Syaikh Ibnu Qudamah Al-Hanbali

Biografi Ibnu Qudamah Ibnu Qudamah adalah seorang ulama besar dalam bidang ilmu fiqh, yang kitab-kitabnya dijadikan standar bagi madzhab Hanbali. Nama lengkapnya adalah Muwaffiquddin Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Qudamah al Maqdisy al Hanbali. 2 Beliau lahir di Desa Jamma il sekitar gunung Nabalis, dekat Baitul Maqdis, Tanah Suci di Palestina pada bulan Sya ban tahun 541 H/1147 M dan wafat tahun 620 H/1224 M. Menurut para sejarawan, beliau termasuk keturunan Umar bin al-khattab melalui jalur Abdullah bin Umar bin al-khattab. Beliau hidup ketika perang salib sedang berlangsung, khususnya di daerah Syam (Suriah sekarang). Oleh karena itu, ayahnya yang bernama Abul Abbas Ahmad bin Muhammad Ibnu Qudamah bersama keluarga dengan kedua anaknya, Abu Umar dan Ibnu Qudamah dan saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-maqdisi terpaksa mengasingkan diri ke Yerussalem pada tahun 551 H. Setelah bermukim selama dua tahun di Damaskus tepatnya di lereng bukit Shalihia, mereka pindah lagi ke kaki gunung Qasyiun, sebuah desa di Libanon. 1 Abdul Azis Dahlan (eds.), Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Iktiyar Baru Vann Deve, 1997, hlm TM. Hasbi ash Shiddieqy, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1971, hlm

Pendidikan Ibnu Qudamah Ibnu Qudamah belajar menghafal Al-Qur an dan menimba ilmu-ilmu dasar di Shalihia Damaskus kepada ayahnya yaitu Abul Abbas, seorang ulama yang memiliki kedudukan mulia serta zuhud. Di desa tersebut beliau memulai pendidikannya dengan mempelajari Al-Qur an dan menghafal Mukhtasar al Khiraqi 3 sampai umur dua belas tahun. Selain belajar dengan ayahnya, beliau juga belajar kepada Abu al-makarim, Abu al-ma ali, Ibnu Shabir dan beberapa Syaikh di daerah tersebut. Pada tahun 561 H dengan ditemani saudara sepupunya Abdul Ghani al Maqdisi (anak saudara laki-laki dari ibu) berangkat ke Baghdad untuk menimba ilmu khususnya dalam bidang fiqh. Beliau menimba ilmu dari beberapa syaikh dan selama empat tahun dari Syaikh Abdul Qadir al- Jailani (ahli fiqh, 470H/1077M-561H/1166M). Saat itu Syaikh berumur sembilan puluh tahun. Beliau mengaji kepadanya Mukhtasar Al-Khiraqi dengan penuh ketelitian dan pemahaman yang dalam, karena telah hafal kitab tersebut sejak di Damaskus.Kemudian wafatlah Syaikh Abdul Qadir al-jailani rahimahullah. Pada tahun 574 H, beliau pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus menimba ilmu dari Syaikh al-mubarok Ali Ibnu al-husain Ibnu Abdillah Ibn Muhammad al-thabakh al-baghdadi (wafat 575 H), 3 Mukhtashar al Khiraqi adalah kitab fiqh Hanbali yang paling terkenal, penulisnya bernama Umar Ibn Husain al Kharqi (w. 334 H), seorang Imam madzhab Hanbali. Karenanya banyak ulama yang mensyarahkannya, didalamnya terdapat 2300 masalah. Diantara yang mensyarahkan al mukhtasar ialah Muwaffiquddin al Maqdisi. Syarahnya terdiri atas tiga belas jilid tebal, suatu kitab fiqh muqaran yang memang harus kita jadikan salah satu pokok pegangan dalam studi perbandingan madzhab.

Seorang ulama besar madzhab Hanbali dibidang fiqh dan ushul fiqh. Kemudian kembali ke Baghdad dan berguru selama satu tahun kepadaabu al-fath Ibn al-manni, yang juga seorang ulama besar madzhab Hanbali dibidang fiqh dan ushul fiqh. 4 Setelah itu kembali ke Damaskus untukmengembangkan ilmunya dengan mengajar dan menulis buku. 5 Selanjutnya ia belajar dengan Syaikh Nasih al-islam Abul Fath Ibnu Manni mengenai madzhab Ahmad dan perbandingan madzhab. Beliau menetap di Baghdad selama empat tahun. Di kota itu juga beliau mengaji hadits dengan sanadnya secara langsung mendengar dari Imam Hibatullah Ibnu Ad-Daqqaq dan ulama lain diantaranya Ibnu Bathi Sa addullah bin Dujaji, Ibnu Taj al-qara, Ibnu Syafi i, Abu Zuriah, dan Yahya Ibnu Tsabit. Setelah itu beliau pulang ke Damaskus dan menetap sebentar bersama keluarganya. Lalu beliau kembali ke Baghdad pada tahun 576 H. Di Baghdad dalam kunjungannya yang kedua, beliau melanjutkan untuk mengaji hadits selama satu tahun, mendengar langsung dengan sanadnya dari Abdul Fath Ibn Al-Manni. Setelah itu ia kembali ke Damaskus. Di sana dia mulai menyusun kitabnya al-mughnî Syarh Mukhtasar al Khiraqi (fiqh madzhab Imam Ahmad ibn Hanbal). Kitab ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqih secara umum, dan khususnya pada madzhab Imam Ahmad ibn Hanbal. Bahkan beliau mendapat pujian dari Ibnu Mufallih al Hanbali (w. 763 H) yang mengatakan, al Muwaffiq (Ibnu Qudamah) mengerahkan 4 M. Ali Hasan, Perbandingan Madzab, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002, Cet. 4, hlm Abdul Azis Dahlan (eds.), loc.cit.

Segenap tenaganya untuk menulis salah satu kitab Islam dan harapannya terwujudkan. Kitabnya menjadi karya yang sangat unggul dalam madzhab Hanbali. Ibnu Qudamah rela berkorban, letih, dan berupaya maksimal sehingga dengan kitabnya itu madzhab Hanbali menjadi sempurna dan baik serta telah dibaca oleh banyak orang (para penuntut ilmu) dihadapannya. 6 Begitu juga dengan Imam Izzudin Ibn Abdus Salam As- Syafi i yang digelari Sulthanul Ulama mengatakan, Aku tidak pernah melihat kitab-kitab Islam seperti al-muhallâ karya Ibnu Hazm dan al- Mughni karya Syekh Muwaffiquddin dalam hal kualitas dan tahqiq yang ada di dalamnya. Banyak para santri yang menimba ilmu hadits, fiqh, dan ilmu-ilmu lain kepadanya. Dan banyak pula yang telah menjadi ulama fiqh setelah mengaji kepadanya. Diantaranya Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman bin Abu Umar (keponakannya) dan ulama lain seangkatannya. Disamping itu beliau masih terus menulis karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih dalam bidang fiqh yang dikuasainya dengan matang. Murid-muridnya yang menonjol antara lain adalah dua orang anak saudaranya sendiri, yaitu Abu al-farj Abdurrahman bin Muhammad bin Qudamah (ketika itu Ketua Mahkamah Agung di Damaskus) dan al-imad Ibrahim bin Abdul Wahid bin Ali bin Surur al-maqdisi ad-dimasyqi (di kemudian hari menjadi seorang ulama besar di kalangan madzhab Hanbali). Sejak mengabdikan dirinya sebagai pengajar di daerah itu 6 Tariq Suwaidan, Biografi Imam Ahmad Ibn Hanbal, diterjemahkan oleh Iman Firdaus dari al Imam Ahmad Ibn Hanbal, Jakarta: Zaman, 2012, hlm

Sampai wafat pada tahun 620 H, Ibnu Qudamah tidak pernah lagi keluar dari Damaskus. Di samping mengajar dan menulis buku, sisa hidupnya juga diabadikannya untuk menghadapi Perang Salib melalui pidatopidatonya yang tajam dan membakar semangat umat Islam. 7 Ibnu Qudamah dikenal oleh ulama sezamannya sebagai seorang ulama besar yang menguasai berbagai bidang ilmu, memiliki pengetahuan yang luas tentang persoalan-persoalan yang dihadapi umat, cerdas dan dicintai teman-teman sejawatnya. Tidak kurang dari gurunya sendiri, Ibnu al-manni mengakui keunggulan dan kecerdasan Ibnu Qudamah. Ketika ia akan meninggalkan Iraq, Ibnu Manni berkata Tinggallah di Irak ini, karena jika engkau berangkat tidak ada lagi ulama yang sebanding dengan engkau di Irak. 8 Bahkan Ibnu Taimiyah mengakui, Setelah Al Auza i (seorang pengumpul hadits pertama di Syam), ulama besar di Suriah adalah Ibnu Qudamah. 9 Sebagaimana yang diceritakan oleh Sabth Ibn al-jauzi dimana ia pernah berkata dalam hati (ber azzam) seandainya aku mampu, pasti akan kubangun sebuah madrasah untuk Ibnu Qudamah dan akan aku beri seribu dirham setiap harinya. Selang beberapa hari, ia bertandang ke kediaman Ibnu Qudamah untuk bersilaturrahmi, seraya tersenyum, Ibnu Qudamah berkata kepadanya, Ketika seorang berniat melakukan sesuatu yang baik, maka dicatat baginya pahala niat tersebut. Pengakuan ulama besar terhadap luasnya ilmu Muwaffiquddin Ibnu Qudamah al Maqdisi dapat 7 Abdul Azis Dahlan (eds.), loc.cit. 8 Ibid. 9 Ibid., hlm. 620.

Dibuktikan zaman sekarang melalui karya-karya tulis yang ditinggalkannya. Sebagai seorang ulama besar dikalangan madzhab Hanbali (atau pengikut Imam Ahmad Ibn Hanbal), ia meninggalkan beberapa karya besar yang menjadi standar dalam madzhab Hanbali. Karyanya dalam bidang ushuluddin sangat bagus, kebanyakanmenggunakan metode para muhaditsin yang dipenuhi hadits-hadits atsar beserta sanadnya, sebagaimana metode yang digunakan oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal dan Imam-imam hadits lainnya. C. Karya-karya Ibnu Qudamah Menurut penelitian yang dilakukan oleh Abdul Aziz Abdurrahman al Said, seorang tokoh fiqh Arab Saudi, karya-karya Ibnu Qudamah dalam berbagai bidang ilmu berjumlah 31 buah baik dalam ukuran besar maupun kecil. 10 Karya-karya Ibnu Qudamah antara lain sebagai berikut: 11 a. Dalam bidang ushuluddin yaitu: 1. Al-Burhan fi Masail Al-Qur an, kitab ini membahas tentang ilmuilmu Al-Qur an, 2. Jawabu Mas alah Waradat fi al-qur an hanya satu juz, 3. Al-I tiqa satu juz, 4. Mas alah al-uluwi terdiri dari dua juz, 10 M. Ali Hasan, op.cit., hlm Ibid. (docplayer.info)

Bagikan Artikel Ini Ke