Sifat Kasih Sayang Nabi Terhadap Umatnya Adalah Berat Terasa Olehnya Penderitaan Mereka.

Selain cinta, kasih sayang adalah perasaan yang diharap oleh semua orang. Rasa sayang akan tercipta dan menimbulkan perlindungan, perhatian, dan kepedulian terhadap kepentingan orang lain. Kasih sayang bisa mendorong seseorang ikhlas untuk melibatkan diri terhadap keadaan suka dan duka yang dialami orang lain. Rasa sayang akan melenyapkan sifat-sifat egois dan individualis dari seseorang, sehingga terciptanya kemaslahatan sosial.

Kasih sayang merupakan bagian terpenting dalam ajaran agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membekali manusia dengan hati nurani dengan harapan dalam menjalin hubungan antar sesama saling menyayangi.

Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri sebagai Tuhan tunggal umat Islam memiliki sifat utama, yakni Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan sifat Kasih Sayang Tuhan, tentunya bagi semua hamba yang menyembahnya harus mewujudkan dalam keseharian hidupnya.

Namun begitu, walaupun setiap manusia dibekali sifat kasih sayang, seseorang bisa berlaku kejam dan bengis lantaran nafsu angkara murkanya menutupi sifat tersebut.

Islam sendiri sebagai agama memandang rasa kasih sayang yang dimiliki umatnya sebagai sarana ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apapun yang difikirkan dan dilakukan setiap hamba harus bernilai pengabdian murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab manusia diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56-58)

Wujud kasih sayang sebagai sarana ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah semua sikap dan tindakannya selalu menimbulkan kemaslahatan bagi lingkungan di sekitarnya. Dengan memberi maslahat kepada sekitar berarti telah melaksanakan perintahNya. Dengan menghindari mafsadat dari setiap tindakan kita berarti telah menjauhi laranganNya.

Sifat kasih sayang merupakan bagian dari ibadah. Wujud ibadah dalam kasih sayang adalah manakala mengikuti Allah dan mengamalkan ajaran-ajaranNya. Dengan begitu Allah akan mencintai dan menjadi sebab sebab terhapusnya dosa-dosa. Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 31)

Menyayangi orang lain dengan mengharap ridha Allah, niscaya akan dibalas sayang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud)

Berdasarkan hadits di atas rasa kasih sayang tidak memiliki makna yang terbatas. Sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunya tidak membatasi sayang hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada semua makhluq hidup. Tidak hanya membatasi kepada makhluq hidup, namun juga kepada benda-benda yang tidak bernyawa. Dan tidak hanya membatasi kepada sesama agama, namun kepada semua umat beragama. Karena agama Islam memiliki pandangan bahwa kasih sayang untuk seru sekalian alam. Karena Nabi diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai rahmah atau menyebar kasih sayang bagi semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Surat Al-Anbiya Ayat 107)

Menyayangi orang lain merupakan perintah dan anjuran agama yang harus terus dilestarikan agar terjaga kerukunan antar sesama. Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Turmudzi,

مَنْ لَا يَرْحَمْ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ

“Barangsiapa tidak menyayangi sesama manusia, Allah tidak menyayanginya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2303)

Kasih sayang Allah akan didapat bila hambanya saling menyayangi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا يَرْحَمُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang dirahmatiNya adalah para penyayang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak akan mengasihi siapa saja yang tidak menyayangi manusia.” (Hadits Bukhari Nomor 6828)

Dalam hadits tersebut menggunakan kata “manusia” itu berarti perintah menyayangi bukan hanya kepada mereka yang seiman saja, namun berlaku mutlak, yakni kepada siapa saja yang baik mereka yang beriman maupun tidak. Maka, Islam memerintahkan umat Islam untuk menyayangi semua manusia di muka bumi.

Makna hadits di atas juga diperkuat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat lain, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”. Kemudian mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, semua kami pengasih”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kembali, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia).” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh agung ajaran agama Islam sehingga sangat memerintahkan kepada umatnya untuk menyayangi kepada semua hal, mulai menyayangi manusia atau makhluk lainnya, menyayangi makhluk hidup maupun benda mati. Terdapat sebuah riwayat tentang Abu Bakar as shiddiq radhiallahu ‘anhu berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid,

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ بَعَثَ جُيُوشًا إِلَى الشَّامِ فَخَرَجَ يَمْشِي مَعَ يَزِيدَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَكَانَ أَمِيرَ رُبْعٍ مِنْ تِلْكَ الْأَرْبَاعِ فَزَعَمُوا أَنَّ يَزِيدَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ إِمَّا أَنْ تَرْكَبَ وَإِمَّا أَنْ أَنْزِلَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ مَا أَنْتَ بِنَازِلٍ وَمَا أَنَا بِرَاكِبٍ إِنِّي أَحْتَسِبُ خُطَايَ هَذِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ لَهُ إِنَّكَ سَتَجِدُ قَوْمًا زَعَمُوا أَنَّهُمْ حَبَّسُوا أَنْفُسَهُمْ لِلَّهِ فَذَرْهُمْ وَمَا زَعَمُوا أَنَّهُمْ حَبَّسُوا أَنْفُسَهُمْ لَهُ وَسَتَجِدُ قَوْمًا فَحَصُوا عَنْ أَوْسَاطِ رُءُوسِهِمْ مِنْ الشَّعَرِ فَاضْرِبْ مَا فَحَصُوا عَنْهُ بِالسَّيْفِ وَإِنِّي مُوصِيكَ بِعَشْرٍ لَا تَقْتُلَنَّ امْرَأَةً وَلَا صَبِيًّا وَلَا كَبِيرًا هَرِمًا وَلَا تَقْطَعَنَّ شَجَرًا مُثْمِرًا وَلَا تُخَرِّبَنَّ عَامِرًا وَلَا تَعْقِرَنَّ شَاةً وَلَا بَعِيرًا إِلَّا لِمَأْكَلَةٍ وَلَا تَحْرِقَنَّ نَحْلًا وَلَا تُغَرِّقَنَّهُ وَلَا تَغْلُلْ وَلَا تَجْبُنْ

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Yahya bin Sa’id] bahwa [Abu Bakar Ash Shiddiq] mengirim pasukan ke negeri Syam, lalu dia ikut keluar bersama Yazid bin Abu Sufyan yang saat itu memimpin seperempat dari tentara tersebut. Orang-orang berkeyakinan bahwa Yazid pernah berkata kepada Abu Bakar, “Engkau naik, atau aku yang turun.” Abu Bakar berkata; “Janganlah kamu turun agar saya mengendarai kendaraan. Saya telah meniatkan langkah-langkahku ini hanya di jalan Allah.” Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya; “Kalian akan mendapatkan suatu kaum yang mengklaim bahwa mereka telah menahan dirinya untuk Allah, maka jauhilah mereka dan apa yang mereka sangkakan. Kamu juga akan mendapatkan suatu kaum yang menggunduli bagian tengah kepala mereka, maka pukullah apa yang mereka cukur tersebut dengan pedang. Sungguh saya berwasiat kepadamu dengan sepuluh perkara: jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, anak-anak dan orang yang sudah tua. Jangan memotong pohon yang sedang berbuah, jangan merobohkan bangunan, jangan menyembelih kambing ataupun unta kecuali hanya untuk dimakan, jangan membakar pohon kurma atau menenggelamkannya. Dan janganlah berbuat ghulul atau menjadi seorang yang penakut.” (Hadits Malik Nomor 858)

Islam adalah agama kasih sayang, dan Islam sendiri diturunkan dengan penuh kasih sayang kepada semua umat manusia. Begitu seharusnya tercermin pada para penganutnya untuk senantiasa menebarkan kasih sayang di muka bumi. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Surat At-Taubah Ayat 128)

Puncak kasih sayang dari umat Islam adalah manakala mencintai orang serasa mencintai dirinya sendiri. Bahkan seseorang dianggap tidak memiliki iman manakala tidak mencintai orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya, atau dia mengatakan, ‘untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Hadits Muslim Nomor 64)

Dalam mewujudkan kasih sayang terhadap sesama manusia dengan cara membantu kesulitan mereka. Berbagi terhadap mereka yang sedang membutuhkan. Mengajak kepada mereka kebaikan dan mengingatkan mereka untuk menghindari kemungkaran. Sedangkan kasih sayang umat Islam kepada lingkungan hidupnya dengan cara tidak mengkesploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Melestarikan flora fauna agar tidak punah. Dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-A’raf Ayat 56)

Walaupun menyayangi makhluk lain merupakan fitrah yang dimiliki manusia. Namun rasa kasih sayang tersebut harus sesuai porsinya. Tidak boleh menyayangi dengan cara melewati batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat agama Islam. Salah satu bentuk melampaui batas dalam kasih sayang adalah manakala tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 2)

Sungguh terlaknat dan celaka manakala seseorang tidak memiliki rasa kasih sayang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ

“Apabila Allah ‘azza wajalla hendak membinasakan seorang hamba maka Dia akan memcabut rasa malu darinya, apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu tidak mendapatinya melainkan dalam keadaan sangat dibenci, maka akan dicabut amanah darinya, apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak mendapatinya kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu. Apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan menipu dan tertipu, maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang, dan apabila dicabut darinya kasih sayang, kamu tidak akan menjumpainya kecuali dalam keadaan terlaknat lagi terusir, dan apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan terlaknat lagi terusir, maka akan dicabut darinya ikatan Islam.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4044)

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ

“Rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1846)

Jadikan kasih sayang sebagai landasan hidup agar kita dapat meraih cinta dan ridha Allah. Barangsiapa menyayangi semua orang, niscaya akan disayangi oleh banyak orang.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke