Hukum Memperingati Hari Ibu

Pertanyaan;

Merupakan kebiasaan orang-orang untuk memperingati hari, apakah memperingati hari seperti hari ibu ini dibolehkan syarak?

Jawaban;

Manusia merupakan makhluk Allah yang istimewa. Allah memuliakannya karena sifat kemanusiaannya itu. Dia telah menciptakan manusia dengan kekuasaan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam jasadnya. Allah pun memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada manusia dan menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya karena menolak melaksanakan perintah sujud tersebut.

Penghormatan terhadap manusia karena status kemanusiaannya merupakan karakter malaikat yang mejadi pilar bagi tegaknya peradaban Islam. Sebaliknya, menghinakan, merendahkan dan melecehkan manusia merupakan karakter iblis yang menghancurkan berbagai peradaban yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (Surat An-Nahl Ayat 26)

Dan firman-Nya,

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (Surat An-Nisa’ Ayat 119)

Firman-Nya juga,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Kahf Ayat 50)

Islam Memuliakan Manusia Karena Statusnya Sebagai Manusia

Di samping memuliakan manusia karena status kemanusiaannya –tanpa melihat ras, kelamin ataupun warna kulitnya—, Islam juga menambahkan pemuliaan lain kepadanya terkait dengan tugas yang dibebankan oleh Allah sesuai dengan tabiat alami masing-masing mereka. Diantara pemuliaan tersebut adalah ketika statusnya menjadi orang tua yang oleh Allah dijadikan sebagai sebab munculnya manusia ke dunia ini. Allah bahkan menyebutkan perintah untuk berterima kasih kepada orang tua setelah perintah bersyukur kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Surat Luqman Ayat 14)

Allah juga menyebutkan perintah untuk berbakti kepada orang tua setelah perintah beribadah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Surat Al-Isra’ Ayat 23)

Hal ini tidak lain karena Allah menjadikan kedua orang tua sebagai sebab atau wasilah dalam penciptaan manusia. Tentunya semua ini merupakan penghormatan dan pemuliaan yang istimewa bagi kedua orang tua.

Ibu adalah Orang yang Paling Berhak Mendapatkan Bakti Anaknya

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan ibu sebagai sosok yang paling berhak untuk mendapatkan bakti dari seorang anak melebihi ayahnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, dia berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” (Hadits Bukhari Nomor 5514 dan Hadits Muslim Nomor 4621)

Islam juga menetapkan bahwa hubungan seorang anak dengan ibunya adalah hubungan organik yang alami. Sehingga, penisbatan seorang anak kepada ibunya tidak tergantung pada apakah anak itu berasal dari hubungan yang sah (nikah) ataukah tidak (perzinaan). Seorang perempuan adalah ibu dari anak yang ia lahirkan, bagaimanapun cara anak itu diperoleh. Hal ini berbeda dengan penisbatan anak kepada ayahnya yang tidak diakui oleh syarak kecuali jika berasal dari hubungan pernikahan yang sah.

Salah Satu Bentuk Pemuliaan Terhadap Ibu adalah Menghormatinya

Bentuk pemuliaan yang lain dari Islam terhadap ibu adalah kewajiban menghormati, berbakti dan berbuat baik kepadanya. Dalam Islam tidak ada larangan untuk mengadakan suatu perayaan guna mengungkapkan rasa cinta dan bakti seorang anak kepada ibunya. Karena, hal itu tidak lebih dari sekedar permasalahan teknis yang tidak ada hubungannya dengan masalah bid’ah sebagaimana yang diklaim oleh banyak orang. Karena bid’ah yang ditolak adalah yang bertentangan dengan ajaran agama, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَمِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan suatu perbuatan dalam urusan kami yang bukan termasuk bagian darinya, maka perbuatan itu ditolak.” (Muttafaq ‘alaih, dari hadits Aisyah)

Dapat dipahami dari hadits ini bahwa barang siapa yang mengada-adakan suatu perbuatan yang merupakan bagian dari agama Islam, maka perbuatan itu dapat diterima dan tidak ditolak.

Nabi saw. sendiri membiarkan bangsa Arab mengadakan perayaan untuk mengenang kemenangan-kemenangan bangsa mereka dengan melantunkan bait-bait syair tentang keutamaan suku mereka dan hari-hari kemenangannya. Hal ini sebagaimana disinggung dalam hadits yang disebutkan dalam Shahîhain dari Aisyah radliallahu ‘anha,

دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Abu Bakar masuk menemui aku saat itu di sisiku ada dua orang budak tetangga Kaum Anshar yang sedang bersenandung, untuk memperingati peristiwa pembantaian kaum Anshar pada perang Bu’ats.” Aisyah melanjutkan kisahnya, “Kedua sahaya tersebut tidaklah begitu pandai dalam bersenandung. Maka Abu Bakar pun berkata, “Seruling-seruling setan (kalian perdengarkan) di kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” Peristiwa itu terjadi pada Hari Raya ‘Ied. Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita.” (Hadits Bukhari Nomor 899)

Dalam riwayat lain disebutkan,

عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

“dari [ar-Robi’ binti Mu’awwidz] berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemuiku pada pagi hari dan membangunkan aku. Lalu beliau duduk di atas tikarku seperti posisi dudukmu di hadapanku ini. Saat itu, ada dua budak wanita sedang menabuh musik gendang sambil bernyanyi mencela orang-orang yang terbunuh dari kalangan orang tua mereka pada perang Badar. Hingga berkata salah seorang dari budak itu; “Bersama kami ada Nabi yang mengetahui apa yang bakal terjadi besok”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera berkata: “Janganlah kamu mengatakan begitu. Tapi cukup katakan apa yang kamu katakan sebelumnya”. (Hadits Bukhari Nomor 3700)

Bu’ats adalah nama sebuah daerah dekat Madinah tempat terjadinya peperangan terakhir antara suku Aus dan Khazraj.

Dalam hadits lain juga disebutkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi makam ibunya Sayyidah Aminah bersama seribu tentara bersenjata. Beliau tidak pernah terlihat menangis dengan begitu sedih dibandingkan hari itu. (Kisah ini diriwayatkan oleh Hakim –serta dia shahihkan— dan asal riwayatnya terdapat dalam Shahih Muslim).

Arti Ibu Bagi Seorang Muslim

Kata “ibu” bagi kaum muslimin mengandung makna yang sangat luhur. Dalam literatur bahasa Arab, kata ini mempunyai makna yang jelas dan bervariasi. Dalam bahasa Arab, kata al-umm (ibu) dapat berarti asal, tempat tinggal, pemimpin serta pelayan bagi suatu kaum yang bertugas menyediakan makanan dan keperluan mereka. Makna terakhir ini dinukil dari Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu yang merupakan salah satu ulama pakar bahasa.

Ibnu Duraid berkata, “Bangsa Arab menyebut segala sesuatu yang menjadi tempat bertemunya benda-benda lain yang ada di sekitarnya disebut dengan nama ibu.” Karena itulah, kota Mekkah disebut juga dengan Ummul Qura (Ibu Perkampungan), karena ia terletak di tengah-tengah dunia dan merupakan kiblat yang menjadi tujuan orang-orang dari berbagai penjuru. Selain itu, Mekah juga merupakan tempat yang mempunyai posisi paling penting.

Karena bahasa merupakan wadah pemikiran, maka bagi seorang muslim, makna kata ibu berkaitan langsung dengan sosok mulia tersebut. Sosok yang dijadikan Allah sebagai asal-muasal penciptaan manusia. Sosok yang oleh Allah dijadikan sebagai tempat seseorang menemukan ketenangan. Di samping itu, Allah juga mengilhamkan kepada seseorang bagaimana merawat ibunya, serta membuatnya senang untuk melayani dan memenuhi semua kebutuhannya. Ibu, dalam semua proses itu, merupakan sumber kasih dan sayang yang menjadi tempat berlindung bagi anak-anaknya.

Dalam budaya kita yang diwariskan secara turun temurun, keluhuran makna kata “ibu” pun semakin jelas dalam penggunaan kata silaturahim. Nampak jelas bahwa dalam kata silaturahim salah satu organ tubuh ibu, yaitu ar-rahim atau rahim, dijadikan simbol pengikat antar anggota keluarga yang merupakan pilar tegaknya sebuah masyarakat. Hal itu karena tidak ada seorang pun yang lebih berhak untuk menyandang predikat ini melebihi ibu; sosok yang karenanya kehidupan ini terus berlangsung dan sebuah keluarga dapat terbentuk, serta memancarkan nilai-nilai kasih sayang. Semua ini semakin sempurna dengan adanya makna religi yang indah sebagaimana digambarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلُ: مَنْوَصَلَنِيْ وَصَلَه اللهُ، وَمَنْ قَطَعَنِيْ قَطَعَهُ اللهُ

“Hubungan kekerabatan (ar-rahim) tergantung di ‘Arsy dan berkata, “Barang siapa menyambungkanku, maka Allah akan menyambungkan hubungan kekerabatannya. Dan barang siapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan kekerabatannya.” (Muttafaq ‘alaih, dari hadits Aisyah)

Dan disebutkan dalam hadits qudsi,

قَالَ اللهُ عَزَّوَجَلَّ: أَنَا اللهُ، وَأَنَاالرَّحْمَنُ، خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَشَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِيْ، فَمَنْ وَصَلَهَاوَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku adalah Allah, dan Aku adalah ar-Rahman (Sang Maha Pengasih). Aku menciptakan rahim, dan Aku memberinya nama dari nama-Ku. Maka barang siapa menyambungkannya maka Aku akan menyambungkan hubungan kekerabatannya, dan barang siapa yang memutuskannya maka Aku akan memutus hubungan kekerabatannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi –dan dia menshahihkannya—, dari hadits Abdurrahman bin Auf radliallahu ‘anhu)

Dengan mengetahui makna kata “ibu” yang sangat luhur ini –baik secara terminologi, budaya dan agama—, maka kita dapat mengetahui perbedaan yang jauh antara kita dengan umat lain yang telah kehilangan nilai-nilai ikatan keluarga. Sehingga mereka pun berusaha menemukan nilai-nilai yang hilang tersebut dalam moment-moment seperti hari ibu tersebut dan mereka pun sangat berupaya untuk merayakannya. Oleh karena itu, perayaan-perayaan seperti ini bisa disebut sebagai moment untuk meminta perhatian dari anak-anak agar mengingat jasa para ibu dan agar mereka memberikan hadiah ala kadarnya kepada para ibu mereka sebagai ekspresi rasa terimakasih tersebut.

Adanya perbedaan budaya antara kita dengan orang-orang Barat – dimana realita mereka menuntut adanya perayaan-perayaan semacam ini—, tidak dapat dijadikan alasan syar’i untuk menolak berpartisipasi merayakan acara hari ibu ini. Justru kami memandang bahwa berpartisipasi dalam aktifitas-aktifitas semacam ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menyebarkan ajaran Islam yang mengajarkan kepada umatnya untuk berbakti kepada orang tua. Pemanfaatan moment semacam ini semakin urgen di saat kedurhakaan menjadi sebuah fenomena yang sangat menyedihkan seperti di zaman ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tauladan terbaik kita, menyukai dan memuji orang yang berakhlak mulia walaupun berlainan agama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di antara orang-orang suku Thayyi` yang ditawan dan dibawa menghadap Rasulullah saw., terdapat seorang anak perempuan Hatim ath-Tha`iy (pembesar suku Thayyi`). Anak perempuan Hatim Tha`iy itu berkata kepada beliau, “Wahai Muhammad, saya mohon engkau membebaskan saya, sehingga suku-suku Arab tidak bergembira dengan musibah yang menimpa saya ini. Saya adalah anak pembesar suku saya. Ayah saya melindungi orang yang memerlukan perlindungan, memberikan kemudahan kepada orang yang menderita, memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang tidak mempunyai pakaian, menjamu tamu, memberi makanan kepada orang-orang, suka mengucapkan salam dan tidak pernah sekalipun menolak permintaan seseorang. Saya adalah anak Hatim ath-Tha`iy.” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun lalu bersabda,

يَا جَارِيَةُ، هَذِهِ صِفَةُ الْمُؤْمِنِيْنَحَقًّا، وَ لَوْ كَانَ أَبُوْكِ مُؤْمِناً لَتَرَحَّمْنَا عَلَيْهِ، خَلُّوْعَنْهَا فَإِنَّ أَبَاهَا كَانَ يُحِبُّ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ، وَاللهُ تَعَالَىيُحِبُّ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

“Wahai gadis kecil, semua itu adalah benar-benar sifat orang-orang yang mukmin. Seandainya saja ayahmu itu adalah seorang mukmin, niscaya kami akan mendoakannya agar mendapatkan rahmat. –Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat–, “Bebaskanlah dia, karena ayahnya menyukai akhlak yang mulia, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyukai akhlak yang mulia.” Abu Burdah bin Niyar r.a. lalu berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, Allah menyukai akhlak yang mulia?”

Beliau menjawab,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لاَ يَدْخُلُالْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلاَّ بِحُسْنِ الْخُلُقِ

“Demi Zat yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, tidak ada seorang pun yang masuk surga kecuali dengan akhlak yang mulia.” (HR. Baihaqi, dari hadits Ali bin Abi Thalib)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لَقَدْ شَهِدْتُ فِيْ دَارِ عَبْدِ اللهِ بْنِجُدْعَانَ حِلْفاً مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمُرَ النِّعَمِ، وَلَوْ أُدْعَىبِهِ فِي اْلإِسْلاَمِ لَأَجَبْتُ

“Saya telah menghadiri suatu kesepakatan di rumah Abdullah bin Jud’an yang lebih saya sukai dari pada memiliki onta-onta yang bagus. Seandainya saya diajak untuk melakukannya lagi dalam Islam, niscaya akan saya penuhi ajakan itu.” (HR. Baihaqi, dari hadits Thalhah bin Abdullah bin Auf)

Dengan demikian, merayakan peringatan Hari Ibu adalah dibolehkan. Adapun bid’ah yang ditolak adalah bid’ah yang bertentangan dengan syariat. Sedangkan sesuatu yang hukum asalnya diakui oleh syariah tidaklah ditolak dan pelakunya tidak berdosa.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam

 

Sumber: Lembaga Fatwa Mesir

Bagikan Artikel Ini Ke