Pengertian Sujud Tilawah dalam Islam

Pengertian

Sujud tilawah adalah gerakan sujud yang dilakukan disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Pengertian ayat Sajadah adalah ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an yang bila dibaca disunnahkan bagi yang membaca dan mendengarnya untuk melakukan sujud tilawah. Yang tergolong ayat sajadah dalam Al-Qur’an di antaranya adalah; Al A’rof ayat 206, Ar Ro’du ayat 15, An Nahl ayat 49-50, Al Isro’ ayat 107-109, Maryam ayat 58, Al Hajj ayat 18, Al Hajj ayat 77, Al Furqon ayat 60, An Naml ayat 25-26, As Sajdah ayat 15, Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah), Shaad ayat 24, An Najm ayat 62 (ayat terakhir), Al Insyiqaq ayat 20-21, Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir).

Hukum

Ayat sajadah adalah ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an, berdasarkan dalil hadits apabila ayat tersebut dibaca disunnahkan bagi pembaca ataupun yang mendengarkan untuk melakukan gerakan sujud tilawah.

Dalil

Kesunnahan sujud tilawah tersebut didasarkan pada beberapa dalil di antaranya adalah;

كَانَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّورَةَ فِيهَا السَّجْدَةُ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُنَا مَوْضِعَ جَبْهَتِهِ

“Rasullulah membacakan kami suatu surat, kemudian beliau sujud, kami pun ikut bersujud.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ يَا وَيْلِي أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia bersujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celakalah aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim)

عن عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رَضِي اللَّه عَنْه – قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُورَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ ، وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ رَضِي اللَّه عَنْهم

“Dari Umar bin Khattab dia pada hari Jum’at membaca di atas mimbar surat an-Nahl. Hingga bila sampai pada ayat sajdah beliau turun lalu sujud sehingga orang-orang pun sujud. Saat Jum’at berikutnya, beliau membaca lagi surat tersebut hingga sampai pada ayat sajdah. Beliau berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kita melewati ayat sajdah. Barang siapa bersujud sungguh ia telah benar, dan barang siapa tidak bersujud maka tiada dosa baginya.’ Dan Umar sendiri tidak bersujud.” (HR. Bukhari)

Kaifiyat

Cara untuk melakukan sujud tilawah adalah dilakukan sekali sujud dengan bertakbir, sujud, bertakbir lagi untuk bangun dari sujudnya itu. Inilah yang disebut Sujud Tilawah, tetapi tidak perlu membaca tasyahud (bacaan tahiyat) ataupun salam.

Sedangkan bacaan yang dibaca saat sujud tilawah adalah sebagai berikut:

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

”Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.”

Do’a di atas adalah do’a yang diambil dari hadist yang diriwayatkan oleh Tarmidzi.

Keutamaan

Berikut beberapa keutamaan sujud tilawah sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pertama, jauh dari setan dan dekat dengan surga. Berdasarkan hadits riwayat dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajdah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata; ‘Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim)

Kedua, sujud akan mengangkat derajat seseorang dan menghapus dosa-dosanya. Berdasarkan hadits riwayat dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, maka melalui sujud tersebut Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu.” HR. Muslim)

Ketiga, sujud merupakan amalan yang bisa membuat seseorang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga. Berdasarkan hadits riwayat dari Ka’ab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي: سَلْ ، فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Suatu ketika saya bermalam bersama Rasulullah saw., lalu saya membawakan air untuk wudu dan hajatnya. Kemudian beliau berkata kepada saya, ‘Mintalah.’ Saya berkata, ‘Saya minta agar bersamamu di surga. Beliau berkata lagi, ‘Ada lagi?.’ Saya berkata, ‘Itu saja.’ Lalu belau berkata, ‘Bantulah aku (untuk mewujudkan keinginanmu) dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke