Larangan Shalat dengan Cepat-cepat dan Tergesa-gesa

Seringkali kita mampu berlama-lama melakukan hobi dan kesenangan yang bersifat duniawi. Betah berjam-jam di depan TV. Dan sanggup membuang waktu berjam-jam di depan HP dan Komputer.

Sebetulnya, tidak masalah bila kita menyelesaikan urusan pekerjaan untuk kepentingan hidup kitaya, dan bermain-main untuk menghibur diri kita. Namun terkadang, shalat yang tidak sampai membutuhkan waktu sepuluh menit saja, lalu kenapa kita enggan dan begitu berat menyisihkan waktu untuk mengerjakannya.

Ketika seseorang shalat di mana tidak sampai membutuhkan waktu berjam-jam itupun dikerjakan dengan cepat dan tergesa-gesa. Bila urusan pekerjaan saja kita enjoy, lalu kenapa shalat di mana merupakan bekal kelak bila hidup di akhirat kita enggan, dan bermalas-malasan, serta dilakukan dengan begitu cepat dan sangat tergesa-gesa. Padahal sifat tergesa-gesa penyebab mudah datangnya adzab Allah. Sebagaimana firman Allah,

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (Surat Al-Anbiya Ayat 37)

Seringkali kita lihat dan bahkan kita sendiri seringkali masih melakukan shalat dengan tergesa-gesa. Manakala di hadapan orang lain kita terlihat thuma’nina, namun bila dalam kondisi sendirian kita seringkali shalat cepat dan tergesa-gesa. Ketahuilah! Bahwa shalat yang dikerjakan dengan cepat dan tergesa-gesa merupakan tanda kemunafikan yang senantiasa harus kita jauhi. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

عن أَنَسِ بنِ مَالِكٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ ، حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ قَامَ ، فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا “ ، لَا يَذْكُرُ : اللَّهَ فِيهَا ، إِلَّا قَلِيلًا

“Dari Anas bin Malik ra. ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ““Itu adalah shalatnya seorang munafik, ia duduk menunggu matahari, sehingga jika matahari tersebut terletak antar dua tanduk setan (mau terbenam), maka ia bangun (shalat) ia shalat dengan cepat sebanyak empat rakaat, ia tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit sekali.” (Hadits Riwayat Muslim)

Agar kita tidak tergolong sebagai manusia munafik dan tidak terjangkit penyakit nifak, maka mulai saat ini hendaklah kita memperhatikan kekhusyu’an dan ketertiban shalat, di antaranya menyangkut shalat yang tenang dan tidak tegesa-gesa. Fenomena yang memprihatinkan, ketika kita dan para imam jamaah shalat yang sedemikian tangkas dan cekatannya menyelesaikan shalat dalam waktu yang demikian singkat.

Sering pula bacaan Al-Fatihah dan surat yang dibaca imam demikian cepatnya, sehingga sang imam tidak lagi perduli dengan ibadah para makmumnya menjadi lebih baik atau semakin buruk karena tidak bisa mengikuti gerakan imam disebabkan mengikuti imam yang super cepat dalam shalatnya. Bisa dikatakan fenomena yang menyedihkan ini merupakan musibah bagi kita dan bagi kaum muslimin. Fenomena yang sangat menyedihkan ini jauh-jauh sebelumnya telah digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  رَأَى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍٍ يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ مَثَلُ الَّذِيْ لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِيْ سُجُوْدِهِ مِثْلُ اْلجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

“Dari Abu Abdillah al-Asy’ari radliyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya, dan waktu sujud (dilakukan cepat seakan-akan) mematuk dalam keadaan dia shalat. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya.“ (Hadits Riwayat Abu Ya’la, al-Baihaqi, dan at-Thabrani)

Sungguh buruk gambaran bagi mereka yang shalat dengan cepat dan tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan mereka bagaikan perilaku para binatang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَانِيْ خَلِيْلِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ أَنْقُرَ فِيْ صَلاَتِيْ نَقْرَ الدِّيْكِ وَأَنْ أَلْتَفِتَ إِلْتِفَاتَ الثَّعْلَبِ وَ أَنْ أُقْعِيَ إِقْعَاءَ الْقِرْدِ

“Dari Abu Hurairah beliau berkata : “Sahabat dekatku, (Nabi Muhamamd shallallaahu ‘alaihi wasallam) melarangku sujud dalam shalat (dengan cepat) seperti mematuknya ayam jantan, melarangku berpaling (ke kanan atau ke kiri) seperti berpalingnya musang, dan melarangku duduk iq-aa’ seperti kera.“ (HR. Thayalisi, Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah)

Mereka yang shalat dengan cepat dan tergesa-gesa kedudukannya sama halnya dengan seorang pencuri. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

“Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari shalatnya. (Para Sahabat bertanya) : Bagaimana seseorang bisa mencuri dari shalatnya? (Rasul menjawab) : ‘ Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.“ (HR. Ahmad dan Thabrani)

Bahkan, tergesa-gesa dalam melakukan shalat akan sia-sia. Kita hanya akan mendapatkan rasa capeknya saja namun tidak pernah akan dapat pahalanya, sebab shalat yang dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa di mana gerakan-gerakan ruku’ dan sujud tidak dikerjakan secara thuma’ninah bisa berakibat pada tidak sahnya shalat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ اْلمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلاَثًا فَقَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِيْ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Dari Abu Hurairah : bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, kemudian masuk pula seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu melakukan shalat kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Nabi menjawab salam tersebut kemudian mengatakan kepadanya : ‘Kembalilah ulangi shalat, karena sesungguhnya engkau belum shalat’. Maka kemudian laki-laki itu mengulangi shalat sebagaimana shalatnya sebelumnya, kemudian ia mendatangi Nabi dan mengucapkan salam, kemudian Nabi mengatakan : ‘Kembali ulangilah shalat karena engkau belum shalat ‘ (Hal ini berulang 3 kali). Maka kemudian laki-laki itu mengatakan : ‘Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan lebih baik dari shalatku tadi, maka ajarilah aku’. Rasul bersabda :’Jika engkau berdiri untuk shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian ruku’lah sampai engkau thuma’ninah dalam ruku’,kemudian bangkitlah dari ruku’ sampai engkau thuma’ninah beri’tidal, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud sampai engkau thuma’ninah dalam sujud,kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud,kemudian bangkitlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk, dan lakukanlah hal yang demikian ini pada seluruh shalatmu.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika kita telah mengetahui buruknya shalat yang dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa, maka sejak saat ini hendaknya kita berusaha sebisa mungkin untuk melaksanakan shalat dengan baik dan tertib. Kerjakan shalat dengan rasa tenang dan thuma’ninah. Sebab dengan shalat yang khusyu’ dan tenang akan mendatangkan hati dan jiwa yang sejuk dan damai. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصّلاَةِ

“Dijadikan penyejuk jiwaku ada dalam shalat.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Dengan shalat yang tenang dikerjakan karena ikhlas niscaya akan mendapatkan ridha Allah. Amin.

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad.

Bagikan Artikel Ini Ke