Ajaran Tasawuf dan Sufi dalam Pandangan Islam

Dunia tasawuf merupakan bagian dari ajaran Islam. Ajaran tasawuf bukanlah berasal dari ajaran agama atau pemikiran filsafat di luar Islam. Secara eksplisit memang tidak ada istilah dan konsep tasawuf atau sufi yang paten dalam Islam. Namun nilai-nilai tasawuf itu sendiri sangat sesuai dan tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Kecuali harus di akui bahwa terdapat beberapa oknum yang menyimpang dari ajaran Islam. Akan tetapi dalam segala hal juga biasa terjadi penyimpangan. Begitu juga di dalam ajaran tasawuf yang mengalami beberapa penyimpangan oleh beberapa oknum pengamalnya. Sebagaimana terjadinya penyimpangan aqidah oleh kaum Wahabi, penyimpangan harakah oleh kaum Syi’ah, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Namun sekali lagi bahwa setiap penyimpangan tersebut bukan karena ajaran Islamnya, namun karena murni faktor oknum umat Islamnya saja.

Tasawuf memiliki perbedaan pengertian. Sebagian ahli tasawuf berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata “Shaf” yang berarti barisan. Maksudnya adalah disebabkan mereka memiliki iman yang kuat, jiwa dan hati yang suci, ikhlas, bersih bagaikan kokohnya barisan dalam jamaah shalat.

Ada yang berpendapat berasal dari kata “Shafa” yang berarti jernih dan bersih jernih serta kata “Shuafanah” pepohonan yang dapat bertahan tumbuh di daerah padang pasir yang gersang.

Juga bisa berasal dari kata “Shuf” yang berarti bulu domba kasar. Disebabkan kerendahan hati kaum sufi sering menggunakan pakaian yang berasal dari bulu domba kasar. Sebagaimana yang digambarkan oleh hadits berikut,

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصْحَابِ الصُّفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ إِمَّا إِزَارٌ وَإِمَّا كِسَاءٌ قَدْ رَبَطُوا فِي أَعْنَاقِهِمْ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ نِصْفَ السَّاقَيْنِ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الْكَعْبَيْنِ فَيَجْمَعُهُ بِيَدِهِ كَرَاهِيَةَ أَنْ تُرَى عَوْرَتُهُ

“Telah menceritakan kepada kami [Yusuf bin ‘Isa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibnu Fudlail] dari [Bapaknya] dari [Abu Hazm] dari [Abu Hurairah] berkata, “Sungguh, aku pernah melihat sekitar tujuh puluh orang dari Ashhabush Shuffah. Tidak ada seorangpun dari mereka yang memiliki rida’ (selendang), atau kain, atau baju panjang kecuali mereka ikatkan dari leher mereka. Di antara mereka ada yang kainnya sampai ke tengah betisnya dan ada yang sampai ke mata kaki. Kemudian dia lipatkan dengan tangannya karena khawatir auratnya terlihat.” (Hadits Bukhari Nomor 423)

Dan kata tasawuf juga dianggap berasal dari kata “Shuffah” berarti serambi tempat duduk atau serambi masjid Madinah yang disediakan bagi mereka Ahlus Suffah yang belum memiliki tempat tinggal atau rumah dan dari orang-orang muhajirin yang ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ وَمَضَى فَتَبِعْتُهُ فَدَخَلَ فَاسْتَأْذَنَ فَأَذِنَ لِي فَدَخَلَ فَوَجَدَ لَبَنًا فِي قَدَحٍ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ هَذَا اللَّبَنُ قَالُوا أَهْدَاهُ لَكَ فُلَانٌ أَوْ فُلَانَةُ قَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ إِلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ فَادْعُهُمْ لِي قَالَ وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا

“Wahai Abu Hurairah? ‘ Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Ikutlah.’ Lalu aku mengikuti beliau, aku lalu minta izin untuk masuk dan beliau mengizinkanku, ternyata aku mendapatkan susu di dalam mangkok, beliau bersabda: ‘Dari mana kalian mendapatkan susu ini? ‘ Orang-orang rumah menjawab; ‘Fulan atau fulanah menghadiahkannya kepada anda.’ Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah! ‘ Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Temuilah ahli suffah (para sahabat yang tinggal di pelataran masjid) dan ajaklah mereka kemari.’ Abu Hurairah berkata; ‘Ahli Suffah adalah para tamu kaum muslimin, mereka tidak tinggal bersama keluarga dan tidak memiliki harta, jika Nabi mendapatkan hasil dari sedekah, maka beliau tidak akan memakannya dan akan mengirimnya kepada ahli suffah, dan apabila beliau diberi hadiyah, maka mereka akan mendapatkan bagian dan kadang beliau mengirim sebagiannya untuk mereka.” (Hadits Bukhari Nomor 5971)

Sedangkan pengertian tasawuf menurut istilah para ahli memiliki beberapa pengertian. Di antaranya menurut Imam Junaid al-Baghdadi tasawuf memiliki pengertian mengamalkan sifat-sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah. Sahal Al-Tustury berpandangan bahwa tasawuf merupakan jalan hidup yang memutus koneksi dengan manusia lainnya untuk fokus terus menerus berhubungan dan membangun kecintaan mendalam pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dari Afrika Utara memberikan pengertian tasawuf sebagai proses praktek dan latihan diri melalui cinta yang mendalam untuk ibadah dan mengembalikan diri ke jalan Tuhan. Syeikh Ahmad Zorruq tasawuf memiliki maksud proses memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan begitu ajaran tasawuf adalah sikap melatih dan menempa diri dengan kesungguhan agar fikiran, jiwa, mental, batin, dan rohani menjadi bersih dan suci serta penuh cinta dan senantiasa terus mendekat kepada Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (Surat Qaf Ayat 16)

Sehingga dalam hidupnya sudah tidak ada lagi motifasi utamanya selain hanya, demi, dan karena Allah. Tujuan hidupnya tidak ada lain kecuali hanya dihadapkan kepada Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 115)

Dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah, para ahli sufi akan senantiasa diwujudkan dalam perilaku akhlaq yang baik dan tidak akan berbuat kecuali yang baik-baik agar pada akhirnya akan mencapai derajat kebenaran. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surat Al-Baqarah Ayat 186)

Puncak perjalan hidup seorang sufi dalam ajaran tasawufnya adalah mereka diberi maqam (derajat) makrifat yang dipenuhi karomah yang datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmannya,

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat (karomah) dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu (makrifat) dari sisi Kami.” (Surat Al-Kahf Ayat 65)

Dalam tasawuf senantiasa mengajarkan pembinaan akhlak yang baik, sikap terpuji, kesucian jiwa, membersihkan rohani, senantiasa bersikap sederhana dalam hidup, dan meninggalkan perkara dunia yang dapat melenakan.

Puncak ajaran tasawuf selain cinta kepada Allah adalah hidup sederhana. Menjalani hidup sederhana karena ingin ittiba (mengikuti) sunnah Rasul. Sebagaimana kesederhanaan hidup yang ditunjukkan oleh Nabi berikut ini;

Sandal Nabi shallallahu’alaihi wasallam sekedar sandal jepit biasa yang terbuat dari kulit, bukan sandal para raja dan kaisar. Sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah hadits berikut;

حَدَّثَنَا أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَعْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَهَا قِبَالَانِ

“telah menceritakan kepada kami [Anas] radliallahu ‘anhu bahwa sandal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki dua utas tali.” (Hadits Bukhari Nomor 5409)

Dalam riwayat lain juga disebutkan,

خَرَجَ إِلَيْنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ بِنَعْلَيْنِ لَهُمَا قِبَالَانِ فَقَالَ ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ هَذِهِ نَعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“[Anas bin Malik] keluar menemui kami dengan mengenakan sandal yang memiliki dua utas tali, lantas Tsabit Al Bunani mengatakan; “Ini adalah sandal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadits Bukhari Nomor 5410)

Tempat tidur yang digunakan Nabi juga sangat sederhana yang terbuat dari kulit yang diisi oleh sabut atau dedaunan. Dari Aisyah radhiallahu’anha;

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ إِنَّمَا كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ أَدَمًا حَشْوُهُ لِيفٌ

“dari [‘Aisyah] ia berkata; Kasur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang biasa beliau pergunakan untuk tidur adalah terbuat dari kulit yan isinya sabut pohon kurma.” (Hadits Muslim Nomor 3883)

Aisyah juga mengatakan bahwa bantal Nabi juga sangat sederhana;

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ وِسَادَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي يَتَّكِئُ عَلَيْهَا مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ

“dari [‘Aisyah] ia berkata; Bantal yang biasa dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah terbuat dari kulit yang isinya sabut pohon kurma.” (Hadits Muslim Nomor 3882)

Terkadang Nabi juga tidur di atas tikar yang terbuat dari dedaunan, sehingga berbekas di kulit beliau jika tidur di atasnya. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan:

عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى حَصِيرٍ قَالَ فَجَلَسْتُ فَإِذَا عَلَيْهِ إِزَارٌ وَلَيْسَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَإِذَا الْحَصِيرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبهِ وَإِذَا أَنَا بِقَبْضَةٍ مِنْ شَعِيرٍ نَحْوِ الصَّاعِ وَقَرَظٍ فِي نَاحِيَةٍ فِي الْغُرْفَةِ وَإِذَا إِهَابٌ مُعَلَّقٌ فَابْتَدَرَتْ عَيْنَايَ فَقَالَ مَا يُبْكِيكَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَمَالِي لَا أَبْكِي وَهَذَا الْحَصِيرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِكَ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ لَا أَرَى فِيهَا إِلَّا مَا أَرَى وَذَلِكَ كِسْرَى وَقَيْصَرُ فِي الثِّمَارِ وَالْأَنْهَارِ وَأَنْتَ نَبِيُّ اللَّهِ وَصَفْوَتُهُ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ قَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَنَا الْآخِرَةُ وَلَهُمْ الدُّنْيَا قُلْتُ بَلَى

“[Umar bin Khattab] dia berkata, “Saya pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di atas tikar.” Umar melanjutkan, “Lalu aku duduk, ternyata saya dapati beliau hanya mengenakan selembar kain dan tidak ada kain lain selain yang dipakainya, sementara tikar itu telah membekas pada sisi beliau. Saya juga (melihat) segenggam gandum sekitar satu sha’ dan daun yang dipergunakan untuk menyamak yang terletak di sudut kamar dan kulit yang menggantung. Tak terasa kedua mataku berlinang air mata. Beliau bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnul Khattab?” aku menjawab, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak meneteskan air mata, sementara tikar ini membekas di sisimu, dan aku tidak melihat dalam ruanganmu kecuali apa aku lihat. Sedangkan raja Kisra dan Kaisar Romawi dipenuhi buah-buahan dan sungai-sungai, engkau adalah Nabi Allah dan pilihan-Nya, namun ruanganmu hanya seperti ini!.” Beliau menjawab: “Wahai Ibnul Khattab, tidakkah kamu ridla kita mendapatkan akhirat dan mereka mendapatkan dunia?” Aku menjawab, “Tentu.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4143)

Rumah Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga sangat sederhana. Karena begitu sederhananya istri beliau, Aisyah ketika tidur sebagian tubuhnya menghalangi Nabi yang sedang shalat sebab memang sempit. Aisyah radhiyallahu anha berkata,

كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُوْلِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرِجْلاَيَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا

“Aku tidur di depan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang sedang shalat-pen), dan kedua kakiku pada kiblat beliau. Jika beliau hendak bersujud, beliau menyentuhku dengan jarinya, lalu aku menarik kedua kakiku. Jika beliau telah berdiri, aku meluruskan kedua kakiku” (HR. Bukhari no. 382, Muslim no. 512)

Kesederhanaan dan bersahajanya kehidupan Nabi memaksa umat Islam hidup miskin. Beliau hanya mengajarkan tentang tujuan utama hidup adalah kampung akhirat. Jadi janganlah berlebih-lebihan dalam menikmati hidup, jalankan hidup sesuai kebutuhannya saja dan perbanyaklah berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan. Aisyah radhiyallahu anha berkata,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا فَعَلَهُ إِلَّا فِي عَامٍ جَاعَ النَّاسُ أَرَادَ أَنْ يُطْعِمَ الْغَنِيُّ الْفَقِيرَ وَإِنْ كُنَّا لَنَرْفَعُ الْكُرَاعَ بَعْدَ خَمْسَ عَشْرَةَ وَمَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خُبْزِ بُرٍّ مَأْدُومٍ ثَلَاثًا

“dari [Aisyah] radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Beliau tidak pernah melakukannya kecuali di saat paceklik yang manusia semuanya dalam keadaan lapar, beliau ingin orang kaya memberi makan kepada yang miskin. Dan sungguh, kami memakan kaki kambing setelah lima belas hari, dan keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah merasa kenyang dengan roti gandum berkuah selama tiga hari terturut-turut.” (Hadits Bukhari Nomor 5018)

Kesederhanaan Nabi bukan karena tidak mampu. Nabi hanya lebih memilih kenikmatan hidup di akhirat.

تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَٰلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا

“Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.” (Surat Al-Furqan Ayat 10)

Itulah jalan tasawuf yang dipilih Nabi. Jalan di mana seseorang telah merasa nikmat bila berada di dekat Allah. Fikiran, jiwa dan lisannya senantiasa dipenuhi dengan cinta kepada Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“dari [Abdullah Busr radliallahu ‘anhu] bahwa seorang laki-laki berkata; wahai rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at Islam telah banyak yang menjadi kewajibanku, maka beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan sebagai pegangan! Beliau bersabda: “Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3297)

Salah satu ikhtiyar untuk mewujudkan itu ada satu tahapan awal yang terkadang perlu dilakukan dalam praktik ajaran tasawuf, yaitu uzlah; menyepi dan berlepas diri dari persoalan duniawi agar lebih dekat kepada Allah. Perilaku uzlah tersebut disebabkan ittiba’ (mengikuti) sunnah rasul, di mana Nabi dalam tahapan hidupnya juga pernah melakukan praktik uzlah tersebut. hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam banyak riwayat hadits. Di antaranya adalah Nabi pernah uzlah, menyepi, dan menyendiri dalam mengamalkan ibadahnya;

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang benarakan dan bahkan anjuran agar setiap orang muslim memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan khusus muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Sebagaimana Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah seperti beberapa gua,

فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ بِمِثْلِهَا حَتَّى فَجِئَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ

“Dan di dalam dirinya dimasukkan perasaan untuk selalu ingin menyendiri. Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal. Setelah perbekalannya habis, maka beliau kembali dan mengambil bekal. Begitulah seterusnya sehingga kebenaran pun datang pada beliau, yakni saat beliau berada di dalam gua Hira`.” (HR. Bukhari No. 4572)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan pula,

كَانَ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةَ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ يَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ أُوْلَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى فَجِئَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ

“”Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Tidaklah beliau mendapati mimpi tersebut melainkan sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh, kemudian beliau suka menyepi sendiri. Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan. (Setelah beberapa hari berada di sana) beliau pulang kepada Khadijah, mengambil perbekalan untuk beberapa malam. Keadaan ini terus berlarut, sehingga beliau dibawakan wahyu ketika beliau berada di gua Hira’.” (HR. Muslim No. 231)

Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa praktik ajaran tasawuf dan sufi dalam agama Islam sangat dibenarkan. Bahkan Nabi sendiri yang paling awal mempraktikkannya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke