Hukum Shalat Tahiyyatul Masjid

Para ulama telah bersepakat bahwa shalat tahiyyatul masjid disyariatkan oleh agama. Namun terdapat sedikit perbedaan mengenai hukumnya. Sebagian kecil ulama ada yang mewajibkan shalat tahiyatul masjid. Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam asy-Syaukani. Namun mayoritas ulama berpendapat shalat tahiyatul masjid hukumnya Sunnah.

Ulama yang mewajibkan shalat tahiyatul masjid menggunakan dalil perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakannya. Sedangkan berdasarkan kaidah fikih hukum dasar setiap perintah adalah wajib. Sedangkan ulama yang menghukumi sunnah mendasarkan fatwanya menggunakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ

“Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah, ia berkata: “Seorang laki-laki dari penduduk Najed datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , rambutnya kusut, terdengar gema suaranya namun tidak dipahami perkataannya, sampai dia dekat. Ternyata dia bertanya tentang agama Islam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Lima shalat dalam sehari dan semalam’.” Dia bertanya: “Adakah kewajiban (shalat) atasku selainnya?” Beliau menjawab: “Tidak, kecuali engkau melakukan dengan suka rela,” (HR. Bukhari no. 46)

Demikian juga dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Dari Abu Waqid al-Laitsi, sesungguhnya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam masjid dan orang-orang berada di sekeliling beliau, tiba-tiba datang tiga orang, yang dua orang maju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan yang satu orang pergi. Dua orang tersebut berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Satu orang dari keduanya melihat celah pada halaqah (lingkaran duduk), lalu dia duduk di sana. Adapun yang lain, dia duduk di belakang orang-orang. Sedangkan orang yang ketiga, dia berbalik pergi. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai, beliau n bersabda: “Tidakkah kuberitahukan kepada kamu tentang tiga orang tadi. Adapun seseorang dari mereka, dia singgah kepada Allah, maka Allah menyambutnya. Sedangkan orang yang lain, dia malu kepada Allah, maka Allah juga malu kepadanya. Dan orang yang lain lagi, dia berpaling, maka Allah juga berpaling darinya.” (HR. Bukhri no. 66)

Berdasarkan hadits di atas menunjukkan makna kesunnahan shalat tahiyatul masjid disebabkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan kedua sahabat tersebut tidak shalat tahiyatul masjid. Dengan begitu sangat jelas bahwa walaupun ada sebagian kecil ulama yang mewajibkan shalat tahiyatul masjid, namun dikarenakan terdapat dalil yang lebih kuat maka hukum shalat tahiyatul masjid yang lebih raajih adalah Sunnah.

Namun begitu, walaupun hukum shalat tahiyatul masjid sunnah bukan berarti kita boleh meremehkan dan meninggalkan ibadah ini. Sebab setiap umat Islam sudah semestinya memperhatikan dengan sangat untuk senantiasa melaksanakan kebaikan-kebaikan walaupun sifatnya kecil, sedikit, dan sunnah. Hendaklah semua ibadah itu dilakukan semampunya untuk mencari pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai bekal kelak kita di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu meremehkan sesuatu dari kebaikan, walaupun sekedar bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim no. 2626)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke