Kajian Hadits; Akhlak Merupaan Ukuran Kesempurnaan Iman Seseorang”

Kajian Hadits;

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, bahwa akhlak itu merupaan ukuran kesempurnaan iman seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi Nomor 1162)

Penjelasan;

Memang, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan derajat tinggi bagi orang yang berilmu. Namun hal itu tidak akan berguna bila tidak dibungkus dengan ahlak yang baik. Ilmu memang penting dalam Islam, sebab tanpa ilmu manusia bagaikan binatang. Sangat penting kedudukan ilmu, tanpanya manusia tidak memiliki peradaban. Namun, apa jadinya bila manusia memiliki banyak ilmu, namun tidak berakhlak baik. Sering kita jumpai mereka orang yang banyak ilmu, namun sifat dan sikapnya menunjukkan kesombongan dirinya. Mereka berilmu namun mudah merendahkan orang lain, mudah menuduh bid’ah amalan orang lain, mudah menuduh sesat golongan lain, dan bahkan mudah mengkafirkan orang lain dalam hal-hal sepele seperti persoalan furu’ (cabang) agama.

Mereka dengan bangganya menonjolkan ketinggian keilmuan dan keagamaannya, namun dengan ilmunya mereka merasa paling berhak untuk menghukumi orang lain, menghukumi amalan orang lain, dan menghukumi keyakinan orang lain. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menyukai umatnya yang lebih mendahulukan akhlaq daripada menonjolkan keilmuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi Nomor 1941)

Dengan demikian, semakin baik akhlaqnya maka hal itu menunjukkan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan. Semakin bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, maka akan semakin bertambah luhur pula akhlaknya. Oleh sebab itu utamakan akhlaq daripada ilmu! Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Sebagaimana kasus sebagian golongan umat Islam hanya ingin terlihat paling sempurna dalam menjalankan sunnah dan perintah Nabi, namun malah terjebak pada ketidak sopanan mereka pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu kesempatan mengajarkan shalawat dalam shalat tanpa ada kata “sayyidina”, kemudian mereka menghukumi bid’ah, dan sesat kepada mereka yang ingin menghormati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memanggil Nabi dengan julukan “sayyidina”. Padahal Nabi menjuluki dirinya sendiri sebagai sayyid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at.” (Shahih Muslim)

Baca juga;

Hukum Menambah Kata Sayyid Pada Nama Nabi Muhammad

Mempersoalkan Kata Sayyidina

Hukum Menggunakan Kata Sayyidina

Tambahan Kata ‘Sayyidina’ dalam Shalawat Nabi’

Dalam situasi tertentu, sebagaimana bila terjadi pertentangan antara perintah (ittiba’) dengan adab atau tata krama, maka dahulukanlah adab. Dan perbedaan pendapat bukanlah jalan untuk mencaci-maki dan menebar kebencian. Bijaklah dalam memahami hukum Islam dengan pikiran dan hati yang bening seperti mata air sehingga bila menghadapi perbedaan pandangan soal ilmu tidak menyebabkan kita kehilangan kesopanan. Hal ini sebagaimana kaidah fikih berikut,

“مراعة الأدب خير من الإتباع”.

“Menjaga tatakrama lebih utama dari ittiba’ (melaksanakan perintah)”.

Nabi sendiri ternyata lebih menghendaki umatnya berakhlaq dibandingkan berilmu. Di dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَ فِي رِوَايَةٍ: صَالِحَ) اْلأََخْلَاقْ

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain: menyempurnakan kebagusan akhlaq).” (HR. Al Bukhari)

Dengan akhlaq seorang muslim akan lebih mudah meraih derajat luhur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad Nomor 25013 dan Abu Dawud Nomor 4165)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari akhlak mulia ketika diletakkan di atas mizan (timbangan amal) dan sungguh pemilik akhlak mulia akan mencapai derajat orang yang mengerjakan puasa dan shalat.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Akhlak yang baik akan meningkatkan derajat. Dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia karena akhlaknya baik walaupun ia lemah dalam ibadah.” (HR. Thabrani)

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, tidaklah disebut orang beriman, sampai ia mencintai saudaranya sendiri sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Dahulukun akhlaq dibandingkan dibandingkan ilmu. Sisihkan perdebatan soal ilmu dan ibadah kalau hal itu menyebabkan kita saling bertikai dan bermusuhan. Hindari mudah membid’ahkan dan menyesatkan pihak lain disebabkan perbedaan amal yang sifatnya hanya furuiyyah. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hanya ingin menyempurnakan akhlaq manusia. Bergaulah dengan sesama manusia dengan dasar akhlaq mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia.” (HR. At-Tirmidzi)

Bahkan mereka yang terlihat berilmu dan sangat rajin ibadahnya namun tidak menunjukkan akhlaq baiknya, Nabi mengkatagorikan mereka sebagai manusia yang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ حُسْنُ سَمْتٍ وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ

“Dua hal yang tidak akan berkumpul pada diri orang munafik, yaitu; akhlaq yang baik dan pemahaman dalam masalah agama (ilmu).” (Hadits Jami’ At-Tirmidzi Nomor 2608)

Sungguh perilaku tidak berakhlak menyebabkan manusia masuk neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit atau bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim Nomor 2581, Tirmidzi Nomor 2418, dan Ahmad (2/303, 334, 371)

Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim oleh Syekh Hasyim Asy’ari, mengatakan,

نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.”

Sudah sangat kelas bahwa di antara ciri yang membedakan manusia dari binatang adalah akal atau ilmu. Pernyataan ini tidak keliru. Tapi mesti digarisbawahi, di atas ilmu ada yang lebih utama, yakni adab atau akhlak. Sebab, ilmu seberapapun banyaknya tanpa disertai adab yang baik akan menjerumuskan manusia dalam perilaku binatang, atau mungkin lebih rendah. Betapa banyak peperangan, kesewenang-wenangan kekuasaan, kerusakan alam, atau sejenisnya muncul justru karena ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman sekarang. Karena itu, yang paling mendasar dibutuhkan bagi peradaban manusia adalah adab. Ilmu memang sangat penting, tapi pondasi berupa akhlak jelas lebih penting. Karena akhlaklah yang menyelamatkan manusia dari keserakahan, kezaliman, kekejaman, keangkuhan, kebencian, dan sifat-sifat tercela lainnya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Artikel yang senada;

Kaidah Fikih; “Mura’tul Adab Khairun Minal Ittiba’” Menjaga Tatakrama Lebih Utama daripada Ittiba’

Kajian Hadits; Tidak Berakhlak Menyebabkan Bangkrut di Akhirat

Kajian Hadits; Yang Paling Dicintai Nabi Adalah Mereka Yang Paling Bagus Akhlaknya

Salah Satu Akhlak Kepada Nabi Adalah dengan Memanggil Sayyidina

Pelajarilah Akhlak Sebelum Mempelajari Ilmu

Kajian Hadits; Nabi Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak Umat Manusia

Kajian Hadits; Tidaklah Seseorang Dianggap Beriman Sampai Dia Mencintai Saudaranya, Baik Muslim Maupun Non Muslim

Kajian Hadits; Seorang Mukmin Bisa Meraih Derajat Luhur Sebab Akhlaknya

Kajian Hadits; Perintah Bergaul dengan Sesama Manusia dengan Dasar Akhlaq Mulia

Kajian Hadits; Tidak Memiliki Akhlak Tanda Kemunafikan

Bagikan Artikel Ini Ke