Allah Hanya Mengharamkan Beberapa Hal, dan Bukan Semua Hal.

Terkadang kita masih bingung dengan maksud larangan meniru tradisi orang kafir yang diungkapkan oleh ustadz-ustadz selebritis yang muncul akhir-akir ini.

Kalau mau konsisten, mereka yang suka melarang tradisi orang kafir dengan devinisi yang tidak jelas itu. Maka seharusnya mereka sudah tidak lagi naik mobil, ceramah di youtube, pakai HP, makan mie, makan burger, dan lain sebagainya. Sebab itu semua juga tradisi orang kafir, alias bukan tradisi umat Islam.

* Melarang meniup terompet berarti seharusnya juga melarang membunyikan klakson mobil, karena sejatinya klakson mobil juga bagian dari terompet.

* Melarang menyalakan kembang api, berarti seharusnya juga melarang menyalakan kompor, karena kompor itu juga mengandung api sebagai dewanya orang kafir.

* Melarang merayakan tahun baru Masehi berarti seharusnya juga melarang merayakan tahun baru Hijiriyah, karena tahun baru Hijriyah itu juga perkara bidah yang mana pada zaman Nabi juga tidak ada kalender Hijriyah. Yang menciptakan kalender Hijriyah adalah sahabat Umar.

Janganlah memperumit dan mempersempit agama dengan melarang perkara-perkara yang tergolong mubah yang memang sengaja tidak diatur oleh agama sebagai bentuk kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam agama tidak ada pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut, memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan. Jangan mudah mengharamkan sesuatu tanpa dasar dalil yang muhkamat, jelas dan spesifik, karena hukum asal segala sesuatu adalah halal, sepanjang belum ada dalil yang jelas, muhkamat, dan spesifik yang mengharamkannya. Hukum mubah ini diambil dari sebuah kaidah yang berbunyi,

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءُ الحِلّ

“Hukum asal segala sesuatu adalah halal (sampai datang dalil khusus yang mengharamkannya).”

Kaidah di atas didasarkan dari sebuah Hadits,

إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي فِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عِبَادِي حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Rabbku azza wa jalla menyuruhku mengajari kalian hal-hal yang tidak kalian ketahui, dari yang diajarkan-Nya kepadaku hari ini. (firman-Nya); Segala harta yang aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal, Aku ciptakan semua hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian setan mendatangi mereka, menyesatkannya dari agama mereka, mengharamkan apa yang Aku halalkan untuk mereka, memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang tidak Aku turunkan penjelasan tentangnya.” (Hadits Ahmad Nomor 16837)

Kalau mau klaim-klaiman sebagai ulama, maka siapapun juga bisa mengaku sebagai ulama termasuk diri saya. Tapi sepanjang ulama yang membimbing saya kenyataannya tidak seruwet seperti ulama-ulama Wahabi, yang selalu mengharamkan perkara-perkara mubah.

Hikmah yang terkandung manakala sengaja tidak semua diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an adalah sebagai “rahmat” dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke