Kelompok dan Urutan Wali Nasab dalam Pernikahan.

Imam Abu Suja dalam kitab Matan Ghayah wa Taqrib menjelaskan wali nasab dalam keluarga yang dapat menikahkan seorang mempelai perempuan adalah;

وأولى الولاة الأب ثم الجد أبو الأب ثم الأخ للأب والأم ثم الأخ للأب ثم ابن الأخ للأب والأم ثم ابن الأخ للأب ثم العم ثم ابنه على هذا الترتيب فإذا عدمت العصبات ف…الحاكم

Artinya; Wali paling utama ialah ayah, kakek (ayahnya ayah), saudara lelaki seayah seibu (kandung), saudara lelaki seayah, anak lelaki saudara lelaki seayah seibu (kandung), anak lelaki saudara lelaki seayah, paman dari pihak ayah, dan anak lelaki paman dari pihak ayah. Demikianlah urutannya. Apabila tidak ada waris ‘ashabah, maka hakim.

Dengan demikian, wali hakim menduduki prioritas terakhir. Atau dengan kata lain bisa menggunakan wali hakim jika memang tidak ada seseorang yang ada atau yang layak untuk bisa menjadi wali nasab.

Wali nasab dikelompokkan ke dalam empat golongan berdasarkan hirarki kedudukan, kelompok yang satu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam daftar hirarki menjadi wali dalam pernikahan dibanding dengan kelompok lainnya. Dalam artian kelompok yang lebih tinggi kedudukan perwaliannya harus didahulukan dari kelompok yang lain sesuai susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita.

Berikut empat kelompok wali nasab yang memiliki kedudukan tertinggi hingga terendah berdasarkan urutannya;

Pertama, kerabat laki-laki garis lurus ke atas yakni ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya.

Kedua, kerabat saudara laki-laki kandung, atau saudara laki-laki seayah, dan keturunan laki-laki mereka.

Ketiga, kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan keturunan laki-laki mereka.

Keempat, saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki seayah kakek dan keturunan laki-laki mereka.

Dengan kata sederhana, yang bisa menjadi wali nasab adalah yang disebutkan dengan urutan sebagai berikut:

  1. Ayah
  2. Kakek (dari jalur ayah)
  3. Saudara kandung laki-laki
  4. Saudara laki-laki yang seayah (dengan ibu yang beda)
  5. Paman (dari jalur ayah)
  6. Anak laki-laki paman (dari jalur ayah)

Jika ternyata keenam pihak keluarga di atas tidak ada, maka alternatif terakhir yang bisa dijadikan wali nikah adalah wali hakim.

Baca selengkapnya; Ketentuan Wali dalam Nikah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke