Perbuatan Bukan Tergolong Syarat dan Rukun Shalat yang Boleh Dilakukan Saat Shalat

Bergerak sedikit untuk sebuah keperluan dianggap tidak membatalkan shalat. Imam Nawawi dalam kitab Raudlah membahas panjang lebar masalah pekerjaan yang tidak termasuk amalan shalat dan dilakukan dalam waktu shalat. Para ulama sepakat bahwa pekerjaan sedikit tidak membatalkan shalat dan pekerjaan banyak membatalkannya, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang ukuran sedikti dan banyak. Ada yang mengatakan pekerjaan sedikit seperti melangkah satu langkah (misalnya untuk menyesuaikan shaf) tidak membatalkan shalat dan pekerjaan banyak hingga mencerminkan seakan tidak dalam keadaan shalat maka membatalkannya.

Ada juga pendapat yang mengatakan pekerjaan yang dibutuhkan seperti membetulkan celana agar tidak membuka aurat tidak membatalkan shalat. Ada juga pekerjaan sedikit adalah satu gerakan dan pekerjaan banyak adalah tiga gerakan berturut-turut.

Imam Nawawi menyimpulkan bahwa ukurannya dikembalikan kepada adat istiadat dan tidak ada ukuran yang baku. Bahkan Imam Nawawi menukli perkataan Imam Syafi’i: seandainya menghitung ayat dengan jari-jarinya ketika shalat itu tidak membatalkan namun sebaiknya tidak melakukannya.

Termasuk bergerak sedikit dianggap tidak membatalkan shalat, selama tidak sampai mengurangi syarat rukunnya shalat seperti bergerak untuk membuka pintu, bergerak maju menjadi imam, derakan melepas sandal saat shalat berjamaah, gerakan menggendong anak kecil saat shalat, memindahkan posisi makmum saat shalat dari kiri ke kanan, dan lain sebagainya.

Baca selengkapnya; Gerakan yang Dapat Membatalkan Shalat

Hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat

Membunuh Binatang Buas; Ular dan Kalajengking

Ular dan kalajengking terkadang menyusup di sekitar aktifitas kita. Binatang sejenis itu memiliki bisa yang membahayakan manusia. Binatang berbisa ini tidak segan-segan menyerang manusia melalui gigitan dan sengatannya. Hukum membunuh binatang yang berbahaya seperti ini saat shalat dibenarkan oleh agama. Agama memiliki prinsip bahwa manusia dituntut menolak bahaya yang akan menimpa diri sendiri atau orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اُقْتُلُوْا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الحَيَّةَ، وَالْعَقْرَبَ

“Bunuhlah dua ekor si hitam meski dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (Hadits Riwayat Ahmad II: 233, 248)

Boleh membunuh ular dan kalajengking ketika dalam shalat tanpa adanya hukum makruh baik tindakan membunuhnya memerlukan satu kali pukulan ataupun lebih banyak lagi. Inilah pendapat mazhab Hanafi.

Baca juga; Hukum Membunuh Binatang Buas; Ular dan Kalajengking Saat Shalat

Menggendong Anak

Sudah kita ketahui bersama bahwa hukum membawa anak kecil ke masjid adalah boleh. Namun ketika anak yang kita bawa terkadang rewel kemudian menangis, atau tiba-tiba saat sujud dia menunggangi kita. Lalu bagaimanakah hukumnya menggendong seorang anak saat kita shalat? Berikut penjelasannya;

Terkait dengan ini ternyata terdapat sebuah riwayat bahwa Nabi membenarkan seorang yang sedang shalat menggendong anaknya,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِي قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنَ السُّجُوْدِ أَعَادَهَا

Dari Abu Qatâdah al-Anshari Radhiyallahu anhu , ia berkata : saya melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami para Sahabat sambil menggendong Umamah bin Abi al-Ash, anak Zaenab puteri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di atas bahunya, maka apabila ruku Beliau meletakkannya dan apabila selesai sujud Beliau menggendongnya kembali. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Nabi saat shalat menggondong anak Zainab, apabila berdiri, maka digendongnya, dan apabila ruku’, maka diletakkannya (dilantai) dan apabila selesai sujud maka digendongnya kembali.

Sudah sangat jelas sekali bahwa hukum menggendong anak kecil saat shalat hukumnya boleh. Namun yang patut dimengerti adalah hukum boleh menggendong bayi saat shalat tersebut tentunya si bayi harus dalam keadaan suci, tidak sedang ngompol, atau bajunya dalam keadaan najis, atau mengenakan popok atau pempers yang tentunya berisikan najis.

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Sambil Menggendong Anak

Bergerak untuk membuka pintu

Termasuk bergerak sedikit seperti berjalan untuk membuka pintu dianggap tidak membatalkan shalat, selama tidak sampai mengurangi syarat rukunnya shalat seperti merubah arah kiblat. Diriwayatkan daam sebuah hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحْمَدُ يُصَلِّي وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ فَجِئْتُ فَاسْتَفْتَحْتُ قَالَ أَحْمَدُ فَمَشَى فَفَتَحَ لِي ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ وَذَكَرَ أَنَّ الْبَابَ كَانَ فِي الْقِبْلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -Ahmad berkata- Sedang mengerjakan shalat, sementara pintu dalam keadaan tertutup, ketika aku datang, aku minta dibukakan pintu -Ahmad berkata- maka beliau berjalan dan membukakan pintu untukku lalu beliau kembali lagi ketempat shalatnya.” disebutkan ketika itu pintu berada di arah kiblatnya.” (Hadits Abu Daud Nomor 787 dan Hadits Riwayat Nasai Nomor 1206)

Baca selengkapnya; Hukum Bergerak untuk Membuka Pintu Saat Shalat

Bergerak maju menjadi imam

صَبَبْتُ لرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا، فَتَوَضَّأَ فَالْتَحَفَ بِإِزَارِهِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، وَأَتَى آخَرُ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي

“Saya menyediakan air untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau berwudhu dan memakai sarung. Kemudian aku berdiri (jadi makmum) di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu datang orang lain, dan dia berdiri di sebelah kiri beliau, ternyata beliau malah maju dan melanjutkan shalat.” (Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah Nomor 1536)

Baca selengkapnya; Hukum Bergerak Maju untuk Menjadi Imam Saat Shalat

Gerakan melepas sandal saat shalat

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ، خَلَعُوا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ، قَالَ:  مَا بَالُكُمْ أَلْقَيْتُمْ نِعَالَكُمْ؟  قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ، فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا – أَوْ قَالَ: أَذًى – فَأَلْقَيْتُهُمَا، فَإِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَلْيَنْظُرْ فِي نَعْلَيْهِ، فَإِنْ رَأَى فِيهِمَا قَذَرًا – أَوْ قَالَ: أَذًى – فَلْيَمْسَحْهُمَا وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا

“Dari Abu Said Al-Khudry berkata: Rasulullah SAW shalat bersama kami pada suatu hari, maka di antara shalatnya beliau melepaskan sandalnya, kemudian meletakannya di sebelah kirinya, ketika orang-orang melihatnya, merekapun melepaskan sandalnya, dan ketika usai shalatnya, Rasulullahpun bertanya: “kenapa kalian melepas sandal kalian?” mereka menjawab: “kami melihatmu melepas sandalmu, maka kami lepas sandal kami. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: sesungguhnya jibril telah datang kepadaku dan mengatakan kepadaku bahwa pada kedua sandalku ada kotoran, atau dikatakan: suatu bahaya, maka aku melepasnya, maka jika kalian masuk masjid, hendaknya melihat kepada sandalnya, jika melihat ada kotoran atau dikatakan: suatu bahaya, agar hendaknya dibersihkan dahulu baru shalat dengannya.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 11877 dan Abu Daud Nomor 650)

Baca selengkapnya; Hukum Bergerak Melepas Sandal Saat Shalat

Gerakan menggendong anak kecil saat shalat

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 516 dan Muslim Nomor 543)

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Sambil Menggendong Anak

Memindahkan posisi makmum saat shalat dari kiri ke kanan

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, kemudian aku ikut shalat bersama beliau. Aku berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan beliau.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 699 dan Muslim Nomor 763)

Baca selengkapnya; Hukum Memindahkan Posisi Makmum Saat Shalat dari Kiri ke Kanan

Mencegah atau menahan orang yang lewat di depannya

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari 509)

Baca selengkapnya; Hukum Mencegah Orang Lain Melintas di Depan Orang yang Sedang Shalat

Merapikan pakaian untuk menutup aurat

Jarir adh-Dhabbi berkata,“Apabila berdiri melaksanakan shalat, Ali meletakkan tangan kanannya di atas pergelangan tangan kirinya. Dia senantiasa melakukannya hingga rukuk, kecuali untuk membetulkan pakaian atau menggaruk badan,” (HR Ibnu Abi Syaibah 1/391)

As-Syirazi ulama Syafi’iyah berpendapat,

وإن كشفت الريح الثوب عن العورة ثم رده لم تبطل صلاته

Jika bajunya diterpa angin hingga terbuka auratnya, kemudian langsung dia tutup kembali, maka shalatnya tiak batal. (al-Muhadzab, 1/87)

Baca selengkapnya; Hukum Merapikan Pakaian untuk Menutup Aurat Saat Shalat

Menoleh saat shalat

Hukum menoleh saat shalat tanpa keperluan hukumnya tidak boleh. Dari ‘Aisyah radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang menoleh dalam shalat. Lalu beliau bersabda,

هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

“Ia merupakan sebuah curian yang dilakukan syaitan terhadap shalat seorang hamba.” (Hadits Bukhari dalam Fat-hul Baari halaman II/234 Nomor 751, Sunan Abi Dawud dalam ‘Aunul Ma’buud halaman III/178 Nomor 897, dan Sunan an-Nasa’i halaman II/8)

Namun bila ada hajat untuk menoleh, semisal sedikit mengawasi anak balita yang kita bawa ke masjid maka hukumnya boleh. Dari Jabir radhiyallahu anhu, dia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau yang shalat dalam keadaan duduk. Kemudian beliau menoleh dan melihat kami berdiri. Ke-mudian beliau mengisyaratkan kepada kami (untuk duduk), lalu kami pun duduk.” (Hadits Riwayat an-Nasa’i Nomor 1145, Muslim Nomor 413, dan Abu Daud Nomor 588)

Baca selengkapnya; Hukum Menoleh Ketika Shalat

Menjawab salam dengan isyarat tangan

Kesunnahan menjawab salam juga berlaku bagi mereka yang sedang shalat walau menjawabnya dilakukan setelah shalat selesai. Dengan kata lain, ketika seorang sedang shalat, lalu ada orang yang  mengucapkan salam padanya, maka ia tidak boleh menjawabnya dengan lisan, namun hendaknya menjawab dengan isyarat tangan. Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, dia berkata,

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قُبَاءَ يُصَلِّي فِيهِ قَالَ فَجَاءَتْهُ الْأَنْصَارُ فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي قَالَ فَقُلْتُ لِبِلاَلٍ كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي قَالَ يَقُولُ هَكَذَا وَبَسَطَ كَفَّهُ وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ

“Aku (Nafi’) telah mendengar Abdullah bin Umar berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Quba’ lalu shalat disana.” Abdullah berkata,“Lalu datanglah sekelompok orang-orang Anshar dan mengucapkan salam kepadanya, padahal beliau sedang melaksanakan shalat.” Abdullah berkata,”Aku bertanya kepada Bilal, ‘Bagaimanakah engkau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam ketika mereka mengucapkan salam, padahal beliau sedang melaksanakan shalat’, Abdullah berkata, “Bilal menjawab, seperti ini!’ –beliau lalu membuka telapak tangannya- Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya dan menjadikan perut telapak tangan di bawah, sedangkan punggung telapak tangan di atas.” (Hadits Riwayat Abu Dawud Nomor 927 dan Ahmad Nomor 2/30)

Hadits ini mengisyaratkan akan tetap disyariatkannya menjawab salam bagi orang yang sedang shalat. Al Qadli Ibnul Arabi, dia berkata: “Isyarat dalam shalat bisa jadi untuk menjawab salam atau karena suatu perkara yang tiba-tiba terjadi saat shalat juga karena kebutuhan yang mendesak bagi orang shalat. Jika untuk menjawab salam maka dalam hal ini terdapat atsar-atsar shahih seperti perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Quba dan selainnya. (Lihat ‘Aridlah Al Ahwadzi 2/162)

Baca selengkapnya; Hukum Mengucapkan dan Menjawab Salam kepada Seseorang yang Sedang Shalat

Menggeser kaki orang tidur yang ada di depannya

Aisyah berkata, “Saya menjulurkan kaki ke arah kiblatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat. Ketika sujud, beliau menggeser(mencolekku)nya. Apabila beliau berdiri, saya meluruskan(mengangkat)nya,” (Hadits Riwayat Bukhari 1209 dan Muslim 512)

Berkacak pinggang

Hukum ketika shalat berkacak atau bertolak pinggang dapat menyebabkan membatalkan shalat. Pandangan ini berdasarkan pada beberapa riwayat Hadits. Di antaranya,

نَهَى أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, melarang seorang lelaki shalat dengan berkacak pinggang.” (Hadits Muslim Nomor 848)

Dalam riwayat lain disebutkan,

نُهِيَ عَنْ الْخَصْرِ فِي الصَّلَاةِ

“Dilarang bertolak pinggang dalam shalat”. (Hadits Bukhari Nomor 1143)

Baca juga; Hukum Berkacak Pinggang

Membawa dan membaca al-Qur’an

Walaupun terdapat sebagian ulama yang membatilkan membaca Al-Quran menggunakan mushaf saat shalat, namun mayoritas ulama membolehkannya. Dalam kitab “Qiyam al-Lail wa Qiyam Ramadhan” karya al-Maruzi dinyatakan,

عن ابن أبي مليكة أن ذكوان أبا عمرو كانت عائشة أعتقته عن دبر فكان يؤمها ومن معها في رمضان في المصحف

“Dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Dzakwan (Abu Amr) –budak yang dijanjikan bebas oleh Aisyah jika beliau (Aisyah) meninggal- mengimami Aisyah dan orang-orang bersama Aisyah di bukan Ramadhan dengan membaca mushaf.” (Hadits Riwayat Bukhari secara Muallaq)

Mayoritas ulama tidak menghukumi batal membawa dan membaca mushaf Al-Qur’an saat shalat dengan didasarkan pada Hadis berikut,

أن مولى لعائشة يقال له: ذكوان كان يؤم الناس في رمضان وكان يقرأ من المصحف

“Bahwa mantan budak Aisyah, yang namanya Dzakwan, beliau mengimami masyarakat ketika Ramadhan dan beliau sambil membaca mushaf.”

Baca selengkapnya; Hukum dan Tata Cara Shalat Ketika Membawa Mushaf Al-Qur’an

Mengangkat kepala ketika sujud untuk melihat imam

Boleh hukumnya mengangkat kepala ketika sujud untuk melihat dan memastikan keadaan imam ketika imam memanjangkan sujud.

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَّامٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الْبَصْرِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Sallam dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata; telah memberitakan kepada kami Jarir bin Hazim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Ya’qub Al Bashridari ‘Abdullah bin Syaddad dari bapaknya, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi kepada kami didalam salah satu shalat ‘Isya’, ia membawa Hasan atau Husain. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke depan dan meletakkan (Hasan dan Husain), kemudian beliau bertakbir untuk shalat lalu mengerjakan shalat. Saat shalat beliau sujud yang lama, maka ayahku berkata, ‘Lalu aku mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud’. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat shalat engkau memperlama sujud, hingga kami mengira bahwa ada sesuatu yang telah terjadi atau ada wahyu yang diturunkan kepadamu? ‘ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Bukan karena semua itu, tetapi cucuku (Hasan dan Husain) menjadikanku sebagai kendaraan, maka aku tidak mau” membuatnya terburu-buru, (aku biarkan) hingga ia selesai dari bermainnya’.” (Hadits Sunan An-Nasa’i Nomor 1129)

Baca selengkapnya; Hukum Mengangkat Kepala untuk Melihat Kondisi Imam yang Sujud Terlalu Lama

Meludah saat shalat

Wajib hukumnya shalat dalam keadaan khusyu’ dengan menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak terkait dengan gerakan shalat. Namun terkadang kondisi fisik seperti saat sakit menyebabkan seseorang sering mulutnya mengeluarkan cairan sehingga mendorong seseorang ingin meludah.

Terkait dengan hal ini ternyata meludah saat shalat hukumnya boleh. Solusi yang diberikan Nabi bagi umat Islam manakala hendak meludah namun tidak keluar masjid karena masih dalam keadaan shalat adalah dengan cara ludahnya disimpan menggunakan sapu tangan atau tisu yang disimpan pada bajunya dan ketika meludah diharuskan selain ke arah kiblat, yakni meludah ke samping kiri, kanan, atau arah bawahnya. Disebutkan dalam sebuah riwayat Hadits,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ada dahak di dinding kiblat. Beliau lalu merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda: “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya – atau sesungguhnya Rabbnya berada diantara dia dan kiblat – maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tepi selendangnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau menggosok-gosok kainnya lalu berkata, atau beliau melakukan seperti ini.” (Hadits Bukhari Nomor 390, Muslim Nomor 551, dan Ahmad Nomor 5083)

Pesan Rasulullah yang perlu digarisbawahi, adab meludah ketika shalat tidak boleh ke arah kiblat. Selain ke arah kiblat, masih bisa ditoleransi, asalkan shalatnya tidak di dalam masjid. Jika shalat di masjid dan menyebabkan kotor, dalam syarah al-Muhadzab dikatakan, ini haram. Apabila ingin meludah, hendaknya meludah ke arah pakaian yang dikenakan semisal pada bagian kerah baju yang kiri.

Baca selengkapnya; Hukum Meludah Saat Shalat

Mengingatkan Kesalahan Imam

Bila makmum mendapati kesalahan-kesalahan imam, Rasulullah shalallaahu alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk cara menyikapinya. Dalam sebuah Hadits telah diriwayatkan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلُبِسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأُبَيٍّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا ،قَالَ نَعَمْ، قَالَ فَمَا مَنَعَكَ.

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat dan membaca (beberapa ayat al-Quran) dalam shalatnya, dan beliau terbalik-balik dalam bacaannya, seusai shalat beliau bersabda kepada Ubay: Apakah kamu tadi ikut shalat bersama kami? Ubay menjawab; Ya. Beliau berkata: Apa yang mencegahmu (untuk tidak membenarkan tentang ayat tadi)? (Hadits Riwayat Abu Dawud Nomor 773)

Berdasarkan hadits tersebut seorang makmum dibenarkan untuk mengkoreksi kesalahan yang dilakukan seorang imam.

إِذَا نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلَاةِ فَلْيُسَبِّحِ الرِّجَالُ، وَلْيُصَفِّحِ النِّسَاءُ

“Jika kalian mengalami sesuatu -dalam shalat- maka hendaknya bagi orang laki-laki untuk bertasbih dan bagi orang perempuan untuk bertepuk tangan.” (Hadits Riwayat Abu Dawud Nomor 941 dan an-Nasa’i Nomor 793)

Baca selengkapnya; Adab Mengoreksi Kesalahan Imam

Menangis saat shalat

Bahkan menangis saat shalat merupakan wujud dari kuatnya keimanan seseoranag. Allah begitu memuji bagi mereka yang menangis dalam shalatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا. وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin jamaah shalat. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

كُنَّا عِنْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَذَكَرْنَا الْمُوَاظَبَةَ عَلَى الصَّلَاةِ وَالتَّعْظِيمَ لَهَا قَالَتْ لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأُذِّنَ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ وَأَعَادَ فَأَعَادُوا لَهُ فَأَعَادَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ فَصَلَّى فَوَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ كَأَنِّي أَنْظُرُ رِجْلَيْهِ تَخُطَّانِ مِنْ الْوَجَعِ فَأَرَادَ أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَتَأَخَّرَ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَكَانَكَ ثُمَّ أُتِيَ بِهِ حَتَّى جَلَسَ إِلَى جَنْبِهِ قِيلَ لِلْأَعْمَشِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بِصَلَاتِهِ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ بِرَأْسِهِ نَعَمْ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ بَعْضَهُ وَزَادَ أَبُو مُعَاوِيَةَ جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي قَائِمًا

“Kami pernah bersama ‘Aisyah ketika kami menceritakan tentang masalah menekuni shalat berjama’ah dan mengutamakannya. Maka Aisyah pun berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang sakit yang membawa pada ajalnya, waktu shalat tiba dan dikumandangkanlah adzan. Beliau lalu bersabda (kepada para isterinya): “Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat bersama orang-orang.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya Abu Bakr adalah orang yang lemah dan mudah menangis (saat membaca Al Qur’an). Dia tidak akan mampu menggantikan posisi Tuan untuk memimpin orang-orang shalat.” Beliau kembali mengulangi ucapannya, dan mereka juga memberi jawaban yang sama. Hal itu terus berulang hingga tiga kali, akhirnya beliau pun bersabda: “Kalian ini seperti isteri-isteri Yusuf! Perintahkanlah Abu Bakr agar memimpin shalat.” Maka keluarlah Abu Bakr memimpin shalat jama’ah. Beliau kemudian merasa agak segar badannya, sehingga beliau keluar ke masjid dengan diapit oleh dua orang, seolah aku kedua kaki beliau menyentuh tanah karena sakit. Melihat kehadiran beliau, Abu Bakar berniat untuk mundur namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegahnya dengan isyarat agar ia tetap pada posisinya. Kemudian beliau di dudukkan di sisi Abu Bakar.” Dikatakan kepada Al A’masy, “Apakah beliau shalat kemudian Abu Bakar shalat mengikuti shalatnya beliau, dan orang-orang shalat dengan mengikuti shalatnya Abu Bakar?” Lalu Al A’masy menjawab ‘Ya’ dengan anggukkan kepalanya.” Abu Daud juga meriwayatkannya dari Syu’bah dari Al A’masy sebagiannya, dan Abu Mu’awiyah menambahkan, “Beliau shalat dengan duduk di sebelah kiri Abu Bakar, sementara Abu Bakr shalat dengan berdiri.” (Hadits Bukhari Nomor 624)

Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ

“Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.”

Sudah sangat jelas sekali, berdasarkan dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis dalam shalatnya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ يَعْنِي يَبْكِي

“Aku datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yang sedang shalat dan dalam dadanya terdengar suara seperti air yang mendidih dalam periuk – yakni: beliau menangis.” (Hadits Riwayat Nasai Nomor 1199)

Baca juga; Hukum Menangis Saat Shalat

Artikel yang sama;

Hukum Melakukan Perbuatan Bukan Tergolong Syarat dan Rukun Saat Shalat

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke