Khalwat yang Diizinkan Agama

Khalwat merupakan pintu syetan untuk menggoda umat manusia agar terjerumus ke dalam kemaksiatan. Khalwat merupakan bagian dari tipu daya (talbis) Iblis kepada manusia. Sa’id bin Musayyib berkata, “Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang Nabi, melainkan dia tidak aman dari gangguan Iblis yang merusaknya melalui perantara wanita.”

Khalwat atau seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita asing yang bukan mahramnya merupakan salah satu bentuk kemaksiatan yang sangat dibenci oleh agama. Banyak sekali kaum muslimin yang menganggap sepele perkara ini. Padahal, dampak negatif dari khalwat sangat besar. Banyak penyakit sosial yang berawal dari perkara ini, hamil di luar nikah, pembunuhan di kalangan remaja sebab asmara, pemerkosaan, maupun penyakit-penyakit sosial lainnya.

Di antara bentuk khalwat yang sering terjadi adalah seorang istri tanpa izin dan sepengetahuan suami atau orang lain memasukkan ke dalam rumahnya, duduk-duduk berduaan di tempat sepi, atau bahkan bersenda gurau dan berlembut-lembut ria lewat media online. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, At-Thabrani 2/184, dan Al-Baihaqi 7/91)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad dari hadits Jabir)

Syetan menjadi yang ketiga karena syetan akan membisikkan dan menghasut kepada keduanya dengan membangkitkan syahwat dan birahinya sehingga keduanya terjebak pada kemaksiatan sebab telah kehilangan rasa malu karena tidak adanya orang lain yang mengawasi di sekitarnya.

As-Syaukani berkata, “Sebabnya adalah lelaki senang kepada wanita karena demikanlah ia telah diciptakan memiliki kecondongan kepada wanita, demikian juga karena sifat yang telah dimilikinya berupa syahwat untuk menikah. Demikian juga wanita senang kepada lelaki karena sifat-sifat alami dan naluri yang telah tertancap dalam dirinya. Oleh karena itu syaitan menemukan sarana untuk mengobarkan syahwat yang satu kepada yang lainnya maka terjadilah kemaksiatan.” (Nailul Autor 9/231).

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975)

Sudah sangat jelas sorang laki-laki berduan dengan seorang perempuan dilarang keras berduaan tanpa ada pendamping di tempat tersembunyi sangat dilarang oleh agama sebab akan memicu datangnya godaan setan. Tutuplah jalan godaan dan tipu daya setan dengan tidak melakukan khalwat, sehingga kita dan keluarga kita aman dari terperosok ke dalam kemaksiatan dan perzinahan. Semoga kita dan keluarga senantiasa dilindungi oleh Allah dari godaan setan yang menjerumuskan pada kemaksiatan. Ibnu Hajar membagi khalwat menjadi dua;

Khalwat yang Diperbolehkan

Walaupun hukum asal khalwat adalah haram, namun bukan berarti seorang perempuan tidak boleh bersama dengan laki-laki lain sama sekali. Dalam kondisi-kondisi tertentu Islam memperbolehkan seorang laki-laki berjumpa dan bertemu dengan perempuan lain manakala ada hajat yang dibenarkan oleh syariat Islam. Diantara alasan yang dibenarkan seorang laki-laki menemui perempuan lain adalah sebab darurat.

Sebagaimana Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah bin Abi Ma’ith dan para wanita yang lain meninggalkan keluarganya untuk ikut berhijrah dari Mekah ke Madinah tanpa mahrom. Demikian pula seorang wanita yang dihadirkan dalam majelis persidangan tanpa mahrom. Sebagaimana seorang pezina perempuan yang diasingkan ke daerah lain.

Alasan yang juga dibenarkan seorang perempuan bertemu dengan laki-laki lain yang bukan mahromnya adalah bila pertemuan tersebut tidak bersifat fisik yang mengarah kepada kemaksiatan dan juga disaksikan dan didampingi oleh mahromnya, atau wanita lain di tempat-tempat umum atau tempat-tempat yang dijamin keamanannya dan dijamin tidak menimbulkan fitnah. Seperti di pasar, di masjid, di sekolah, kantor-kantor pemerintah, kendaraan umum, dan lain sebagainya.

Imam An-Nawawi berkata, “…Diharamkannya berkhalwat dengan seorang wanita ajnabiah dan dibolehkannya berkholwatnya (seorang wanita) dengan mahramnya, dan dua perkara ini merupakan ijma’ (para ulama).” (Al-Minhaj 14/153).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ هِشَامٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَلَا بِهَا فَقَالَ وَاللَّهِ إِنَّكُنَّ لَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] Telah menceritakan kepada kami [Ghundar] Telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Hisyam] ia berkata; Aku mendengar [Anas bin Malik] radliallahu ‘anhu berkata; Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau pun menyendiri dan bersabda: “Demi Allah, kalian adalah manusia yang paling aku cintai.” (Hadits Bukhari Nomor 4833)

Sebuah hadits riwayat dari Anas bin Malik,

جَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَلَا بِهَا فَقَالَ وَاللَّهِ إِنَّكُنَّ لَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

“Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau pun menyendiri (berkhalwat) dan bersabda: “Demi Allah, kalian adalah manusia yang paling aku cintai.” (Hadits Bukhari Nomor 4833)

Demikian juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ يَا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا

“bahwa ada seorang yang mempunyai masalah lalu berkata; ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya saya sedang membutuhkan pertolongan engkau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab; “Hai ibu fulan, di tempat mana yang kamu inginkan untuk menyampaikan keperluanmu itu kepadaku? Lalu Rasulullah dan wanita itu menepi di suatu jalan hingga wanita tersebut dapat menyampaikan keperluannya.” (Hadits Muslim Nomor 4293)

Demikian juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ لَهَا يَا أُمَّ فُلَانٍ اجْلِسِي فِي أَيِّ نَوَاحِي السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَجْلِسَ إِلَيْكِ قَالَ فَجَلَسَتْ فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا حَتَّى قَضَتْ حَاجَتَهَا

“Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai keperluan denganmu.” Beliau bersabda: “Wahai Ummu fulan, duduklah di sudud mana saja yang kamu suka hingga aku dapat duduk bersamamu (menemuimu).” Anas berkata, “Wanita itu lalu duduk, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi tempat duduknya. Dan beliau tetap di situ hingga wanita tersebut menyelesaikan keperluannya.” Ibnu Isa tidak menyebutkan dalam riwayatnya; “Hingga wanita terebut menyelesaikan keperluannya”, (Hadits Abu Daud Nomor 4182)

Ibnu Hajar mengomentari hadits tersebut, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita ajnabiah tidak dalam keadaan keduanya tertutup dari pandangan khalayak. Dengan begitu hukumnya boleh berkhalwat jika masih kelihatan oleh khalayak ramai walaupun mungkin apa yang diperbincangkan tidak terdengar oleh orang lain. Sebagaimana Nabi berduaan dengan seorang perempuan yang masih terjangkau dari pandangan orang lain walaupun pembicaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perempuan asing tersebut tidak terdengar.

Ibnu Hajar juga berkata, Nabi berkhalwat dengan perempuan bukan mahromnya tersebut di sebagian jalan atau sebagian السكك (sukak).”Dan السكك, adalah jalan digunakan untuk berjalan yang biasanya selalu dilewati manusia umum.”

Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menunjukan akan bolehnya berbincang-bincang dengan seorang wanita bukan mahrom dengan pembicaraan rahasia, dan hal ini bukanlah celaan terhadap kehormatan agama pelakunya jika ia aman dari fitnah. Namun perkaranya sebagaimana perkataan Aisyah وأيكم يملك إربه كما كان النبي يملك إربه “Dan siapakah dari kalian yang mampu menahan gejolak nafsunya sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bisa menahan syahwatnya.” (Fathul Bari 9/414).

Khalwat yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut tergolong diperbolehkan dengan dasar mojoknya Nabi dengan wanita tersebut tidak tertutup dan masih terjangkau dari pandangan orang lain. Hal ini juga sebagaimana penjelasan Al-Muhallab, “Anas tidak memaksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga tidak kelihatan oleh orang-orang sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala itu, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga orang-orang di sekitarnya tidak mendengar keluhan sang wanita dan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut.

Oleh karena itu Anas mendengar akhir dari pembicaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut lalu iapun menukilnya (meriwayatkannya) dan ia tidak meriwayatkan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita itu karena ia tidak mendengarnya.” (Fathul Bari 9/413)

Khalwat yang Diharamkan

Khalwat yang diharamkan adalah menyendirinya dua lawan jenis yang bukan mahromnya dari jangkauan dan pandangan khalayak umum manusia. Jadi, selama ada dua orang lawan jenis berada di tempat umum yang tidak tertutup dari pandangan manusia, atau berada di tempat tertutup namun seorang wanitanya ada yang mendampingi wanita lain, dan tidak adanya dari keduanya tanda-tanda yang mencurigakan yang mengarah pada kemaksiatan, maka kita tidak boleh mengingkarinya. Pandangan ini sebagaimana yang dianut oleh Al-Qodhi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniah tentang sifat penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata;

والخلوة المحرمة هي ما كانت مع إغلاق لدار أو حجرة أو سيارة ونحو ذلك أو مع استتار عن الأعين، فهذه خلوة محرمة وكذا ضبطها الفقهاء

“Dan khalwat yang diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikianlah para ahli fikh mendefinisikannya.”

Namun begitu sebagai bentuk kehati-hatian sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab; entah sebagai pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, pengelola pendidikan, maupun lainnya. Hendaknya tetap mengupayakan tidak memberikan peluang-peluang terjadinya khalwat di tempat-tempat umum yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.

Karena khalwat merupakan salah satu sarana yang mengantarakan kepada perbuatan zina, sebagaimana mengumbar pandangan merupakan awal langkah yang akhirnya mengantarkan pada perbuatan zina. Janganlah membiarkan tanpa pembinaan dan pengawasan terhadap para pemuda dan pemudi yang berdua-duaan di tempat-tempat umum tersebut agar tidak terjatuh kedalam hal-hal yang haram.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke