Sujud Syukur Tidak Disyariatkan Untuk Kenikmatan yang Bersifat Terus Menerus

Ada kenikmatan yang bersifat tetap dan terus menerus, seperti; Nikmat sehat, nikmat bernafas, nikmat melihat, nikmat mendengar, nikmat sinar matahari, nikmat udara, nikmat oksigen, dan jenis nikmat-nikmat lainnya.

Ada juga kenikmatan yang kita dapatkan bersifat mendadak dan sesekali saja, seperti; Memiliki anak, mendapat jodoh, mendapat pekerjaan, terhindar dari bencana, selamat dari kecelakaan, dan lain sebagainya.

Madzhab Syafi’i dan madzhab Hambali berpandangan bahwa sujud syukur hanya disyariatkan bagi kenikmatan-kenikmatan yang bersifat sesekali saja. Dan tidak disyariatkan bagi kenikmatan-kenikmatan yang bersifat tetap dan terjadi secara terus-menerus. Sebab mensyukuri nikmat yang bersifat tersu menerus sudah diwakili dengan sujud di dalam shalat yang kewajibannya bersifat tetap selama manusia hidup.

Hukum Sujud Syukur

Ulama seperti Imam Syafi’iyah dan Imam Hambali menetapkan sujud syukur dihukumi sunnah ketika terdapat penyebabnya.

Menurut madzhab Syafi’i dan Hambali menyatakan bahwa sujud syukur dapat dilakukan karena sebuah sebab-sebab yang bersifat khusus dan personal, ataupun sebab-sebab yang bersifat umum yang dialami oleh kebanyakan kaum muslimin atau masyarakat pada umumnya. Seperti selamat dari musuh atau selamat dari wabah yang menimpa sebuah wilayah.

Pengertian Sujud Syukur dalam Islam

Sujud syukur berasal dari dua kata, yaitu “sujud” dan “syukur”. Sujud menurut bahasa berarti tunduk atau merendah. Sedangkan syukur secara bahasa berarti terima kasih. Kalau digabungkan, sujud syukur secara bahasa dapat diartikan sujud atau bertunduk sebagai tanda terima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedangkan sujud syukur menurut istilah syara’ adalah sujud untuk ber terimakasih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penyebab sujud ada dua, yaitu; sujud yang dilakukan saat seseorang memperoleh kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau selamat dari suatu musibah. Dengan kata lain, sujud syukur adalah sujud yang dilakukan seseorang sebagai tanda terima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memperoleh kenikmatan dan hal yang menggembirakan. Sujud syukur juga bisa dilakukan oleh seseorang ketika terhindar dari bahaya atau bencana.

Dalil Tentang Sujud Syukur

Banyak dalil baik berasal dari Al-Qur’an maupun dari Hadits yang mensyariatkan sujud syukur. Di antaranya adalah;

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

“Dari Abu Bakrah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapati hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774)

Hadits dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Bukhari juga menjadi landasan syariat sujud syukur, manakala Ka’ab tersungkur untuk bersujud karena mengetahui bahwa taubatnya diterima.

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَتَانِى فَبَشَّرَنِى فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَسَجَدْتُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شُكْراً

“Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam baru saja mendatangiku lalu memberi kabar gembira padaku, lalu berkata, “Allah berfirman: ‘Siapa yang bershalawat untukmu, maka Aku akan memberikan shalawat (ampunan) untuknya. Siapa yang memberikan salam kepadamu, maka Aku akan mengucapkan salam untuknya’. Ketika itu, aku lantas sujud kepada Allah sebagai tanda syukur.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Al Hakim 1: 735)

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib berkata,

فَكَتَبَ عَلِىٌّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِإِسْلاَمِهِمْ ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِدًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ

“Ali menuliskan surat pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi keislaman mereka (penduduk Yaman). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat tersebut, beliau tersungkur untuk bersujud.” (HR. Al Baihaqi 2: 404)

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa sujud syukur merupakan syariat di dalam agama Islam. Sebab, dengan memperbanyak syukur. Dengan melakukan sujud ini merupakan perwujudan dari ungkapan rasa syukur setiap hambanya atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.

Penyebab Seorang Muslim Disunnahkan untuk Melakukan Sujud Syukur

Terdapat beberapa penyebab kenapa umat Islam disunnahkan untuk mengamalkan sujud syukur. Di antaranya adalah;

Disaat seseorang mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semisal ketika seseorang baru mendapat anak setelah sekian lama dalam penantian. Baru mendapatkan rumah, naik jabatan, atau berbagai karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Disaat seseorang selamat dari mara bahaya. Seperti ketika selamat dari kecelakaan, sembuh dari sakit, barang yang hilang ditemukan kembali, selamat dari bencana alam, atau lainnya.

Disaat seseorang mendapatkan berita gembira. Semisal ketika seseorang mendapat kabar bahwa dirinya hamil setelah sekian lama dalam penantian. Mendapat kabar bahwa dirinya diterima kerja. Mendapat kabar bahwa anaknya diterima di sekolah favorit, memperoleh apa yang ia harapkan, dan lain sebagainya.

Menurut madzhab Syafi’i dan Hambali menyatakan bahwa sujud syukur dapat dilakukan karena sebuah sebab-sebab yang bersifat khusus dan personal, ataupun sebab-sebab yang bersifat umum yang dialami oleh kebanyakan kaum muslimin atau masyarakat pada umumnya. Seperti selamat dari musuh atau selamat dari wabah yang menimpa sebuah wilayah.

Tata Cara Melakukan Sujud Syukur

Walaupun bukan kewajiban, namun tetap disunnahkan saat sujud sukur dalam keadaan suci dan menghadap ke arah kiblat. Sujud syukur boleh dilakukan dalam keadaan sebelumnya berdiri maupun duduk.

Saat hendak memulai sujud syukur maka dimulai dengan takbir kemudian melakukan sujud satu kali. Saat dalam keadaan sujud boleh mengamalkan bacaan-bacaan dalam shalat atau bentuk-bentuk doa lainya. Setelah selesai melakukan sujud dan berdoa, lalu bertakbir kembali dan mengangkat kepala dan kemudian ditutup dengan salam.

Syarat-syarat Sujud Syukur

Terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar sujud syukur yang dilakukan menjadi sah dan berpahala. Syarat utama sujud syukur hanyalah menutup aurat, dan tidak tidak disyaratkan menghadap kiblat, dan tidak harus dalam keadaan suci dari hadat maupun najis. Sebab sujud syukur hanya terjadi di luar ibadah inti shalat. Berbeda dengan seperti sujud tilawah yang terkait dengan bacaan AL-Qur’an dan terkadang pelaksanaannya bisa di dalam shalat.

Walaupun menghadap kiblat dan suci bukan kewajiban, namun sujud syukur disunnahkan untuk menghadap kiblat dan dalam keadaan suci, sebab pahala yang didapatkannya akan lebih.

Rukun-rukun Sujud Syukur

Terdapat beberapa kewajiban yang harus dipenuhi agar sujud syukur yang dilakukan menjadi sah dan berpahala. Di antaranya yaitu; Niat, Takbiratul ihram, Sujud satu kali, dan Salam

Amalan yang Dibaca Saat Melakukan Sujud Syukur

Di saat seseorang  melakukan sujud syukur, hendaknya mengamalkan beberapa amalan. Di antaranya doa berikut;

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Rabbi auzi’ni an asykura ni’mataka allati an’amta ‘alayya wa ‘alaa walidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibadikas shalihin

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Doa tersebut didasarkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Surat An-Naml Ayat 19)

Baca juga;

Keutamaan Melakukan Sujud Syukur

Sujud Syukur

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke