Najis Itu Tidak Sama dengan Hina

Jangan samakan najis itu dengan hina! Karena, kebanyakan kaum muslimin salah faham dalam masalah ini dengan mengangap bahwa najis itu sama dengan hina. Padahal najis itu berbeda dengan hina.

Begitu bahaya resiko dari pemikiran bahwa setiap najis merupakan kehinaan. Sebab, bisa jadi dampak dari pemikiran ini akan menyebabkan menghukumi semua manusia adalah hina hanya karena setiap diri dari manusia pasti terdapat najis di dalam tubuhnya. Seperti najis nanah, darah, dan kotoran lainnya.

Padahal fakta syariahnya adalah ketika seseorang memiliki najis dalam tubuhnya bukan berarti serta merta menyebabkan seseorang tersebut menjadi hina. Begitu juga dengan binatang anjing, memang ia najis, namun ia bukan berarti hina dan nista.

Dengan demikian, anjing tidaklah hina, sebab ia hanyalah sekedar najis. Sedangkan dalam Islam sudah disyariatkan cara menghilangkan najis cukup disucikan saja, bukan dengan dicaci atau dihina.

Bukti anjing tidak sehina pandangan kebanyakan kaum muslimin adalah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap anjing milik Ashabul Kahfi yang dimuliakan dengan masuk surga.

Ashabul kahfi, yaitu sekelompok pemuda beserta anjingnya yang mematuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melarikan diri ke dalam gua untuk mencari tempat berlindung dari seorang raja dzalim dengan tujuan melindungi keimanannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا. ۞ وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا. وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling.” (Surat Al-Kahf Ayat 16-18)

Lebih lanjut, hukum menghina binatang yang mana ia merupakan ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah haram. Walaupun binatang dalam pandangan sebagian orang rendah, namun ternyata Islam sebagai agama melarang umatnya untuk mencelanya. Abu Barzah Al-Aslamiy –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

بَيْنَمَا جَارِيَةٌ عَلَى نَاقَةٍ عَلَيْهَا بَعْضُ مَتَاعِ الْقَوْمِ إِذْ بَصُرَتْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَضَايَقَ بِهِمْ الْجَبَلُ فَقَالَتْ حَلْ اللَّهُمَّ الْعَنْهَا قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ عَلَيْهَا لَعْنَةٌ

“ketika seorang budak wanita berada diatas seekor onta tunggangan, dan di atas onta itu terdapat barang milik orang-orang lain. Ketika onta itu melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan (jalan) gunung menjadi sempit dengan mereka. Maka budak wanita itu berkata: “yak cepatlah hai onta, wahai Allah laknatlah onta ini! ” maka Nabi bersabda: “onta yang dilakanat itu tidak boleh menemani kami“. (HR. Muslim Nomor 2596)

Syaikh Husain Al-Awayisyah hafizhahullah berkata, “Alangkah agung dan indahnya agama ini, yang melarang celaan terhadap binatang. Sebuah agama yang berusaha membersihkan hati; agama yang berusaha membersihkan lidah. Sesungguhnya manusia yang terbiasa mencela binatang, akan mudah baginya mencela manusia. Sesungguhnya manusia yang terbiasa menjaga lidahnya dari mencela binatang, akan mudah baginya menjaga lidahnya di dalam segala yang diridhoi oleh Allah -Ta’ala-, InsyaAllah“. [Lihat Hasho’id Al-Alsun (hal.157), cet. Darul Hijrah].

Salah satu bentuk penghoramat agama Islam kepada binatang adalah dilarang nama-nama binatang dijadikan sebagai alat untuk menghina. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berpandangan;

وقد قال سعيد بن المسيب رحمه الله: ” لا تقل لصاحبك ياحمار ، يا كلب ، يا خنزير ، فيقول لك يوم القيامة : أتراني خلقت كلبا أو حمارا أو خنزيرا ” انتهى.”مصنف ابن أبي شيبة” (5/282).“

Artinya: Jangan kamu berkata kepada temanmu: Wahai keledai, wahai anjing, wahai babi. Maka dia berkata pada hari kiamat: “Apakah kamu melihatku, bahwa aku diciptakan sebagai anjing, atau keledai, atau babi.”) HR. Ibnu Abi Syaibah, dan padanya dari Mujahid dan selainnya(Mu’jam Al-Manahi Al-Lafzhiyyah, hal: 351)

.وقال إبراهيم النخعي رحمه الله :” كانوا يقولون : إذا قال الرجل للرجل : يا حمار ، يا كلب ، يا خنزير ، قال الله له يوم القيامة : أتراني خلقت كلبا أو حمارا أو خنزيرا ” انتهى.” مصنف ابن أبي شيبة ” (5/283)

Artinya: Dan Ibrahim An Nakha’I rahimahullah mengatakan:“Mereka )para tabi’in (dahulu mengatakan, jika seseorang mencela orang lain dengan perkataan wahai keledai, wahai anjing, wahai babi maka kelak Allah akan bertanya kepadanya di hari kiamat: ‘apakah engkau melihat Aku menciptakan) dia (sebagai anjing atau keledai atau babi?” (Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 5/283).

قال الإمام النووي رحمه الله :” من الألفاظ المذمومة المستعملة في العادة قوله لمن يخاصمه :يا حمار ، يا تيس ، يا كلب ، ونحو ذلك ،فهذا قبيح لوجهين :أحدهما : أنه كذب .والآخر : أنه إيذاء ” انتهى.” الأذكار ” (ص/365)

An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Diantara lafadz yang tercela yang biasa digunakan orang untuk mencela orang yang berselisih denganya adalah perkataan wahai keledai, wahai kambing, wahai anjing atau semacamnya. Perkataan ini tercela dari dua sisi; Itu merupakan dusta, dan Itu merupakan gangguan terhadap orang lain.” (Al Adzkar hal. 365)

Menggunakan nama binatang untuk memaki saja hukumnya haram, apalagi mencaci maki binatang itu sendiri. Kita tidak boleh memaki binatang dengan alasan apapun, meskipun misalnya kita disakiti oleh hewan tersebut. Banyak hadits yang meriwayatkan perkara ini. Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Zaid bin Khalid, dia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لاَ تَسُبُّوا الدِّيكَ ، فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى الصَّلاَةِ

“Janganlah kalian mencela ayam jantan, karena ia mengajak untuk shalat.”

Disebutkan dalam kitab Jami’u al-Ahaadits, dari Sayidina Ali, dia berkata;

بينما نحن مع النبى – صلى الله عليه وسلم – فآذتنا البراغيث فسببناها فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لا تسبوا البراغيث فنعم الدابة دابة توقظكم لذكر الله فبتنا تلك الليلة متهجدين

“Pada suatu malam kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba nyamuk-nyamuk menyakiti kami dan kami menghujatnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Janganlah kalian menghujat nyamuk-nyamuk itu karena sebaik-baik hewan adalah yang bisa mengingatkan kalian untuk zikir pada Allah.’ Pada malam itu, kami bisa bertahajud.”

Selain itu, disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Imran bin Hushain, dia berkisah;

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ وَامْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ عَلَى نَاقَةٍ فَضَجِرَتْ فَلَعَنَتْهَا فَسَمِعَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ قَالَ عِمْرَانُ فَكَأَنِّي أَرَاهَا الْآنَ تَمْشِي فِي النَّاسِ مَا يَعْرِضُ لَهَا أَحَدٌ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, ada seorang wanita Anshar yang tengah mengendarai unta. Namun, unta yang sedang dikendarainya itu memberontak dengan tiba-tiba. Lalu dengan serta-merta wanita itu mengutuk untanya. Ketika Rasulullah mendengar ucapan wanita itu, beliau pun bersabda: ‘Turunkanlah beban di atas unta dan lepaskanlah unta tersebut, karena ia telah dikutuk.’ Imran berkata; ‘Sepertinya saya melihat unta tersebut berjalan bersama rombongan kafilah tanpa ada seorang pun yang mengendarainya.’ (Hadits Muslim Nomor 4699)

Disebutkan tentang penyesalan Nabi Nuh karena menghina seekor Anjing,

وهو نوح بن لامك بن متوشلخ بن ادريس عليه السلام . قال الكسائي كان اسمه عبد الغفار أو يشكر وسبب تسميته نوحا ما قيل أنه رأي كلبا له أربعة أعين فقال نوح ان هذا الكلب شنيع فقال له الكلب يا عبد الغفار أتعيب النقش أمن النقاش فان كان العيب على النقش فان الأمر لو كان الىّ لما أخترت أن أكون كلبا وان كان العيب من النقاش فهو لا يلحقه عيب لانه يفعل ما يشاء فكان كلما ذكر ذلك ينوح ويبكي على خطيئته وذنبه فلكثره نوحه سمي نوحا

Artinya: Dia adalah Nuh bin lamak bin matusyalkho bin idris alaihis salam, imam kisa’i berkomentar nama Nabi Nuh adalah Abdul Ghoffar atau Yasykur dan sebab terjadinya dinamakan Nuh yaitu diceritakan bahwa ia melihat anjing mempunyai 4 mata lalu Nuh berkata : “Anjing ini sangat jelek menjijikkan”, kemudian anjing tadi bicara pada Nuh : “Wahai Abdul Ghoffar engkau menghina ukiran apa yang mengukir ? Jika hinaan itu pada ukiran maka jelas, jika itu tertuju padaku maka aku enggan pilih menjadi anjing dan jika hinaan tadi tertuju pada sang pengukir maka hinaan itu tidaklah layak karena Ia bisa berkehendak pada apa yang Ia kehendaki”. Setelah ingat kata-kata anjing tadi, Abdul Ghoffar terus menangis dan menangisi kesalahan dan dosanya dan karena seringnya dia menangis maka dinamakanlah dia Nuh (menangis). (Bada’i Iz-Zuhur Hal. 51)

Dalam sebuah Hadits diriwayatkan tentang larangan menghujat ayam dimana keberadaan ayam sesungguhnya mengajak untuk shalat;

لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَبِي قَالَ أَبُو النَّضْرِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَبِّ الدِّيكِ وَقَالَ إِنَّهُ يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ

“Janganlah kalian mencaci ayam jago, karena ia menyeru kalian melaksanakan shalat.” Ayahku berkata; [Abu Nadlr] berkata, “Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menghina ayam jago, Beliau mengatakan: “Sesungguhnya ia menyerukan pada kalian untuk (bersegera melaksanakan) shalat.” (Hadits Ahmad Nomor 20690)

Berdasarkan beberapa hadis di atas sudah sangat jelas sekali bahwa melaknat, mengutuk, mencaci, memaki, menista, dan menghina hewan termasuk perkara yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebetulnya ketika hati bermaksud untuk menghina, mencaci, melaknat binatang pada hakikatnya yang hina sebetulnya malah mulut kita sendiri. Karena sangat jelas sekali dalam Islam hukum menghina sagat diharamkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَكُونُ الْمُؤْمِنُ لَعَّانًا. لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak boleh seorang mukmin menjadi orang yang suka melaknat.” “Tidak sepantasnya seorang mukmin itu menjadi orang yang suka melaknat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1942)

Melaknat dan mengutuk hakikatnya adalah mendoakan keburukan kepada orang lain. Sedangkan hukumnya adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma para Ulama. Mendoakan keburukan kepada makhluq hidup atau benda mati, kepada orang lain atau diri sendiri, pada siapa pun atau apa pun dari kaum muslimin agar tertimpa suatu bencana dan berharap mendapat celaka sangat dilarang sekalipun mereka telah bersikap dzalim kepada kita. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Seseorang pernah berkata; ‘Ya Rasulullah, do’akanlah (laknatlah) untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ‘ Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'” (Hadits Muslim Nomor 4704)

Sekalipun orang lain telah berbuat kedzaliman kepada kita, membalas laknat dengan mendoakan berharap orang lain agar tertimpa suatu bencana atau musibah sangat tidak dianjurkan. Hindari melaknat sebisa mungkin agar tidak berbalik keburukannya menimpa kita. Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak mendoakan keburukan bagi orang lain. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

“Thufail bin ‘Amru datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan (melaksanakan perintah), maka do’akanlah supaya mereka binasa.” Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendo’akan (melaknat) kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda: ‘Ya Allah, berilah petunjuk (hidayah) kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’ (Hadits Bukhari Nomor 5918)

Dalam situasi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali tidak membalas dan mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang mendzaliminya. Sungguh mulia akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka yang mendzaliminya tetap didoakan yang terbaik. Sebagaimana terekam dalam sebuah hadits berikut;

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril q , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’ (dua gunung).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR. Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)

Sungguh teladan yang sangat mulia ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya, beliau malah mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Walaupun orang lain telah berbuat jahat dan dzalim kepada kita, namun tidak selayaknya kita membalas dengan keburukan yang sama, sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Doa terbaik menghadapi orang lain yang jahat dan dzalim adalah mengharap hidayah dari Allah semoga pelaku kejahatan dan kedzaliman segera tobat dan menyadarinya.

Janganlah mudah melaknat, sebab nasib buruk akan menimpa seseorang yang mudah melaknat. Jadi hindari kebiasaan melaknat walaupun terhadap pelaku kemaksiatan, pelaku mungkar, kejahatan, orang kafir, orang dzalim atau bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencaci orang yang telah meninggal, sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan (pembalasan amal).” (Hadits Darimi Nomor 2399)

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya. Beliau berkata;

واحذر – أن تدعو على نفسك أو على ولدك أو على مالك أو على احد من المسلمين وإن ظلمك,  فإن من دعا على من ظلمه فقد انتصر. وفي الخبر “لا تدعوا على انفسكم ولا على أولادكم ولا على اموالكم لاتوافقوا من الله ساعة إجابة”.

“Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat; Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, hal. 141).

Seorang pelaknat akan dijauhkan dari mendapatkan pertolongan dan juga memberikan pertolongan kelak di akhiratnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada’ (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa’at pada hari kiamat kelak.'” (Hadits Muslim Nomor 4703)

Sekali laknat terlontar dari lisan seseorang, pantangan baginya tidak menemukan sasaran korbannya. Bilamana ternyata seseorang yang dilaknat tidak sesuai dengan tuduhannya, niscaya laknat tersebut akan kembali menghancurkan dirinya sendiri alias menjadi bumerang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا

“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (Hadits Abu Daud Nomor 4259)

Apapun alasan menghina maupun melaknat tetaplah haram, sekalipun menghina dan melaknat tersebut dilakukan untuk membela diri maupun membela agama Islam. Sungguh situasi yang sangat memprihatinkan manakala akhir-akhir ini banyak orang yang mengaku dirinya sebagai orang shalih, orang mulia, seorang ulama, kiyai, ustadz, bahkan keturunan Nabi sekalipun begitu mudah melaknat dan mencaci maki dengan alasan membela agama Islam.

Dengan mudahnya para ulama akhir zaman menghina seseorang yang menginjak Al-Qur’an, mencaci seseorang yang menista simbol-simbol agama Islam, dan melaknat seseorang yang masuk ke dalam sebuah masjid dengan tidak melepas alas kaki dan membawa anjingnya sekalian.

Sungguh para penghina dan pelaknat bukanlah umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, akhlaq Nabi sangat mulia, Nabi tidaklah mudah membalas hinaan dengan hinaan, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membalas hinaan dengan kasih sayang, membalas dengan kebaikan dan mendoakan mereka yang suka menghina.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat pemaaf, tidak mudah merasa sakit hati walaupun diperlakukan dengan perbuatan yang sangat menyakitkan sekalipun. Beliau dicaci, dihina, disakiti tetapi dengan mudahnya beliau melupakan itu semua.

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah setiap kali pulang dari masjid Beliau diludahi oleh seorang kafir, suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mendapati orang tersebut, ketika Rasulullah mengetahui orang itu ternyata sakit, beliau bergegas untuk menjenguknya, dan karena sebab itulah orang tersebut masuk Islam. Dalam perjalanan da’wah ke Taif pun tidak kalah pedihnya cobaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hadapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditolak oleh pemimpin Tsaqiif bahkan beliau dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga kedua kakinya berlumuran darah.

Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, Rasulullah S.A.W. menolak bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

Alih-alih membela Islam dengan cara menghina dan melaknat, nyatanya malah mereka sendiri yang sebetulnya hina dan nista. Mereka hina dan nista disebabkan dengan penghinaan dan sumpah serapah atas nama agama menyebabkan timbulnya kerusakan dan permusuhan, sehingga menjauhkan mereka dari hidayah-Nya. Sungguh peringai yang sangat buruk membalas cacian dengan makian. Dalam sebuah riwayat disebutkan;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ

“Dari Abū Hurairah berkata, Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua orang yang saling mencaci maki, maka apa yang diucapkan oleh keduanya dosanya kembali kepada yang memulai memaki, selama yang dimaki (dizhalimi) tidak melampaui batas.” (Hadīts ini riwayat Imām Muslim nomor 2587 dalam shahīhnya)

Kita tahu dalam hadīts ini, الْمُسْتَبَّانِ (dua orang yang mencaci maki), mencaci maki adalah akhlak yang sangat buruk oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (Hadīts Riwayat Bukhāri No. 48, Muslim No. 64)

Janganlah menjalankan syariat dan ajaran agama menggunakan dasar emosi dan kemarahan. Sebetulnya pemarah dalam mengamalkan agama pertanda kedangkalan ilmu dan akhlaqnya. Cukup peringatkan dan doakan saja, siapa tahu Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menuntun mereka ke dalam masjid menuju hidayahnya.

Sungguh buruk dampak dan perangai orang yang mudah melaknat. Jaga lisan, jaga sikap, dan jaga fikiran. Tingkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa kita berada dalam lindunganNya. Ganti laknat dan kutukan dengan memperbanyak dzikir, dan membiasakan lisan basah dengan kalimat-kalimat thayyibah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke