Makruh Mengenakan Cadar di Lingkungan yang Tidak Bercadar”

Cadar merupakan perkara khilafiyah yang mana setiap umat Islam berhak mengungkapkan pandangannya, maka dalam artikel ini akan disampaikan sebuah pandangan yang memilih pandangan bahwa cadar itu bukan kesunnahan sama sekali atau boleh dikatakan sebagai khilaful aula yakni menyelisihi keutamaan bila mengenakan cadar.

Bahwa cadar bukan kesunnahan syariat Islam adalah dengan beberapa pertimbangan berikut;

  1. Banyak Menimbulkan Madhorot
  2. Menjadi Penghalang Terlaksananya Beberapa Syariat Agama Islam Seperti Tersenyum
  3. Menjadi Penyebab Terputus dan Terbatasnya Silaturahim
  4. Cadar Merupakan Tradisi Dan Menjadi Bagian dari Agama Yahudi
  5. Cadar Dapat Menyebabkan Tidak Sahnya Thawaf
  6. Cadar Dapat Menyebabkan Shalatnya Tidak Sah
  7. Cadar Dilarang Bila Menyelisihi Pakaian Mayoritas Penduduk Setempat

Yang tidak kalah pentingnya adalah larangan berpakaian dan berpenampilan menyelisihi kebiasaan penduduk setempat dimana kita tinggal.

Dikutip dari Kumparan, Menurut dosen Unusia Jakarta, Muhammad Idris Masudi mengatakan bahwa “Meski mayoritas muslim Indonesia kebanyakan (menganut) Syafii, tapi saya sepakat untuk mengutip pendapat Mahzab Maliki. Kalau di Maliki disebutkan penggunaan cadar itu makruh, ketika perempuan menggunakan cadar di negara yang tidak memiliki tradisi penggunaan cadar. Karena hal itu dianggap syuhroh, yakni berpakaian menyelisihi kebiasaan masyarakat setempat yang berpotensi menimbulkan fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh (mencolok dan menyelisihi kebiasaan penduduk setempat), maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan pada hari Kiamat dan dia akan di masukkan ke dalam api Neraka.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3597)

Disamping itu mengenakan cadar di lingkungan yang tidak bercadar dan apalagi menganggap cadar merupakan kewajiban sudah tergolong berlebih-lebihan dalam beragama,” imbuhnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Surat Al-Ma’idah Ayat 77)

Dan lagian, mereka yang beranggapan wajib mengenakan cadar, sampai saat ini tidak mampu menunjukkan satupun dalil yang sharih dan shahih dari Al-Qur’an maupun Hadits. Kalaupun toh ada itu hanya bersifat anggapan dan pemahaman yang dipaksakan yang tidak menjadi kesepakatan (ijma) jumhur ulama. Terkait dengan point ini masih sangat bisa diperdebatkan dan terus akan diperdebatkan.

Namun begitu, cadar tetap boleh dikenakan selama dianggap sebagai mode busana saja. Namun bila kemudian dianggap sebagai syariat agama, maka tindakan itu merupakan sikap ghuluw (berlebihan dalam beragama) dan kidzb (kebohongan) yang mengatasnamakan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.” (Surat Yunus Ayat 69-70)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمِنَ الْإِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَٰذَا ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Surat Al-An’am Ayat 144)

Begitu juga ada sebagian kalangan yang bermaksud untuk menguatkan pendapatnya dengan mengutip pendapat dari madzhab Syafii. Namun mereka tidak memahami bahwa antara Madzhab Syafii dengan Imam Syafii itu berbeda. Bila ada yang mengklaim bahwa Imam Syafii mewajibkan cadar itu kebohongan besar, sebab hanya sebagian ulama dari kalangan madzhab Syafi’i saja ada yang mewajibkan cadar.

Bahkan mereka tidak segan-segan mengklaim bahwa kewajiban cadar merupakan ijma ulama. Dalammhal ini terdapat sebuah riwayat dari al-Imam Ahmad yang mengatakan bahwa: “Barang siapa yang mengaku ada Ijma’, maka ia telah berdusta”.

Baca Penjelasan Selengkapnya Pada Artikel;

Cadar Bukan Kesunnahan Syariat Islam?

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke