Benarkan Nabi Pernah Salah Menyampaikan Fatwa?”

Sebagai umat Islam yang beriman, wajib hukumnya meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki sifat Maksum yang terlepas dari kesalahan. Namun begitu maksud dari maksum tersebut adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya terlepas dari berbuat salah dalam menyampaikan ajaran agama. Sedangkan terkait dengtan kebiasaan beliau sebagai manusia biasa beliau juga pernah mengalami kekeliruan. Sebagaimana terekan dalam beberapa riwayat Hadits diantaranya adalah,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الرُّومِيِّ الْيَمَامِيُّ وَعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ الْعَنْبَرِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَعْقِرِيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ وَهُوَ ابْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّجَاشِيِّ حَدَّثَنِي رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ قَالَ قَدِمَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يَأْبُرُونَ النَّخْلَ يَقُولُونَ يُلَقِّحُونَ النَّخْلَ فَقَالَ مَا تَصْنَعُونَ قَالُوا كُنَّا نَصْنَعُهُ قَالَ لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا فَتَرَكُوهُ فَنَفَضَتْ أَوْ فَنَقَصَتْ قَالَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ قَالَ عِكْرِمَةُ أَوْ نَحْوَ هَذَا قَالَ الْمَعْقِرِيُّ فَنَفَضَتْ وَلَمْ يَشُكَّ

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Ar Rumi Al Yamami] dan [‘Abbas bin ‘Abdul ‘Azhim Al ‘Anbari] dan [Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri] mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami [An Nadhr bin Muhammad]; Telah menceritakan kepada kami [‘Ikrimah] yaitu Ibnu ‘Ammar; Telah menceritakan kepada kami [Abu An Najasyi]; Telah menceritakan kepadaku [Rafi’ bin Khadij] dia berkata; Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, para penduduk Madinah sedang menyerbukkan bunga kurma agar dapat berbuah yang hal itu biasa mereka sebut dengan ‘mengawinkan’, maka beliaupun bertanya: apa yang sedang kalian kerjakan? Mereka menjawab: Dari dulu kami selalu melakukan hal ini. Beliau berkata: ‘Seandainya kalian tidak melakukannya, niscaya hal itu lebih baik.’ Maka merekapun meninggalkannya, dan ternyata kurma-kurma itu malah rontok dan berguguran. Ia berkata: lalu hal itu diadukan kepada beliau dan beliaupun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, oleh karenanya apabila aku memerintahkan sesuatu dari urusan dien (agama) kalian, maka ambillah (laksanakanlah) dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian berdasar pendapatku semata, maka ketahuilah bahwa sungguh aku hanyalah manusia biasa. -Ikrimah berkata: kurang lebih seperti itu.- Al Ma’qiri berkata: maka iapun berguguran, -dan dia tidak meragukan hal itu.- (Nabi Hadits Muslim Nomor 4357)

Berdasarkan hadits di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa;

Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maksum hanya dalam segi ajaran agama Islam terjaga disebabkan Allah menjaga kesalahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyampaikan kebenaran ajaran agama Islam.

Kedua, Bila ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan kesalahan dalam menyampaikan ajaran agama Islam, itupun langsung dikoreksi oleh Allah sehingga ajaran yang sampai kepada umatnya telah dijamin kebenaran dan kesuciannya. Sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengharamkan madu hanya sekedar untuk menyenangkan istri-istrinya yang sedang dilanda cemburu. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ عَطَاءٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَزْعُمُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْكُثُ عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَيَشْرَبُ عِنْدَهَا عَسَلًا فَتَوَاصَيْتُ أَنَا وَحَفْصَةُ أَنَّ أَيَّتُنَا دَخَلَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْتَقُلْ إِنِّي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ مَغَافِيرَ أَكَلْتَ مَغَافِيرَ فَدَخَلَ عَلَى إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لَا بَلْ شَرِبْتُ عَسَلًا عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَلَنْ أَعُودَ لَهُ فَنَزَلَتْ { يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ } { إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ } لِعَائِشَةَ وَحَفْصَةَ { وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا } لِقَوْلِهِ بَلْ شَرِبْتُ عَسَلًا

“dari [‘Atho`] bahwa dia mendengar [‘Ubaid bin ‘Umair] berkata; “Saya mendengar [Aisyah] mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tinggal di rumah Zainab binti Jahsy dan beliau minum madu di rumahnya. Kemudian saya dan Hafshah bersepakat bahwa siapapun diantara kami yang ditemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendaknya dia mengatakan; “Sesungguhnya saya mendapatkan bau maghafir (tumbuhan bergetah yang manis rasanya tapi baunya tak sedap), Tuan telah memakan maghafir. Kemudian beliau menemui salah seorang dari mereka, kemudian dia mengatakan hal tersebut kepada beliau. Kemudian beliau bersabda: “Tidak, melainkan saya minum madu di rumah Zainab binti Jahsy, dan saya tidak akan mengulanginya lagi.” Kemudian turunlah ayat: “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu’ dan ayat ‘Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah..’ untuk Aisyah dan Hafshah, serta ayat: ‘Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Karena sabda beliau: melainkan saya minum madu.” (Hadits Nasai Nomor 3896)

Dalam riwayat Hadits di atas terlihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah membuat syariat agama Islam yang dipandang salah oleh Allah. Namun kemudian Allah secara langsung telah mensucikan kesalahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut dengan koreksi dalam sebuah firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat At-Tahrim Ayat 1)

Ketiga, Sedangkan dalam persoalan pribadi, berdasarkan Hadits tersebut Nabi juga pernah mengalami kekeliruan.

Denganj begitu berdasarkan hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengatakan bahwa beliau hanya manusia biasa. Namun begitu, realitasnya masih banyak umat Islam yang sedikit ilmu merasa kaget dan mencoba menolak fakta ini. Mereka memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seakan-akan bagaikan malaikat yang tidak beramaliayah sebagaimana kebanyakan manusia.

Wujud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manusia biasa adalah Beliau pernah tertawa, menangis, bahagia, sedih, menikah, makan, bekerja, tidur, dan juga pernah terluka! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah buang air kecil dan juga pernah buang air besar.

Hikmah kenapa Allah menciptakan Nabi sebagai manusia biasa dan juga melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan orang adalah agar tidak terulang kembali sejarah dan kesalahan umat Nasrani dengan menyembah Nabi Isa yang dibekali mukjizat yang di luar kelaziman nalar manusia. Seperti mukjizat Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang yang telah mati. Bisa menyembuhkan segala penyakit, dan Dia terlahir tanpa seorang ayah.

Namun begitu, walau Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi sebagai manusia biasa, sedikitpun tidak akan mengurangi kemuliaan Nabi shallalluhu alaihi wa sallam di hadapan Allah dan di hadapan alam semesta. Dengan kata lain, Nabi memang manusia biasa namun bukan seperti manusia pada umumnya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

 

Baca Penjelasan Selengkapnya Pada Artikel;

Bila Memeluk Agama Islam Bukan Berdasarkan Kematangan Ilmu, Niscaya Akan Mudah Emosi.

Bagikan Artikel Ini Ke