Salat Fardhu pada Siang Hari Tergolong Shalat Sirr yang Bacaannya Dipelankan

Para ulama bersepakat bahwa shalat siang hari, yakni Dzuhur dan Isya’ tergolong shalat di mana bacaannya dipelankan, maksudnya tidak diperdengarkan pada orang lain namun cukup didengar dirinya sendiri. Baik shalat yang dilaksanakan tersebut sendirian maupun berjamaah. Pemahaman tersebut didasrkan pada beberapa Hadits berikut;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ قُلْتُ لِخَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قَالَ قُلْتُ بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ قِرَاءَتَهُ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Al A’masy] dari [‘Umarah] dari [Abu Ma’mar] berkata, “Aku bertanya kepada [Khabbab bin Al Arat], ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar? ‘ Dia menjawab, “Ya.” Kami tanyakan lagi, “Bagaimana kalian bisa mengetahui bacaan Beliau?” Dia menjawab, “Dari gerakan jenggot Beliau.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 719)

Pada Hadits di atas dapat kita lihat bahwa dalam shalat Dzuhur dan Ashar, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengeraskan bacaannya terbukti bahwa sahabat mengetahui beliau membaca sesuatu atau tidak dari gerakan jenggot dan bukan dari suara beliau. Ini menunjukkan shalat Dzuhur dan Ashar adalah sirriyah.

Dalam beberapa Hadits kita jumpai bahwa terkadang dalam shalat Dzuhur atau Ashar yang seharusnya dipelankan. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ خَالِدِ بْنِ مُسْلِمٍ يُعْرَفُ بِابْنِ أَبِي جَمِيلٍ الدِّمَشْقِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ سَمَاعَةَ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَتَيْنِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطِيلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى

“Telah mengabarkan kepada kami [Imran bin Yazid bin Khalid bin Muslim] yang dikenal dengan Abu Jamil Ad-Dimasyqi dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Abdullah bin Sama’ah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Auza’i] dari [Yahya bin Abu Katsir] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Abu Qatadah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Bapakku] bahwa Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam membaca Ummul Qur’an (Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama shalat Zhuhur dan Ashar. Kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami dan memperpanjang rakaat pertama.” (Hadits Riwayat An-Nasa’i Nomor 965)

Imam Malik, Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa masalah men-jahr-kan (mengeras) kan bacaan atau memelankan bacaan adalah perkara sunnah. Artinya jika mengeraskan bacaan yang seharusnya sirriyah atau memelankan bacaan yang seharusnya jahriyah adalah tidak mengapa dan shalatnya tetap sah namun dihukumi makruh.

Berdasarkan hadits tersebut terdapat kebolehan menjahrkan bacaan surat pada shalat yang biasanya sirr seperti shalat dzuhur ataupun Ashar. Sebaliknya juga terkadang Nabi mensirrkan shalat yang biasa dijahrkan. Walaupun dibolehkan dan tidak menjadi penyebab batalnya nilai jamaah, namun sebagian ulama memakruhkannya.

Dalam Kitab  Al-Muntaqo Syarah Muwatho’ (1/225) dijelaskan bahwa hukum mengeraskan dan memelankan “melirihkan” (Jahr dan Sir) bacaan dalam sholat itu sunnah.

المنتقى – شرح الموطأ – (ج 1 / ص 252) وَقَدْ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْقَاسِمِ إِنَّ الْجَهْرَ فِيمَا يُجْهَرُ فِيهِ وَالْإِسْرَارَ فِيمَا يُسَرُّ فِيهِ مِنْ سُنَنِ الصَّلَاةِ وَهَذَا مُقْتَضَى هَذِهِ الرِّوَايَةِ وَوَجْهُ الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ أَنَّ تَعَمُّدَهُ لِلْجَهْرِ لَا يُفْسِدُ صَلَاتَهُ لِأَنَّهَا صِفَةٌ لِلْقِرَاءَةِ مَشْرُوعَةٌ فَلَمْ تَمْنَعْ صِحَّةَ صَلَاةِ الْإِمَامِ وَإِذَا لَمْ تَمْنَعْ صِحَّةَ صَلَاتِهِ لَمْ تَمْنَعْ صِحَّةَ صَلَاةِ مَنْ وَرَاءَهُ

Jika seandainya ada orang Sholat Dzuhur atau Ashar dengan bacaan keras (jahr) misalnya, atau Sholat Maghrib, Isya’ atau Shubuh dengan bacaan pelan (sir), maka sholatnya tetap sah, hanya saja dia telah melakukan kemakruhan. Seperti di sebutkan oleh imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar. Wallahualam.

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke