Orang Hidup Masih Bisa Menghadiahi Orang Mati Pahala Yasinan

Pengertian Yasinan adalah ritual atau upacara selamatan atau kenduri yang dilakukan oleh sebagian umat Islam seluruh dunia untuk berbagai macam fungsi dan kebutuhan yang bersifat keagamaan. Yasinan terkadang digunakan untuk memperingati orang yang telah meninggal, biasanya ritual semacam ini lebih disebut dengan istilah selamatan. Namun, Yasinan juga bisa dilakukan untuk kegiatan yang bersifat mensyukuri nikmat Allah, maka Yasinan yang sifatnya seperti ini biasa disebut dengan istilah syukuran.

Jadi, Yasinan itu tidak melulu identik dengan kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari saja. Sebab Yasinan juga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan kegiatan yang sifat asalnya mubah namun diisi dengan amalan-amalan yang sifatnya sunnah.

Baca juga;

Hukum Merubah Perbuatan Biasa Menjadi Ibadah, atau Sebaliknya

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Hakikat Amal Shalih, Ibadah Sunnah Mutlak, Ibadah Ghairu Mahdhah, dan Bid’ah Hasanah

Di dalam bacaan surat Yasin atau lebih mudahnya dengan istilah Yasinan bukan hanya bacaan surat Yasin saja, melainkan banyak macam hal yang biasa dibaca di dalamnya. Seperti dzikir tahlil, dzikir tasbih, dzikir takbir, bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, dan bacaan-bacaan kalimat thayyibah (baik) lainnya.

Yang perlu diketahui adalah bila dikatakan Yasinan, terkadang yang dimaksud adalah tahlilan. Dan bila dikatakan tahlilan, terkadang yang dimaksud adalah Yasinan. Hal itu tidaklah masalah, sebab keduanya sebetulnya sama saja. Perbedaan penyebutan tahlilan atau Yasinan tersebut hanya berasal dari selera masyarakat saja. Sebagian masyarakat menyebut Tahlilan karena di dalam ritual tersebut yang diingat oleh masyarakat lebih dominan bacaan dzikir tahlil. Dan sebaliknya, sebagian masyarakat menyebut Yasinan karena di dalam ritual tersebut yang diingat oleh masyarakat lebih dominan bacaan surat Yasin. Namun hakikatnya antara ritual Tahlilan dan Yasinan itu sama.

Sedangkan hukum membacakan dzikir-dzikir dan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an bagi orang yang meninggal hukumnya boleh. Dengan kata lain, orang yang mati masih memperoleh manfaat dari bacaan surat Yasin. Dengan begitu seseorang boleh membaca surat Yasin dengan niat pahalanya untuk seseorang dari kalangan umat Islam, baik ia masih kerabat atau bukan kerabat.

Pendapat ini berdasarkan banyak dalil yang membenarkan umat Islam melakukan amal shalih maupun amal ibadah yang mana pahala atau manfatnya dihadiahkan kepada orang lain yang sudah meninggal. Sedangkan bacaan surat Yasin termasuk kategori ibadah yang pahalanya boleh dipindahkan kepada orang yang telah mati.

Hal ini sebagaimana tersebut pada Hadits Sa’ad bin ‘Ubadah ketika ia mewakafkan kebunnya untuk ibunya, dan juga tersebut pada Hadits tentang kasus seorang shahabat laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ibunya yang telah lumpuh sampai meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَخَا بَنِي سَاعِدَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah radliallahu ‘anhum, saudara dari Bani Sa’idah, bahwa ibunya telah meninggal dunia lalu dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedang saat itu aku tidak ada di sisinya. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu untuknya?” Beliau bersabda: “Ya”. Dia berkata: “Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya”. (Hadits Bukhari Nomor 2556)

Bukan hanya ibadah yang bersifat maliyah (harta) yang dapat dihadiahkan kepada meraka yang sudah meninggal. Ibadah yang bersifat badaniyah juga dapat dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal. Seperti pahala dzikir tahlil yang dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Talqinlah (tuntunlah) orang meninggal (yang sudah dikubur) diantara kalian dengan ucapan dzikir tahlil ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’.” (Hadits Abu Daud Nomor 2710, Hadits Nasai Nomor 1803, Hadits Nasai Nomor 1804, Hadits Ibnu Majah Nomor 1434, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1435)

Panjatan doa-doa dari orang yang masih hidup merupakan perintah agama. Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (Hadits Abu Daud Nomor 2804)

Begitu juga dengan bacaan surat Yasin pahalanya dapat dikirim kepada mereka yang sudah meninggal. Banyak dalil yang menyatakan bahwa bacaan surat Yasin yang dibaca dengan niat pahalanya dikirim kepada orang mati merupakan syariat agama islam. Berikut kami ketengahkan beberapa hadits yang membenarkan sampainya pahala bacaan surat Yasin.

Sebagaimana bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah untuk meringankan beban ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang diperintahkan untuk dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Sunnah dan faedah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada mayit juga ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut,

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“Hadits Riwayat al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)

Surat Yasin hakikatnya adalah bagian terpenting dari sebagaimana juga surat Al-Mulk masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai penghalang siksa kubur bagi yang sudah meninggal ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati dan dibaca dipemakaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat kemah di atas pemakaman, ternyata ia tidak mengira jika berada di pemakaman, tiba-tiba ada seseorang membaca surat TABAARAKAL LADZII BIYADIHIL MULKU (Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan) “. sampai selesai, kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya, aku membuat kemahku di atas kuburan dan saya tidak mengira jika tempat tersebut adalah kuburan, kemudian ada seseorang membaca surat TABARAK (surat) Al Mulk sampai selesai, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2815)

Seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Sudah sangat jelas, berdasarkan hadits di atas, kiriman pahala bacaan Al-Qur’an secara umum maupun bacaan surat Yasin secara khusus dari mereka yang masih hidup terutama seorang anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat. Dengan begitu membaca surat Yasin dengan niat pahalanya diberikan pada arwah mereka yang sudah meninggal hukumnya sunnah dan sangat bermanfaat bagi mayit.

Baca juga;

Hukum Menggantikan dan Mewakilkan Ibadah

Orang Mati dan Orang Hidup Sejatinya Masih Berhubungan

Orang Mati Masih Mengetahui Keadaan Orang Yang Masih Hidup

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Penyelewengan Makna Hadits dari “Sudah Mati” Menjadi “Akan Mati”

Kirim Pahala Amal dan Ibadah untuk Arwah Orang Mati

Hukum Kirim Pahala dan Menanggung Dosa Orang Lain yang Sudah Meninggal (Kupas Tuntas)

Jangan ragu-ragu lagi membaca dan membacakan surat Yasin dalam acara-acara Yasinan yang diselenggaran oleh umat Islam untuk mereka yang sudah meninggal. Di samping bermanfaat bagi diri sendiri juga akan sangat bermanfaat bagi mereka yang sudah meninggal. Berikut beberapa keutamaan membaca surat Yasin.

Orang hidup dan orang mati akan diampuni ketika membaca dan dibacakan Yasin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al Baqarah adalah Al Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya, sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan di ampuni. Bacakanlah surat tersebut terhadap orang-orang yang mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19514)

Membaca Yasi sama halnya membaca Al-Qur’an. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki hati, dan hatinya Al Qur`an adalah surat Yasin, barangsiapa membaca surat Yasin, maka Allah akan mencatat baginya seperti membaca seluruh Al Qur`an sepuluh kali atas balasan bacaannya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2812)

“barang siapa membaca Yasin di malam hari, maka ia akan berpagi-pagi dalam keadaan terampuni dosanya (hr daruquthni)

“aku sangat berharap yasin berada dalam hati setiap umat ku (hr bazzar)

Surat Yasin dibaca saat shalat gerhana. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَسَفَتْ الشَّمْسُ فَصَلَّى عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِلنَّاسِ فَقَرَأَ يس أَوْ نَحْوَهَا ثُمَّ رَكَعَ نَحْوًا مِنْ قَدْرِ السُّورَةِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ قَدْرَ السُّورَةِ يَدْعُو وَيُكَبِّرُ ثُمَّ رَكَعَ قَدْرَ قِرَاءَتِهِ أَيْضًا ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ أَيْضًا قَدْرَ السُّورَةِ ثُمَّ رَكَعَ قَدْرَ ذَلِكَ أَيْضًا حَتَّى صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ فَفَعَلَ كَفِعْلِهِ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى ثُمَّ جَلَسَ يَدْعُو وَيَرْغَبُ حَتَّى انْكَشَفَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَلِكَ فَعَلَ

“Terjadi gerhana matahari, maka Ali Radhiallah ‘anhu shalat bersama orang-orang, dia membaca surat Yasin atau yang lainnya, kemudian ruku’ selama kira-kira bacaan satu surat. Kemudian bangun dari ruku’ dan membaca; “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” kemudian berdiri selama kira-kira bacaan satu surat, kemudian berdoa dan takbir, lalu ruku’ lagi selama kira-kira bacaan satu surat dan mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” kemudian bangun kembali selama kira-kira bacaan satu surat juga sampai dia shalat empat kali ruku’ kemudian membaca “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” lalu sujud dan bangun untuk raka’at yang kedua kemudian dia melakukan seperti yang dia lakukan pada raka’at pertama. Setelah itu dia duduk berdoa dan memohon sampai gerhana matahari berhenti, kemudian berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya seperti itu.” (Hadits Ahmad Nomor 1153)

Beruntunglah orang yang membaca surat Yasin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَرَأَ طه وْ يس قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفِ عَامٍ فَلَمَّا سَمِعَتْ الْمَلَائِكَةُ الْقُرْآنَ قَالَتْ طُوبَى لِأُمَّةٍ يَنْزِلُ هَذَا عَلَيْهَا وَطُوبَى لِأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا وَطُوبَى لِأَلْسِنَةٍ تَتَكَلَّمُ بِهَذَا

“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala membaca surat Thaha dan surat Yasin seribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Ketika para malaikat mendengar Al Qur’an, mereka berkata; Beruntunglah umat yang diturunkan surat itu padanya, beruntunglah rongga yang mengandung surat itu, dan beruntunglah lidah yang berbicara dengan surat itu. (Hadits Darimi Nomor 3280)

Dari uraian di atas sudah sangat jelas bahwa membaca surat Yasin dalam acara Yasinan dengan maksud menghadiahkan pahalanya kepada seorang muslim yang telah mati hukumnya boleh. Bagi orang yang menghadiahkan maupun bagi orang yang sudah mati sama-sama memperoleh pahala dari bacaan tersebut. Seseorang boleh membaca dengan niat pahalanya untuk si A atau si B yang muslim, baik ia masih kerabat atau bukan kerabat.

Sebab terlalu banyak dalil yang tidak terbantahkan bahwa kirim pahala dari ibadah bacaan surat Yasin sangat dianjurkan oleh Nabi yang sangat bermanfaat bagi mayit maupun bagi mereka yang melakukannya.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke