Mengenakan Cadar di Lingkungan yang Tidak Bercadar Banyak Menimbulkan Madhorot”

Banyak madhorot yang ditimbulkan dari mengenakan cadar seperti menyebabkan penyalahgunaan kejahatan para penjahat untuk menyamar. Dalam kasus-kasus tertentu fakta yang terjadi kejahatan malah dapat leluasa dilakukan disebabkan pelaku menyembunyikan identitas wajah di balik cadar. Sedangkan orang lain tidak dapat mengenali wajah pelaku sehingga tidak dapat mengantisipasi kejahatannya dikarenakan memang sengaja cadar dijadikan sebagai tameng.

Padahal kita sebagai makhluk dalam surat Al-Hujarat itu dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Salah satu cara untuk mengenali itu adalah mellui wajah. Oleh karena itu sebaiknya wajah itu harus nampak. Begitu yang disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA. Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Kalau saya sebagai dosen di dalam kelas, saya tidak tahu itu siapa yang saya awasi. Supaya kita lebih bisa kenal, dan cepat tahu, jadi sebaiknya dibuka, dan tidak ada perintah untuk menutup wajah. Itu mungkin tradisi berpakaian dari suatu tempat tertentu lalu dikaitkan dengan pemahaman agama. Tetapi sesungguhnya ruh daripada agama itu wajah sangat penting. Disitulah kita bisa mengenal seseorang, tutur beliau lebih lanjut.

Apalagi di era zaman muttakhir, dimana interaksi dan mobilitas manusia sudah sangat terbuka yang sekaligus memberikan peluang kejahatan juga semakin terbuka luas terjadi. Tentunya masing-masing penduduk bumi mustahil menghindar dari batasan identitas, mulai kartu tanda penduduk di suatu daerah, pasport, buku nikah, dan tanda pengenal-tanda pengenal pribadi yang berbentuk wajah mulai dari dunia nyata maupun di dunia maya.

Bagaimana mungkin negara dan para aparat keamanan dapat mengendalikan motif-motif kejahatan yang tersembunyi di kerumunan manusia banyak tanpa dibekali identitas dari masing-masing orang. Sedangkan pengenal yang paling mudah dan paling sederhana yang digunakan sejak manusia primitif sekalipun adalah wajah.

Baca Penjelasan Selengkapnya Pada Artikel;

Cadar Bukan Kesunnahan Syariat Islam?

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke