Sujud Sahwi’

Sujud Sahwi itu dilakukan jika ada kekurangan atau kelebihan rakaat shalat, atau jika ada salah satu rukun shalat yang tertinggal (karena lupa) seperti misalnya terlupa tasyahud awal. Maka kompensasi dari lupa ini tergantung pada kasusnya, apakah ia kekurangan rakaat atau kelebihan rakaat? Atau malah lupa sama sekali sudah berapa rakaat? Lalu di sini juga ada persoalan apakah ingatnya (bahwa shalatnya itu salah) terjadi sebelum salam atau sesudah selesai salam, dan jika lupa tasyahud awal apakah ingatnya sebelum sempurna berdiri atau baru setengah berdiri. Namun di sini terjadi perbedaan pendapat para fuqaha (ahli fiqih).

Namun, sebelum itu mari kita lihat Hadits dari berbagai kondisi lupa tersebut.

Jika Salah Satu Rukun Shalat Ada Yang Tertinggal

Jika salah satu rukun shalat ada yang tertinggal namun ia tidak salah jumlah rakaatnya, maka ada dua jawaban, ada Hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sujud sahwi nya itu sesudah salam (sesudah selesai shalat). Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1224 dan Hadits Riwayat Muslim Nomor 570)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Hadits Ibnu Buhainah derajatnya hasan shahih

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (Hadits Riwayat. Bukhari Nomor 1229)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْجُشَمِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فَنَهَضَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ قُلْنَا سُبْحَانَ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَمَضَى فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ وَسَلَّمَ سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ كَمَا صَنَعْتُ

“Telah menceritakan kepada kami [‘Ubaidullah bin Umar Al Jusyami] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah mengabarkan kepada kami [Al Mas’udi] dari [Ziyad bin ‘Ilaqah] dia berkata; “ [Al Mughirah bin Syu’bah] shalat bersama kami, lalu langsung berdiri di raka’at kedua, lantas kami mengucapkan “Subhanallah” dia juga mengucapkan; “Subhanallah” dan dia terus berdiri. Setelah menyempurnakan shalat dan memberi salam, dia sujud sahwi dua kali, seusai shalat dia berkata; “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan seperti yang aku kerjakan.(Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 873)

Pada dua Hadits di atas terlihat bahwa sujud sahwi dilaksanakan sebelum salam. Namun, dalam Hadits lainnya diriwayatkan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah salam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ زُهَيْرِ بْنِ سَالِمٍ الْعَنْسِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي كُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ

“Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Ammar] dan [Utsman bin Abu Syaibah] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ayyasy] dari [Ubaidullah bin Ubaid] dari [Zuhair bin Salim Al ‘Ansi] dari [‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair] dari [Tsauban] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sujud sahwi itu sujud dua kali setelah salam.“ (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 1209)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَهُمَا بَعْدَ السَّلَامِ

“Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Mani’] berkata; telah menceritakan kepada kami [Husyaim] dari [Hisyam bin Hassan] dari [Muhammad bin Sirin] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan dua sujud sahwi setelah salam.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 360)

Namun, diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dan Abdullah bin As-Sa’ib Al Qari melakukan sujud sahwi sebelum salam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى وَأَبُو دَاوُدَ قَالَا حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ السَّائِبِ الْقَارِئَ كَانَا يَسْجُدَانِ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قَبْلَ التَّسْلِيمِ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdul A’la] dan [Abu Dawud] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [Yahya bin Abi Katsir] dari [Muhammad bin Ibrahim] bahwa [Abu Hurairah] dan [Abdullah bin As Sa`ib Al Qari`] sujud dengan dua kali sujud sebelum salam.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 357)

Tirmidzi berkata : “Hadits ini diamalkan oleh sebagian ahli ilmu. Dan ini adalah pendapat yang diambil oleh Syafi’i. Ia berpendapat bahwa dua sujud sahwi itu dilakukan sebelum salam. “Hadits ini menghapus hadits-hadits yang lain, dan ia (Tirmidzi) menyebutkan juga bahwa seperti itulah terakhir kali yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Ahmad dan Ishaq berkata; “Jika seseorang berdiri pada rakaat kedua maka ia harus sujud dua kali sebelum salam berdasarkan hadits Ibnu Buhainah. Dan Abdullah Ibnu Buhainah adalah Abdullah bin Malik. Ia adalah Ibnu Bunainah, ayahnya bernama Malik dan ibunya bernama Buhainah. Seperti inilah Ishaq bin Manshur mengabarkan kepadaku dari Ali bin Abdullah bin Al Madini.”

Apabila Ingat Kekurangan Tasyahud Awal Sebelum Berdiri Tegak

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ يَعْنِي الْجُعْفِيَّ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ شُبَيْلٍ الْأَحْمَسِيُّ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَإِنْ ذَكَرَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ اسْتَوَى قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ

“Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin ‘Amru] dari [Abdullah bin Walid] dari [Sufyan] dari [Jabir yaitu Al Ju’fi] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Mughirah bin Syubail Al Ahmasi] dari [Qais bin Abu Hazim] dari [Al Mughirah bin Syu’bah] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila seorang imam terlanjur berdiri pada raka’at kedua, dan ingat sebelum berdiri tegak, hendaknya ia kembali duduk, dan apabila telah berdiri tegak hendaknya ia tidak duduk dan sujudlah dua kali yaitu sujud sahwi.(Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 872)

Sujud Sahwi karena Kelebihan Rakaat

Jika seseorang lupa dan kelebihan rakaat shalat (misal shalat subuh mestinya 2 rakaat jadi 3 rakaat) maka setelah selesai salam, ia harus melakukan sujud sahwi, dengan cara takbir lagi (dalam keadaan duduk) lalu melakukan sujud, lalu bangkit, takbir lagi dan sujud lagi baru salam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ جَابِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَسْوَدِ عَنِ الْأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ خَمْسًا ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَاتَانِ السَّجْدَتَانِ لِمَنْ ظَنَّ مِنْكُمْ أَنَّهُ زَادَ أَوْ نَقَصَ

“Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Jabir dari Abdurrahman bin Al Aswad dari Al Aswad dari Abdullah “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Dhuhur atau Ashar lima rakaat (kelebihan rakaat) kemudian (setelah selesai) sujud sahwi dua kali lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Inilah dua sujud bagi siapa yang ragu dari kalian, apakah ia menambah atau mengurangi.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 3689)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ النَّهْشَلِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ فَلَمَّا انْصَرَفَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا قَالُوا فَإِنَّكَ صَلَّيْتَ خَمْسًا قَالَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَذْكُرُ كَمَا تَذْكُرُونَ وَأَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abdullah An Nahsyali ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al Aswad dari ayahnya dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Zhuhur atau Ashar lima rakaat, setelah selesai ditanyakan kepada beliau; Wahai Rasulullah, apakah ada penambahan shalat? Beliau menjawab: “Tidak.” Mereka berkata; Sesungguhnya engkau shalat lima rakaat. Ia berkata; Lalu beliau sujud sahwi dua kali kemudian bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa seperti kalian, aku ingat seperti kalian ingat dan lupa seperti kalian lupa.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 3786)

Sujud Sahwi karena Kekurangan Rakaat

Jika seseorang lupa dan kekurangan rakaat shalat (misal shalat Dhuhur 4 rakaat hanya dikerjakan 2 atau 3 rakaat) tentunya ingatnya (bahwa ia kurang rakaat) adalah setelah selesai shalat. Tidak mungkin ingatnya sebelum selesai shalat. Jika ingatnya sebelum selesai shalat ya pasti tidak jadi salah, karena ia segera melengkapi kekurangan rakaatnya sebelum salam.

Namun, karena kasus kekurangan rakaat ini pasti ingatnya adalah setelah selesai shalat, maka setelah selesai shalat, ia harus bangkit shalat lagi menambah dulu kekurangan rakaat tadi, setelah itu salam baru melakukan sujud sahwi dengan cara bertakbir lagi melakukan sujud lalu takbir lagi dan sujud lagi baru salam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah kekurangan 1 rakaat maka beliau menambah 1 rakaat baru sujud sahwi. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

“Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 574)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah pernah kekurangan 2 rakaat maka beliau shalat lagi 2 rakaat lalu sujud sahwi. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ قَالَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَيْهِمَا إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى يُعْرَفُ فِي وَجْهِهِ الْغَضَبُ ثُمَّ خَرَجَ سَرْعَانُ النَّاسِ وَهُمْ يَقُولُونَ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ وَفِي النَّاسِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَاهُ أَنْ يُكَلِّمَاهُ فَقَامَ رَجُلٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَمِّيهِ ذَا الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ الصَّلَاةُ قَالَ بَلْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ فَقَالَ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ فَأَوْمَئُوا أَيْ نَعَمْ فَرَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَقَامِهِ فَصَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ الْبَاقِيَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ وَكَبَّرَ قَالَ فَقِيلَ لِمُحَمَّدٍ سَلَّمَ فِي السَّهْوِ فَقَالَ لَمْ أَحْفَظْهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نُبِّئْتُ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ ثُمَّ سَلَّمَ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin ‘Ubaid] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Muhammad] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat petang hari bersama kami yaitu shalat dzuhur atau ashar” Kata Abu Hurairah; “Ternyata beliau hanya shalat dua raka’at kemudian salam, lalu pergi ke kayu yang melintang di depan masjid sambil meletakkan tangan yang satunya (kanannya) di atas tangannya yang lain, dan terlihat di wajahnya seolah-olah beliau sedang marah, setelah itu orang-orang bergegas keluar (dari masjid) sambil berkata; “Shalat di qashar, shalat di qashar.”Dan di antara orang-orang tersebut terdapat Abu Bakar dan Umar, keduanya merasa segan untuk menanyakan hal itu, maka salah seorang yang di beri nama oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebutan Dzul yadain berdiri seraya bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah anda lupa ataukah memang shalat telah di qashar?” beliau menjawab: “Aku tidak lupa dan tidak pula mengqashar shalat.” Dzul Yadain berkata; “Akan tetapi anda lupa wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kepada orang-orang seraya bersabda: “Benarkah apa yang di katakan oleh Dzul Yadain?” para sahabat menjawab (dengan isyarat); “Ya, benar” lalu beliau maju kembali ke tempatnya semula dan menyelesaikan kekurangan (raka’at) yang tertinggal, kemudian salam. Setelah salam beliau bertakbir dan sujud seperti sujud biasa atau agak panjang sedikit lalu mengangkat kepala dan bertakbir, setelah itu beliau bertakbir lagi dan sujud seperti sujud biasa atau agak lama kemudian mengangkat kepala dan bertakbir.” Di tanyakan kepada Muhammad; “Apakah beliau salam dalam (sujud) sahwi?” jawabnya; “Aku tidak menghafalnya dari Abu Hurairah, tapi aku diberitahu bahwa [Imran bin Hushain] berkata; “Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salam…” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 856)

Ada riwayat hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam cukup menambahkan kekurangan rakaatnya dan tidak sujud yaitu Hadits berikut ini.

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَسَدٍ أَخْبَرَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَقَالَ لَه رَجُلٌ أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْ نَسِيتَ قَالَ كُلَّ ذَلِكَ لَمْ أَفْعَلْ فَقَالَ النَّاسُ قَدْ فَعَلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَلَمْ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Asad] telah mengabarkan kepada kami [Syababah] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi’b] dari [Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak pergi setelah selesai dari dua raka’at shalat wajib, maka seorang laki-laki bertanya kepada beliau; “Apakah shalat telah di qashar wahai Rasulullah ataukah anda lupa?” beliau menjawab; “Semua itu tidak aku lakukan.” Maka orang-orang berkata; “Anda telah melakukan hal itu wahai Rasulullah!.” Kemudian beliau mengerjakan dua raka’at yang tertinggal, lalu beliau beranjak pergi tanpa mengerjakan sujud sahwi dua kali” (Hadits Riwayat Abu daud Nomor 858)

Sujud Sahwi Jika Tidak Ingat Sama Sekali Sudah Berapa Rakaat

Dalam kasus tidak ingat telah berapa rakaat maka ia tidak tahu apakah ini kelebihan rakaat atau kekurangan rakaat. Termasuk di sini adalah kasus misalnya ia lupa sama sekali tadi sudah tasyahud awal atau belum, termasuk juga dalam kasus ini misalnya ia lupa salah satu rukun shalat ada yang tertinggal atau tidak. Maka dalam hal ini berlaku kapan Anda mulai menyadari atau mengingatnya? Jika pertanyaan keraguan itu sudah mulai timbul sebelum selesai shalat , maka sujud sahwinya bisa sebelum salam (sebelum shalat disempurnakan). Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ حَدَّثَنَا عِيَاضٌ ح و حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِلَالِ بْنِ عِيَاضٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَمْ يَدْرِ زَادَ أَمْ نَقَصَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ قَاعِدٌ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al ‘Ala`] telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ibrahim] telah menceritakan kepada kami [Hisyam Ad Dastuwa`i] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Katsir] telah menceritakan kepada kami [‘Iyadl]. Dan telah di riwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma’il] telah menceritakan kepada kami [Aban] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Hilal bin ‘Iyadl] dari [Abu Sa’id Al Khudri] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian shalat, dan tidak tahu apakah lebih ataukah kurang (raka’atnya) hendaknya ia sujud dua kali ketika masih duduk (tasyahud)” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 868)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَقَلْبِهِ فَيَقُولُ اذْكُرْ كَذَا وَكَذَا حَتَّى لَا يَدْرِيَ أَثَلَاثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا فَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ

“Telah bercerita kepada kami {Muhammad bin Yusuf} telah bercerita kepada kami {Al Awza’iy} dari {Yahya bin Abi Katsir} dari {Abu Salamah} dari {Abu Hurairah ra.} berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai, maka setan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi untuk mengganggu seseorang diantara dirinya dan jiwanya seraya berkata; ingatlah ini dan itu. Hingga orang itu tidak menyadari apakah tiga atau empat raka’at shalat yang sudah dikerjakannya. Apabila dia tidak tahu tiga atau empat raka’at maka sujudlah dua kali sebagai sujud sahwi” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 3043)

Namun, jika ingat dan ragunya itu timbul setelah selesai (sempurna) shalatnya (berarti setelah salam) maka sebaiknya ia bangkit dan shalat satu rakaat (karena berjaga-jaga mungkin saja ia kekurangan rakaat) lalu tasyshud dan salam. Setelah itu baru melakukan sujud sahwi (yaitu dua kali sujud lalu salam tanpa tasyahud). Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ وَأَبُو النَّضْرِ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ رَكْعَةً قَالَ يَزِيدُ حَتَّى يَكُونَ الشَّكُّ فِي الزِّيَادَةِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعَتَا لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى أَرْبَعًا فَهُمَا يُرْغِمَانِ الشَّيْطَانَ

“Telah menceritakan kepada kami {Yazid} dan {Abu An Nadlr} mereka berkata; telah mengabarkan kepada kami {Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah} dari {Zaid bin Aslam} dari {‘Atho` bin Yasar} dari {Abu Sa’id Al Khudri} dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian merasa ragu dalam shalatnya hingga tidak tahu apakah tiga raka’at atau empat raka’at yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia bangun dan shalat satu raka’at, {Yazid} berkata; “Agar keraguan itu tertumpu pada jumlah raka’at yang lebih, ” setelah itu hendaklah ia sujud sahwi dua raka’at, jika ia telah melaksanakan lima raka’at, maka sujud tersebut sebagai penyempurna. Dan jika ia melaksanakan empat raka’at, maka hal itu akan menjadikan setan benci.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 11367)

Jika Ragu Sudah Berapa Rakaat Maka Ambil Asumsi Yang Terendah

Jika Anda misalnya ragu apakah saat ini saya sudah berada pada rakaat ke tiga atau kedua, maka harus diasumsikan rakaat kedua. Jika ragu apakah saat ini saya sudah berada pada rakaat ke empat atau ketiga, maka harus diasumsikan rakaat ketiga. Dengan cara ini maka pasti berada pada kelebihan rakaat. Dalilnya ada Hadits berikut ini. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو يُوسُفَ الرَّقِّيُّ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الصَّيْدَلَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الثِّنْتَيْنِ وَالْوَاحِدَةِ فَلْيَجْعَلْهَا وَاحِدَةً وَإِذَا شَكَّ فِي الثِّنْتَيْنِ وَالثَّلَاثِ فَلْيَجْعَلْهَا ثِنْتَيْنِ وَإِذَا شَكَّ فِي الثَّلَاثِ وَالْأَرْبَعِ فَلْيَجْعَلْهَا ثَلَاثًا ثُمَّ لِيُتِمَّ مَا بَقِيَ مِنْ صَلَاتِهِ حَتَّى يَكُونَ الْوَهْمُ فِي الزِّيَادَةِ ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Yusuf Ar Raqqi Muhammad bin Ahmad Ash Shaidalani] berkata, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salamah] dari [Muhammad bin Ishaq] dari [Makhul] dari [Kuraib] dari [Ibnu Abbas] dari [‘Abdurrahman bin Auf] ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ragu antara dua raka’at atau satu, hendaklah ia jadikan satu raka’at. Jika ragu antara dua raka’at atau tiga, hendaklah ia jadikan dua. Jika ragu antara tiga atau empat, hendaklah ia jadikan tiga. Setelah itu hendaklah ia menyempurnakan kekurangannya, hingga keraguan itu bertumpu pada sesuatu yang lebih. Kemudian sujud sahwi dua kali dalam keadaan duduk sebelum salam.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 1199)

Maka kelebihan shalat ini akan dinilai sebagai shalat sunnah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُلْغِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ فَإِذَا اسْتَيْقَنَ التَّمَامَ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَإِنْ كَانَتْ صَلَاتُهُ تَامَّةً كَانَتْ الرَّكْعَةُ نَافِلَةً وَإِنْ كَانَتْ نَاقِصَةً كَانَتْ الرَّكْعَةُ لِتَمَامِ صَلَاتِهِ وَكَانَتْ السَّجْدَتَانِ رَغْمَ أَنْفِ الشَّيْطَانِ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Khalid Al Ahmar] dari [Ibnu ‘Ajlan] dari [Zaid bin Aslam] dari [‘Atho` bin Yasar] dari [Abu Sa’id Al Khudri] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian merasa ragu dalam shalat hendaklah ia hilangkan keraguannya dan kembali pada keyakinan. Jika ia yakin telah sempurna hendaklah sujud sahwi dua kali, jika shalatnya ternyata telah sempurna maka tambahan raka’at itu sebagai nafilah. Namun, jika raka’at shalatnya kurang, maka tambahan itu sebagai penyempurnanya. Dan dua sujud (sahwi) itu akan membuat setan benci.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 1200)

Bagaimana Tata Cara Sujud Sahwi Itu?

Sujud sahwi itu dilaksanakan dengan cara mulai takbir dalam keadaan tetap duduk (bukan berdiri) lalu melakukan sujud, dan berdoa seperti doa sujud biasa. Lalu takbir dan bangkit duduk (tanpa berdoa) lalu takbir untuk sujud lagi (untuk kedua kalinya) dan berdoa seperti doa sujud biasa. Lalu takbir lagi untuk bangkit duduk tawaruk seperti tasyahud akhir (tanpa atau dengan berdoa tasyahud) lalu melakukan salam. Hal ini sesuai petunjuk dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ أَبِي تَمِيمَةَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ اثْنَتَيْنِ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ أَقَصُرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى اثْنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ عَلْقَمَةَ قَالَ قُلْتُ لِمُحَمَّدٍ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ تَشَهُّدٌ قَالَ لَيْسَ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Telah menceritakan kepada kami {‘Abdullah bin Yusuf} telah mengabarkan kepada kami {Malik bin Anas} dari {Ayyub bin Abu Tamimah As-Sakhtiyaniy} dari {Muhammad bin Sirin} dari {Abu Hurairah radliallahu ‘anhu}, ketika Rasulullah menyelesaikan shalatnya yang baru dua raka’at, Dzul Yadain berkata kepada Beliau: “Apakah shalat diqashar atau anda lupa, wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain?” Orang-orang menjawab: “Benar”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bediri dan mengerjakan shalat dua raka’at yang kurang tadi kemudian memberi salam. Kemudian Beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi kemudian mengangkat kepalanya”. Telah menceritakan kepada kami {Sulaiman bin Harb} telah menceritakan kepada kami {Hammad} dari {Salamah bin ‘Alqamah} berkata; “Aku bertanya kepada {Muhammad} tentang dua sujud sahwi apakah ada tasyahudnya? Dia menjawab: “Tidak ada menurut hadits Abu Hurairah radliallahu ‘anhu “.(Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1152)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (Hadits Riwayat. Bukhari Nomor 1229)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ الْأَسَدِيِّ حَلِيفِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

“Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ibnu Syihab] dari [Al A’raj] dari [Abdullah bin Buhainah Al Asadi] sekutu bani Abdul Muthallib, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketika shalat Dhuhur yang seharusnya duduk. Maka ketika telah selesai beliau sujud dengan dua kali sujud, beliau bertakbir pada setiap sujud dan duduk sebelum salam. Orang-orang ikut sujud sahwi dua kali sujud bersama beliau sebagai pengganti duduk yang beliau terlupa.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 356)

Apakah Ada Takbiratul Ihram (Takbir seperti mulai awal shalat)

Dalam Hadits-Hadits di atas, nampak ada sedikit perbedaan dan kesimpang siuran terkait masalah takbir. Apakah ketika pertama kali mulai sujud sahwi itu ada takbiratul ihram? Yaitu takbir dengan mengangkat tangan dengan telapak menghadap ke muka?? Lalu apakah pada saat bangkit duduk itu juga ada takbir?

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Para ulama berselisih pendapat mengenai sujud sahwi sesudah salam apakah disyaratkan takbiratul ihram ataukah cukup dengan takbir untuk sujud? Mayoritas ulama mengatakan cukup dengan takbir untuk sujud. Inilah pendapat yang nampak kuat dari berbagai dalil” (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 3/99)

Apakah Ada Tasyahud Lagi Sebelum Salam Pada Sujud Sahwi?

Dalam Hadits di atas hanya dijelaskan bahwa setelah dua kai sujud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk kemudian salam. Tidak dijelaskan apakah ada tasyahud akhir lagi. Hal ini seolah menunjukkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya duduk dan tidak membaca doa tasyahud lagi dan langsung salam.

Namun, dalam riwayat lain diceritakan oleh Imran bin Husain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sujud sahwi dengan tasyahud lagi sebelum salam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي أَشْعَثُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ خَالِدٍ يَعْنِي الْحَذَّاءَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yahya bin Faris] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepadaku [Asy’ats] dari [Muhammad bin Sirin] dari [Khalid yaitu Al Khaddza`] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Al Muhallab] dari [‘Imran bin Hushain] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama mereka lalu lupa, maka beliau sujud dua kali, lalu tasyahud dan salam.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 875)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى النَّيْسَابُورِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَشْعَثُ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ وَهُوَ عَمُّ أَبِي قِلَابَةَ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَرَوَى مُحَمَّدٌ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ وَأَبُو الْمُهَلَّبِ اسْمُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو وَيُقَالُ أَيْضًا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو وَقَدْ رَوَى عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ وَهُشَيْمٌ وَغَيْرُ وَاحِدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ بِطُولِهِ وَهُوَ حَدِيثُ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ مِنْ الْعَصْرِ فَقَامَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي التَّشَهُّدِ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَتَشَهَّدُ فِيهِمَا وَيُسَلِّمُ و قَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ فِيهِمَا تَشَهُّدٌ وَتَسْلِيمٌ وَإِذَا سَجَدَهُمَا قَبْلَ السَّلَامِ لَمْ يَتَشَهَّدْ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ قَالَا إِذَا سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قَبْلَ السَّلَامِ لَمْ يَتَشَهَّدْ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yahya An Naisaburi] berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah Al Anshari] berkata; telah mengabarkan kepadaku [Asy’ats] dari [Ibnu Sirin] dari [Khalid Al Hadzdza`] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Al Muhallab] dari [Imran bin Hushain] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama para sahabat kemudian lupa, beliau lalu sujud dengan dua kali sujud. Setelah itu beliau tasyahud dan salam.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib. Muhammad bin Sirin meriwayatkan hadits yang berbeda dari Abu Al Muhallab, ia adalah paman Abu Qilabah. Sedangkan [Muhammad] meriwayatkan hadits ini dari [Khalid Al Hadzdza`] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Al Muhallab] dan Abu Al Muhallab namanya adalah Abdurrahman bin ‘Amru, disebut juga dengan nama Mu’awiyah bin ‘Amru. [Abdul Wahhab Ats Tsaqafi] dan [Husyaim] dan beberapa orang meriwayatkan hadits ini dari [Khalid Al Hadzdza`] dari [Abu Qilabah] dengan (lafadz) sempurna. Yaitu hadits Imran bin Hushain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam salam di rakaat ketiga pada shalat asar. Maka berdirilah seorang laki-laki yang bernama Hirbaq. Para ahli ilmu berselisih berkenaan dengan tasyahud dalam dua sujud sahwi. Sebagian mereka berkata; “Hendaknya seseorang bertasyahud dalam dua sujud tersebut kemudian salam.” Sedangkan yang lainnya berkata; “Pada dua sujud itu tidak ada tasyahud dan salam, jika ia melakukan sujud tersebut sebelum salam ia tidak harus bertasyahud.” Ini adalah pendapat yang diambil oleh Ahmad dan Ishaq, keduanya berkata; “Jika seseorang melakukan dua sujud sahwi sebelum salam maka ia tidak perlu bertasyahud.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 361)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Tidak ada dalil sama sekali yang mendukung pendapat ulama yang memerintahkan untuk tasyahud setelah sujud kedua dari sujud sahwi. Tidak ada satu pun hadits shahih yang membicarakan hal ini. Jika memang hal ini disyariatkan, tentu hal ini akan dihafal dan dikuasai oleh para sahabat yang membicarakan tentang sujud sahwi. Karena kadar lamanya tasyahud itu hampir sama lamanya dengan dua sujud bahkan bisa lebih. Jika memang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan tasyahud ketika itu, maka tentu para sahabat akan lebih mengetahuinya daripada mengetahui perkara salam, takbir ketika akan sujud dan ketika akan bangkit dalam sujud sahwi. Semua-semua ini perkara ringan dibanding tasyahud.” (Majmu’ Fatawa, 23/49)

Apakah Sujud Sahwi Itu Sesudah Atau Sebelum Salam?

Sebagaimana masalah fiqih lainnya kebanyakan terdapat perbedaan pendapat. Sebagian ada yang berpendapat sebelum salam (sebelum selesai shalat) dan yang lain berpendapat sujud sahwi itu dilaksanakan sesudah salam atau sempurna shalat. Namun, ada juga yang berpendapat tergantung yang mana dulu. Jika kelebihan rakaat, maka sebelum salam. Jika kekurangan rakaat maka sesudah salam, karena harus menambah lebih dulu rakaat yang kurang itu.

Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Para ahli ilmu berselisih pendapat kapan seseorang harus sujud sahwi, sebelum salam atau setelahnyaAda beberapa pendapat :

Sujud Sahwi Itu Setelah Salam (Sebelum disempurnakan shalat) baik kelebihan atau kekurangan rakaat

Abu Isa (Tirmidzi) berkata : “Sebagian mereka berpendapat bahwa itu dilakukan setelah salam. Pendapat ini diambil oleh Sufyan Ats Tsauri dan penduduk Kufah (Iraq). Abu Daud berkata; “Umar bin Abdul Aziz juga pernah memberi fatwa “Dan yang demikian bagi orang yang langsung berdiri dari dua raka’at (lupa dari tasyahud), kemudian dia sujud (sahwi) setelah salam.” Mereka yang berpendapat seperti ini berpegang pada hadits ini,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُسَلِّمْ ثُمَّ لْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

“Jika kalian ragu dengan jumlah rakaat ketika shalat, pilih yang paling meyakinkan, dan selesaikan shalatnya, sampai salam. Kemudian lakukan sujud sahwi dua kali.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi pegangan madzhab Hambali yang berpendapat semua sujud sahwi dilakukan setelah shalat selesai atau setelah salam.

Sujud Sahwi Itu Sebelum Salam (Sebelum disempurnakan shalat) baik kelebihan atau kekurangan rakaat)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata: “Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa itu dilakukan sebelum salam. Pendapat ini banyak diambil oleh para fuqaha (ahli fiqih) Madinah seperti Yahya bin Sa’id, Rabi’ah dan yang lainnya. Pendapat ini juga diambil oleh Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i)

Imam Syafi’I berpegang pada hadits ini,

عن أبي سعيد الخدري قال : قال رسول الله إذا شكَ أحد كم في صلاته فلم يدري كم صلَى ثلاثا أو أربعا فليطرح الشَكَ و ليبن على ما استقين, ثمَ يسجد سجدتين قبل أن يسلَم

“Dari Abu Sa’id Al-Khuidri radliallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika salah seorang diantara kalian merasa ragu ketika shalat, dan tidak mengetahui berapa rakaat ia telah shalat, maka hendaklah ia meninggalkan keraguan itu, kemudian mengambil apa yang diyakininya, kemudian sujud dua kali (sahwi) sebelum salam” (Hadits Riwayat Muslim)

Imam Ahmad juga berkata seandainya tidak dinukil riwayat selain itu, maka saya berpendapat semua sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Lebih lanjut Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahwa Hadits riwayat Buhainah radliallahu ‘anhu tidak bisa dijadikan hujjah bahwa semua sujud sahwi dilakukan sebelum salam. (Fathul Bari Jilid 6 Halaman 460)

Jika Kelebihan Rakaat, Sujud Sahwi Itu Setelah Salam, dan Jika Kekurangan Rakaat Sebelum Salam

Sebagian ulama mengatakan, “Jika itu berupa tambahan (kelebihan rakaat) maka sujud dilakukan setelah salam, tetapi jika berupa kekurangan rakaat, maka sebelum salam.” Pendapat ini diambil oleh Malik bin Anas (Madhzab Maliki).

Ibnu Hajar Asqolani mengatakan : Ada pendapat yang mengatakan bahwa Imam Bukhari bermaksud membedakan antara yang pengurangan (kurang rakaat) dan penambahan (kelebihan rakaat) Apabila mengurangi apa yang ada dalam shalat, maka sujud sahwi sebelum salam. Sedangkan apabila lupanya dalam bentuk penambahan (rakaat) maka sahwinya sesudah salam. Pendapat yang membedakan dua kondisi ini adalah pendapat Malik, Al-Muzani, Ibnu Tsaur dan Syafi’I (Fathul Bari Jilid 6 Halaman 469)

Sujud Sahwi Itu Sebelum Salam Jika Lupa Tasyahud (Atau rukun lain), Namun Rakaatnya Benar. Sedangkan Jika Rakaatnya kelebihan atau kekurangan, sujud sahwinya Setelah Salam

Pendapat ini diambil oleh Imam Ahmad (Madzhab Hambali) berkata; “Hadits itu diamalkan sesuai dengan kasus yang menyertainya. Jika seseorang berdiri pada rakaat kedua (tanpa tasyahud awal) sebagaimana hadits Ibnu Buhainah maka ia sujud sahwi sebelum salam. Jika ia shalat Dzhuhur lima rakaat (kelebihan rakaat) maka ia sujud dua kali setelah salam. Dan jika ia salam di rakaat kedua pada shalat Dhuhur atau Ashar (kekurangan rakaat) maka ia sujud setelah salam. Setiap itu dilakukan sesuai dengan kasusnya. Dan setiap (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) lupa, tidak pernah disebutkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dua sujud sahwi itu dilakukan sebelum salam.

Pendapat ini disetujui oleh Imam Ishaq yang juga mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ahmad, bahwa, “Dan setiap (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) lupa tidak pernah disebutkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jika itu berupa tambahan (kelebihan rakaat) dalam shalat maka ia sujud sebelum salam, namun jika kurang dalam rakaat, maka ia sujud sebelum salam (Jadi membantah pendapat Madzhab Maliki)

Namun, Imam Nawawi mengatakan bahwa yang paling kuat dalam hal ini adalah pendapat Imam Malik.

Apakah Takbirnya Itu Berdiri Atau Duduk?

Takbir pada sujud sahwi dilakukan dalam posisi duduk dan bukan dalam posisi berdiri. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ الْأَسْدِيِّ حَلِيفِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa’id] telah menceritakan kepada kami [Laits] dari [Ibnu Syihab] dari [Al A’raj] dari [‘Abdullah Ibnu Buhainah Al Asadiy] sekutunya suku ‘Abdul Muthalib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah Beliau menyempurnakan shalatnya, Beliau sujud dua kali, dan Beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum memberi salam” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1154).

Apakah Bacaan Doa Sujud Sahwi?

Sebagian ulama menganjurkan doa ini saat melakukan sujud sahwi,

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huu” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa)” (An Nawawi rahimahullah dalam Roudhotuth Tholibiin, 1/116)

Namun, bacaan doa sujud sahwi di atas hanyalah anjuran saja dari sebagian ulama. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Secara tepatnya memang tidak ada dalilnya tentang bacaan sujud sahwi, bacaan yang juga dapat dibaca ketika sujud sahwi adalah sebagai berikut,

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Subhaana robbiyal a’laa” (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi)” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 772)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummaghfirli.” (Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku) (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 817 dan Muslim Nomor 484)

Dalam Mughnil Muhtaj (salah satu kitab fiqih Syafi’iyah) disebutkan, “Tata cara sujud sahwi sama seperti sujud ketika shalat dalam perbuatann wajib dan sunnahnya, seperti meletakkan dahi, tuma’ninah (bersikap tenang), menahan sujud, menundukkan kepala, melakukan duduk iftirasy ketika duduk antara dua sujud sahwi, duduk tawarruk ketika selesai dari melakukan sujud sahwi, dan dzikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut adalah seperti dzikir sujud dalam shalat.”

Kesimpulan:

Sujud sahwi jelas dilaksanakan pada kasus tertinggalnya salah satu rukun shalat karena lupa, kelebihan rakaat, kekurangan rakaat atau lupa sudah berapa rakaat (tidak tahu kelebihan atau kekurangan). Maka sujud sahwi dilaksanakan dengan dua kali sujud, dan takbir pada setiap sebelum sujud. Dan doa sujud sahwi itu sama dengan doa pada shalat biasa. Inilah hal yang tidak ada perbedaan diantara para fuqaha (ahli Fiqih).

Namun, para fuqaha (ahli fiqih) dan imam madzhab berbeda pendapat tentang apakah dalam sujud sahwi itu ada tasyahud atau tidak, lalu apakah sujud sahwi itu sebelum salam atau sesudah salam

Shidiq Hasan Khan berkata, “Hadits-hadits yang tegas menjelaskan mengenai sujud sahwi kadang menyebutkan sujud sahwi dilakukann sebelum salam dan kadang pula sesudah salam. Hal ini menunjukkan bahwa boleh melakukan sujud sahwi sebelum ataukah sesudah salam. Akan tetapi lebih bagus jika sujud sahwi ini mengikuti cara yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika ada dalil yang menjelaskan bahwa sujud sahwi ketika itu sebelum salam, maka hendaklah dilakukan sebelum salam. Begitu pula jika ada dalil yang menjelaskan bahwa sujud sahwi ketika itu sesudah salam, maka hendaklah dilakukan sesudah salam. Selain hal ini, maka di situ ada pilihan. Akan tetapi, memilih sujud sahwi sebelum atau sesudah salam itu hanya sunnah (bukan wajib)” (Ar-Roudhotun Nadiyyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Shidiq Hasan Khon, 1/182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H)

Jadi, dari berbagai sumber diatas tidak ada kesepakatan terkait dengan dimana letak sujud sahwi, maka dari itu pilihan terkait tempat sujud sahwi itu dikembalikan kepada pilihan yang anda yakini atau lebih logis menurut Anda.

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke