Ketentuan Mengeraskan Bacaan dalam Shalat

Berikut akan dijelaskan mengenai ketentuan bacaan-bacaan yang dikeraskan pada shalat fardhu yang dikerjakan pada malam hari;

Surat-surat yang dibaca setelah Al-Fatihah berdasarkan sunnah

Walaupun kita dibebaskan untuk membaca ayat atau surat manapun dari bagian Al-Qur’an, namun ada beberapa surat dan ayat di mana secara spesifik disebutkan oleh Nabi untuk dibaca pada shalat-shalat tertentu berdasarkanriwayat Hadits berikut,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ فُلاَنٍ. فَصَلَّيْنَا وَرَاءَ ذَلِكَ الإِنْسَانِ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ فِى الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ فِى الْعَصْرِ وَيَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَيَقْرَأُ فِى الْعِشَاءِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَأَشْبَاهِهَا وَيَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ.

“Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang seseorang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada yang lainnya. Kami shalat di belakangnya dan ia memanjangkan dua raka’at pertama dari shalat Zhuhur dan memperingan dua rakaat terakhirnya. Sedangkan shalat Ashar lebih diperingan dari shalat Zhuhur. Adapun shalat Maghrib dibacakan surat qishorul mufasshol. Pada shalat Isya dibacakan surat Asy Syams dan yang semisal dengannya. Adapun shalat Shubuh dibacakan dua surat yang panjang.” (Hadits Riwayat Nasai Nomor 983)

Berdasarkan hadits tersebut pada dua raka’at pertama dari shalat tiga dan empat raka’at setelah setelah Al-Fatihah, kita dianjurkan membaca surat thiwalil mufasshol shalat Shubuh, membaca surat qishoril mufasshol pada shalat Maghrib, dan surat awsathil mufasshol pada shalat wajib lainnya.

Surat thiwalil mufasshol adalah mulai dari surat Qaaf hingga surat Al Mursalaat. Surat qishoril mufasshol adalah mulai dari surat Adh Dhuha hingga akhir Al Qur’an. Sedangkan surat awsathil mufasshol adalah mulai dari surat An Naba’ hingga surat Al Lail.

Walaupun begitu, apa yang telah disebutkan pada Hadits di atas bukan merupakan ketentuan wajib. Sebab Nabi juga membenarkan manakala seseorang hendak memilih surat-surat lain yang disenanginya. Hal ini berdasarkan riwayat hadits berikut,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ ، وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ ، وَيُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مَا لاَ يُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَهَكَذَا فِى الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat Zhuhur pada dua raka’at pertama yaitu surat Al Fatihah dan dua surat. Sedangkan dalam dua rakaat terakhir, beliau membaca Al Fatihah dan beliau juga memperdengarkan pada kami ayat lainnya. Beliau biasa memperlama rakaat pertama dibanding rakaat kedua. Demikian pula dilakukan dalam shalat ‘Ashar dan shalat Shubuh.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 776)

Baca juga; Bacaan Al-Qur’an Setelah Al-Fatihah Dalam Shalat Berdasarkan Sunnah

Bacaan surat untuk shalat yang dikerjakan di malam hari dijaherkan (dikeraskan)

Para ulama bersepakat bahwa shalat malam, yakni Magrib, Isya, dan Subuh tergolong shalat di mana bacaannya dikeraskan, maksudnya diperdengarkan pada orang lain. Dengan ketentuan bahwa hanya seorang imam dalam jamaah disunnahkan memperdengarkan bacaan surat Al-Fatihan dan bacaan setelahnya pada rakaat pertama dan rakaat kedua. Dan bacaan pada rakaat ketiga atau keempat tidak diperdengarkan. Sedangkan bagi mereka yang shalat munfarid (sendirian) boleh diperdengarkan (jahr) dan boleh tidak diperdengarkan (sirr). Pemahaman tersebut didasrkan pada beberapa Hadits berikut;

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperdengarkan bacaannya saat menjadi imam pada shalat-shalat malam. Sebagaimana riwayat Hadis dari Abu Hudzaifah radliallahu ‘anhu berikut,

صَلَيْتُ مَعَ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ، ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِيْ رَكْعَةٍ، فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيْهَا تَسْبِيْحٌ سَبَحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعُوْذُ، ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ: سُبْحَانِ رَبِيَ الْعَظِيْمِ فَكَانَ رُكُوْعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ قَامَ قِيَاماً طَوِيْلاً قَرِيْباً مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ: سُبْحَانَ رَبِيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُوْدُهُ قَرِيْباً مِنْ قِيَامِهِ.

“Aku salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam, maka beliau memulai dengan surat al-Baqarah, lalu aku katakan,’Beliau ruku pada ayat keseratus, kemudian beliau meneruskan, aku katakan, beliau salat dengannya pada satu rakaat, lalu beliau meneruskan, lalu aku katakan, beliau rukuk dengannya, kemudian mulailah membaca surat an-Nisa’ dan beliau membacanya. Lalu memulai membaca surat Ali-Imran, beliau membacanya dengan tidak tergesa-gesa. Maka apabila mendapati ayat yang terdapat tasbih, maka beliau bertasbih, dan apabila mendapati ayat yang ada permohonan, beliau memohon, kemudian apabila mendapati ayat yang ada ta’awwudz, beliau berta’awwudz, lalu rukuk dan membaca subhana rabbiyal ‘adhim, lamanya ruku beliau sama seperti berdirinya. Lalu beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah, rabbana lakal hamdu, kemudian berdirinya itu tidak jauh dari rukuknya, Lalu beliau sujud dan membaca subhana rabbiyal ‘a’la, maka lamanya sujud beliau tidak jauh beda dari rukunya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Namun, bila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sendirian terkadang bacaannya diperdengarkan dan terkadang dipelankan. Sebagamana riwayat Hadits berikut,

كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالَّيْلِ؟ فَقَالَتْ, كُلُّ ذَالِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ, رُبَّمَا اَسَرَّ وَ رُبَّمَا جَهَرَ.

“Bagaimana bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sewaktu salat malam? Lalu ia menjawab: semua itu seperti yang biasa dikerjakan, yaitu kadang-kadang ia pelankan (sir) dan kadang-kadang ia keraskan (jahar).” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

Didukung dengan Hadis riwayat dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha,

عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْهَرُ بِالْقُرْآنِ أَوْ يُخَافِتُ بِهِ قَالَتْ رُبَّمَا جَهَرَ وَرُبَّمَا خَافَتَ قُلْتُ اللهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي جَعَلَ فِي هَذَا الْأَمْرِ سَعَةً.

“Diriwayatkan dari Ghudhaif bin al-Harits, dia mengatakan, aku mendatangi ‘Aisyah, lalu aku bertanya, bagaimana bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah beliau mengeraskan suara (jahar) atau mengecilkan suara (sir)? ‘Aisyah menjawab, terkadang beliau mengeraskan (jahar) bacaannya dan terkadang memelankan (sir). Aku berkata; Allahu akbar, Alhamdulillâh (segala puji hanya milik Allâh) yang telah memberikan kemudahan dalam masalah ini.” (Hadits Riwayat Abu Dawud Nomor 1/89)

Baca juga; Salat Fardhu pada Malam Hari Tergolong Shalat Jahr yang Bacaannya Dikeraskan

Bacaan surat untuk shalat yang dikerjakan di siang hari disirrikan (dipelankan)

Para ulama bersepakat bahwa shalat siang hari, yakni Dzuhur dan Isya’ tergolong shalat di mana bacaannya dipelankan, maksudnya tidak diperdengarkan pada orang lain namun cukup didengar dirinya sendiri. Baik shalat yang dilaksanakan tersebut sendirian maupun berjamaah. Pemahaman tersebut didasrkan pada beberapa Hadits berikut;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ قُلْتُ لِخَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قَالَ قُلْتُ بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ قِرَاءَتَهُ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Al A’masy] dari [‘Umarah] dari [Abu Ma’mar] berkata, “Aku bertanya kepada [Khabbab bin Al Arat], ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar? ‘ Dia menjawab, “Ya.” Kami tanyakan lagi, “Bagaimana kalian bisa mengetahui bacaan Beliau?” Dia menjawab, “Dari gerakan jenggot Beliau.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 719)

Pada Hadits di atas dapat kita lihat bahwa dalam shalat Dzuhur dan Ashar, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengeraskan bacaannya terbukti bahwa sahabat mengetahui beliau membaca sesuatu atau tidak dari gerakan jenggot dan bukan dari suara beliau. Ini menunjukkan shalat Dzuhur dan Ashar adalah sirriyah.

Dalam beberapa Hadits kita jumpai bahwa terkadang dalam shalat Dzuhur atau Ashar yang seharusnya dipelankan. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ خَالِدِ بْنِ مُسْلِمٍ يُعْرَفُ بِابْنِ أَبِي جَمِيلٍ الدِّمَشْقِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ سَمَاعَةَ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَتَيْنِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطِيلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى

“Telah mengabarkan kepada kami [Imran bin Yazid bin Khalid bin Muslim] yang dikenal dengan Abu Jamil Ad-Dimasyqi dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Abdullah bin Sama’ah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Auza’i] dari [Yahya bin Abu Katsir] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Abu Qatadah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Bapakku] bahwa Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam membaca Ummul Qur’an (Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama shalat Zhuhur dan Ashar. Kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami dan memperpanjang rakaat pertama.” (Hadits Riwayat An-Nasa’i Nomor 965)

Imam Malik, Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa masalah men-jahr-kan (mengeras) kan bacaan atau memelankan bacaan adalah perkara sunnah. Artinya jika mengeraskan bacaan yang seharusnya sirriyah atau memelankan bacaan yang seharusnya jahriyah adalah tidak mengapa dan shalatnya tetap sah namun dihukumi makruh.

Berdasarkan hadits tersebut terdapat kebolehan menjahrkan bacaan surat pada shalat yang biasanya sirr seperti shalat dzuhur ataupun Ashar. Sebaliknya juga terkadang Nabi mensirrkan shalat yang biasa dijahrkan. Walaupun dibolehkan dan tidak menjadi penyebab batalnya nilai jamaah, namun sebagian ulama memakruhkannya.

Dalam Kitab  Al-Muntaqo Syarah Muwatho’ (1/225) dijelaskan bahwa hukum mengeraskan dan memelankan “melirihkan” (Jahr dan Sir) bacaan dalam sholat itu sunnah.

المنتقى – شرح الموطأ – (ج 1 / ص 252) وَقَدْ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْقَاسِمِ إِنَّ الْجَهْرَ فِيمَا يُجْهَرُ فِيهِ وَالْإِسْرَارَ فِيمَا يُسَرُّ فِيهِ مِنْ سُنَنِ الصَّلَاةِ وَهَذَا مُقْتَضَى هَذِهِ الرِّوَايَةِ وَوَجْهُ الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ أَنَّ تَعَمُّدَهُ لِلْجَهْرِ لَا يُفْسِدُ صَلَاتَهُ لِأَنَّهَا صِفَةٌ لِلْقِرَاءَةِ مَشْرُوعَةٌ فَلَمْ تَمْنَعْ صِحَّةَ صَلَاةِ الْإِمَامِ وَإِذَا لَمْ تَمْنَعْ صِحَّةَ صَلَاتِهِ لَمْ تَمْنَعْ صِحَّةَ صَلَاةِ مَنْ وَرَاءَهُ

Jika seandainya ada orang Sholat Dzuhur atau Ashar dengan bacaan keras (jahr) misalnya, atau Sholat Maghrib, Isya’ atau Shubuh dengan bacaan pelan (sir), maka sholatnya tetap sah, hanya saja dia telah melakukan kemakruhan. Seperti di sebutkan oleh imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar.

Baca juga; Salat Fardhu pada Siang Hari Tergolong Shalat Sirr yang Bacaannya Dipelankan

Shalat Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha, Gerhana, dan Istisqa Dilaksanakan Secara Jahriyah

Adapun untuk shalat-shalat sunnah ada perbedaan pendapat di kalangan imam madzhab.

Madzhab Hanafi berpendapat wajib membaca dengan suara keras bagi imam ketika shalat Tarawih dan witir di bulan Ramadhan, ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha. Sedangkan pada shalat Rawatib, shalat gerhana matahari, Istisqo dan shalat sunnah lain yang dilakukan siang hari, madzhab Hanafi menyatakan wajib bagi imam maupun munfarid (shalat sendirian) untuk memelankan bacaan (sirriyah).

Madzhab Maliki berpendapat sunnah membaca dengan keras pada setiap shalat sunnah yang dilaksanakan malam hari dan membaca pelan pada shalat sunnah yang dilaksanakan siang hari, kecuali shalat-shalat sunnah yang diikuti dengan khutbah seperti shalat ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, dan shalat Istisqo. Maka untuk shalat sunnah rawatib, shalat gerhana matahari, dhuha, shalat tahiyatul majid, shalat syukur wudlu, shalat jenazah dan shalat-shalat sunnah lain yang dilakukan ketika siang hari disunnahkan dilakukan secara sirriyah.

Madzhab Hambali (Imam Ahmad bin Hambal) berpendapat sunnah mengeraskan suara saat shalat ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, shalat Istisqo, shalat gerhana matahari, Tarawih dan witir di bulan Ramadhan. Adapun shalat sunnah lainnya walupun dilaksanakan secara berjamaah disunnahkan membaca dengan suara pelan. Sedangkan orang yang shalat munfarid boleh memilih jahriyah atau sirriyah.

Madzhab Syafi’i berpendapat disunnahkan membaca dengan suara keras (jahriyah) pada shalat ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, gerhana bulan, Istisqo, Tarawih dan witir di bulan Ramadhan dan shalat sunnah dua rakaat setelah tawaf dan shalat sunnah lain yang dilaksanakan di waktu malam maupun Shubuh. Sedangkan shalat sunnah lainnya dibaca dengan suara pelan (sirriyah) misal shalat dhuha, shalat gerhana matahari, shalat hajat, shalat tahiyatul masjid, shalat syukur wudlu, shalat jenazah, shalat tasbih dan lainnya.

Dari pendapat para imam madzhab di atas ada sedikit tinjauan terhadap pendapat Imam Hanafi ini dimana ada Hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaan dalam shalat Istisqo. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي فَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’aim] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi’b] dari [Az Zuhri] dari [‘Abbad bin Tamim] dari [Pamannya] berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar untuk melaksanakan shalat istisqa’, beliau lalu berdoa dengan menghadap ke arah kiblat sambil membalikkan kain selendangnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaannya pada kedua rakaat itu.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 968)

Baca juga; Shalat Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha, Gerhana, dan Istisqa Dilaksanakan Secara Jahriyah

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

 

Bagikan Artikel Ini Ke