Pengertian dan Hukum Tasyahud Awal dalam Shalat”

Pengertian Tasyahud Awal

Tasyahud awal adalah duduk setelah sujud kedua pada raka’at kedua dalam shalat.

Baca juga; Pengertian dan Hukum Tasyahud Akhir dalam Shalat

Dalil Tasyahud Awal

Dalil yang menujukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan duduk tasyahud awal,

فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ، وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ

“Jika kamu duduk di tengah shalat (tasyahud awal), duduklah dengan tumakninah, bentangkan pahamu yang kiri, kemudian baca tasyahud.” (HR. Abu Daud)

Dalil yang menujukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan duduk tasyahud awal. Diriwayatkan dari Abdullah bin Buhainah radliallahu ‘anhu,

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين ثم قام فلم يجلس فقام الناس معه فلما قضى صلاته وانتظرنا تسليمه كبر فسجد سجدتين وهو جالس قبل التسليم ثم سلم.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan kami dua raka’at. Kemudian beliau berdiri dan tidak duduk. Orang-orangpun berdiri mengikuti beliau. Tatkala beliau menyelesaikan shalatnya dan kami menunggu bacaan salam beliau, maka beliau bertakbir dan sujud dua kali dan beliau duduk sebelum salam dan kemudian baru melakukan salam.” (Hadits Riwayat Abu Daud)

Hukum Tasyahud Awal

Berdasarkan terdapatnya perbedaan periwayatan hadits di atas. Dalam hal ini terjadi khilaf ulama mengenai hukum duduk tasyahud awal dalam shalat lima kali sehari semalam selain shalat subuh. Syafi’i. Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa tasyahud awal, hukumnya adalah sunnat. Al-Laits, Abu Tsur, Ahmad dan Ishaq mengatakan wajib.

Ulama fikih mazhab Maliki, Syafi’i, ath-Thahawi dan al-Karkhi dari mazhab Hanafi, serta salah satu pernyataan dalam mazhab Hanbali berpendapat bahwa duduk tasyahud awal, hukumnya sunnah. Ada juga sebagai ulama fikih mazhab Hanafi dan ini juga menejadi pendapat mazhab Hanbali yang menyatakan bahwa duduk tasyahud awal, hukumnya wajib. Bagi yang tidak sengaja meninggalkan duduk tasyahud awal, ia wajib untuk melakukan sujud sahwi. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 15/267)

Al-Khutabi mengatakan bahwa hadits ini termasuk dalam hadits mu’tamad (menjadi pegangan) para ahli ilmu.3 Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan tasyahud awal karena lupa, namun beliau tidak mengulanginya lagi, bahkan beliau melakukan sujud sahwi. Ini menunjukkan bahwa tasyahud awal tidak wajib. Karena kalau wajib, tentunya beliau tidak mencukupinya hanya dengan sujud sahwi, tetapi beliau mengulangi yang tertinggal sebagaimana dimaklumi dalam fiqh. Berdasarkan ini, maka Imam Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab, “Yang tidak berpendapat tasyahud awal sebagai suatu kewajiban, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dari dua raka’at , sementara beliau tidak kembali lagi”.

Kaifiyat Tasyahud Awal

Yang lebih sesuai dengan sunnah, saat tasyahud awal dalam shalat adalah duduk dengan posisi iftirasy. Telapak kaki kiri dibentangkan dan diduduki, sementara telapak kaki kanan ditegakkan. Sebagaimana hadits yang riwayatkan dari Abdullah bin Zubair radliallahu ‘anhu, dia berkata,

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى تَحْتَ فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ وَأَرَانَا عَبْدُ الْوَاحِدِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

“dari ayahnya dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dalam shalat, beliau meletakkan (membentangkan) telapak kaki kirinya di bawah paha dan betis kanannya (iftirasy), dan menghamparkan (menegakkan) telapak kaki kanannya serta meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan meletakkan tangan kanan di atas paha kanan sambil menunjuk dengan jarinya.” Abdul Wahid memperlihatkan kepada kami sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.” (HR. Abu Dawud Dawud, 3/172)

Diriwayatkan dari Abu Humaid as-Sa’idi radliallahu ‘anhu,

فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ وَسَمِعَ اللَّيْثُ يَزِيدَ بْنَ أَبِي حَبِيبٍ وَيَزِيدُ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَلْحَلَةَ وَابْنُ حَلْحَلَةَ مِنْ ابْنِ عَطَاءٍ قَالَ أَبُو صَالِحٍ عَنْ اللَّيْثِ كُلُّ فَقَارٍ وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَهُ كُلُّ فَقَارٍ

“dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atha’, bahwasanya dia duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bercerita tentang shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka berkatalah Abu Hamid As Sa’idi, “Aku adalah orang yang paling hafal dengan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika shalat aku melihat beliau takbir dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya, jika rukuk maka beliau menempatkan kedua tangannya pada lutut dan meluruskan punggungnya. Jika mengangkat kepalanya, beliau berdiri lurus hingga seluruh tulung punggungnya kembali pada tempatnya semula. Dan jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah atau badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kananya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya.” Dan Al Laits telah mendengar dari Yazid bin Abu Habib, dan Yazid dari Muhammad bin Halhalah, dan Ibnu Halhalah dari Ibnu ‘Atha’. Abu Shalih menyebutkan dari Al Laits, “Seluruh tulung punggung.” Ibnu Al Mubarak berkata dari Yahya bin Ayyub ia berkata, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib bahwa Muhammad bin ‘Amru menceritakan kepadanya, “Seluruh tulung punggung.” (HR. Bukhari Nomor 1/165)

Berdasarkan hadits tersebut saat tasyahud awal dalam shalat disunnahkan duduk dengan posisi iftirasy. Yakni duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri kemudian menduduki kaki kiri tersebut. Duduk seperti yang digambarkan pada hadits tersebut di atas adalah duduk iftirasy. Duduk iftirasy adalah duduk dengan;

Baca selengkapnya; Kupas Tuntas Duduk Iftirasy pada Tasyahud Awal dalam Shalat

Bacaan Tasyahud Awal

Disunnahkan saat duduk pada tasyahud awal dalam shalat untuk membaca bacaan tasyahud. Bacaan tasyahud awal dibaca ketika sedang melakukan gerakan shalat tahiyat awal dalam shalat pada rakaat kedua pada shalat maghrib, dzuhur, ashar dan Isya. Sedangkan di dalam shalat wajib subuh tidak ada gerakan shalat tahiyat awal karena shalat wajib subuh ini dikerjakan hanya dengan dua rakaat saja, sehingga hanya ada tahiyat akhir tasyahud akhir saja. Berikut bacaan tasyahud awal dalam shalat yang diamalkan oleh kalangan Sunni,

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

“At tahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaat lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahish sholihiin. Asyhadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuulullah. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.”

“Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, semoga shalawat tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad.”

Bacaan tasyahud awal tersebut didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu,

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“At tahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaat lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahish sholihiin. Asyhadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh (artinya: Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)” (HR. Muslim Nomor 403)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu,

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“At tahiyyaatu lillaah, wash shalawaatu wath thayyibaat. Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wa barokaatuh. As salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu al laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh (artinya: Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).” (HR. Bukhari Nomor 6265)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ وَفِي آخِرِهَا، فَكُنَّا نَحْفَظُ عَنْ عَبْدِ اللهِ حِينَ أَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ إِيَّاهُ، قَالَ: فَكَانَ يَقُولُ: إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ، وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى: ” التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ، وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ “، قَالَ: ” ثُمَّ إِنْ كَانَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ نَهَضَ حِينَ يَفْرُغُ مِنْ تَشَهُّدِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي آخِرِهَا دَعَا بَعْدَ تَشَهُّدِهِ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَدْعُوَ ثُمَّ يُسَلِّمَ “

“dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepadaku bacaan tasyahhud di pertengahan dan akhir shalat, sedangkan kami menghafalkan dari Abdullah ketika ia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bacaan itu kepadanya. Jika beliau duduk di pertengahan shalat dan akhirnya di atas telapak kaki kirinya beliau membaca: “Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya, kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kita dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.” Ia melanjutkan; Kemudian jika berada di pertengahan shalat, beliau bangkit setelah selesai dari membaca tasyahhud dan jika di akhir shalat, beliau berdoa setelah membaca tasyahhudnya apa yang dikehendaki oleh Allah untuk berdoa kemudian salam. (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 7/392)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke