Syafaat Bagi yang Merayakan Rabiul Awal sebagai Bulan Kelahiran Nabi

Meluapkan kegembiraan atas terlahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia dengan merayakannya menjadi sebab diperolehnya syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bergembira atas kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manfaatnya dapat dirasakan oleh umat Islam, dan bahkan bagi mereka yang tidak beriman.

Sebagaiman manfaat yang dirasakan oleh Abu Lahab ketika dia merayakan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan memerdekakan budak perempuannya, Tsuwaibah al-Aslamiyyah untuk menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga di setiap hari Senin, Abu Lahab diringankan siksanya, karena ia senang atas kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Telah menceritakan kepada kami [Al Hakam bin Nafi’] Telah mengabarkan kepada kami [Syu’aib] dari [Az Zuhri] ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Urwah bin Az Zubair] bahwa [Zainab binta Abu Salamah] Telah mengabarkan kepadanya bahwa [Ummu Habibah binti Abu Sufyan] Telah mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah nikahilah saudaraku binti Abu Sufyan.” Maka beliau balik bertanya: “Apakah suka akan hal itu?” aku menjawab, “Ya. Namun aku tidak mau ditinggal oleh Anda. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Sesungguhnya hal itu tidaklah halal bagiku.” Aku berkata, “Telah beredar berita, bahwa Anda ingin menikahi binti Abu Salamah.” Beliau bertanya: “Anak wanita Ummu Salamah?” aku menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda: “Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah telah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian padaku.” Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang telah kamu dapatkan?” Abu Lahab berkata.”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah.” (Hadits Bukhari Nomor 4711)

Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki rahimahullah berpendapat:

 وهذه الرواية وإن كانت مرسلة إلا أنها مقبولة لأجل نقل البخاري لها واعتماد العلماء من الحفاظ لذلك، ولكونها في المناقب والخصائص لا في الحلال والحرام وطلاب العلم يعرفون الفرق في الاستدلال بالحديث بين المناقب والأحكام.

“Meski riwayat ini mursal, namun dapat diterima, karena al-Bukhari mengutipnya, ulama dari kalangan huffazh (penghafal hadits) juga berpegangan dengan riwayat ini, dan karena riwayat ini menjelaskan manaqib dan kekhasan seseorang, bukan urusan halal-haram. Para penuntut ilmu tentu mengetahui perbedaan antara mengambil dalil hadits di antara tema manaqib dan hukum.” (Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, al-I’lam bi Fatawi Ulama al-Islam Haula Maulidihi ‘alaihi al-Shalatu wa al-Salam, hal.14).

Sungguh luar biasa manfaat merayakan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terutama di bulan Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bila Abu Lahab sebagai seorang kafir saja masih mendapatkan keringanan siksa setiap hari kelahiran Nabi sebab kegembiraannya. Tentunya akan lebih mendapatkan syafaat bagi kaum muslimin yang berbahagia dan merayakan hari dan bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini.

Dengan merayakan tentunya akan semakin terpupuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan merayakan maulid hubungan kita dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan semakin kuat dan tentunya rasa cinta akan semakin terpatri dalam hati. Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjadi penyebab kita dikumpulkan dengannya kelak di akhirat. Sebab, Nabi pernah bersabda bahwa seseorang akan dikumpulkan di akhirat bersama mereka yang dicintai. Dari [Anas bin Malik] bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kapankah hari Kiamat terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” laki-laki itu menjawab; “Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu shalat, puasa ataupun sedekah, namun aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Belaiu bersabda: “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (Hadits Bukhari Nomor 5705)

Sungguh luar biasa keutamaan dalam merayakan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Rabiul Awal. Jadi, sebagai umat Islam yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada salahnya bila kita merayakan bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbagai macam amalan seperti memperbanyak shalawat, memperbanyak sedekah, dan amalan-amalan sunnah lainnya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke