Selama Ada Hukum Allah Maka Wajib Didahulukan

Hidup harus berdasarkan sebuah aturan agar lebih teratur, tertib, dan tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang hamba-Nya untuk menyekutukan-Nya dalam menentukan apapun terlebih dalam menetapkan hukum dan Dia menyatakan bahwa tak satupun orang yang dapat melebihi kebaikan hukum-Nya. Hanyalah Allah dzat yang dapat menetapkan hukum dan Allah merupakan sebaik-baiknya penetap hukum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ ۚ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”. (Surat Al-An’am Ayat 57)

Merupakan kewajiban untuk memutuskan perkara umat Islam berdasarkan keputusan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

“Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Surat Al-Mu’min Ayat 12)

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Surat Yusuf Ayat 40)

Alasan kenapa umat Islam wajib memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah, sebab hanya Allah sebagai hakim yang paling adil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (Surat At-Tin Ayat 8)

Allah adalah pengambil keputusan yang terbaik bagi hambanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Surat Al-Kahf Ayat 26)

Hukum Allah adalah yang paling baik dibanding dengan hukum-hukum yang ada di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Surat Al-Ma’idah Ayat 50)

Selama masih ada hukum Allah yang tercantum dalam Kitab, namun menggunakan hukum selain hukum Allah tanpa adanya darurat, maka mereka tergolong orang fasik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 47)

Bila sebuah perkara telah diputuskan oleh agama, namun menolak untuk mengamalkannya, niscaya dia telah kembali pada kemunafikan dan kekafiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ. ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka.” (Surat Muhammad Ayat 25-26)

Sungguh dzalim manakala menggunakan hukum selain hukum Allah, selama masih terdapat hukum Allah dalam kitab dab tidak ada halangan sedikitpun dalam mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (Surat Asy-Syura Ayat 21)

Sungguh akan sempurna keimanan seseorang manakala sudi mengamalkan hukum-hukum Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 65)

Barangsiapa yang sekuat tenaga menghindari aturan-aturan yang bertentangan dengan agama Islam (taghut) niscaya Allah akan memberikan kekuatan kepada umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 256)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Surat An-Nahl Ayat 36)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (Surat An-Nisa’ Ayat 51)

Dengan begitu, aturan-aturan, hukum-hukum, dan sistem-sistem yang ada di dunia ini yang walaupun berasal selain dari Allah namun tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah tidak dapat disebut dengan thagut.

Kewajiban seorang muslim disamping taat kepada Allah dan RasulNya, juga taat kepada aturan-aturan yang disepakati oleh sebuah bangsa, sebuah negara, sebuah sistem, sebuah pemerintahan, atau seorang penanggungjawab atas kehidupan kaum muslimin selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 59)

Memang benar bahwa umat Islam wajib berhukum atas dasar hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat yang telah disebutkan di atas. Juga sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,” (Surat An-Nisa’ Ayat 105)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Surat An-Nisa’ Ayat 80)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik No. 1395)

Bahkan bagi mereka yang tidak memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah dihukumi kafir. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut;

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 44)

Namun begitu, bukan berarti memutuskan perkara menggunakan hukum selain hukum Allah itu tidak boleh. Sebab tidak semua hukum Allah tertuang didalam kitab sucinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitabnya;

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (al-Qur’an) Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat (al-Qur’an) Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (QS. al-Kahfi[18]: 109)

Berdasarkan ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak semua ajaran kebaikan atau ilmu Allah tertulis dalam al-Qur’an dan Hadits. Yakni, sebagian hukum-hukum agama bersumber dan berdasarkan dari pemikiran dan hasil ijtihad umat Islam. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah dalil aqli. Yang keberadaannya tidak dicantumkan dalam teks al-Qur’an dan Hadits, melainkan dirumuskan melalui ijtihad atau analisis pemikiran.

Di samping tidak semua ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala tertulis dalam al-Qur’an, juga tidak semua ajaran yang ada dalam al-Qur’an disampaikan secara rinci dan jelas, sehingga tidak semua manusia mampu memahaminya. Hal ini berdasarkan,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ

“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat (tidak jelas dann simpang siur), itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. (QS. Ali ‘Imran[3]: 7)

Karena tidak semua ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits, sedangkan persoalan manusia semakin berkembang dan terus muncul persoalan baru, maka solusi penyelesaiannya bagi yang diberi kemampuan dianjurkan untuk menggali ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih tersembunyi di dalam al-Qur’an dan Hadits menggunakan metode naqli, sedangkan mencari ilmu Allah yang masih tersebar dalam kejadian alam semesta menggunakan metode aqli.

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Maka ambillah (kejadian kehidupan itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (QS. al-Hasyr[59]: 2)

Senada dengan firman di atas bahwa tidak semua masalah umat diatur oleh al-Qur’an dan Hadits, sehingga bila sebuah masalah umat tidak ditemukan dalilnya dalam keduanya, maka dibenarkan bagi ahli agama untuk menggali hukum berdasarkan akalnya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab; Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab; Dengan Sunnah Rasulullah SAW. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; Aku akan berijtihad dengan pendapat (akal)-ku. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ” (HR. Tirmidzi No. 1249)

Namun sayangnya tidak semua manusia diberi kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dalam setiap kejadian hidup. Orang-orang dengan maqam (kedudukan) ini diperintahkan bertanya dan meminta bimbingan kepada mereka yang ahli agar tidak salah dan tersesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl[16]: 43)

Berdasarkan penjelasan di atas, di mana memutuskan perkara-perkara tertentu menggunakan hukum selain hukum Allah itu boleh, sebab tidak semua hukum Allah tertuang di dalam kitab sucinya. Dengan begitu, dalam perkara-perkara tertentu agama mengizinkan hambanya memutuskan perkara menggunakan hukum selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beberapa pertimbangan berikut;

Pertama; Selama perkara-perkara tertentu tersebut tidak dan belum diatur oleh agama. Hal ini berdasarkan sabda Nabi berikut;

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Kedua; Selama perkara tersebut terkait dengan perkara mubah, muamalah, adah (tradisi) yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik (diserahkan pada takdir). ” Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah Anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda: ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian. “(HR. Muslim No. 4358)

Ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang sangat terbuka dan akomodatif. Islam dengan keuniversalannya, tidak anti dengan kebaikan-kebaikan, walaupun itu tidak berasal dari teks-teks nash agama. Islam sangat luas dan luwes mau menerima perubahan-perubahan yang akan terus terjadi seiring perubahan dan perkembangan zaman, selama itu baik dan menimbulkan kebaikan, maka tidaklah tertolak. Hal-hal ma’ruf dapat dijadikan dasar amaliah dalam kehidupan umat Islam, karena tidak semua amaliah (selain ibadah mahdhah) harus didasarkan pada nash-nash agama Islam, karena terkait menghadapi dan menyikapi perubahan kondisi zaman. Umat Islam dianggap lebih mengetahui hal itu.

Sebagaimana sebuah praktek jual beli yang dihukumi boleh walaupun tidak menggunakan aturan hukum agama Islam. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam sebuah riwayat hadits berikut;

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ فَقَالَ مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistim tradisional (bukan hukum Islam), yaitu membayar dimuka dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian, Maka Beliau bersabda: “Siapa yang mempraktekkan kebiasaan sebuah kaum dalam jual beli buah-buahan hendaklah dilakukannya (tetap) dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui”. (HR. Bukhari No. 2086)

Mengamalkan sebuah budaya lokal, adat istiadat, tradisi dan kebiasaan yang berlaku di sebuah wilayah yang bernilai kebaikan sebagai nilai tambah merupakan perkara yang dibenarkan oleh agama. Kebolehan sebuah kebiasaan, tradisi, budaya, dan adat istiadat masyarakat setempat tersebut selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar keharaman. Disamping itu hukum boleh tersebut juga sesuai dengan kaidah,

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi sebuah kaum) dapat dijadikan hukum”

Kaidah tersebut berdasarkan Hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Upaya menggunakan nalar kecerdasan manusia untuk mewujudkan kebaikan melalui kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di masyarakat juga sudah terjadi dan diterima sejak zaman Nabi. Sebagaimana Nabi juga sering, dalam menetapkan hukum syariat agama Islam, mengakomodasi kebiasaan baik masyarakat pada waktu itu.

Ketiga; Selama bukan perkara yang mengandung unsur keharaman. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan (1) perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, (2) dan perbuatan dosa, (3) melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (4) (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. al-A’raf: 33)

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa setiap larangan yang Allah tetapkan pasti menggunakan kriteria. Kriteria perbuatan yang diharamkan Allah adalah;

  1. Perbuatan yang mengandung unsur kekejian.
  2. Perbuatan yang mengandung unsur kemaksiatan (dosa).
  3. Perbuatan yang mengandung unsur kerugian sosial.
  4. Perbuatan yang mengandung unsur kesyirikan.
  5. Berbohong atas nama agama, dengan mengharamkan tanpa dalil yang jelas (membid’ahkan). Maksudnya, haram hukumnya membid-ah-bid’ahkan amalan umat Islam tanpa dalil yang qath’i. Alias, tidak boleh mengharamkan amaliah yang spesifik menggunakan dalil yang am. Bagaimana bisa mengharamkan setiap amalan yang khusus menggunakan dalil-dalil yang umum. Itu namanya berdusta atas nama agama. Sesuai dengan firman Allah berikut;

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung (terlaknat).” (QS. an-Nahl [16]: 116)

Sebab kenapa umat Islam diperbolehkan untuk berhukum menggunakan hukum selain Islam adalah karena mayoritas umat Islam diyakini nalar dan nuraninya yang telah dibekali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mustahil berijtimak (bersepakat) dalam hal keburukan dan kemungkaran. Dengan kata lain, Nabi menyatakan bahwa umat manusia secara naluriah tidak akan membuat dan bersepakat atas kejahatan dan keburukan, seperti sabda Nabi berikut,

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu/bersepakat di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di Sawadul a’dzam (kelompok yang terbanyak).” (HR. Ibnu Majah No. 3940)

Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang mendasari kehidupan umat Islam adalah nilai-nilai ta’awun. Yang dimaksud dengan ta’awun yakni menyatakan adanya tuntutan untuk kerjasama demi kepentingan Tuhan dan kepentingan manusia sendiri. Allah Azza wa Jalla berfirman:

ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” [al-Mâidah/5:2]

Kehidupan umat manusia juga ditakdirkan oleh Allah tidak terlepas dari taghyir (mengalami perubahan). Prinsip ini menyatakan bahwa manusia berperan besar dalam menentukan perubahan hidupnya. Kehidupan menuntut suatu perubahan yang memang sejalan dengan perkembangan kesadaran manusia yang selalu ingin mengadakan perbaikan. Seperti halnya yang digariskan dalam al-Qur’an. Dalam artian Allah mendukung peran manusia dalam berproses untuk berubah mulai dari tahap ke tahap, bagaimanapun perubahan itu akan berlangsung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Surat Ar-Ra’d Ayat 11)

Sebagaimana yang disabdakan Nabi bahwa tidak semua rincian hukum tertuang di dalam al-Qur’an dan Hadits disebabkan kondisi sosial yang terus mengalami perubahan dan perkembangan. Agar umat Islam bisa berkembang dan berkemajuan namun tetap berada di bawah koridor panji-panji hukum Allah, maka orang-orang yang memiliki kemampuan dan pemahaman mendalam diperintahkan menggali hukum dari persoalan-persoalan yang sedang dihadapi umat, menggunakan ijtihad ra’yinya atau penelitian pikirannya dengan tetap menggunakan dasar al-Qur’an dan Hadits. Nabi bersabda,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab; Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab; Dengan Sunnah Rasulullah SAW. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; Aku akan berijtihad dengan pendapat (akal)-ku. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ” (HR. Tirmidzi No. 1249)

Mencari hukum persoalan umat yang tidak tertuang secara rinci dalam al-Qur’an dan Hadits menggunakan kekuatan pikiran seorang Ahli Agama Islam hukumnya boleh atau bahkan wajib sebagai bentuk solusi persoalan yang sedang dihadapi umat. Hukum kebolehan tersebut dengan catatan tetap menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai landasan utamanya, dan dengan catatan lagi, tidak bertentangan dengan pokok-pokok atau dasar yang telah ditetapkan Allah dan Nabi dalam al-Qur’an dan Hadits.

Banyak hadits yang mengisyaratkan diperbolehkannya umat Islam memutuskan perkara tidak berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits selama perkara tersebut tidak dan belum diatur oleh Allah dan Nabi. Perkara-perkara yang belum dan tidak diatur tersebutlah yang dihukumi mubah.

Mubah merupakan sebuah hukum Islam yang berdasarkan pembebasan untuk dilakukan umatnya sebab didiamkan oleh agama karena tidak adanya aturan secara terperinci tentang “larangan ataupun perintah” dari Allah maupun Nabi. Sehingga apapun perkara yang tidak terdapat larangan maupun perintah dari Al-Qur’an maupun Hadits secara qath’i (tekstuasl) maka dihukumi mubah, sedangkan mubah itu sendiri perkara yang dimaafkan oleh agama sehingga hukumnya masuk ke dalam kategori halal, dari hukum halal ini bisa berupa wajib atau sunnah. Semua perkara yang didiamkan oleh agama (Allah dan Nabi) dihukumi mubah dan halal didasarkan oleh banyak dalil. Di antaranya,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah riwayat Hadits,

كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ

“Dahulu orang-orang jahiliyah biasa makan beberapa macam makanan dan meninggalkan beberapa makanan karena jijik. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan (tidak diatur) maka hukumnya dimaafkan (semuanya halal). ” (Hadits Abu Daud Nomor 3306)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah riwayat Hadits,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang mentega, keju dan al-Fara (sejenis baju dari kulit). ” Beliau lalu menjawab: “Halal adalah sesuatu yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya, dan haram adalah sesuatu yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan, maka itu adalah sesutau yang Allah maafkan. ” (HR. Tirmidzi No. 1648)

Sudah sangat jelas bahwa agama memang sengaja tidak merinci dan menerangkan satu per satu kepada umat Islam setiap perkara dalam agama sebagai wujud kasih sayang dari Allah. Pemahaman ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu menyia-nyiakannya dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar. Dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia. Allah telah mendiamkan (sengaja tidak mengatur detail dan rinci) beberapa hal (ajaran agama Islam) sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia. ” (Riwayat Daaruquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Memang Islam itu mudah dan memudahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. al-Baqarah[2]: 185)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah riwayat Hadits,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan Al Ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat setelah zhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah (berangkat di waktu malam) “. (Hadits Bukhari Nomor 38 dan Hadits Nasai Nomor 4948)

Maka tidak heran bilamana Nabi dan para sahabat juga terbiasa membuat kreasi dan inovasi dalam kehidupan kesehariannya terhadap perkara-perkara mubah yang tidak ada aturan rinciannya dari agama. Sebagaimana yang dilakukan Nabi ketika meniru tradisi, budaya, dan kebiasaan orang Yahudi dalam sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka menyamai Ahli Kitab di sebagian perkara yang tidak diperintahkan (tidak ada aturan rinciannya dalam agama),” (HR. Bukhari No. 5462)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah riwayat Hadits,

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih suka mencontoh para Ahli kitab, selama belum ada perintah tertentu (tidak ada aturan rinciannya) mengenai perkara agama.” (HR. Muslim No. 4307)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah riwayat Hadits,

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُعْجِبُهُ مُوَافَقَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ

“Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih senang menyamai orang-orang ahli kitab pada hal-hal yang tidak ada perintahnya (tidak ada aturan rinciannya dalam agama).” (HR. Abu Daud No. 3656)

Arahan Allah dalam firman-firmannya, dan arahan Nabi dalam sabda-sabdanya di atas sangat sesuai dengan kaidah fikih (hukum Islam) berikut,

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ اَلْإِبَاحَةُ

“Hukum asal pada sesuatu adalah kebolehan”

Dari kaidah ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa asal sesuatu perkara halal hukumnya dan mubah (boleh) dikerjakan. Kecuali setelah adanya dalil qath’i yang melarangnya. Kaidah tersebut didukung dengan dalil yang cukup kuat yaitu,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu;” (QS. al-Baqarah[2]: 22)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia telah menundukkan (disediakan) untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai media kreasi) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang (mau melakukan observasi) berfikir.” (QS. al-Jasiyah: 13)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Surat Asy-Syura Ayat 38)

Sementara prinsip musyawarah ini diperkuat dengan sumber sekunder syariah, yaitu sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri. Afan Ghaffar mengatakan:

“Adapun Beliau (Nabi) bermusyawarah dengan mereka (para sahabat) dalam suatu perkara yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an, dan yang Nabi sendiri tidak mendapat perintah (langsung) dari Allah, maka hak mereka (para sahabat) itu untuk memberi pendapat dan juga untuk mengajukan usul di luar hal yang Nabi sendiri telah pasti akan melakukannnya. Contohnya ketika Nabi menempatkan (pasukan) sahabat Beliau pada suatu posisi sewaktu perang Badr, kemudian al-Hubaib ibn al-Mundir ibn al-Jamuh bertanya, “ini perintah yang diturunkan oleh Allah kepada Engkau ataukah pendapat dan musyawarah?”. Nabi menjawab, “ini hanyalah pendapat dan musyawarah.” Maka dia (al-Hubaib) menyarankan Nabi posisi lain yang lebih cocok untuk kaum Muslim, dan Beliau menerima saran ini.

Baca juga;

Demokrasi Tidak Bertentangan dengan Islam

Demokrasi Hukum Kufur dan Syirik?

Ayat-ayat dan Hadits-hadits pada penjelasan di atas jelas dan tegas menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyerahkan segala sesuatu di bumi ini untuk manusia. Sebab memang Manusia ditunjuk oleh Allah sebagai pengelola (khalifah) alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Surat Al-Baqarah Ayat 30)

Inilah dalil tentang hukum asal segala sesuatu mubah (halal) bagi manusia. Dan mustahil bagi Allah menciptakan segala sesuatu untuk manusia sebagai karunia, namun Dia sendiri mengharamkannya. Kalaupun ada sesuatu yang Allah haramkan, bukan karena sesuatu tersebut haram, namun pasti ada faktor luar yang menyebabkan sesuatu tersebut akhirnya diharamkan.

Jadi, sangat jelas bahwa umat Islam sangat diperbolehkan untuk berhukum menggunakan hukum selain dari hukum Allah dan Nabi, selama memenuhi kriteria di atas.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke