Membunuh dengan Sengaja Akan Masuk Neraka dan Kekal di dalamnya.

Nyaris setiap hari kita mendengar dan melihat berita kasus pembunuhan. Banyak motif yang mendorong seseorang berani dan tega menghilangkan nyawa orang lain. Mulai dai motif membela diri, persoalan sakit hati, persoalan dendam, persoalan kekuasaan, persoalan ekonomi, persoalan asmara, atau bahkan berasal dari sebuah anggapan bahwa membunuh itu bagian dari jihad agama.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah cara menghabisi korban dilakukan dengan cara sadis dan tragis. Mulai dari dicekik, ditusuk, diracun, atau bahkan dimutilasi. Tidak jarang bagi pelaku yang memiliki kelainan jiwa dengan keji menyiksa para korban sebelum membunuhnya. Sungguh mereka para pelaku kejahatan telah membayar murah sebuah nyawa dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah menghargainya dengan mahal. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, dan Turmudzi 1455)

Berdasarkan hadits di atas, bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebuah nyawa seorang manusia lebih lebih mahal harganya dibandingkan hilangnya seluruh dunia. Sungguh begitu keji dan kejam perbuatan membunuh seorang manusia. Apalagi perbuatan membunuh tersebut dilakukan dengan sengaja.

Begitu besar dosa, ancaman, dan laknat kepada para pembunuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghukumi mereka yang dengan sengaja membunuh orang lain dengan sifat kekufuran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” (Hadits Bukhari Nomor 5584 dan Hadits Muslim Nomor 97)

Bukti bahwa membunuh menjadi penyebab seseorang telah kafir adalah bagi pelakunya akan dimasukkan oleh ke dalam neraka secara hina dan kekal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 93)

Apalagi bila seseorang dengan sengaja membunuh seorang mukmin maka akan mengundang murka, laknat, dan kutukan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah membalas mereka dengan siksa adzab yang besar di neraka jahannam yang kekal berada di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 93)

Didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَغْفِرَهُ إِلَّا مَنْ مَاتَ مُشْرِكًا أَوْ مُؤْمِنٌ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا

“Setiap dosa berharap bisa diampuni oleh Allah kecuali seseorang yang meninggal dalam keadaan musyrik, atau seorang mukmin yang membunuh mukmin lainnya dengan sengaja.” (Hadits Abu Daud Nomor 3724)

Bahkan, begitu besarnya dosa pembunuhan, walaupun korban pembunuhan juga ikut masuk neraka bila dia sebelum terbunuh sangat berkeinginan terlebih dahulu untuk membunuh. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka”. aku pun bertanya: “Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya”. (Hadits Bukhari Nomor 30)

Kenapa dosa seorang pembunuh setara dengan kekufuran yang akan kekal berada dalam neraka? Seorang pembunuh ketika melenyapkan satu nyawa, dosa yang ditanggungnya setara dengan semua nyawa manusia seluruhnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 32)

Bukan hanya pembunuh, atau terbunuh yang masuk neraka, namun siapa saja baik provokator maupun penonton yang sengaja terlibat dan memicu terjadinya tragedi pembunuhan akan ikut masuk neraka.

Membunuh manusia adalah kejahatan, kerusakan, dan kezaliman yang nyata. Pembunuh telah merampas hak hidup manusia sebagai sebuah fitrah asasi. Membunuh telah melawan ajaran pokok agama yang mana syariatnya utamanya menjamin lima prinsip hidup manusia, yaitu agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Oleh karena itu, hindari dosa pembunuhan dengan cara tingkatkan keimanan dan ketaqwaan. Semoga kita terhindar dari kejahatan pembunuhan. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke