat Sesuai Sunnah

Saat membaca doa tasyahud baik dalam duduk tasyahud awal maupun akhir, disunnahkan jari telunjuk diisyaratkan ke arah kiblat. Berdasarakan beberapa riwayat diketahui ada dua cara berisyarat dengan tangan kanan ketika tasyahud.

Pertama, menggenggam semua jari kecuali jari telunjuk yang mengarah ke kiblat, sebagaimana dalam hadis dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:

كان إذا جلَس في الصلاةِ ، وضَع كفَّه اليُمنى على فخِذِه اليُمنى . وقبَض أصابعَه كلَّها . وأشار بإصبَعِه التي تلي الإبهامَ . ووضَع كفَّه اليُسرى على فخِذِه اليُسرى

“Jika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam duduk (tasyahud), beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas pahanya yang kanan. Kemudian menggenggam semua jari tangan kanannya, kemudian berisyarat dengan jari telunjuk yang ada di sebelah jempol. Dan beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri.” (HR. Muslim no. 580)

Kedua, menggenggam jari kelingking dan jari manis, jari tengah dan jempol membentuk lingkaran, dan jari telunjuk berisyarat ke kiblat. Hal ini didasarkan pada riwayat hadits dari Wail bin Hujr radhiallahu’anhu, ia berkata:

ثمَّ قعدَ وافترشَ رجلَهُ اليسرى ووضعَ كفِّهِ اليُسرى على فخذِهِ ورُكبتِهِ اليُسرى وجعلَ حدَّ مرفقِهِ الأيمنِ على فخذِهِ اليُمنى ثمَّ قبضَ اثنتينِ من أصابعِهِ وحلَّقَ حلقةً ثمَّ رفعَ إصبعَهُ

“kemudian beliau duduk dan membentangkan kaki kirinya. Beliau meletakkan tangan kiri di atas paha dan lutut kirinya. Dan memposisikan siku kanannya di atas paha kanannya. Kemudian beliau menggenggam dua jarinya (kelingking dan jari manis), dan membentuk lingkaran dengan dua jarinya (jempol dan jari tengah) dan berisyarat dengan jari telunjuknya.” (HR. An Nasai no. 888)

Saat duduk tasyahud disunnahkan pandangan mata ditujukan ke arah jari telunjuk. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu:

وأشار بأُصبُعِه الَّتي تلي الإبهامَ إلى القِبْلةِ ورمى ببصرِه إليها

“beliau berisyarat dengan jari telunjuknya yang ada di sebelah jempol, ke arah kiblat, dan memandang jari tersebut.” (HR. Ibnu Hibban no. 1947)

Terdapat perbedaan di kalangan empat imam madzhab mengenai kapan dimulai untuk berisyarat dengan jari telunjuk. Menurut madhab Hanafi berpendapat bahwa menggerakan jari telunjuk ke arah kiblat dimulai sejak ucapan “laailaaha illallah”. Menurut madhab Maliki berpendapat bahwa menggerakan jari telunjuk ke arah kiblat dimulai sejak awal tasyahud hingga akhir. Menurut madhab Syafi’i berpendapat bahwa menggerakan jari telunjuk ke arah kiblat dimulai sejak ucapan “illallah”. sedangkan menurut madhab Hambali berpendapat bahwa menggerakan jari telunjuk ke arah kiblat dimulai sejak ucapan “Allah”.

Kesunnahan menggerakkan jari telunjuk diarahkan ke kiblat. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berikut:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، كان إذا قعَد في التشَهُّدِ وضَع يدَه اليُسرى على رُكبتِه اليُسرى . ووضَع يدَه اليُمنى على رُكبتِه اليُمنى . وعقَد ثلاثةً وخمسينَ . وأشار بالسبابةِ

“Jika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam duduk untuk tasyahud, beliau meletakkan telapak tangan kirinya di atas lutut kirinya. Dan beliau meletakkan tangan kanannya di lutut kanannya. Dan jarinya membentuk lima puluh tiga, sedangkan telunjuknya berisyarat ke kiblat.” (HR. Muslim no. 580)

Yang sesuai sunnah dan yang paling rajih dalam berisyarat dengan telunjuk, mengacungkan jari telunjuk sejak ketika bacaan “Illallah”. Maksudnya, dianjurkan untuk mengisyaratkan jari telunjuk tangan kanan ke arah kiblat ketika sampai pada bacaan “Illallah” bukan dari awal duduk tasyahud. Karena isyarat jari telunjuk tersebut dilakukan sebagai mengesakan Tuhan Allah, hanya dia satu-satunya. Di mana arti kata “illallah” adalah hanya Allah, sehingga sangat sesuai dengan isyart yang dilakukan menggunakan satu jari telunjuk. Bila isyarat satu jari telunjukkan dimulai dari awal maka isyarat jari telunjuk tersebut tidak sesuai dengan bacaan tasyahud.

Jadi ketika sampai pada bacaan “illallah”, lalu berisyarat dengan menggerakkan jari telunjuknya. Di samping itu dilarang menggerak-gerakkan jari telunjuk dari awal duduk tasyahud. Dengan kata lain semenjak duduk tasyahud awal seorang yang shalat tidak boleh menggerak-gerakkan jari telunjuknya, sebab tindakan seperti ini akan membatalkan shalat. Jadi cukup sekali gerak jari telunjuk saat bacaan kita sampai pada kata “illallah”. Berdasarkan riwayat dari Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu,

ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

“Kemudian beliau berisyarat dengan jari beliau, aku melihat beliau menggerakkan jari beliau, dan berdoa ketika berisyarat.” (HR. Nasa’i)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 2
    Shares