Anjuran Berpakaian Sesuai dengan Tradisi Kaumnya.

Islam sangat membenci umatnya bersikap, berperilaku dan berpenampilan yang menyelisihi kaumnya. Alasan dilarang adalah Islam sangat menjunjung tinggi kerukunan sosial yang dihasilkan dari prinsip toleransi. Bisa jadi berawal dari perbedaan yang sangat mencolok dalam penampilan menyebabkan ketersinggungan dan membuat tidak nyaman bagi sebuah kaum.

Sebetulnya Islam memandang persoalan pakaian sebatas tradisi atau mode saja. Sedangkan yang menjadi konsern atau fokus Islam adalah persoalan aurat yang dianggap sebagai aib yang berdampak pada timbulnya kemaksiatan dan perzinahan. Jadi Islam tidak mempersoalkan sebuah pakaian apahak modelnya modern maupun tradisional, baik berasal dari tradisi Barat, tradisi Arab, maupun tradisi lokal. Selama pakaian dengan berbagai model memenuhi syarat telah menutupi aurat, maka pakaian tersebut dibenarkan.

Dalam sebuah riwayat hadits sangat jelas ancaman bagi umat Islam yang sengaja berpakaian dengan menyelisihi pakaian dari kebiasaan kaumnya. Dalam riwayat Ibnu Majah Abu Daawud disebutkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَادَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْوَاسِطِيَّانِ قَالَا حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ مُهَاجِرٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin ‘Ubadah] dan [Muhammad bin Abdul Malik Al Washatiyani] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah memberitakan kepada kami [Syarik] dari [Utsman bin Abu Zur’ah] dari [Muhajir] dari [Ibnu Umar] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (pakaian yang menyelisihi kebiasaan dari pakaian kaumnya dengan niat pamer penuh kesombongan), maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Kiamat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3596 dan Abu Daawud)

Imam Ahmad hafidzhahullahu berkata:

أنه يكره له لبس غير زي بلده بلا عذر كما هو منصوص الإمام

“Makruh hukumnya memakai pakaian yang bukan model pakaian penduduk negerinya tanpa ‘udzur,” (Ghidzâ’ al-Albâb, 2/182)

Ibnu Baththaal rahimahullah berkata:

فالذى ينبغى للرجل أن يتزى فى كل زمان بزى أهله ما لم يكن إثمًا لأن مخالفة الناس فى زيهم ضرب من الشهرة

“Seseorang seharusnya berpakaian dengan pakaian orang-orang yang hidup di masa tersebut sepanjang tidak terkandung dosa, karena penyelisihan terhadap pakaian yang dipakai oleh orang banyak termasuk syuhrah,” (Syarh Shahih al-Bukhâri, 17/144).

Al-Mardawiy rahimahullah berkata:

يكره لبس ما فيه شهرة, أَو خلاف زي بلده من الناس, على الصحيح من المذهب

“Memakai sesuatu yang menimbulkan syuhrah/popularitas atau menyelisihi pakaian penduduk negeri setempat berdasarkan pendapat yang shahih dari madzhab (Hanâbilah) hukumnya ‘makruh’,” (Al-Inshâf, 2/263).

Sangat jelas sekali bahwa hukumnya makruh berpakaian yang tidak sama dengan pakaian dari tradisi kaumnya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke