Gerakan yang Dapat Membatalkan Shalat

Menurut ulama Syafi’iyyah seperti Imam Juwaini berpendapat bahwa gerakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memindahkan Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu dari kiri ke kanan saat shalat sebagai gerakan yang sedikit dan tidak membatalkan shalat, dikatakan,

والعمل الكثير على وجه التوالي والاتصال عمداً – مبطل للصلاة، والدليل على أن القليل غير مبطل للصلاة أن النبي صلى الله عليه وسلم أخذ في الصلاة أذُنَ ابن عباس، وأداره من يساره إلى يمينه

Dan gerakan yang banyak dalam bentuk yang berkelanjutan dan terus menerus secara sengaja – membatalkan shalat. Dan dalil bahwa gerakan yang sedikit tidak membatalkan shalat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang telinga Ibnu Abbas, kemudian memindahkannya dari kiri ke sebelah kanan beliau. (Imam Juwaini Nihayatul Mathlab fi dirayatil madzhab 2/205)

Lebih lanjut dijelaskan,

فإن قيل: هل من ضبطٍ في الفرق بين العمل القليل والكثير؟ قلنا: لا شك أن الرجوع في ذلك إلى العرف وأهله، ولا مطمع في ضبط ذلك على التقدير والتحديد؛ فإنه تقريب، وطلب التحديد في منزلة التقريب مُحال

Apabila dikatakan: apakah ada ketentuan tentang perbedaan antara gerakan yang banyak dan sedikit? Kami berpendapat: tidak diragukan bahwa hal tersebut dikembalikan kepada urf (kebiasaan) dan sekitarnya, dan tidak ada kepastian tentang ketentuan batasan dan kadar hal tersebut , dan sesungguhnya gerakan di luar shalat bersifat asumtif, sementara menentukan batasan pada perkara yang asumtif adalah tidak mungkin. (Imam Juwaini Nihayatul Mathlab fi dirayatil madzhab 2/206)

Kemudian imam Nawawi menerangkan lebih rinci tentang sedikit dan banyaknya gerakan di luar shalat,

ثُمَّ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْكَثِيرَ إِنَّمَا يُبْطِلُ إِذَا تَوَالَى. فَإِنْ تَفَرَّقَ بِأَنْ خَطَا خُطْوَةً، ثُمَّ بَعْدَ زَمَنٍ خَطَا أُخْرَى، أَوْ خُطْوَتَيْنِ ثُمَّ خُطْوَتَيْنِ بَيْنَهُمَا زَمَنٌ، وَقُلْنَا: إِنَّهُمَا قَلِيلٌ، وَتَكَرَّرَ ذَلِكَ مَرَّاتٍ فَهِيَ كَثِيرَةٌ، لَمْ يَضُرَّ قَطْعًا. وَحَدُّ التَّفْرِيقِ: أَنْ يُعَدَّ الثَّانِي مُنْقَطِعًا عَنِ الْأَوَّلِ. وَقَالَ فِي (التَّهْذِيبِ) : عِنْدِي أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا قَدْرُ رَكْعَةٍ. ثُمَّ الْمُرَادُ بِالْفِعْلَةِ الْوَاحِدَةِ الَّتِي لَا تُبْطِلُ، مَا لَمْ يَتَفَاحَشْ، فَإِنْ أَفْرَطَتْ كَالْوَثْبَةِ الْفَاحِشَةِ أَبْطَلَتْ قَطْعًا. وَكَذَا قَوْلُهُمْ: الثَّلَاثُ الْمُتَوَالِيَةُ تُبْطِلُ. أَرَادَ: وَالْخُطُوَاتُ وَنَحْوُهَا. فَأَمَّا الْحَرَكَاتُ الْخَفِيفَةُ، كَتَحْرِيكِ الْأَصَابِعِ فِي سُبْحَةٍ، أَوْ حَكَّةٍ، فَالْأَصَحُّ: أَنَّهَا لَا تَضُرُّ وَإِنْ كَثُرَتْ مُتَوَالِيَةً

Kemudian secara Ijma (Syafi’iyah) disebutkan bahwa gerakan yang banyak dapat membatalkan shalat apabila dilakukan secara berturut-turut. Namun apabila berjarak seperti jika melangkah kemudian dalam durasi tertentu melangkah lagi, atau tiap dua langkah ada jeda, maka pendapat kami: hal tersebut adalah gerak yang sedikit. Dan apabila berulang-ulang hingga banyak, tidak berpengaruh sama sekali. Dan batasan pembedanya: adalah diulangnya gerakan kedua setelah jeda dari gerakan pertama. Dikatakan dalam kitab Tahdzib: Menurutku jeda antara dua gerakan adalah seperti satu rakaat. Kemudian yang dimaksud dengan satu gerakan yang tak membatalkan adalah yang tidak keterlaluan, seperti melompat yang keterlaluan maka membatalkan secara mutlak. Demikian juga dikatakan: tiga gerakan yang berturut-turut dapat membatalkan shalat. Dimaksudkan di sini seperti: melangkah dan sejenisnya. Sedangkan gerakan ringan seperti menggerakan jari dalam tasbih, menggaruk, maka yang benar adalah: hal tersebut tidak berpengaruh (tidak membatalkan) meskipun banyak dan berturut-turut. (Imam Nawawi dalam Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiin 1/294)

Madzhab Syafiiyah berpandangan bahwa kadar gerakan sedikit dan banyak yang dilakukan di luar gerakan shalat dikembalikan kepada urf atau kebiasaan yang difahami masyarakat. Melakukan gerakan badan yang berturut-turut dapat membatalkan shalat karena dalam pemahaman secara urf dianggap sebagai gerakan yang banyak, begitupula dengan gerakan tiga kali tanpa jeda sepanjang satu rakaat dianggap batal karena dikategorikan sebagai gerakan yang banyak secara urf masyarakat. Sementara gerakan ringan seperti menggaruk-garuk badan tidak dianggap sebagai hal yang membatalkan, namun tetap dipandang makruh.

Imam Nawawi dalam kitab Raudlah membahas panjang lebar masalah pekerjaan yang tidak termasuk amalan shalat dan dilakukan dalam waktu shalat. Para ulama sepakat bahwa pekerjaan sedikit tidak membatalkan shalat dan pekerjaan banyak membatalkannya, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang ukuran sedikti dan banyak. Ada yang mengatakan pekerjaan sedikit seperti melangkah satu langkah (misalnya untuk menyesuaikan shaf) tidak membatalkan shalat dan pekerjaan banyak hingga mencerminkan seakan tidak dalam keadaan shalat maka membatalkannya.

Ada juga pendapat yang mengatakan pekerjaan yang dibutuhkan seperti membetulkan celana agar tidak membuka aurat tidak membatalkan shalat. Ada juga pekerjaan sedikit adalah satu gerakan dan pekerjaan banyak adalah tiga gerakan berturut-turut.

Imam Nawawi menyimpulkan bahwa ukurannya dikembalikan kepada adat istiadat dan tidak ada ukuran yang baku. Bahkan Imam Nawawi menukli perkataan Imam Syafi’i: seandainya menghitung ayat dengan jari-jarinya ketika shalat itu tidak membatalkan namun sebaiknya tidak melakukannya.

Masih tergolong ke dalam gerakan yang tidak membatalkan shalat adalah beberapa gerakan yang pernah dilakukan Nabi dalam beberapa riwayat berikut. Apa yang dilakukan Nabi tidak termasuk membatalkan shalat sebab secara urf dianggap masih sebagai gerakan yang sedikit. Di antaranya adalah;

Bergerak maju

صَبَبْتُ لرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا، فَتَوَضَّأَ فَالْتَحَفَ بِإِزَارِهِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، وَأَتَى آخَرُ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي

“Saya menyediakan air untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau berwudhu dan memakai sarung. Kemudian aku berdiri (jadi makmum) di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu datang orang lain, dan dia berdiri di sebelah kiri beliau, ternyata beliau malah maju dan melanjutkan shalat.” (Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah Nomor 1536)

Membuka pintu saat shalat,

اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ، فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ

”Saya minta dibukakan pintu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat sunah, dan pintu ada di arah kiblat. Kemudian beliau berjalanan serong kanan atau serong kiri, lalu membuka pintu dan kembali ke tempat shalatnya.” (Hadits Riwayat Nasai Nomor 1206 dan Abu Daud Nomor 922)

Melepas sandalnya saat shalat berjamaah,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ، خَلَعُوا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ، قَالَ:  مَا بَالُكُمْ أَلْقَيْتُمْ نِعَالَكُمْ؟  قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ، فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا – أَوْ قَالَ: أَذًى – فَأَلْقَيْتُهُمَا، فَإِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَلْيَنْظُرْ فِي نَعْلَيْهِ، فَإِنْ رَأَى فِيهِمَا قَذَرًا – أَوْ قَالَ: أَذًى – فَلْيَمْسَحْهُمَا وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا

“Dari Abu Said Al-Khudry berkata: Rasulullah SAW shalat bersama kami pada suatu hari, maka di antara shalatnya beliau melepaskan sandalnya, kemudian meletakannya di sebelah kirinya, ketika orang-orang melihatnya, merekapun melepaskan sandalnya, dan ketika usai shalatnya, Rasulullahpun bertanya: “kenapa kalian melepas sandal kalian?” mereka menjawab: “kami melihatmu melepas sandalmu, maka kami lepas sandal kami. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: sesungguhnya jibril telah datang kepadaku dan mengatakan kepadaku bahwa pada kedua sandalku ada kotoran, atau dikatakan: suatu bahaya, maka aku melepasnya, maka jika kalian masuk masjid, hendaknya melihat kepada sandalnya, jika melihat ada kotoran atau dikatakan: suatu bahaya, agar hendaknya dibersihkan dahulu baru shalat dengannya.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 11877 dan Abu Daud Nomor 650)

Menggendong anak kecil

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 516 dan Muslim Nomor 543)

Menyuruh membunuh ular dan Kalajengking saat shalat,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الْعَقْرَبِ وَالْحَيَّةِ

“Dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruh membunuh Aswadaini (dua binatang hitam) saat shalat: kalajengking dan ular.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Memindahkan Ibnu Abbas dari sebelah kiri ke sebelah kanan beliau,

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, kemudian aku ikut shalat bersama beliau. Aku berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan beliau.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 699 dan Muslim Nomor 763)

Gerakan-gerakan Nabi tersebut masih dikategorikan sedikit secara urufnya dikarenakan apa yang dilakukan Nabi merupakan gerakan yang bersifat kondisional, saat mendesak, dan tidak dilakukan setiap waktu.

Artikel yang sama;

Baca selengkapnya; Bergerak Lebih Tiga Kali Dapat Membatalkan Shalat

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke