Hukum Wanita Mengenakan Busana Bermotif’

Sebagian kelompok kaum muslimin ada yang berkeyakinan bahwa baju muslimah yang beriman haruslah bermotif polos dan berwarna gelap. Kalau pun mereka tidak menganggapnya wajib, paling tidak ada anggapan bahwa busana polos dan berwana gelap itu lebih Islami, lebih tinggi derajat ke-Islamannya. Maka mereka beranggapan wanita muslimah yang memakai baju warna-warni atau kain bercorak atau bermotif menunjukkan dangkalnya keimanan dan sifat yang genit atau berusaha menarik perhatian lawan jenis.

Saya pribadi pernah mendapat pertentangan dan dikecam ketika memimpin bisnis busana muslimah kemudian mempelopori pembuatan busana muslimah dengan motif bunga kecil-kecil. Pada masa itu memang belum marak busana muslimah seperti sekarang ini, dan kalaupun ada yang mengenakan busana muslimah memang rata-rata polos tanpa motif dan berwarna gelap bahkan hitam.

Alhasil kami berbagai tudingan pun terlontar. Dari mulai tudingan tidak Islami, tabaruj Jahiliyah, busana seperti itu menggoda lelaki, dan lain sebagainya. Lalu apakah benar Islam melarang busana muslimah dibuat dari kain bermotif?

Maka dalam kesempatan ini kami hendak menyampaikan hadits-hadits yang menceritakan bahwa busana wanita muslimah tidaklah wajib polos dan tidak haram memakai motif bunga-bunga. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

و قَالَ لِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنَا قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ إِذْ مَنَعَ ابْنُ هِشَامٍ النِّسَاءَ الطَّوَافَ مَعَ الرِّجَالِ قَالَ أَنَا وَعُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهِيَ مُجَاوِرَةٌ فِي جَوْفِ ثَبِيرٍ قُلْتُ وَمَا حِجَابُهَا قَالَ هِيَ فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ لَهَا غِشَاءٌ وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهَا غَيْرُ ذَلِكَ وَرَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعًا مُوَرَّدًا

“Dan berkata, kepadaku [‘Amru bin ‘Ali] telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Ashim] berkata, [Ibnu Juraij] telah mengabarkan kepada kami, berkata,, telah mengabarkan kepada saya [‘Atho’] ketika Ibnu Hisyam melarang para wanita untuk thawaf bersama kaum lelaki, ia (‘Atho’) berkata; Dan aku bersama ‘Ubaid bin ‘Umair pernah menemui ‘Aisyah radliallahu ‘anha yang sedang berada disisi gunung Tsabir. Aku bertanya: “Hijabnya apa?” Ia menjawab: “Ia berada di dalam tenda kecil buatan Turki. Tenda itu memiliki penutup yang tipis dan tidak ada pembatas antara kami dan beliau selain tenda itu, dan aku melihat beliau mengenakan gamis bermotif mawar”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1513)

Hadits di atas adalah hadits shahih riwayat Bukhari. Dan dalam hadits tersebut diceritakan bahwa ummul mukminin (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yaitu Aisyah radliallahu ‘anha mengenakan pakaian gamis bermotif bunga mawar. Dari sini kita mengetahui bahwa pakaian muslimah tidak wajib polos dan boleh bermotif bunga.

Dalam hadits lain diceritakan bahwa putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari hasil perkawinannya dengan Khadijah radliallahu ‘anha yaitu Ummu Kultsum radliallahu ‘anha pernah mengenakan kain yang bersulam.

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّهُ رَأَى عَلَى أُمِّ كُلْثُومٍ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُرْدَ حَرِيرٍ سِيَرَاءَ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu’aib] dari [Az Zuhri] dia berkata; “telah mengabarkan kepadaku [Anas bin Malik] bahwa dia pernah melihat Ummu Kultsum radliallahu ‘anha puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenakan kain yang bersulam sutera.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 5394)

Adanya sulaman ini menunjukkan bahwa kain tersebut tidak polos. Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menghadiahkan dan mengenakan pakaian berenda sutera serta berwarna hijau atau kuning kepada Ummu Khalid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ سَعِيدِ بْنِ فُلَانٍ هُوَ عَمْرُو بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ عَنْ أُمِّ خَالِدٍ بِنْتِ خَالِدٍ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ فَقَالَ مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ فَسَكَتَ الْقَوْمُ قَالَ ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ فَأَخَذَ الْخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا وَقَالَ أَبْلِي وَأَخْلِقِي وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ فَقَالَ يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنَاهْ وَسَنَاهْ بِالْحَبَشِيَّةِ حَسَنٌ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’aim] telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Sa’id] dari ayahnya [Sa’id bin Fulan] yaitu ‘Amru bin Sa’id bin Al ‘Ash dari [Ummu Khalid binti Khalid] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi kain kecil yang ada renda suteranya. Lalu beliau bertanya: “Menurut kalian siapa yang paling berhak untuk mendapat kain ini?”, orang-orang pun diam. Beliau lalu bersabda: “Datangkanlah Ummu Khalid kepadaku.” Beliau lantas memberikan kain tersebut dan memakaikannya kepadanya. Setelah itu beliau bersabda: “Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang baru (panjang umur).” Beliau kemudian melihat corak berwarna hijau atau kuning yang ada pada kain bersulam sutera tersebut, beliau bersabda: “Wahai Ummu Khalid, ini sanah, sanah.” Sanah adalah perkataan bahasa Habasyah yang berarti bagus.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 5375)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ أَبِي فَاخِتَةَ حَدَّثَنِي هُبَيْرَةُ بْنُ يَرِيمَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ أُهْدِيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُلَّةٌ مَكْفُوفَةٌ بِحَرِيرٍ إِمَّا سَدَاهَا وَإِمَّا لَحْمَتُهَا فَأَرْسَلَ بِهَا إِلَيَّ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَصْنَعُ بِهَا أَلْبَسُهَا قَالَ لَا وَلَكِنْ اجْعَلْهَا خُمُرًا بَيْنَ الْفَوَاطِمِ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahim bin Sulaiman] dari [Yazid bin Abu Ziyad] dari [Abu Fakhitah] telah menceritakan kepadaku [Hubairah bin Yarim] dari [Ali], bahwa telah di hadiahkan pakaian yang terbuat dari sutera kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu yang panjang atau lebar kainnya bersulam sutera. Kemudian beliau mengirimnya kembali kepadaku, lantas kudatangi beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuperbuat dengannya? Apakah aku boleh mengenakannya?” beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi buatlah kerudung untuk para Fatimah.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 3586)

Perkataan kain bersulam dan berenda menunjukkan bahwa kain itu tidak polos saja melainkan ada jahitan atau bordiran atau sulaman sebagai hiasan. Demikian pula kalimat bahwa kain itu berwarna hijau atau kuning menunjukkan kebolehan pakaian wanita muslimah berwarna lain selain hitam.

Ada yang mengemukakan dalil haramnya wanita memakai baju berwarna dan bercorak berdasarkan hadits berikut ini,

حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ فَإِنَّهَا لَا تَكْتَحِلُ وَلَا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ

“Telah menceritakan kepada kami [Al Fadllu bin Dukain] Telah menceritakan kepada kami [Abdus Salam bin Harb] dari [Hisyam] dari [Hafshah] dari [Ummu ‘Athiyah] ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung lebih dari tiga hari kecuali terhadap suaminya. Maka ia tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai pakaian yang berwarna (bercorak) kecuali pakaian yang terbuat dari bahan dedaunan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 4924)

Maka hadits di atas sama sekali tidak menunjukkan keharaman wanita mengenakan pakaian berwarna dan bercorak. Hadits di atas menceritakan masa ihdad atau berkabung dimana selama masa berkabung itu wanita memang tidak boleh mengenakan pakaian berwarna atau bermotif, lalu memakai celak (berhias) dan memakai wewangian. Dan masa berkabung itu maksimal adalah 3 hari. Kecuali jika yang meninggal itu adalah suaminya, maka dibolehkan selama 40 hari. Adapun setelah lewat masa berkabung, wanita boleh mengenakan pakaian berwarna, mengenakan celak mata dan menggunakan wewangian.

Walaupun demikian kami tetap menghormati kelompok yang berpendapat wajibnya wanita muslimah mengenakan busana polos tanpa motif karena tidak ada larangan untuk mengenakan busana dari kain polos tanpa motif. Hanya saja jika hal ini mereka yakini sebagai kewajiban dan menganggap bahwa muslimah yang berbusana dengan kain bermotif adalah kurang imannya, dan mereka yang berbusana dengan kain polos itu lebih Islami, maka kami katakan keyakinan seperti ini tidak tepat. Adapun jika ada wanita yang lebih menyukai busana polos tanpa motif, maka hal itu sah saja.

 

Oleh: Ustad Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke