Antara Kata dan Fakta Ajaran Muhammad bin Abdul Wahab

Dari dulu hingga sekarang, kita disuguhi perdebatan tentang benar tidaknya jalan dakwah yang diciptakan oleh pendiri faham Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Bagi para pendukungnya tentunya akan menunjukkan banyak argumen untuk membelanya. Dan sebaliknya, bagi para penentangnya pasti akan mengungkapkan beragam fakta untuk menentangnya.

Agar perdebatan antara yang pro dan kontra dengan jalan dakwa Muhammad bin Abdul Wahab tetap berada dalam koridor obyektifitas. Maka, dalam tulisan ini akan kita coba mengutip secara langsung sebagian kecil doktrin dan ajaran-ajaran otentik dari refrensi yang dapat dipertanggungjawabkan yang pernah disampaikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri untuk kita kroscek langsung dengan fakta dan kenyataannya. Apakah ajaran Muhammad bin Abdul Wahab sesuai dengan fakta sikap dan perilaku dari para pengikutnya. Berikut beberapa ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang akan langsung kami komentari;

Pertama: Mengingkari Ajaran Tasawuf

Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38;

“Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.

Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38)

Tanggapan fakta;

Kalimat “aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi” dibenturkan kalimat “Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya” menunjukkan bahwa disamping Muhammad bin Abdul Wahab tidak sependapat dengan kaum sufi, dia secara tidak langsung menganggap bahwa ajaran merupakan ajaran yang dapat menyekutukan Allah dan bertentangan dengan sunnah.

Dunia tasawuf merupakan bagian dari ajaran Islam. Ajaran tasawuf bukanlah berasal dari ajaran agama atau pemikiran filsafat di luar Islam. Secara eksplisit memang tidak ada istilah dan konsep tasawuf atau sufi yang paten dalam Islam. Namun nilai-nilai tasawuf itu sendiri sangat sesuai dan tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Salah satu ekspresi tasawuf adalah uzlah; menyepi dan berlepas diri dari persoalan duniawi agar lebih dekat kepada Allah. Perilaku uzlah tersebut disebabkan ittiba’ (mengikuti) sunnah rasul, di mana Nabi dalam tahapan hidupnya juga pernah melakukan praktik uzlah tersebut. hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam banyak riwayat hadits. Di antaranya adalah Nabi pernah uzlah, menyepi, dan menyendiri dalam mengamalkan ibadahnya;

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang dibenarkan dan bahkan dianjurkan agar setiap orang muslim memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan khusus muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Sebagaimana Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah seperti beberapa gua. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ بِمِثْلِهَا حَتَّى فَجِئَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ

“Dan di dalam dirinya dimasukkan perasaan untuk selalu ingin menyendiri. Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal. Setelah perbekalannya habis, maka beliau kembali dan mengambil bekal. Begitulah seterusnya sehingga kebenaran pun datang pada beliau, yakni saat beliau berada di dalam gua Hira`.” (HR. Bukhari No. 4572)

Baca selengkapnya; Ajaran Tasawuf dan Sufi dalam Pandangan Islam

Kedua: Mudah Menuduh Bid’ah

Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36;

“Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36)

Tanggapan fakta;

Sebetulnya terkait mengadakan perkara baru yang tidak terkait dengan aqidah dan ibadah mahdhah tidak masalah dalam Islam. Yang jadi masalah adalah mengadakan perkara baru yang tidak terkait dengan perkara aqidah dan ibadah namun kemudian disandarkan kepada Allah dan Nabinya, inilah hakikat dari bid’ah. Selama perkara baru bukan terkait dengan pokok-pokok agama dengan kata lain selama perkara baru hanya terkait dengan sebuah tradisi dan muamalah biasa dan selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran agama Islam, tentunya tidaklah masalah. Karena sebuah tradisi dalam agama Islam itu dibenarkan, sebagaimana sebuah kaidah fikih;

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi sebuah kaum) dapat dijadikan hukum”

Kaidah tersebut berdasarkan Hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Namun masalahanya, doktrin bid’ah versi Wahabi ini dipraktekkan secara serampangan. Bentuk serampangannya adalah perkara-perkara tradisi dan muamalah yang tidak ada kaitannya dengan aqidah dan ibadah juga ikut-ikut dibid’ahkan. Sebagaimana contoh kecenderungan umat muslim untuk mengingat dan memperingati momen-momen penting dalam perjalanan hidupnya juga ikut dibid’ah-bid’ahkan. Seperti memperingati hari-hari besar agama Islam yang selalu dibid’ahkan oleh golongan Wahabi.

Padahal, ingat mengingatkan suatu momen kebahagiaan maupun kesedihan dalam Islam merupakan bagian penting dari ajaran agama Islam di mana ajaran yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits memandang sebuah peringatan merupakan perkara yang lumrah. Bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu diperintahkan oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya berikut,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru (mengingatkan) kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Surat Ali ‘Imran Ayat 104)

Momen peringatan juga memiliki kedudukan dan tempat tersendiri dalam agama Islam, sebagaimana makna yang ditunjukkan dalam beberapa riwayat hadits berikut,

قَالَتْ الرُّبَيِّعُ بِنْتُ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ حِينَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ إِذْ قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ دَعِي هَذِهِ وَقُولِي بِالَّذِي كُنْتِ تَقُولِينَ

“[Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afran] berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar.” (Hadits Bukhari Nomor 4750)

Dalam hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan para sahabat dan keluarganya menyelenggarakan perayaan dengan pertunjukan seni musik sebagai bentuk peringatan terhadap peristiwa masa lalu yang mengesankan. Dan masih banyak lagi perkara-perkara muamalah biasa namun dibid’ah-bid’ahkan oleh golongan Wahabi.

Jangan heran kalau perilaku jamaah Wahabi bersikap seperti itu memang disebabkan oleh doktrin pendirinya. Perhatikan saja bagaimana pandangan Muhammad bin Abdul Wahab berikut ini;

قال مفتي الحنابلة الشيخ محمد بن عبد الله بن حميد النجدي المتوفى سنة 1225 هـ في كتابه “السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة” ص 276 عن محمد بن عبد الوهاب :”فإنّه كان إذا باينه أحد وردَّ عليه ولم يقدر على قتله مجاهرةً يرسل إليه من يغتاله في فراشه أو في السوق ليلاً لقوله بتكفير من خالفه واستحلاله قتله” انتهى.

Seorang mufti madzhab Hanbali Syaikh Muhammaad bin Abdullah bin Humaid an-Najdi (w.1225 H) dalam kitabnya al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah berkata tentang Muhammad bin Abdul Wahhab: “Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) apabila berselisih dengan seseorang dan tidak bisa membunuhnya terang-terangan maka ia mengutus seseorang untuk membunuhnya ketika dia tidur atau ketika ia berada di pasar pada malam hari. Ini semua dia lakukan karena ia mengkafirkan orang yang menentangnya dan halal untuk dibunuh.” (Muhammad al-Najdi, al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah, Maktabah al-Imam Ahmad, hal. 276).

Ketiga: Mengingkari Syafaat

Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64;

“Mereka menuduh kami mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah Ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah Ta’ala untuk memberikan syafaat dan pemilik syafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64).

Tanggapan fakta;

Namun pada kenyataannya para pengikutnya mengingkari perkara ini dengan dalil firman Allah berikut,

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (Surat Az-Zumar Ayat 44)

Bahkan meminta syafaat kepada Nabi di mana dia sudah meniggal adalah sebuah kesyirikan. Sebab mereka berdalih bahwa kematian merupakan pemutus amal. Jadi karena Nabi sudah meninggal maka Nabi sudah tidak bisa memberikan syafaatnya lagi. Mereka mendasarkan pendapatnya berdasarkan hadits berikut;

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Padahal berdasarkan dalil yang kuat Nabi memiliki syafaat. Nabi Muhammad manusia mulia yang dapat memberikan syafaat,

أنا قائد المرسلين ولا فخر وأنا خاتم النبيين ولا فخر وأنا أول شافع وأول مشفع ولا فخر

“Saya adalah pemimpin para Rasul, dan tidak ada kesombongan, saya adalah penutup para Nabi dan tidak ada kesombongan, saya adalah orang pertama yang akan (diizini Allah) memberi syafa`at dan orang pertama yang diberi syafa`at dan tidak ada kesombongan”. (HR. Darimi Nomor 49)

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَأَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah pemimpin anak Adam, orang yang pertama kali keluar dari perut bumi (dibangkitkan) dan orang yang pertama kali memberi syafaat dan mendapat izin untuk memberikannya.” (HR. Abu Daud Nomor 4053)

Keempat: Menyelisihi Ijma Ulama

Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Kitab Muallafat V/97;

“Aku adalah orang yang bertaqlid kepada Kitab dan Sunnah, serta para salafus salih. Aku juga bergantung dengan perkataan para imam madzhab yang empat; Imam Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah merahmati mereka semua.” (Kitab Muallafat: V/97).

“Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma’ para ulama, maka tunjukkan padaku.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/53).

Tanggapan fakta;

Kita ambilkan satu contoh saja ajaran Wahabi yang menyelisihi ijma ulama. Tasyahud awal adalah duduk setelah sujud kedua pada raka’at kedua dalam shalat. Jumhur ulama Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, dan Hambali menghukumi sunnah duduk tasyahud awal dalam shalat lima kali sehari semalam selain shalat subuh. Terjadi perbedaan hanya pada tataran level kesunnahannya, seperti Imam Syafi’i menganggap duduk tasyahud awal sebagai sunnah ab’ad, sehingga bila ditinggalkan maka wajib (keharusan yang masih dalam koridor kesunnahan) diganti dengan sujud sahwi.

Namun faktanya golongan Wahabi menganggap wajib duduk tasyahud awal tersebut. Di antara yang menghukumi wajib adalah ulama Wahabi Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Kalangan Salafy ini mendasarkan pandangannya pada riwayat dari Abdullah bin Buhainah ia mengatakan,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم صلَّى بهم الظُّهرَ، فقام في الرَّكعتينِ الأُوليَيْنِ، لم يجلِسْ، فقام النَّاسُ معه، حتَّى إذا قضى الصَّلاةَ، وانتظَرَ النَّاسُ تسليمَه،كبَّرَ وهو جالسٌ، فسجَد سجدتينِ قبْلَ أنْ يُسلِّمَ، ثم سلَّمَ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengimami para sahabat. Beliau salat di dua rakaat pertama tanpa duduk (tasyahud awal). Maka orang-orang pun ikut berdiri (tidak tasyahud awal). Sampai ketika salat hampir selesai, orang-orang menunggu beliau salam, namun ternyata beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sujud sebelum salam. Kemudian setelah itu baru salam“ (HR. Bukhari no. 829, Muslim no. 570)

Kemudian juga hadis dari Rifa’ah bin Rafi radhiallahu’anhu,

إذا أنتَ قُمْتَ في صلاتِكَ، فكبِّرِ اللهَ تعالى، ثم اقرَأْ ما تيسَّرَ عليك مِن القُرآنِ، وقال فيه: فإذا جلَسْتَ في وسَطِ الصَّلاةِ، فاطمئِنَّ وافتَرِشْ فخِذَك اليُسرى، ثم تشهَّدْ، ثم إذا قُمْتَ فمِثْلَ ذلك حتَّى تفرُغَ مِن صلاتِكَ

“Jika engkau berdiri untuk salat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang engkau mampu”. Kemudian Nabi juga bersabda di dalamnya: “jika engkau duduk di tengah salat, maka duduklah dengan tuma’ninah dan bentangkanlah pahamu yang sebelah kiri, kemudian tasyahudlah. Kemudian jika engkau berdiri lagi (untuk rakaat ke-3) maka semisal itu juga sampai selesai salat.” (HR. Abu Daud no. 860)

Hanya berdasarkan perintah dzahirnya hadits dan tanpa mempertimbangkan ada hadits lain yang berbeda, golongan ini secara serampangan langsung berani mendakwahkan kewajiban duduk tasyahud awal tanpa didasari kaidah hukum Islam. Penisbatan hukum wajib hanya pada dzahirnya teks hadits dan hanya didasarkan pada beberapa hadits tanpa dibandingkan dengan riwayat hadits lainnya, maka hukumnya batil. Bukan bearti sebuah perintah dalam sebuah hadits memiliki dilalah (petunjuk) wajib. Karena untuk memutuskan sebuah hukum dalam Islam masih diperlukan metode istinbat yang benar.

Sebagaimana jumhur ulama yang memiliki reputasi seperti empat imam madzhab menganggap hukum duduk tasyahud awal tidak wajib sebab dalam riwayat lain Nabi terkadang tidak melakukannya. Maka bila semua dalil telah dihadirkan dan kemudian didapatkan fakta bahwa terkadang Nabi melakukan dan terkadang tidak, maka hal tersebut menunujukkan hukumnya tidak wajib melainkan hanya sunah belaka. Dalil yang menujukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan duduk tasyahud awal. Diriwayatkan dari Abdullah bin Buhainah radliallahu ‘anhu,

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين ثم قام فلم يجلس فقام الناس معه فلما قضى صلاته وانتظرنا تسليمه كبر فسجد سجدتين وهو جالس قبل التسليم ثم سلم.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan kami dua raka’at. Kemudian beliau berdiri dan tidak duduk. Orang-orangpun berdiri mengikuti beliau. Tatkala beliau menyelesaikan shalatnya dan kami menunggu bacaan salam beliau, maka beliau bertakbir dan sujud dua kali dan beliau duduk sebelum salam dan kemudian baru melakukan salam.” (Hadits Riwayat Abu Daud)

Disitulah fatalnya golongan Salafi yang enggan menjalankan syariat agamanya menggunakan metode manhaj atau bahkan madzhab, melainkan hanya didasarkan sebuah potongan-potongan hadits. bila memutuskan hukum dalam agama Islam tanpa menggunakan kaidah maka pasti dampaknya akan sesat dan menyesatkan. Hasil yang diputuskan pasti akan menyelisihi ijma ulama, dan ijma jumhur ulama. Di mana hukum menyelisihi sesuatu yang telah disepakati oleh mayoritas umat Islam yang sudah diamalkan dari masa ke masa adalah haram.

Dengan begitu pendapat golongan salafi yang diwakili oleh Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yang mengatakan bahwa duduk tasyahud awal hukumnya wajib, tidak dapat digunakan dan wajib ditinggalkan sebab telah menyelisihi ijmak ulama imam madzhab dan menyelisihi pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa duduk tasyahud awal hukumnya sunnah.

Kelima: Menyelisihi Ijma Ulama

Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Kitab ad-Durar as-Saniyyah, III/11;

Muhammad bin Abdul Wahab mengingkari mensifati Allah Ta’ala dengan sifat tubuh, yakni menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya. “Sebagaimana telah maklum bahwa ta’thil (pengingkaran sifat-sifat Allah secara total maupun parsial) adalah lawan dari tajsim (menyifati Allah ta’ala dengan sifat jasmani seperti jasmani makhluk). Dua keyakinan ini saling bermusuhan. Dan keyakinan yang benar adalah sikap yang tengah di antara keduanya (yaitu: meyakini sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, III/11).

Tanggapan fakta;

Namun pada kenyataannya berbeda dengan para pengikut Wahabi. Kita ambil satu contoh saja dari salah satu ulamanya Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin yang menjelaskan tentang sifat wajah Allah yang tertera pada sebagian ayat Al-Qur’an;

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari wajah Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Surat Al-Baqarah Ayat 272)

Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin; “Wajah (Allah) merupakan sifat yang terbukti keberadaannya berdasarkan dalil Al-Kitab, As-Sunnah dan kesepakatan ulama salaf.” Kemudian beliau menyebutkan ayat ke-27 dalam surat Ar-Rahman… (lihat Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 48) Beliau menjelaskan di dalam kitabnya yang lain: “Nash-nash yang menetapkan wajah dari Al-Kitab dan As-Sunnah tidak terhitung banyaknya, semuanya menolak ta’wil kaum mu’aththilah yang menafsirkan wajah dengan keridhaan, arah, pahala atau dzat. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para pengikut al-haq yaitu menetapkan bahwasanya wajah adalah sifat dan bukan dzat. Dan penetapan sifat tersebut tidaklah melahirkan konsekuensi dzat Allah ta’ala tersusun dari berbagai anggota tubuh (seperti makhluk -pent) sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Mujassimah. Akan tetapi sifat itu benar-benar sifat Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Wajah-Nya tidak menyerupai wajah apapun. Dan wajah apapun tidak ada yang menyerupai wajah-Nya…” (lihat Syarah ‘Aqidah Wasithiyah)

Dari penjelasan di atas dapat difahami bahwa bila Allah sendiri menyatakan bahwa Allah punya wajah maka memang Allah memiliki wajah, kita cukup mengimani tanpa harus memalingkan makna pada lainnya. Walaupun wajah Allah tidak sama bentuknya dengan wajah makhluqnya. Inilah kenyataan akidah Wahabi yang meyakini bahwa Allah memiliki sifat fisik seperti memiliki wajah, memiliki kedua tangan, memiliki kaki, dan lain sebagainya yang harus diingkari oleh Ahlussunnah wal Jamaah.

Penutup

Sudah sangat jelas antara apa yang dinyatakan dan diakui oleh Muhammad bin Abdul Wahab denganapa yang diamalkan oleh para pengikutnya sangat tidak sesuai. Ajaran dan akidah mereka jelas-jelas sangat bertentangan dan menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karenanya bagi kita yang hendak selamat dunia dan akhirat sebaiknya menghindari untuk mengikuti ajaran-ajaran dan keyakinan-keyakinan dari golongan Wahabi yang menyesatkan.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke