Sujud Tilawah

Pengertian

Sujud tilawah adalah gerakan sujud yang dilakukan disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Pengertian ayat Sajadah adalah ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an yang bila dibaca disunnahkan bagi yang membaca dan mendengarnya untuk melakukan sujud tilawah. Yang tergolong ayat sajadah dalam Al-Qur’an di antaranya adalah; Al A’rof ayat 206, Ar Ro’du ayat 15, An Nahl ayat 49-50, Al Isro’ ayat 107-109, Maryam ayat 58, Al Hajj ayat 18, Al Hajj ayat 77, Al Furqon ayat 60, An Naml ayat 25-26, As Sajdah ayat 15, Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah), Shaad ayat 24, An Najm ayat 62 (ayat terakhir), Al Insyiqaq ayat 20-21, Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir).

Hukum Sujud Tilawah Atau Sajadah

Sujud tilawah merupakan amalan yang jelas-jelas disyariatkan dalam agama Islam. Banyak dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menunjukkan akan hal itu. Walaupun sujud tilawah merupakan syariat ajaran agama Islam, namun terdapat perbedaaan di antara para ulama fikih terkait kedudukan hukumnya. Dalam hal ini akan dibagi ke dalam beberapa pembahasan;

Bagi Pembaca

Ada beberapa pendapat dalam hal ini;

Wajib Baik di dalam Maupun di Luar Shalat

Diwajibkan bagi mereka yang sedang membaca ayat sajadah untuk melakukan sujud tilawah sekali baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dia antara yang berpendapat demikian adalah madzhab Hanafi (Bada’i ash-Shana’i’ 1/180) dan Imam Ahmad (Al-Inshaf 2/193).

Wajib bagi pembaca di dalam shalat dan sunnah di luar shalat

Bagi mereka yang sedang membaca ayat sajadah hanya diwajibkan untuk melakukan sujud tilawah sekali hanya pada saat di dalam shalat. Sedangkan ketika di luar shalat hukum melakukan sujud tilawah hanyalah sunah. Berdasarkan riwayat Ahmad bin Hambal (Majmu’ al-Fatawa 23/139)

Sunnah bagi pembaca baik di dalam dan maupun di luar shalat

Disunnahkan bagi mereka yang sedang membaca ayat sajadah untuk melakukan sujud tilawah sekali baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dia antara yang berpendapat demikian adalah madzhab Maliki (Bidayat al-Mujtahid 1/161), madzhab Syafi’i (al-Majmu’ 4/61), madzhab Hambali (Al-Mughni 2/346). Dalil yang digunakan oleh kalangan yang mensunnahkan sujud tilawah baik di dalam maupun di luar shalat di antaranya adalah;

Dari beberapa hadits yang telah disebutkan tersebut menunjukkan bahwa seandainya sujud tilawah tersebut wajib, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud dan memerintahkan para sahabatnya juga bersujud dalam semua kesempatan manakala membaca surat sajadah. Namun kenyataannya dalam sebuah kesempatan Nabi dan para sahabat melakukan sujud tilawah dan pada kesempatan lain Nabi dan para sahabat tidak melakukannya. Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu untuk bersujud, sehingga al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sujud untuk menjelaskan kebolehannya. (Fathul Bari 2/555).

Jadi golongan ini berpendapat bahwa hukum asalnya sujud tilawah adalah sunnah hingga menjadi wajib manakala terdapat dalil yang shahih yang memerintahkannya dan tidak ada dalil lain yang menentangnya.

Bagi Pendengar

Ada beberapa pendapat dalam hal ini;

Wajib Baik di dalam Maupun di Luar Shalat

Diwajibkan bagi mereka yang sedang sengaja mendengarkan ayat sajadah untuk melakukan sujud tilawah sekali baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dia antara yang berpendapat demikian adalah madzhab Hanafi (Bada’i ash-Shana’i 1/78), sebuah riwayat dari Imam Ahmad (al-Inshaf 2/193).

Begitu juga dihukumi wajib tetap melakukan sujud tilawah manakala mendengarkan bacaan ayat sajadah walaupun awalnya tidak ada niatan untuk mendengarkan bacaan tersebut. Pendapat ini diutarakan oleh madzhab Hanafi (Bada’i ash-Shana’i 1/180).

Sunnah Baik di dalam Maupun di Luar Shalat

Disunnahkan bagi mereka yang sedang sengaja mendengarkan ayat sajadah untuk melakukan sujud tilawah sekali baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dia antara yang berpendapat demikian adalah madzhab Maliki (al-Muntaqa 1/352), madzhab Syafi’i (al-Majmu’ 4/85), madzhab Hambali (al-Mughni 2/366) dan Ibnu Hazm (al-Muhalla 5/157).

Begitu juga dihukumi sunnah tetap melakukan sujud tilawah manakala mendengarkan bacaan ayat sajadah walaupun awalnya tidak ada niatan untuk mendengarkan bacaan tersebut. Pendapat ini diutarakan oleh madzhab Syafi’i (al-Majmu’ 4/58), madzhab Hambali (al-Mubdi’ 2/29).

Mustahab Baik di dalam Maupun di Luar Shalat

Ada juga yang berpendapat bahwa hukumnya sunnah namun tidak terlalu ditekankan bagi merekayang tidak niat mendengarkan bacaan-bacaan ayat sajadah sejak awal. Pendapat ini dinyatakan oleh madzhab Syafi’i (al-Majmu’ 4/58).

Tidak disyariatkan Baik di dalam Maupun di Luar Shalat

Sedangkan madzhab Maliki menganggap tidak ada tuntutan sama sekali bagi mereka yang tidak ada kesengajaan dan tidak ada niatan untuk mendengarkan bacaan-bacaan ayat sajadah sejak awal (al-Mudawanah 1/111). Pendapat ini diikuti oleh sebagian kalangan madzhab Syafi’i (al-Majmu’ 4/58) dan madzhab Hambali (al-Mughni 2/366).

Baca juga; Hukum Sujud Tilawah Atau Sajadah

Dalil

Terdapat banyak dalil baik berasal dari Al-Qur’an maupun dari Hadits yang menyatakan disyariatkannya sujud tilawah manaka kaum muslimin mendengarkan maupun membaca ayat-ayat sajadah maupun di dalam shalat maupun di luar shalat. Berikut di antaranya,

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami yaitu mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (QS. As-Sajdah[32]:15)

Kewajiban sujud tilawah juga didasarkan pada riwayat hadits dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ! أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ، فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ، فَأَبَيْتُ، فَلِي النَّارُ

“apabila bani Adam (manusia) membaca ayat sajdah, lalu sujud, maka syaitan menyingkir dan menangis seraya berkata, “Celaka! Bani Adam diperintahkan untuk sujud lalu sujud maka dia berhak mendapatkan syurga sementara aku diperintahkan sujud lalu aku enggan maka aku mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 133)

Kewajiban sujud tilawah juga didasarkan pada riwayat hadits dari Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu,

– قَرَأْتُ عَلَى اَلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلنَّجْمَ , فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا

“Aku membacakan surat an-Najm kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Beliau tidak sujud padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

كُنْتَ إِمَامُنَا، فَلَوْ سَجَدْتَ سَجَدْنَا

“Kamu adalah imam kami, seandainya kamu sujud maka kamipun sujud. ([HR. Asy-Syafi’i dalam al-Musnad 1/122 dan al-Baihaqi 2/324)

Kesunnahan sujud tilawah tersebut didasarkan pada beberapa dalil di antaranya adalah;

كَانَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّورَةَ فِيهَا السَّجْدَةُ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُنَا مَوْضِعَ جَبْهَتِهِ

“Rasullulah membacakan kami suatu surat, kemudian beliau sujud, kami pun ikut bersujud.” (HR. Bukhari)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ يَا وَيْلِي أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia bersujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celakalah aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عن عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رَضِي اللَّه عَنْه – قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُورَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ ، وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ رَضِي اللَّه عَنْهم

“Dari Umar bin Khattab dia pada hari Jum’at membaca di atas mimbar surat an-Nahl. Hingga bila sampai pada ayat sajdah beliau turun lalu sujud sehingga orang-orang pun sujud. Saat Jum’at berikutnya, beliau membaca lagi surat tersebut hingga sampai pada ayat sajdah. Beliau berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kita melewati ayat sajdah. Barang siapa bersujud sungguh ia telah benar, dan barang siapa tidak bersujud maka tiada dosa baginya.’ Dan Umar sendiri tidak bersujud.” (HR. Bukhari)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ

“Shalat lima waktu dalam sehari semalam, lalu Ia bertanya: Apakah ada selain itu yang diwajibkan atasku? maka beliau menjawab: Tidak ada, kecuali bila kamu ingin tatawwu’ (shalat sunnah).” (HR. Al-Bukhari)

Juga didasarkan pada riwayat hadits dari Umar radliallahu ‘anhu,

أن عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُورَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ حَتَّى إِذَا كَانَتْ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

“sesungguhnya Umar bin al-Khathab Radhiyallahu anhu pada hari Jum’at membaca surat an-Nahl di atas mimbar hingga apabila sampai pada ayat sajdah, beliau turun lalu sujud dan kaum Muslimin ikut sujud, hingga pada hari Jum’at berikutnya, beliau membaca surat tersebut hingga sampai ayat sajdah, beliau berkata: Wahai kaum Muslimin, sungguh kita diperintahkan sujud. Barangsiapa yang sujud maka ia telah menjalankan sunnah sedangkan orang yang tidak sujud maka ia tidak berdosa. Umar x pun tidak bersujud.” (HR. Bukhari 2/43)

Sebuah atsar dari Imam Nafi’ menyatakan bahwa Umar bin al-Khathab radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَفْرِضِ السُّجُودَ إِلَّا أَنْ نَشَاءَ

“Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali kita menginginkannya.” (Hadits Riwayat Ibnu Umar)

Atsar dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu:

عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ عُثْمَانَ مَرَّ بِقَاصٍ فَقَرَأَ سَجْدَةً لِيَسْجُدَ مَعَهُ عُثْمَانُ فَقَالَ عُثْمَانُ إِنَّمَا السَّجْدَةُ عَلَى مَنْ اسْتَمَعَ ثُمَّ مَضَي

“Dari Said bin Musayyib rahimahullah bahwa Utsman Radhiyallahu anhu melewati seorang tukang cerita, lalu tukang cerita tersebut membaca ayat sajdah agar Utsman Radhiyallahu anhu melakukan sujud Tilawah bersamanya. Maka Utsman pun berkata, “Sujud tersebut disyariatkan pada orang yang sengaja mendengarkannya.” Kemudian beliau pergi” (Al-Ausath 5/281)

Atsar Imran bin Hushain radhiyallahu ahnu:

عَنْ مُطَّرِفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ الْحُصَيِّنِ مَرَّ بِقَاصٍ فَقَرَأَ سَجْدَةً فَمَضَى عِمْرَانُ وَلَمْ يَسْجُدْ مَعَهُ وَقَالَ إِنَّمَا السَّجْدَةُ عَلَى مَنْ جَلَسَ لَهَا

“Dari Muththarif bin Abdillah rahimahullah bahwasanya Imron bin al-Hushain Radhiyallahu anhu melewati seorang tukang cerita lalu dia membaca ayat sajdah, namun Imran tetap berlalu dan tidak sujud dan berkata, “Sujud itu hanya untuk orang yang duduk mendengarkannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Tata Cara Sujud Tilawah Saat Membaca dan Mendengar Ayat-ayat Sajadah

Mengamalkan sujud tilawah terdapat dua kondisi. Sujud tiwalah manakala berada di luar shalat dan berada di dalam shalat. Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitabnya al-Fiqhul Manhaji memberikan peringatan bahwa takbiratul ihram dan membaca salam merupakan syarat sujud tilawah. Syarat yang lainnya adalah sebagaimana syarat shalat pada umumnya seperti menghadap kiblat, suci dari hadas dan najis, dan sebagainya (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus: Darul Qalam, 2013, jil. I, hal. 175 – 176).

Lebih rinci akan dijelaskan sebagaimana berikut;

Di Luar Shalat

Ketika seseorang membaca maupun mendengarkan ayat-ayat sajadah di luar shalat, lalu ingin mendapatan tambahan pahala dengan melakukan sujud tilawah, maka yang harus diperhatikan adalah;

Pertama, harus memastikan bahwa dirinya tidak berhadats dan tidak bernajis dengan cara berwudlu dan mensucikan najis yang ada.

Kedua, Menghadapkan ke arah kiblat untuk kemudian bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan dan kemudia berdiam diri sejenak.

Ketiga, kemudian turun untuk bersujud tanpa mengangkat kedua tangan.

Keempat, setelah sujud sekali lalu bangun untuk duduk sejenak tanpa membaca tasyahud sebagaimana dalam shalat dan mengakhirinya dengan membaca salam.

Di kalangan ulama madzhab Syafi’i yang diwakili oleh Syekh Abu Muhammad, Qadli Husain dan lainnya manakala melakukan sujud sahwi dilakukan dalam keadaan berdiri saat membaca takbiratul ihram. Namun Imam Haramain berpendapat lain dengan mengatakan, “Saya tidak melihat untuk masalah ini adanya penuturan dan dasar.” Sedangkan Imam Nawawi merajihkan pendapat kedua tersebut (Yahya bin Syaraf Al-Nawawi, Raudlatut Thâlibîn wa ‘Umdatul Muftîn, Beirut: Al-Maktab Al-Islamy, 1991, jil. I, hal. 321 – 322).

Di Luar Shalat

Ketika seseorang membaca maupun mendengarkan ayat-ayat sajadah di dalam shalat, lalu ingin mendapatan tambahan pahala dengan melakukan sujud tilawah, maka yang harus diperhatikan adalah;

Pertama, bertakbiratul ihram.

Kedua, kemudian turun untuk bersujud tanpa mengangkat kedua tangan.

Ketiga, setelah sujud sekali lalu bangun berdiri lagi dan melanjutkan shalatnya.

Bacaan Saat Sujud Tilawah

Sedangkan bacaan yang dibaca saat sujud tilawah adalah sebagai berikut:

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

”Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.”

Do’a di atas adalah do’a yang diambil dari hadist yang diriwayatkan oleh Tarmidzi.

Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thâlibîn menyebutkan,

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

“Sajada wajhiya lil ladzî khalaqahû wa shawwarahû wa syaqqa sam’ahû wa basharahû bi haulihî wa quwwatihî.”

Juga disunahkan membaca do’a:

اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاقْبَلْهَا مِنِّي، كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

“Allâhummaktub lî bihâ ‘indaka ajraa, waj’alhâ lî ‘indaka dzukhran, wa dla’ ‘annî bihâ wizran, waqbalhâ minnî kamâ qabiltahâ min ‘abdika dâwuda ‘alaihissalâm.”

Keutamaan

Berikut beberapa keutamaan sujud tilawah sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pertama, jauh dari setan dan dekat dengan surga. Berdasarkan hadits riwayat dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajdah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata; ‘Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim)

Kedua, sujud akan mengangkat derajat seseorang dan menghapus dosa-dosanya. Berdasarkan hadits riwayat dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, maka melalui sujud tersebut Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu.” HR. Muslim)

Ketiga, sujud merupakan amalan yang bisa membuat seseorang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga. Berdasarkan hadits riwayat dari Ka’ab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي: سَلْ ، فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Suatu ketika saya bermalam bersama Rasulullah saw., lalu saya membawakan air untuk wudu dan hajatnya. Kemudian beliau berkata kepada saya, ‘Mintalah.’ Saya berkata, ‘Saya minta agar bersamamu di surga. Beliau berkata lagi, ‘Ada lagi?.’ Saya berkata, ‘Itu saja.’ Lalu belau berkata, ‘Bantulah aku (untuk mewujudkan keinginanmu) dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke