Haram Hukum Memperolok Agama Lain.

Ada saja sebagian orang yang mengaku mengikuti ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam namun akhlaqnya jauh dari apa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sudah sangat jelas banyak dalil sahih dan sharih yang melarang umatnya memperolok-olok agama lain. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Qur’an Surat Al-An’am Ayat 108)

Sebagaimana juga diperkuat dengan sebuah dalil tentang bilamana ada seseorang yang menghina kedua orang tua orang lain hakikatnya juga dia sedang menghina kedua orang tuanya sendiri. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ. الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ. فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Dari Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk diantara dosa terbesar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri, ” Beliau ditanya; “Bagaimana mungkin seseorang tega melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama.” (Hadits Shohih Bukhari Nomor 5973)

Walaupun dalil keharaman menghina agama lain sangat banyak dan sangat terang benderang. Namun faktanya masih saja banyak umat Islam yang suka memperolok-olok sesembahan agama lain. Sayangnya, mereka yang suka memperolok-olok agama lain tersebut berasal dari kalangan yang dianggap sebagai ulama. Dan perihatinnya lagi, orang yang ditokohkan tersebut memiliki banyak pengikut.

Perlu diketahui dan direnungkan bahwa jika ada diantara kita menjelekan agama orang lain sebenarnya dia sedang menjelakan agamanya sendiri. Di samping itu, tidak ada manfaat manakala kita suka menjelek-jelekkan agama lain. Di samping tidak sedikitpun akan meningkatkan keimanan, juga tindakan tersebut akan semakin menjauhkan umat agama lain mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam. Jangan bersikap kasar, niscaya mereka akan meninggalkan Islam. Allah Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Alasan kenapa mereka akan semakin jauh dari pintu hidayah, sebab mereka akan memandang terhadap Islam sebagai agama yang resek dan berisik serta agama yang tidak ada ketentraman dan ketenangan di dalamnya. Mereka akan memandang Islam sebagai agama yang penuh dengan keributan, kerusuhan dan permusuhan. Bila Islam dipandang negatif disebabkan perilaku buruk dari umatnya sendiri, maka hilanglah simpatik umat lain terhadap Islam.

Padahal kewajiban umat Islam untuk mempertontonkan keindahan dan keluhuran ajaran agama Islam. Sadarlah bahwa tujuan utama dakwah adalah menebar simpatik agar non muslim menjadi memeluk Islam, namun bila menebar teror seperti ini apa yang akan didapatkan Islam? Abu Musa Al-Asy’ari berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

“Kebiasaan Rasulullah jika mengutus seseorang dari para sahabatnya di dalam sebagian keperluan beliau, beliau bersabda: “Sampaikan berita gembira dan janganlah membuat (orang) lari (menjauhi agama), mudahkanlah dan janganlah membuat susah!” (HR. Muslim no. 1732)

Sebagaimana yang sering dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri ketika pada akhrinya penduduk Jazirah Arab berbondong-bondong memeluk agama Islam disebabkan keindahan ajaran Islam lewat dari keluhuran akhlaq Nabi ketika bergaul dengan non muslim pada saat itu.

Sebagaimana ketika kita menelisik sejarah awal diperkenalkannya Islam oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ternyata tidak sedikit orang Arab Jahiliyah tertarik masuk Islam bukanlah karena mereka telah memahami ajarannya, akan tetapi diawali oleh rasa simpatik terhadap akhlaq yang ditampilkan Nabi dalam pergaulan sehari-hari saat itu, baik kepada umatnya maupun kepada orang-orang yang masih kafir.

Banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Di antaranya firman Allah berikut; Allah Ta’ala berfirman,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al Baqarah: 83)

Berdasarkan ayat tersebut diharamkan seorang muslim menyakiti orang kafir (selain kafir harbi) dengan perkataan. Seorang muslim dituntut untuk bertutur kata dan berakhlaq yang mulia dengan non muslim selama tidak menampakkan rasa cinta pada mereka. Jangankan mencela mereka, bahkan umat Islam berkewajiban memberikan rasa aman kepada kafir yang tidak mengganggu umat Islam (dzimmi dan musta’man) berdasarkan firman Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”(QS. At Taubah: 6)

Nabi selalu mengajarkan umatnya untuk berbuat kebaikan bahkan kepada orang kafir hingga mereka memeluk agama Islam, atau minimal hati mereka menjadi lembut dengan tidak memerangi umat Islam. Sebagaimana yang ditunjukkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah riwayat berikut,

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ أَعْطَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ وَإِنَّهُ لَأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيَّ فَمَا زَالَ يُعْطِينِي حَتَّى صَارَ وَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

“dari [Shafwan bin Umayyah] berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada Perang Hunain memberi harta rampasan kepadaku, padahal dia adalah orang yang paling saya benci. (Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam) tiada berhenti memberiku hingga beliau menjadi orang yang paling saya cintai.” (Hadits Ahmad Nomor 14765)

Sungguh mulia akhlaq Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bukanlah seorang yang buruk prilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Sebagaimana yang tergambar dalam riwayat hadits berikut,

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Aku pernah bertanya kepada [Aisyah] mengenai akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia pun menjawab, “Beliau bukanlah seorang yang buruk prilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar-pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada.” (HR. Tirmidzi Nomor 1939)

Karena begitu tinggi dan mulianya akhlaq Nabi shallallahu alaihi wa sallam, walaupun beliau mampu membalas cacian dan kejahatan para penentangnya. Namun beliau dalam banyak situasi tidak membalasanya. Sebagaimana yang diberitakan oleh Allah dalam firmannya,

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Dan jika kamu memberikan balasan (kepada penista agama Islam/kaum Qurasy yang membunuh Hamzah dalam perang Uhud), maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS An-Nahl: 126)

Sungguh teladan yang sangat mulia dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang seharusnya ditiru oleh umat Islam, terutama bagi para pemuka agama Islam.

Berbeda dengan kondisi keberagamaan umat Islam pada saat ini. Melalui ceramah-ceramah para Ustadzya bukan terkesan sebagai dakwah, namun lebih terlihat sebagai provokasi. Padahal sudah sangat jelas bahwa tindakan mencaci maki walaupun dengan niatan berdakwah sangatlah tidak dibenarkan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ

“Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba yang senantiasa mengingat Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba, suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, serta mereka yang suka berbuat zhalim, mencerai-beraikan manusia dan selalu menimbulkan kesusahan.” (HR. Ahmad Nomor 17312)

Jangan jadi provokator dengan dalih sedang jihad dan dakwah. Sebab dengan tindakan memprovokasi umat akan menyebabkan buruknya perilakunya sehingga jauh dari teladan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Tidak heran disebabkan hal tersebut berdampak pada perilaku pada sebagian umat Islam yang terlihat kasar, beringas dan penuh kekerasan. Umat Islam terlihat sering marah, tersinggung (baperan) ketika simbol-simbol Islam dilecehkan oleh umat lain.

Namun sayangnya mereka lupa dan tidak menyadari, bilamana sikap dan perilakunya lebih dulu banyak melukai perasaan umat lain. Maka wajar jika saat ini orang lain tidak merasa simpatik terhadap Islam, jika akhlaq umatnya yang mengaku Islam semakin tidak mampu menunjukkan pola hidup yang Islami.

Dengan alasan apapun hukum mencela adalah haram, walaupun untuk membalas celaan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ اسْتِطَالَةَ الْمَرْءِ فِي عِرْضِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ وَمِنْ الْكَبَائِرِ السَّبَّتَانِ بِالسَّبَّةِ

“dari [Abu Hurairah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk dosa yang dari dosa-dosa besar adalah melanggar harga diri seorang muslim tanpa hak. Dan termasuk dosa besar adalah membalas celaan dengan celaan.” (Hadits Abu Daud Nomor 4234)

Tindakan memperolok-olok agama lain juga sudah dapat dikategorikan sebagai umat yang tersesat dari ajaran agama. Sebab Islam hanya memerintahkan dakwah dengan bijak dan tutur kata yang santun. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (bijak) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (santun). Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl/16:125)

Dengan demikian, haram hukumnya kita sebagai umat Islam memperolok agama lain, karena dikhawatirkan akan mendapat balasan olok-olok yang sama dari mereka. Bila kenyataannya demikian maka hubungan dalam kehidupan sosial akan terganggu dan bahkan dikhawatirkan akan terjebak pada konflik tak berkesudahan. Dan itu yang tidak dikehendaki oleh agama. Karena apa gunanya agama diturunkan bila malah menyebabkan umatnya semakin bertikai dan bermusuhan.

Wajib hukumnya menebar simpatik kepada umat lain dengan bersikap lembut. Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)

Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau telah bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)

Memang umat Islam wajib berdakwah mengajak mereka mengenal keluhuran agama Islam agar mereka sudi masuk Islam. Namun dakwah tidaklah sama dengan olok-olok dan caci-maki. Karena karakter utama dakwah adalah kasih sayang dan lemah-lembut. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah Taala berikut,

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي. اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah (berdakwahlah) kamu (Musa) beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Surat Ta Ha Ayat 42-44)

Bila ada seseorang yang mengaku sebagai ulama dan ustadz. Namun dalam setiap ceramahnya selalu memperolok-olok agama lain. Nampak jelas sudah kedangkalan pemahaman agamanya dan wajib diragukan keulamaannya.

Cacian akan selalu dibalas cacian, dan hinaan akan selalu dibalas dengan hinaan. Maka hentikanlah dakwah dengan cara mencaci dan menghina. Sebab terhinalah mereka yang menebarkan dakwah dengan cara mencaci dan menghina.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke