Perbedaan Pengertian Muhrim dan Mahram

Sudah tidak asing lagi bahwa kedua kata muhrim (محرم) dan mahram (محرم) sudah sering melintas di telinga kita dengan penggunaan yang kurang tepat. Sebetulnya dua kata ini memiliki arti yang jauh berbeda walaupun teks Arabnya sama.

Kata muhrim dengan huruf mim dibaca dhammah dan ra’ dibaca kasrah berasal kata ahrama – yuhrimu – ihraaman – muhrimun. Kata muhrim memiliki arti orang yang melakukan ihram. Yakni, istilah yang digunakan untuk jamaah haji atau umrah yang mengenakan pakaian ihram sebagai simbol telah memasuki daerah miqat dengan konsekwensi dia wajib menghindari semua larangan ihram.

Kata mahram dengan huruf mim dan ra’ dibaca fathah memiliki arti perempuan yang haram untuk dinikahi dengan beberapa sebab. Mahram bisa dibagi menjadi 3 kelompok. Yang pertama, mahram karena nasab (keturunan). Kedua, mahram karena penyusuan. Ketiga, mahram karena pernikahan.

Keharaman dikategorikan menjadi dua macam, pertama hurmah mu’abbadah (haram selamanya) dan kedua hurmah mu’aqqatah (haram dalam waktu tertentu).

Hurmah Mu’abbadah

Hurmah mu’abbadah adalah orang-orang yang haram melakukan pernikahan untuk selamanya. Ada tiga kelompok;

Mahram sebab hubungan nasab (kekerabatan)

Berikut ini orang-orang yang tidak boleh dinikahi karena ada hubungan kekerabatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

۞ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat An-Nisa’ Ayat 24)

Berdasaarkan ayat tersebut mahram sebab hubungan nasab ada tujuh, diantaranya;

  1. Ibu, Nenek dan seterusnya ke atas
  2. Anak perempuan
  3. Saudara perempuan
  4. Anak perempuannya saudara laki-laki (keponakan),
  5. Anak perempuannya saudara perempuan (keponakan),
  6. Saudara perempuan ibu (bibi dari ibu)
  7. Saudara perempuan ayah (bibi dari ayah)

Mahram sebab hubungan pernikahan (permantuan)

Perempuan-perempuan yang haram dinikahi sebab adanya hubungan pernikahan. Di antaranya;

  1. Ibu tiri, atau perempuan yang telah dinikahi oleh ayah.
  2. Menantu.
  3. Mertua.
  4. Anak dari istri yang telah digauli

Mahram sebab hubungan sepersusuan

Bila seorang anak menyusu kepada seorang perempuan setelah 5 kali persusuan dan usia anak tidak lebih dari dua tahun, maka secara otomatis berlaku status sebagai hubungan anak dan orang tua, berlaku bagi ibu dan ayahnya. Dengan begitu berlakulah keharaman-keharaman antara anak dan orang tua sebab persusuan tersebut.

Kemudian yang haram dinikahi sebab persusuan ada 7 (tujuh) yaitu, ibu yang menyusui, saudara perempuan susuan, anak perempuan saudara laki-laki susuan, anak perempuan saudara perempuan susuan, bibi susuan (saudarah susuan ayah), saudara susuan ibu dan anak perempuan susuan (yang menyusu pada istri).

Hurmah Mu’aqqatah

Hurmah mu’aqqatah adalah perempuan-perempuan yang haram melakukan pernikahan untuk waktu tertentu atau sementara dikarenakan hal tertentu. Dengan begitu bila alasan-alasan yang menghalangi tersebut sudah tidak ada maka larangan itu tidak berlaku lagi. Berikut diantaranya:

  1. Wanita yang berada dalam masa iddah setelah proses cerai.
  2. Wanita yang haram dinikahi karena hubungan persaudaraan dalam pernikahan. Maksudnya dilarang menikahi dua wanita kakak-beradik sekaligus.
  3. Wanita yang telah ditalak tiga maka bekas suaminya haram untuk menikahinya sampai wanita tersebut menikah dengan pria lain kemudian bercerai.
  4. Wanita yang akan menjadi istri kelima hukumnya karena seorang laki-laki hanya bisa memiliki maksimal empat orang istri.
  5. Wanita yang sudah menikah dengan pria lain.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke