Kriteria Seseorang yang Lebih Berhak Menjadi Imam Shalat Jamaah”

Dalam persoalan siapa yang lebih berhak menjadi imam, Nabi Muhammad telah memberikan kententuan. Di antaranya diperioritaskanbagi mereka yang ahli dalam tilawah Al-Qur’an, kemudia prioritas selanjutnya mereka yang ahli Hadits. Dengan kata lain seorang imam diutamakan bagi mereka yang berilmu. Pemahaman ini didasarkan pada sebuah riwayat hadits. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah bersabda,

”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواءً فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواءً فأقدمهم سلماً – وفي رواية – سنّاً ولا يؤمّنَّ الرَّجلُ الرَّجلَ في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكْرِمَتِه إلا بإذنه“. وفي لفظ: ”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله وأقدمهم قراءة، فإن كانت قراءتهم سواءً…“

”Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Kalau dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam”. Dalam riwayat lain : ”…..yang paling tua usianya”. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya”. Dan dalam lafadh yang lain : ”Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau bacaan mereka sama…. (sama seperti lafadh sebelumnya).” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 673)

Bagikan Artikel Ini Ke