Dalil Tentang Meninggalkan Orang-orang Musyrik

Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia agar lebih mulia dan bermartabat. Kemuliaan seseorang juga disebabkan karena mau memuliakan orang lain, terutama teman, sahabat, dan orang-orang terdekatnya. Esensi memuliakan orang lain di antaranya memenuhi hak-hak sosial mereka, sebab ada hak orang lain ada dalam diri kita. Di antara cara memuliakan orang lain sesuai tuntunan sunnah adalah meninggalkan orang-orang musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتُنَاصِحَ الْمُسْلِمِينَ وَتُفَارِقَ الْمُشْرِكِينَ

“Saya bai’at engkau untuk beribadah kepada Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, saling menasehati diantara orang-orang muslim, dan meninggalkan orang-orang musyrik.” (Hadits Nasai Nomor 4106)

Yang dimaksud meninggalkan orang musyrik adalah bukan meninggalkan mereka secara fisik, namun meninggalkan kemusyrikannya. Jangan sampai kita bergaul dengan mereka menyebabkan kita terjerumus ke dalam kemusyrikannya. Jadi tidak ada larangn dalam agama Islam untuk berteman dengan orang musyrik atau bahkan orang kafir selama mereka tidak membawa madharat kepada orang Islam. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Surat Al-Mumtahanah Ayat 8)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Dihimpun oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke