Penyebab Terjadinya Perbedaan Pandangan Ulama tentang Qunut Shalat Subuh

Sejak dahulu hingga sekarang, atau bahkan kelak di masa yang akan datang, perkara amaliah membaca qunut dalam shalat Subuh akan terus menjadi polemik perbedaan di kalangan umat Islam.  Perlu diketahui bahwa perbedaan amaliah shalat seperti qunut disebabkan berawal dari perbedaan metode dalam memahami hadits dan juga fakta memang terdapat beberapa riwayat yang bervariasi. Berikut beberapa hadits tentang doa qunut dalam shalat subuh;

Dasar tentang qunut seakan-akan merupakan keharusan ditunjukkan berdasarkan Hadits dari riwayat Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berikut,

مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berqunut di shalat fajar (shalat Subuh) sampai beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad)

Doa qunut pada shalat subuh terlihat sifatnya hanya sunnah, dan tidak sampai wajib dikarenakan Nabi tidak setiap Subuh mengamalkan doa qunut ini. Pandangan ini didasarkan atsar sahabat berikut, Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,

إنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ لَا يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ، إلَّا إذَا دَعَا لِقَوْمٍ، أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berqunut ketika shalat fajar (shalat Subuh), kecuali ketika mendoakan kebaikan atau keburukan untuk suatu kaum.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat hadits lain disebutkan,

“Dari Sahabat Anas bin Malik radliallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca qunut selama satu bulan penuh untuk mendoakan orang-orang, kemudian beliau meninggalkannya. Adapun di waktu subuh beliau tidak pernah meninggalkan qunut sampai beliau meninggal dunia.”(HR. Imam Baihaqi dan Daruqutni)

Bagi kalangan mazhab Hanifah, qunut hanya dilakukan kala shalat witir. (Ibnu Rusyd dalam Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid).

Hadits riwayat muslim tersebut di atas dikutip oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam al-Mughni. Beliau berpendapat bahwa di kalangan sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu juga mengamalkan doa qunut pada saat shalat Subuh.

Bagi kalangan mazhab Hambali, qunut hanya dilakukan pada shalat Subuh ketika umat Islam dilanda musibah, atau lebih dikenal dengan momen nazilah. Pandangan ini didasarkan pada riwayat Hadits riwayat Muslim.

Menurut Imam Malik bin Anas radliallahu ‘anhu memandang bahwa doa qunut sifatnya sebuah anjuran saja atau dikenal dengan istilah mustahab, yaitu hal yang dianjurkan namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengamalkannya secara terus-menerus dalam hidupnya. Berliau berpandangan bahwa dalam satu kesempatan memang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam rutin berqunut selama beberapa waktu lamanya, namun dalam kesempatan lain Nabi juga pernah tidak berqunut untuk jangka waktu yang lama.

Berbeda bagi kalangan mazhab Syafi’i, qunut diamalkan pada setiap kali shalat Subuh. Madzhab ini beranggapan bahwa qunut pada shalat subuh tergolong sunnah ab’ad, yakni sunnah yang mendekati wajib, dimana bila ditinggalkan wajib hukumnya diganti dengan sujud sahwi. Dari sekian madzhab yang ada hanya Imam Syafi’i rahimahullah yang paling menekankan untuk mengamalkan doa qunut saat shalat subuh. Beliau berpandangan dikarenakan memang dalam awal-awal masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengamalkan secara rutin, namun menjelang Nabi wafat beliau mengamalkan doa qunut secara rutin hingga beliau meninggal. Hal ini dijadikan dasar oleh Imam Syafii rahimahullah bahwa kebiasaan Nabi yang membaca qunut secara rutin di penghujung hidupnya dianggap sebagai pembatal (nasikh) hukum sebelumnya di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengamalkan qunut secara rutin. Pandangan madzhab ini didasarkan pada banyak riwayat hadits seperti dari riwayat Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dan Imam Baihaqi dan Daruqutni radliallahu ‘anhuma di atas.

Terdapat perbedaan kaifiyah dalam mengamalkan doa qunut; Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa doa qunut hendaknya dilakukan sebelum ruku’ secara pelan (sirr), berbeda dengan mazhab Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal yang berpendapat bahwa qunut dibaca setelah ruku’ secara jahr.

Setelah kita memahami latar belakang terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih menganai doa qunut pada shalat Subuh disebabkan memang berasal dari terdapatnya perbedaan periwayatan hadits. Imam Sufyan ats Tsauri rahimahullah berkatata,

إِنْ قَنَتَ فِي الفَجْرِ فَحَسَنٌ، وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

“Jika seseorang ingin melakukan qunut di waktu Subuh, maka itu ‘hasan’ (baik, dan termasuk sunnah). Dan jika tidak berqunut, itu juga ‘hasan’.”

Maka, sikap bijak yang perlu dilakukan kalang muslim adalah tidak perlu mempertentangkan masalah ini sehingga menghilangkan prinsip kerukunan di atara kalangan umat. Janganlah hanya persoalan mengejar kebaikan namun malah menimbulkan keburukan. Sebagaimana sebuah kaidah fikih,

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

Amalkan saja apa yang menjadi keyakinan masing-masing tanpa perlu mempersoalkan apa yang diyakini oleh pihak lain. Sesungguhnya islam itu mudah bagi yang memahami prinsip ajarannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit).” (Hadits Bukhari Nomor 38 dan Hadits Nasai Nomor 4948)

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke