Tetap Bertaubat Atas Sebesar Apapun Dosa Untuk Mengharapkan Rahmat Allah.

Pembunuhan terhadap sesama manusia dengan disengaja merupakan perbuatan yang sangat keji dan orang yang melakukan perbuatan tersebut akan mendapatkan dosa yang besar karena ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap pelaku sangatlah besar.

inilah yang menjadi alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan dosa besar terhadapnya, maka jalan salah satunya untuk selamat dari ancaman tersebut adalah dengan cara bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang semurni-murninya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 68-70)

Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kepada hamba-Nya bahwasannya orang yang bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang sungguh-sungguh maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengganti kejelekannya dengan kebaikan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menghapus segala dosa-dosanya yang telah diperbuatnya.

Meskipun dosa yang diperbuatnya sangatlah besar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap mengampuni dosa tersebut apabila ia bertaubat dengan bersungguh-sungguh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai sifat yang Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya. Sebagaimana kisah yang pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang pemuda dari Bani Israil yeng telah membunuh banyak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ

“Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ‘ Orang alim itu menjawab; ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat Azab membantah; ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.’ (Hadits Muslim Nomor 4967)

Bila pada kisah dalam hadits di atas menunjukkan bahwa dosa pembunuhan dapat dihapus dengan taubat Lalu bagaimana dengan makna hadits lain yang mengatakan bahwa taubat seorang pembunuh tidak akan diterima. Sebagaimana dalam suatu atsar yang shahih, telah diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

أن القاتل ليس له توبة

“Tidak ada taubat bagi seorang pembunuh.”

Agar tidak salah dalam memahami kedua makna hadits yang terkesan bertentangan tersebut perlu kajian yang lebih dalam. Sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap harus meyakini bahwa kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih besar daripada dosa yang dimiliki oleh Allah, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kasih sayangnya tetap akan menerima taubat dari para hambanya.

Sedangkan maksud dari sabda Nabi “Tidak ada taubat bagi seorang pembunuh.” Adalah pembunuhan yang tidak diampuni taubatnya terkait dengan pembunuhan dari seorang hamba yang mukmin terhadap hamba mukmin lainnya yang dilakukan secara sengaja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 93)

Kata kuncinya adalah yang menjadi penyebab dari tidak diterimanya taubat dosa pembunuhan adalah pembunuh telah dihukumi sebagai kufur sebab yang menjadi korbannya adalah seorang mukmin. Disamping itu si pembunuh dalam melakukan aksinya disertai dengan niat yang disengaja, bukan karena terdesak atau tidak dalam keadaan membela diri.

Karena kasus pembunuhannya dilakukan oleh seorang mukmin dan yang menjadi korban juga seorang mukmin, serta dilakukan dengan kesengajaan dan kesadaran penuh. Maka, bila seseorang dengan sengaja membunuh seorang mukmin maka akan mengundang murka, laknat, dan kutukan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah membalas mereka dengan siksa adzab yang besar di neraka jahannam yang kekal berada di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 93)

Didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَغْفِرَهُ إِلَّا مَنْ مَاتَ مُشْرِكًا أَوْ مُؤْمِنٌ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا

“Setiap dosa berharap bisa diampuni oleh Allah kecuali seseorang yang meninggal dalam keadaan musyrik, atau seorang mukmin yang membunuh mukmin lainnya dengan sengaja.” (Hadits Abu Daud Nomor 3724)

Bahkan, begitu besarnya dosa pembunuhan, walaupun korban pembunuhan juga ikut masuk neraka bila dia sebelum terbunuh sangat berkeinginan terlebih dahulu untuk membunuh. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka”. aku pun bertanya: “Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya”. (Hadits Bukhari Nomor 30)

Kenapa dosa seorang pembunuh setara dengan kekufuran yang akan kekal berada dalam neraka? Seorang pembunuh ketika melenyapkan satu nyawa, dosa yang ditanggungnya setara dengan semua nyawa manusia seluruhnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 32)

Bukan hanya pembunuh, atau terbunuh yang masuk neraka, namun siapa saja baik provokator maupun penonton yang sengaja terlibat dan memicu terjadinya tragedi pembunuhan akan ikut masuk neraka.

Tetap Bertaubat Atas Sebesar Apapun Dosa Untuk Mengharapkan Rahmat Allah

Walaupun dalam banyak hadits disebutkan bahwa tidak ada taubat bagi dosa besar seperti dosa seorang pembunuh atau dosa kekufuran yang pernah dilakukan. Namun bukan berarti seseorang harus berputus asa atas rahmat Allah dengan cara tetap melakukantaubatan nasuha. Sebab Allah sendiri memerintahkan jangan sekali-kali seorang hamba berputus asa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Surat Yusuf Ayat 87)

Tak peduli dosa manusia setinggi langit dan seluas bumi, yakinlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ampuni. Asalkan seorang hamba tetap  memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mensekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3463)

Hadist tersebut membuktikan bahwa betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagi hamba-Nya yang mau bertaubat, memohon dan mengharapkan ampunan-Nya. Sebab dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan  mengampuninya, sehingga terhapuslah dosa-dosa. Janganlah melampaui batas dengan menganggap bahwa Allah tidak akan menerima taubat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Az-Zumar Ayat 53)

Allah itu sangat penyayang, dan Ia juga Maha Pengampun. Karena itu, bersegeralah menuju ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beristighfar atas setiap kesalahan dan dosa yang kita lakukan.

Disamping kita memohon ampun kepada Allah sebagai sang pencipta, salah satu syarat taubat atas dosa yang terkait dengan kesalahan terhadap manusia lainnya adalah mendatangi korban dan pihak-pihak yang merasa kita rugikan dan dzalimi.

Terkait dengan dosa pembunuhan, maka seorang yang membunuh mu’min lain dengan sengaja, maka dia memiliki tiga bentuk taubat yang harus dia tunaikan, bertaubat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertaubat yang berkaitan dengan hak keluarga orang yang dibunuh dan bertaubat yang berkaitan dengan hak orang yang dibunuh.

Taubat yang terkait dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak diragukan lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat hamba-Nya dari segala macam dosa termasuk dosa membunuh seorang mu’min dengan sengaja, jika si pelaku bertaubat dengan taubatan nasuha. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً

“Katakanlah, Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas, terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az Zumar: 54)

Taubat yang terkait dengan hak keluarga yang dia bunuh, maka taubat ini dapat ditunaikan dengan mendatangi keluarga orang yang dia bunuh dan mengatakan bahwa saya telah membunuh salah satu keluarga mereka dan ingin bertaubat, maka lakukanlah apa yang kalian ingin lakukan terhadapku. Maka, keluarga memiliki hak baik minta diqishosh atau meminta tebusan (diyat) atau memaafkan sang pembunuh. Semuanya terserah pada keluarga yang dibunuh.

Taubat yang terkait dengan hak orang yang dibunuh, maka taubat yang terkait dengan orang yang dibunuh tidak dapat lagi ditunaikan di dunia. Dan serahkan ketetapannya besok di akhirat kepada Allah.

Jadi, apabila seorang membunuh dengan disengaja terhadap saudaranya maka ketika bertaubat harus bertaubat dengan semurni-murninya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni segala dosa-dosanya. Dan orang yang dibunuh, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan rahmat kepadanya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajatnya lebih tinggi dan mengampuni dosa-dosanya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا {68} يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا {69} إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {70{

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 68-70)

Demikian merupakan syariat islam yang harus kita jaga untuk memperingati kepada seluruh manusia untuk saling menjaga nyawa dan kehormatan dan pertumpahan darah antar manusia. Agar manusia saling menyayangi dan menghargai satu sama lain dan tidak saling membunuh.

Dalam surah (An-Nisa’: 93) sudah dapat disimpulkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai sifat Al Ghodhob (Murka). Hal ini berdasarkan firman-Nya pada ayat ini,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”(QS. An Nisa: 93)

Namun patut diperhatikan bahwa kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak sama dengan kemurkaan makhluk-Nya. Hikmah yang dapat kita ambil dari pembahasan diatas adalah kita sebagai seorang muslim harus memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama saudara, walaupun itu bukan orang Islam harus juga kita sayangi karena Islam mengajarkan tentang saling menghargai dan menyayangi sesama manusia.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَرْحَمُ اللهَ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia” (HR Al-Bukhari)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا يَرْحَمُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang dirahmatiNya adalah para penyayang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Membunuh manusia merupakan tindakan yang jauh dari kasih sayang. Membunuh adalah kejahatan, kerusakan, dan kezaliman yang nyata. Pembunuh telah merampas hak hidup manusia sebagai sebuah fitrah asasi. Membunuh telah melawan ajaran pokok agama yang mana syariatnya utamanya menjamin lima prinsip hidup manusia, yaitu agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Oleh karena itu, hindari dosa pembunuhan dengan cara tingkatkan keimanan dan ketaqwaan. Semoga kita terhindar dari kejahatan pembunuhan.

Tebarkan kasih sayang dan hindari kejahatan terhadap hamba Allah yang lainnya. Niscara Allah yang maha penyayang akan senantiasa menyayangi kita di dunia dan akhirat. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke