Hikmah Mengapa Ada yang Jahriyah dan Ada yang Sirriyah”

Jika ditanya kenapa? Bisa saja kita mencari hikmah. seperti mencari hikmah gerakan shalat. Kita juga bisa mencari hikmah kenapa babi diharamkan. Namun, itu semua bersifat zhonniy (dugaan) manusia dan tidak mutlak kebenarannya walaupun juga tidak mutlak salah. Artinya, masing-masing orang bisa berpendapat berbeda. Maka tidak ada keterangan yang pasti mengapa shalat ini dan itu dilakukan secarajahriyah dan yang lain sirriyah kecuali hak itu semata perintah dari Allah kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan kita mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena dikatakan bahwa beliau adalah suri teladan yang terbaik. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam hadits berikut. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا أُمِرَ وَسَكَتَ فِيمَا أُمِرَ { وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا } { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ }

“Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [‘Ikrimah] dari [Ibnu ‘Abbas] berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (dengan suara dikeraskan) sesuai apa yang diperintahkan dan juga diam (tidak mengeraskan) sesuai apa yang diperintahkan ”(Dan tidaklah Rabbmu lupa)” (Q.S Maryam: 64). “(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)” (Qs. Al Ahzab: 21)”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 732)

Maka yang terbaik adalah menerima apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun hal itu tidak merupakan kewajiban dan tidak mengapa jika ditinggalkan. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّنَا فِي الصَّلَاةِ فَيَجْهَرُ وَيُخَافِتُ فَجَهَرْنَا فِيمَا جَهَرَ فِيهِ وَخَافَتْنَا فِيمَا خَافَتَ فِيهِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ لَا صَلَاةَ إِلَّا بِقِرَاءَةٍ

“Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazzaq} telah menceritakan kepada kami {Sufyan} dari {Ibnu Abi Laila} dari {‘Atha`} dari {Abu Hurairah}, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami dalam shalat, kadang beliau mengeraskan bacaan dan kadang tanpa suara, maka kami mengeraskan apa yang Rasulullah keraskan dan kami baca tanpa suara apa-apa yang Rasulullah baca tanpa suara, dan aku mendengar beliau bersabda: “Tidak ada shalat tanpa adanya bacaan.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 7730)

Baca selengkapnya; Ketentuan Shalat Jahriyah (Suara Dikeraskan) Dan Sirriyah (Suara Dipelankan)’

 

Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke