Konsep Kasih Sayang dalam Islam Berbeda dengan Kasih Sayang Kaum Liberal.

Islam memandang rasa kasih sayang berbeda dengan kasih sayang yang dimengerti oleh golongan liberal. Bila orang-orang liberal memandang kasih sayang sebagai sebuah dorongan rasa ketertarikan yang bersifat asmara kepada lawan jenis. Namun sebaliknya dengan konsep kasih sayang dalam Islam.

Konsep cinta dan kasih sayang dalam Islam adalah rasa keperdulian atau empati dari seseorang kepada orang lainnya terkait dengan keadaan, kondisi, atau bahkan penderitaan dan keprihatinan yang sedang dialaminya.

Efek kasih sayang tersebut berdampak pada keinginan untuk untuk menghilangkan atau minimal meringankan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain tersebut.

Tanpa adanya rasa kasih sayang, niscaya seseorang tidak akan memiliki keperdulian terhadap sesama. Ketidak ada keperdulian tersebut menyababkan tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Itulah serendah-rendahnya kedudukan manusia di hadapan manusia dan di hadapan dzat pencipta alam semesta.

Dengan adanya rasa kasih sayang seseorang turut dapat merasakan gembira atas kegembiraan orang lain dan merasa bersedih atas kesedihan yang sedang dialami oleh orang lain.

Dengan adanya rasa kasih sayang, niscaya akan lebih mudah meringankan beban sebesar apapun kesulitan yang dialami oleh seseorang. inilah yang disebut dengan prinsip kemanusiaan.

Walaupun manusia bukan malaikat yang memang ditetapkan selalu berbuat kebaikan. Namun manusia dengan dibekali akal dan nuraninya akan selalu memiliki kecenderungan dan kehendak untuk berbuat kebaikan.

Kasih sayang merupakan perasaan yang tetap didasari oleh daya rasional, dimana ketika seseorang memiliki keperdulian terhadap orang lain akan dibatasi dengan nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan yang berdasar pada nilai-nilai spiritual atau agama.

Walaupun seumpama seseorang mengalami penderitaan namun disebabkan kejahatannya sendiri, tentunya hal ini tidak akan mengundang rasa kasih sayang dari orang lain. Inilah yang disebut dengan rasa kasih sayang tetap berlandaskan rasionalitas, bukan kasih sayang yang bersifat membabi buta dan berlandaskan nafsu.

Dengan begitu, prinsip dasar kasih sayang tentunya akan selalu mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan. Bila seseorang mengaku dirinya mengasihi dan menyayangi namun malah mendatangkan keburukan dan kemafsadatan, niscaya itu bisa dipastikan bukan kasih sayang.

Islama memandang indikator dari puncak kasih sayang adalah manakala seseorang telah mampu mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Dengan kata lain, puncak kasih sayang dari umat Islam adalah manakala mencintai orang serasa mencintai dirinya sendiri. Bahkan seseorang dianggap tidak memiliki iman manakala tidak mencintai orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya, atau dia mengatakan, ‘untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Hadits Muslim Nomor 64)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam sebuah riwayat Hadits,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku menjadi orang yang paling ia cintai dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (Hadits Darimi Nomor 2624)

Bahkan lebih dari itu, berdasarkan hadits di atas, seseorang tidaklah beriman hingga menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi dirinya sendiri. Dengan demikian, kualitas keimanan seseorang tergantung sejauh mana kasih sayang seseorang terhadap orang lain.

Islam memandang bahwa rasa kasih sayang merupakan pola imbal balik dari seseorang kepada orang lain. Tanpa adanya rasa imbal balik maka kasih sayang tidak akan terjadi. Dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak akan mengasihi siapa saja yang tidak menyayangi manusia.” (Hadits Bukhari Nomor 6828)

Imbal balik rasa sayang tersebut sebagai konsekwensi manusia sebagai makhluq sosial. Sudah sepatutnya bagi setiap individu untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri agar senantiasa terjadi hubungan timbal balik yang baik antar sesama makhluk. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي قَابُوسَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ[5]

“Para pengasih akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih, Mahasuci, dan Mahatinggi. Kasihilah makhluk yang ada di muka bumi, niscaya yang ada di langit (malaikat) akan mengasihi kalian.”

Begitu universal konsep kasih sayang dalam Islam, dimana kasih sayang juga harus diberlakukan kepada makhluq hidup dan lingkungan hidupnya. Seperti binatang, tumbuh-tumbuhan. Dalam mewujudkan kasih sayang terhadap lingkungan hidupnya dengan cara tidak mengkesploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Melestarikan flora fauna agar tidak punah. Dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-A’raf Ayat 56)

Sebagai umat Islam yang beriman tentunya menjadikan kasih sayang sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berhubungan dengan sesama manusia maupun memperlakukan makhluq hidup dan lingkungan hidupnya. Bila kasih sayang sudah menjadi pandangan dan sikap hidupnya, niscaya hidupnya akan dipenuhi dengan kasih sayang dari Allah dan alam semesta.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke