Konsekwensi Memilih dan Menyakini Kewajiban Mengenakan Cadar”

Sangat miris melihat fakta di lapangan ketika terjadi fenomena bersemangat mengenakan cadar namun masih dengan entengnya mengumbar foto-foto pribadinya yang bercadar itu ke media-media sosial dan berkeliaran di tempat-tempat sosial tanpa didampingi oleh mahromnya.

Seharusnya, bagi yang menyakininya hakikat cadar merupakan simbol pembatasan diri dari kehudupan sosial dan pembatasan diri dari interaksi dengan ajnabi (orang-orang lawan jenis yang bukan mahromnya).

Bila sudah siap memilih bercadar sebagai bentuk kewajiban yang diyakini bagi dirinya, tentunya juga harus dibarengi dengan sikap konsisten untuk mengundurkan diri dari semua media sosial dan tempat-tempat sosial. Bila tidak, maka itu sama saja omong kosong, sebab di media sosial terdapat kebebasan berinteraksi LIKE, SHARE, and COMMENT dengan orang-orang yang bukan mahromnya.

Meyakini bercadar wajib, namun interaksinya bebas dengan lawan jenis yang bukan mahromnya di media sosial. Dan meyakini kewajiban bercadar namun bebas berselancar di media sosial dan di tempat-tempat sosial maka hal itu tergolong inkonsisten dan telah mempermainkan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Surat At-Taubah Ayat 65)

Perlu diingab bagi kaum muslimin bahwa haram hukumnya menjalankan agama secara berlebihan (ghuluw). Hakikat syariat Islam yang sebenarnya adalah dilarang berlebihan walaupun dalam menjalankan ajaran agama.

Baca Penjelasan Selengkapnya Pada Artikel;

Cadar Bukan Kesunnahan Syariat Islam?

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke