Apa Bedanya Makruh dengan Khilaful Aula?

Status hukum fikih dalam Islam “makruh” memiliki perbedaan istilah “khilaful aula” (خلاف الأولى). Makruh adalah status hukum yang dibebankan kepada seseorang yang melanggar sebuah larangan yang dinyatakan oleh dalil yang bersifat sharih, lugas dan definitif, namun tidak memiliki konsekwensi ancaman dosa, siksa, dan murka Allah. Salah satu contoh hukum makruh adalah makan menggunakan tangan kiri. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits berikut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri.” (Hadits Muslim Nomor 3763)

Larangan makan menggunakan tangan kiri tersebut cukup jelas. Hanya saja, larangan tersebut tidak disertai keterangan yang bersifat keras, baik dalam hadist ini maupun yang lain. Sehingga para ulama menentukan status hukumnya dengan hukum makruh. Berbeda dengan hukum haram yang mana sebuah larangan yang dinyatakan oleh dalil dengan larangan yang bersifat keras dan tegas, sebagaimana perbuatan zina. Bagi pelaku zina akan dikenakan dosa dan akan diganjar siksa kelak di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Surat Al-Isra’ Ayat 32)

Adapun “khilaful aula”, maka pengertiannya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Jalaluddin Al-Mahalli Asy-Syafi’i dalam kitab Syarh Jam’ul Jawami’:

فَإِنَّ الْأَمْرَ بِالشَّيْءِ يُفِيدُ النَّهْيَ عَنْ تَرْكِهِ (فَخِلَافُ الْأَوْلَى

Artinya, “Maka sesungguhnya perintah melakukan sesuatu bermakna larangan untuk meninggalkannya. Inilah khilaful aula,” (Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, Syarh Jam’ul Jawami’, Surabaya, Al-Hidayah, 2000 M, juz I, halaman 114).

Pada prinsipnya khilaful aula ini tidak memiliki dalil yang tertentu, hanya saja ia merupakan kondisi menyia-nyiakan amalan kesunnahan padahal ia tahu, seperti di hari Senin tidak berpuasa sunnah, tidak membaca basmalah ketika hendak makan, tidak shalat tahajjud di tengah malam padahal tidak memiliki halangan.

Sebagai ilustrasi tambahan penggunaan hukum dalam sebuah amaliah; shalat di luar waktu dihukumi haram. Shalat di akhir waktu dihukumi makruh. Shalat di awal waktu dihukumi sunnah. Dan shalat di pertengahan waktu dihukumi khilaful aula, yakni menyelisihi keutamaan shalat bila dikerjakan pada awal waktu hukumnya sunnah.

Terkadang “khilaful aula” juga disebut “tarkul aula” (ترك الأولى) atau “la yanbaghi” (لا ينبغي). Istilah ini diciptakan pertama kali oleh ulama mutaakhirin di zaman Al-Juwaini, kemudian diikuti oleh ulama berikutnya (As-Suyuthi dalam Al-Hawi li Al-Fatawi). Namun sebaliknya, menurut Taqiyyuddin As-Subki malah menegaskan bahwa Al-Juwaini-lah yang pertama kali menciptakan hukum khilaful aula.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke