Hukum Berkumpul dengan Kerabat dari Suami (Al-Hamwu)

Kebiasaan yang sering terjadi efek dari silaturahim dalam kekerabatan adalah berkumpulnya kerabat suami yang bukan mahrom istri seperti saudara ipar dengan istrinya. Ibnu Hajar berkata, “Larangan masuk (terhadap kerabat suami) untuk menemui para wanita menunjukan bahwa larangan untuk berkhalwat lebih utama untuk dilarang (min bab aula).” (Fathul Bari 9/411).

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (Hadits Bukhari Nomor 4831)

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Hindarilah oleh kalian masuk ke rumah-rumah wanita!” Lalu seorang Anshar bertanya; ‘Ya, Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang Al Hamwu, (keluarga dekat dari suaminya).’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Bahkan itu lebih berbahaya.” (Hadits Muslim Nomor 4037)

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لَا تَدْخُلُوا عَلَى النِّسَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا الْحَمْوُ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ قَالَ يَحْيَى الْحَمْوُ يَعْنِي قَرَابَةَ الزَّوْجِ

“Janganlah kalian menemui kaum perempuan.” Dikatakan; Wahai Rasulullah, hanya Al Hamwu. Beliau menjawab: “Al Hamwu adalah kematian.” Yahya mengatakan; Al Hamwu adalah kerabat dekat suami.” (Hadits Darimi Nomor 2528)

Imam Nawawi berkata, “Para ulama bahasa telah sepakat bahwa الأحماء Al-Ahmaa’ adalah karib kerabat suami seperti ayah, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, sepupu, ipar dan yang semisalnya, dan الأختان Al-Akhtan adalah karib kerabat dari istri, dan الأصهار Al-Ashharmencakup keduanya (Al-Ahmam dan Al-Akhtaan)…dan yang dimaksud dengan Al-Ahmamdisini adalah kerabat karib suami selain ayahnya dan anak-anaknya, karena mereka adalah mahrom bagi sang istri dan boleh bagi mereka untuk berkhalwat dengannya dan mereka tidak disifati dengan maut, namun yang dimaksudkan di sini adalah saudara laki-laki sang suami, paman, sepupu, dan yang semisalnya yang bukan merupakan mahrom bagi sang wanita dan kebiasaan masyarakat mereka menggampangkan hal ini (kurang peduli) dan membiarkan seseorang berkhalwat dengan istiri saudaranya. Inilah maut, dan kerabat seperti ini lebih utama untuk dilarang daripada laki-laki asing (yang tidak ada hubungan kerabat).” (Al-Minhaj 14/154).

Imam An-Nawawi berkata, “Maknanya bahwa ketakutan terhadap Al-Hamwu lebih daripada terhadap yang lainnya, dan kerusakan lebih mungkin terjadi dan fitnah lebih besar karena memungkinkannya untuk sampai kepada sang wanita dengan tanpa diingkari. Berbeda dengan seseorang yang asing (yang tidak punya hubungan kerabat dengan suami).”

Ibnul ‘Arabi berkata, “Ini adalah ungkapan yang dikatakan oleh orang-orang Arab, sebagaimana dikatakan “Singa adalah maut (kematian)”, yaitu bertemu dengannya seperti kematian”. Berkata Al-Qodhi, “Maknanya bahwa berkhalwat dengan Al-Ahma’ menjerumuskan kepada fitnah dan kebinasaan dalam agama, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun menjadikan perkara ini seperti kebinasaan, maka ungkapan seperti ini untuk penegasan dengan keras.” (Perkataan kedua ulama ini dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj 14/154).

Al-Qurthubi berkata, “… (masuknya Al-Hamwu) menjerumuskan sang wanita pada kematiannya dengan diceraikan oleh suaminya tatkala cemburu atau ia dirajam jika berzina dengan al-hamwu tersebut.” (Umdatul Qori 20/214).

Entah itu kerabat ataupun bukan, prinsip dasar dari khalwat atau seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita asing yang bukan mahramnya merupakan salah satu bentuk kemaksiatan yang sangat dibenci oleh agama. Oleh karena perkara tersebut sangat dibenci agama, maka khalwat dihukumi haram. Sifat keharaman berkhalwat berlaku umum, sama saja apakah disertai nafsu syahwat ataupun tidak. Banyak sekali kaum muslimin yang menganggap sepele perkara ini. Padahal, dampak negatif dari khalwat sangat besar. Banyak penyakit sosial yang berawal dari perkara ini, hamil di luar nikah, pembunuhan di kalangan remaja sebab asmara, pemerkosaan, maupun penyakit-penyakit sosial lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, At-Thabrani 2/184, dan Al-Baihaqi 7/91)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad dari hadits Jabir)

Syetan menjadi yang ketiga karena syetan akan membisikkan dan menghasut kepada keduanya dengan membangkitkan syahwat dan birahinya sehingga keduanya terjebak pada kemaksiatan sebab telah kehilangan rasa malu karena tidak adanya orang lain yang mengawasi di sekitarnya. Semoga kita dan keluarga dihindarkan dari keburukan yang ditimbulkan dari khalwat. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke