Niat Shalat Berbarengan dengan Takbiratul Ihram”

Mayoritas ulama telah bersepakat bahwa letak niat hanya berada dalam hati, terkait dengan terkadang melafadzkan niat maka hal itu hanyalah untuk membantu mempermudah gerak atau lintasan hati agar dapat mempermudah kehadirsan niat dalam hati. Namun kedudukan lafadz dalam lisan bukanlah niat itu sendiri.

Dalam madzhab Imam al-Syafi’i, niat memang harus di awal dan nyambung dengan rukun selanjutnya. Itu dalam semua ibadah kecuali puasa. Shalat misalnya, datangnya seseorang ke masjid dari rumah tidak bisa dikategorikan sebagai niat dalam madzhab ini, karena niat adalah rukun bukan syarat.

Hukum asal dalam mazhab Syafi’i adalah bahwa niat memang harus bersamaan dengan awal ibadah seperti niat shalat harus bersamaan dengan takbirotul ihram. Imam Syafi’i dalam Al-Umm, hlm. 1/121, menyatakan:

والنية لا تقوم مقام التكبير ولا تجزيه النية إلا أن تكون مع التكبير لا تتقدم التكبير ولا تكون بعده فلو قام إلى الصلاة بنية ، ثم عزبت عليه النية بنسيان ، أو غيره ، ثم كبر وصلى لم تجزه هذه الصلاة

Artinya: Niat tidak menempati tempatnya takbir. Niat tidak sah kecuali bersamaan dengan takbir yakni tidak mendahului dan tidak mengakhiri takbir. Apabila seseorang melakukan shalat dengan niat, lalu lupa niatnya, lalu takbir dan shalat maka shalatnya tidak sah.

Karena ia rukun, maka posisinya tidak boleh ada jeda antaranya dengan rukun selanjutnya. Dalam shalat, rukun setelah niat adalah takbiratul ihram, maka tidak boleh ada jeda antara niat dan takbiratul ihram. Begitu juga dalam wudhu, rukun pertamanya adalah niat, maka niat tidak boleh berpisah dengan rukun selanjutnya, yaitu membasuh muka.

Itu yang disebut dengan al-Muwalah, yang berarti bersambungan, yang merupakan syarat sahnua rukun. Maka kalau ada rukun dilaksanakan terpisah dengan rukun lainnya dalam satu ibadah, batal ibadah tersebut. Dan ini -Muwalat dalam rukun- twlah disepakati oleh ulama sejagad raya.

Dengan begitu, menurut madzhab Syafii takbiratul ihram diharuskan harus dibarengkan dengan niat shalat. Cara menggabungkan dua hal ini adalah ketika mulut melafadzkan kalimat “Allahu Akbar” di saat itupulalah hati digerakkan untuk niat memulai shalat.

Hanya saja pandangan bahwa niat adalah rukun itu hanya milik madzhab Imam al-Syafi’i, madzhab lain memandang niat itu bukan rukun, melaikan syarat dalam ibadah. Karena itu syarat maka tidak diharuskan adanya muwalat. Karena syarat bukan bagian dari ibadah tersebut, sedangkan rukun itu bagian dari ibadah tersebut.

Al-Kasani mengatakan,

إن تقديم النية على التحريمة جائز عندنا إذا لم يوجد بينهما عمل يقطع أحدهما عن الآخر

“Boleh mendahulukan niat dari pada takbiratul ihram menurut madzhab kami (hanafi), jika tidak ada kegiatan apapun yang menyelai antara niat dan takbiratul ihram.” (Badai as-Shanai, 1/329).

Ibnu Qudamah juga menegaskan,

قال أصحابنا: يجوز تقديم النية على التكبير بالزمن اليسير

“Para ulama madzhab kami (hambali) mengatakan, ‘Boleh mendahulukan niat sebelum takbiratul ihram, selama jedahnya tidak lama.” (al-Mughni, 1/339).

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke