Pengertian Adat

Perkara-perkara adat kebiasaan manusia merupakan perkara yang mubah dan diperkenankan oleh agama. Hukum asal dari adat istiadat adalah mubah yang boleh dilakukan oleh siapapun dan kebiasaan dari golongan umat manapun. Walaupun hukum asal adat adalah mubah, namun akan bernilai pahala manakala diniatkan untuk Allah dan mengandung unsur-unsur kebaikan. Sebagaimana sabda Nabi,

قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, mereka (Qurays Arab) tidaklah meminta kepadaku suatu adat kebiasaan (tradisi dan budaya), yang terdapat unsur-unsur di mana mereka mengangungkan kehormatan-kehormatan Allah melainkan aku pasti akan mengabulkannya”. (HR. Bukhari No. 2529)

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَمَّا وَاللهِ لاَ يَدْعُونِي الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ ، يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرْمَةً ، وَلاَ يَدْعُونِي فِيهَا إِلَى صِلَةٍ إِلاَّ أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا. رواه ابن أبي شيبة

“Ingatlah, demi Allah, mereka (orang-orang musyrik) tidak mengajakku pada hari ini terhadap suatu kebiasaan, di mana mereka mengagungkan hak-hak Allah, dan tidak mengajukku suatu hubungan, kecuali aku kabulkan ajakan mereka.” (HR. Ibnu Abi Syaibah No. 36855)

Ini dalil yang tidak dapat ditolak dan sangat kuat sekali: bilamana sebuah tradisi, adat budaya, atau sebuah kebiasaan baru dari kaum muslimin, walaupun tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, selama mengandung unsur-unsur keagungan Allah dan agama Islam, merupakan kehalalan secara mutlak dan berpahala bagi pelakunya. Nabi bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Dengan begitu, tradisi dan budaya, seperti maulid Nabi, kenduri, haul, tahlilan, ulang tahun, acara peringatan hari besar Islam, sepasaran, selamatan rumah baru, pawai, resepsi pernikahan, wisuda, halal bi halal, reunian, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul, tingkeban, ulang tahun dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi bernilai ibadah yang berpahala bila diniatkan syi’ar Islam dengan catatan disisipi kebaikan seperti bhakti sosial, membantu orang, dzikir, renungan, sedekah, mauidzoh, serta kemanfaatan dan kemaslahatan lain, dan tidak mengandung unsur-unsur kemungkaran, kesyirikan dan kemaksiatan. Unsur-unsur keharaman tersebut berdasarkan firman Allah,

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan (1) perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, (2) dan perbuatan dosa, (3) melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (4) (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. al-A’raf: 33)

Dari ayat tersebut setiap larangan yang Allah tetapkan pasti menggunakan kriteria. Kriteria perbuatan yang diharamkan Allah adalah;

  1. Perbuatan yang mengandung unsur kekejian.
  2. Perbuatan yang mengandung unsur kemaksiatan (dosa).
  3. Perbuatan yang mengandung unsur kerugian sosial.
  4. Perbuatan yang mengandung unsur kesyirikan.
  5. Berbohong atas nama agama dengan mengharamkan tanpa dalil yang jelas. Maksudnya, haram hukumnya membid-ah-bid’ahkan amalan umat Islam tanpa dalil yang qath’i.

Baca Juga; Pengertian Amal Shalih atau Amaliah

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke