Cadar Bukan Kesunnahan Syariat Islam?

Cadar merupakan perkara khilafiyah, hal ini sudah sangat jelas dan tidak bisa dibantah. Jika ada yang mengklaim kewajiban cadar telah disepakati ulama, maka hal itu merupakan kebohongan besar.

Dikarenakan cadar merupakan perkara khilafiyah, maka setiap umat Islam berhak memilih mengenakan atau tidak mengenakan cadar sama sekali. Dan masing-masing tidak boleh menyalahkan dan mempersoalkan atau bahkan memaksakan pandangannya harus diamalkan oleh pihak lain.

Disebabkan perkara ini tergolong perkara khilafiyah dimana sebagian ulama ada yang mewajibkan, dan ada yang memubahkan, atau bahkan ada sebagian ulama yang menghukumi makruh atau lebih tepatnya khilaful aula, maka masing-masing hanya boleh mengutarakan pandangan dan argumentasinya tanpa harus memaksakan. Mana hujjahnya yang paling kuat dan paling rasional biarkan kemudian mayoritas kaum muslimin yang menentukannya, tanpa harus menghujat pihak yang tidak memilih untuk tidak mengenakan cadar.

Lebih lanjut lagi karena cadar merupakan perkara khilafiyah yang mana setiap umat Islam berhak mengungkapkan pandangannya, maka dalam artikel ini akan disampaikan sebuah pandangan yang memilih pandangan bahwa cadar itu bukan kesunnahan sama sekali atau boleh dikatakan sebagai khilaful aula yakni menyelisihi keutamaan bila mengenakan cadar.

Bahwa cadar bukan kesunnahan syariat Islam adalah dengan beberapa pertimbangan berikut;

Banyak Menimbulkan Madhorot

Banyak madhorot yang ditimbulkan dari mengenakan cadar seperti menyebabkan penyalahgunaan kejahatan para penjahat untuk menyamar. Dalam kasus-kasus tertentu fakta yang terjadi kejahatan malah dapat leluasa dilakukan disebabkan pelaku menyembunyikan identitas wajah di balik cadar. Sedangkan orang lain tidak dapat mengenali wajah pelaku sehingga tidak dapat mengantisipasi kejahatannya dikarenakan memang sengaja cadar dijadikan sebagai tameng.

Padahal kita sebagai makhluk dalam surat Al-Hujarat itu dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Salah satu cara untuk mengenali itu adalah mellui wajah. Oleh karena itu sebaiknya wajah itu harus nampak. Begitu yang disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA. Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Kalau saya sebagai dosen di dalam kelas, saya tidak tahu itu siapa yang saya awasi. Supaya kita lebih bisa kenal, dan cepat tahu, jadi sebaiknya dibuka, dan tidak ada perintah untuk menutup wajah. Itu mungkin tradisi berpakaian dari suatu tempat tertentu lalu dikaitkan dengan pemahaman agama. Tetapi sesungguhnya ruh daripada agama itu wajah sangat penting. Disitulah kita bisa mengenal seseorang, tutur beliau lebih lanjut.

Apalagi di era zaman muttakhir, dimana interaksi dan mobilitas manusia sudah sangat terbuka yang sekaligus memberikan peluang kejahatan juga semakin terbuka luas terjadi. Tentunya masing-masing penduduk bumi mustahil menghindar dari batasan identitas, mulai kartu tanda penduduk di suatu daerah, pasport, buku nikah, dan tanda pengenal-tanda pengenal pribadi yang berbentuk wajah mulai dari dunia nyata maupun di dunia maya.

Bagaimana mungkin negara dan para aparat keamanan dapat mengendalikan motif-motif kejahatan yang tersembunyi di kerumunan manusia banyak tanpa dibekali identitas dari masing-masing orang. Sedangkan pengenal yang paling mudah dan paling sederhana yang digunakan sejak manusia primitif sekalipun adalah wajah.

Menjadi Penghalang Terlaksananya Beberapa Syariat Agama Islam Seperti Tersenyum

Pemaksaan penggunaan cadar juga sebagai penyebab penghalang terlaksananya beberapa syariat agama Islam seperti tersenyum terhadap orang lain adalah ibadah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu (baik muslim maupun non muslim) merupakan sedekah, engkau berbuat ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1879)

Kedudukan Hadits ini adalah hasan gharib

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengamalkan hadits kesunnahan tersenyum bila wajahnya tertutup. Dengan menutup wajah, maka seseorang dengan sengaja menganggurkan Hadits Nabi sebagai perintah yang harus diamalkan oleh umatnya.

Menjadi Penyebab Terputus dan Terbatasnya Silaturahim

Pemaksaan penggunaan cadar juga sebagai penyebab terputusnya dan terbatasnya perintah agama yang berupa tali silaturahim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (Hadits Bukhari Nomor 5673)

Sedangkan memutus silaturrahim berdampak pada kemurkaan Allah,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada perbuatan dosa yang akan di segerakan siksanya bagi pelakunya oleh Allah di dunia dan di sisakan baginya di akhirat melainkan berbuat aniaya dan memutuskan tali silaturrahmi.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4201)

Bahkan bagi pemutus persaudaran telah diancam tidak masuk surga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab bahwa Muhammad bin Jubair bin Muth’im berkata; bahwa Jubair bin Muth’im telah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahmi.” (HR. Bukari No. 5525)

Kenapa menjalin hubungan dengan sesama manusia sangat penting dalam kedudukan agama Islam, sebab silaturahim ini merupakan wujud hablum minan nas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Surat Ali ‘Imran[3] Ayat 112)

Menjalin hubungan baik dengan manusia memiliki kedudukan yang yang sama dengan menjalin hubungan baik kepada Allah. Tanpa menjalin hubungan baik, niscaya manusia akan mendapatkan kemurkaan dan kehinaan dari Allah dan penduduk alam semesta.

Menjalin hubungan baik kepada sesama memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran syariat Islam, sebab manusia memang diciptakan sebagai khalifah fil ardh, yakni manusia sebagai makhluq sosial. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Surat Al-Baqarah Ayat 30)

Salah satu konsekwensi manusia sebagai makhluq sosial adalah manusia satu dengan lainnya kewajiban untuk saling mengenal, sebagaimana Surat Al-Hujurat Ayat 13 di atas. Dengan penggunaan cadar otomatis akan terhalangnya perintah manusia untuk saling mengenal.

Cadar Merupakan Tradisi Dan Menjadi Bagian dari Ajaran Agama Yahudi

Bukti sejarah sangat jelas bahwa, cadar jelas-jelas merupakan tradisi tertua bangsa dan agama Yahudi. Dikutip dari Kumparan, Menurut dosen Universitas NU Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Muhammad Idris Masudi, cadar bukan bagian dari syariat Islam, sebab cadar sudah ada dan digunakan oleh orang-orang di gurun pasir. Di samping itu sejatinya asal usul penggunaan cadar untuk melindungi diri dari terik matahari dan badai pasair Yahudi sebelum Islam lahir. Cadar sebelum Islam lahir sudah ada, bahkan oleh sebagian golongan umat Yahudi menjadi bagian dari ajaran agamanya.

Hal ini ia ketahui dari beberapa sumber. Salah satunya adalah riwayat dari Abdullah bin Umar. Dalam riwayat itu, Aisyah bertemu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Aisyah menggunakan cadar. Aisyah merupakan istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa ia berkata, “Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Shafiyyah, beliau melihat Aisyah mengenakan niqab (cadar) di tengah kerumunan para sahabat dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenalnya.” (Ibn Sa’d, thabaqat), ini adalah dasarnya,” ujarnya.

Setelah Islam datang, penggunaan cadar ini terus berlangsung. Meski begitu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat itu tidak mempermasalahkan model pakaian tersebut. Atau dengan kata lain, tidak ada aturan untuk perempuan muslim menggunakan cadar. Jadi, cadar diartikan hanya sebatas jenis pakaian yang dikenal dan dipakai oleh sebagian perempuan.

Bila fakta sejarah banyak membuktikan bahwa cadar merupakan bagian dari tradisi dan bahkan merupakan syariat ajaran Yahudi, sedangkan menurut sebagian umat Islam berpandangan hukum menyerupai kaum lain adalah haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (Hadits Ahmad Nomor 4869 dan Hadits Abu Daud Nomor 3512)

Cadar Dapat Menyebabkan Tidak Sahnya Thawaf

Begitu juga ibadah thawaf mengelilingi kabah hukumnya wajib dengan wajah terbuka baik sendiri maupun di hadapan banyak orang. Dengan begitu syariat larangan menutup wajah saat ibadah thawaf juga sebagai dalil penguat bahwa penggunaan cadar yang menutup wajah seorang muslimah merupakan bantahan bagi anggapan terhadap sebagian pandangan dari sebagian umat Islam yang mengatakan cadar merupakan bagian dari syariat Islam.

Larangan wanita muslim menutup wajah termasuk mengenakan cadar berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut,

وَلَا تَنْتَقِبْ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلَا تَلْبَسْ

“Dan wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah) dan sarung tangan”. (Hadits Bukhari Nomor 1707)

Cadar Dapat Menyebabkan Shalatnya Tidak Sah

Lebih jauh lagi bukti bahwa cadar bukan kesunnahan Islam sama sekali adalah wajibnya shalat dalam keadaan wajah terbuka. Baik shalat sendiri maupun shalat berjamaah. Bahkan shalat menjadi tidak sah manakala wajah tertutup. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ

“bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjulurkan pakaian dalam shalat dan melarang seseorang menutupi mulutnya (dengan kain).” (Hadits Abu Daud Nomor 548 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 956)

Dari hadist tersebut terlihat bahwa Rasul melarang untuk menutup mulut ketika shalat yang berarti tidak boleh memakai cadar. Dengan begitu, pendapat sebagian ulama yang menghukumi makruh menggunakan cadar dalam shalat bertentangan dengan hadits tersebut di atas. Dalam sebuah riwayat Hadits lain juga disebutkan,

إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ أَطْرَافٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ

“Apabila seorang hamba bersujud, maka tujuh anggota badan sujud bersamanya, yaitu ujung wajah (Kening dan Hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kaki.” (Hadits Muslim Nomor 760)

Dengan penggunaan cadar sudah jelas akan menutupi wajah di mana ia merupakan salah satu tujuh tulang yang wajib digunakan untuk bersujud tanpa penghalang dengan tempat sujudnya. Sebagaimana yang pernah dikeluhkan oleh para sahabat namun tidak digubris oleh Nabi sehingga mereka tetap bersujud di atas dahi dan telapak tangan dalam keadaaan polos tanpa penutup kain. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ خَبَّابٍ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ فِي الرَّمْضَاءِ فَلَمْ يُشْكِنَا

“dari [Khabbab] dia berkata; “Kami berkeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal shalat diatas kerikil yang sangat panas, namun beliau tidak menggubris keluh kesah kami.” (Hadits Muslim Nomor 981)

Riwayat ini menunjukkan bahwa dahi dan telapak tangan tidak boleh ditutupi kain yang menempel pada badan saat shalat.

Cadar Dilarang Bila Menyelisihi Pakaian Mayoritas Penduduk Setempat

Yang tidak kalah pentingnya adalah larangan berpakaian dan berpenampilan menyelisihi kebiasaan penduduk setempat dimana kita tinggal.

Dikutip dari Kumparan, Menurut dosen Unusia Jakarta, Muhammad Idris Masudi mengatakan bahwa “Meski mayoritas muslim Indonesia kebanyakan (menganut) Syafii, tapi saya sepakat untuk mengutip pendapat Mahzab Maliki. Kalau di Maliki disebutkan penggunaan cadar itu makruh, ketika perempuan menggunakan cadar di negara yang tidak memiliki tradisi penggunaan cadar. Karena hal itu dianggap syuhroh, yakni berpakaian menyelisihi kebiasaan masyarakat setempat yang berpotensi menimbulkan fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh (mencolok dan menyelisihi kebiasaan penduduk setempat), maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan pada hari Kiamat dan dia akan di masukkan ke dalam api Neraka.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3597)

Disamping itu mengenakan cadar di lingkungan yang tidak bercadar dan apalagi menganggap cadar merupakan kewajiban sudah tergolong berlebih-lebihan dalam beragama,” imbuhnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Surat Al-Ma’idah Ayat 77)

Dan lagian, mereka yang beranggapan wajib mengenakan cadar, sampai saat ini tidak mampu menunjukkan satupun dalil yang sharih dan shahih dari Al-Qur’an maupun Hadits. Kalaupun toh ada itu hanya bersifat anggapan dan pemahaman yang dipaksakan yang tidak menjadi kesepakatan (ijma) jumhur ulama. Terkait dengan point ini masih sangat bisa diperdebatkan dan terus akan diperdebatkan.

Namun begitu, cadar tetap boleh dikenakan selama dianggap sebagai mode busana saja. Namun bila kemudian dianggap sebagai syariat agama, maka tindakan itu merupakan sikap ghuluw (berlebihan dalam beragama) dan kidzb (kebohongan) yang mengatasnamakan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.” (Surat Yunus Ayat 69-70)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمِنَ الْإِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَٰذَا ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Surat Al-An’am Ayat 144)

Begitu juga ada sebagian kalangan yang bermaksud untuk menguatkan pendapatnya dengan mengutip pendapat dari madzhab Syafii. Namun mereka tidak memahami bahwa antara Madzhab Syafii dengan Imam Syafii itu berbeda. Bila ada yang mengklaim bahwa Imam Syafii mewajibkan cadar itu kebohongan besar, sebab hanya sebagian ulama dari kalangan madzhab Syafi’i saja ada yang mewajibkan cadar.

Bahkan mereka tidak segan-segan mengklaim bahwa kewajiban cadar merupakan ijma ulama. Dalammhal ini terdapat sebuah riwayat dari al-Imam Ahmad yang mengatakan bahwa: “Barang siapa yang mengaku ada Ijma’, maka ia telah berdusta”

Sebuah Fenomena

Sangat miris melihat fakta di lapangan ketika terjadi fenomena bersemangat mengenakan cadar namun masih dengan entengnya mengumbar foto-foto pribadinya yang bercadar itu ke media-media sosial dan berkeliaran di tempat-tempat sosial tanpa didampingi oleh mahromnya.

Seharusnya, bagi yang menyakininya hakikat cadar merupakan simbol pembatasan diri dari kehudupan sosial dan pembatasan diri dari interaksi dengan ajnabi (orang-orang lawan jenis yang bukan mahromnya).

Bila sudah siap memilih bercadar sebagai bentuk kewajiban yang diyakini bagi dirinya, tentunya juga harus dibarengi dengan sikap konsisten untuk mengundurkan diri dari semua media sosial dan tempat-tempat sosial. Bila tidak, maka itu sama saja omong kosong, sebab di media sosial terdapat kebebasan berinteraksi LIKE, SHARE, and COMMENT dengan orang-orang yang bukan mahromnya.

Meyakini bercadar wajib, namun interaksinya bebas dengan lawan jenis yang bukan mahromnya di media sosial. Dan meyakini kewajiban bercadar namun bebas berselancar di media sosial dan di tempat-tempat sosial maka hal itu tergolong inkonsisten dan telah mempermainkan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Surat At-Taubah Ayat 65)

Perlu diingab bagi kaum muslimin bahwa haram hukumnya menjalankan agama secara berlebihan (ghuluw). Hakikat syariat Islam yang sebenarnya adalah dilarang berlebihan walaupun dalam menjalankan ajaran agama.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke