Ahlussunnah Wal Jamaah Pasti Mencintai Habib

Dalam i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi hukumnya sunnah. Kesunnahan mencintai dan memuliakan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam disebabkan mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam yang begitu mencintai keluarganya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي

“Cintailah Allah atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3722)

Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan gharib. Dalam redaksi lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

“Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda, “Segala sesuatu ada asasnya, dan asas Islam adalah mencintai Rasulullah dan ahli baitnya.”

Ahlul Bait adalah keturunan suci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam yang memiliki ikatan nasab, mereka adalah keturunan Fathimah sampai hari kiamat. Demikian yang dijelaskan Imam Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab. Dengan mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan keluarganya, niscaya kita juga akan menjadi bagian keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Surat Asy-Syura Ayat 23)

Lebih lanjut, keluarga Rasul yang berilmu dan berakhlaq disebut HABIB, sedangkan warga Aswaja yang mencintai mereka biasa disebut MUHIBBIN. Namun begitu, dalam beberapa kasus malahan warga Aswaja Indonesia dituduh benci Habib, padahal selain golongan Syiah, hanya warga Aswaja yang terbukti mencintai dan memuliakan mereka. Buktinya hanya warga Aswaja yang menghadirkan para Habib di majlis-majlis ilmu dan majlis-majlis shalawat yang digelar oleh warga Aswaja.

Sedangkan Khawarij; Ihwanul Muslimin dan apalagi Salafi Wahabi tidak mungkin memuliakan para Habib, sebab bagi mereka mengagungkan Habib adalah bagian dari mengkultuskan yang dihukumi haram sebab bagian dari bentuk kesyirikan.

Dalam beberapa kesempatan memang lisan mereka nampak selalu mengatakan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam, namun perangai kasar mereka seringkali malah mempermalukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Sebagaimana kasus segolongan orang-orang HTI mencaci maki dan menyebut shalawatan oleh jamaah Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo dengan sebutan anj*ing mun*fik.

Lihat videonya disini.

Jangankan para pengikutnya, pemuka HTI seperti Ustadz Abdul Shomad saja berani mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam hanya orang saleh untuk dirinya sendiri, namun Beliau tidak mampu mewujudkan rahmatan lil alamin. Dengan kata lain, kenabian tidak akan mampu mewujudkan rahmatan lil alamin. Inilah bukti nyata kesesatan akidah kelompok HTI.

Lihat videonya disini.

Kalaupun mereka mengatakan cinta dan mengundang para Habib, itupun bisa dipastikan mereka omong kosong, mereka sedang bertaqiyyah atau menyamar untuk mengelabui mencari simpatik khalayak umum. Mereka hanya memanfaatkan para Habib untuk mengeruk simpatik para pecinta Habib demi agenda pemberontakan mereka pada penguasa yang sah.

Bukti cinta mereka pada Habib palsu adalah mereka hanya memuja dari kalangan Habib yang kasar dan suka mencaci maki. Namun mereka mencampakkan Habaib yang meneduhkan hati dan yang selalu menjaga Indonesia sebagai tanah kelahirannya.

Sebetulnya mereka tidak cinta Habib, tapi cinta kekerasan. Kekerasan yang sengaja diciptakan untuk membuka pintu pemberontakan demi sebuah kekuasaan yang mereka sebut khilafah yang jelas-jelas tidak ada sistem bakunya dalam agama Islam.

Baca Penjelasan Selengkapnya Pada Artikel;

Semua Teori Sistem Khilafah Ala Khawarij Rontok dengan Hanya Satu Ayat Al-Qur’an

Mereka mengaku cinta Habib, tapi dengan cara menghina para Ulama Aswaja. Padahal yang tidak mereka ketahui bahwa mayoritas Ulama Aswaja di Indonesia juga Dzurriyah Nabi dan juga tergolong Habib, sebab sebagian besar dari mereka secara sah memiliki darah Nabi Muhammad juga, walaupun tidak memiliki buku addaimi-rabithah alawiyah dan tidak tercatat di organisasi Rabithah Alawiyah, kantor pemeliharaan nasab Nabi, yang mana Organisasi Ini berdiri hanya di Indonesia di masa yang sudah modern pada tanggal 27 Desember 1928 tidak lama setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Kalau mereka konsisten dan memang mengaku mencintai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam, seharusnya mereka juga memuliakan para Ulama Aswaja yang mana mayoritas juga keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam.

Namun karena kerendahan hati para Ulama Aswaja Indonesia, mereka lebih banyak menyembunyikan status ke-Habib-annya. Sebab mereka lebih nyaman menonjolkan akhlaq dan keilmuannya dan bukan suka menonjolkan nasab keturunannya. Sebab itulah sejatinya perintah Sunnah Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ

“Orang yang paling saya cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling saya benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencemooh manusia dengan kata-katanya.” (Hadits Ahmad Nomor 17077)

Kita juga mendengarkan apa yang dipermaklumkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengenai prinsip-prinsip hak-hak manusia yang beliau sampai­kan pada pidato Haji Wada’ (perpisahan) bahwa semua manusia itu sama di hadapan Tuhannya, hanya ketakwaannya yang membedakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam dan bagi orang ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan.” (Hadits Ahmad Nomor 22391)

Namun, kalau mau berdebat terkait dengan kriteria dan devinisi habib atau keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam tentunya sangat panjang dan tidak akan berkesudahan. Sebab ketika kriteria keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam disebutkan adalah dari jalur laki-laki, sejatinya sudah tidak ada lagi keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam yang asli, manakala keturunan Nabi saat ini yang ada dari jalur perempuan, yakni Sayyidati Fatimah saja. Karena semua putra laki-laki Nabi, yakni Qashim, Abdullah dan Ibrahim telah meninggal sebelum memiliki keturunan.

Habib Abdullah Ali Assegaf mengatakan “Jangan memanggil semua Dzurriyah (Keturunan Nabi) itu Habib, karena Habib itu gelar untuk Dzurriyah yang berilmu dan berakhlaq”. Itulah kenapa seharusnya kita sebagai umat Islam lebih mengutamakan mereka baik dari kalangan keturunan Nabi atau dari kalangan Kiyai yang berilmu dan berakhlaq. Sebab inti agama adalah iman, akhlaq, dan cinta kasih. Dalam sebuah riwayat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (Hadits Muslim Nomor 5318)

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَا يَرْحَمْ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ

“Barangsiapa tidak menyayangi sesama manusia, Allah tidak menyayanginya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2303)

Tidak hanya Hadist tersebut, dalam hadis lain juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”. Kemudian mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, semua kami pengasih”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kembali, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia)” (HR. Ath Thabrani).

Kesimpulan ini banyak disampaikan oleh para ulama semisal Syekh Muhammad Nawawi Banten. Di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd beliau menuturkan:

 فان جميع أوامر الله تعالى ترجع الى خصلتين التعظيم لله تعالى والشفقة لخلقه

Artinya, “Sesungguhnya semua perintah-perintah Allah kembali kepada dua hal; mengagungkan Allah ta’âlâ dan berkasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta, Darul Kutul Al-Islamiyah: 2010], halaman 9).

Beragama tanpa didasari akhlaq dan cinta kasih pada sesama akan menimbulkan permusuhan dan kehancuran. Jangan mengaku Islam itu indah bila nyatanya umatnya berperilaku buruk dan kasar. Sebab yang dilihat umat lain bukan agamanya, tapi prilaku umatnya.

Dengan kata lain, indah tidaknya Islam bukan terletak pada ajaran agamanya, tapi terletak pada perilaku baik atau buruk umatnya. Bagaimana bisa orang kafir bersimpati untuk masuk Islam bila perilaku umatnya buruk, kasar, suka caci maki dan menebar kebencian. Itulah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para pendakwah agar mengemas agama dengan menarik dan berprilaku yang baik. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا وَأَبَا مُوسَى إِلَى الْيَمَنِ قَالَ يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا

“bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengutus Mu’adz dan Abu Musa ke negeri Yaman dan Beliau berpesan: “Mudahkanlah (urusan) dan jangan dipersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (tidak tertarik) dan bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih”. (Hadits Bukhari Nomor 2811)

Sikap buruk umat Islamlah yang menyebabkan mereka menjauh dari agama Islam. Kehancuran umat Islam bukan oleh kekuatan musuh, namun karena disebabkan buruknya perilaku dan sikap para penganutnya. Masing-masing dari umat Islam saling mencaci maki dan memusuhi umat lainnya disebabkan perbedaan-perbedaan sepele dan juga disebabkan fanatisme kelompoknya. Suasana seperti ini telah digambarkan oleh agama dalam sebuah riwayat Hadits berikut,

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku, aku diberi dua harta simpanan; merah dan putih, dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, agar Ia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri lalu menyerang perkumpulan mereka, dan sesungguhnya Rabbku berfirman: ‘Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, Aku tidak memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka meski mereka dikepung dari segala penjurunya hingga sebagaian dari mereka membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.” (Hadits Muslim Nomor 5144)

Padahal perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas kepada umatnya untuk berlaku baik dan lemah lembut kepada umat lain agar mereka sudi masuk Islam. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 159)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Surat Ta Ha Ayat 44)

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (Hadits Muslim Nomor 4697)

Bahkan dalam hadis sahih yang lain secara gamblang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mangancam keras dengan masuk neraka siapa saja dari umatnya yang menyakiti orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barang siapa yang membunuh mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian) maka dia tidak akan mencium bau surga padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dirasakan dari jarak empat puluh tahun perjalanan”. (Hadits Bukhari Nomor 2930)

Nabi memang berbangga dengan keturunannya, namun Beliau lebih berbangga dengan akhlaqul karimah umatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ

“Orang yang paling saya cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling saya benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencemooh manusia dengan kata-katanya.” (Hadits Ahmad Nomor 17077)

Jangan berbangga dengan keturunan mulianya dan mudah merendahkan nasab orang lain, namun berbanggalah dengan akhlaqul karimahnya. Perintah ketaatan dengan diwujudkan dalam perilaku dan akhlaq yang baik itupun juga berlaku pada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (Surat Al-Ahzab Ayat 32)

Hanya dari kalangan keluarga yang ikhlas menjalankan ketaatan dan bersikap santun yang akan dibersihkan dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Surat Al-Ahzab Ayat 33)

Jadi, walaupun berasal dari keturunan Nabi yang mulia, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan Jahiliyyah seperti berbangga dengan nasabnya dan kemudian merendahkan nasab lainnya niscaya juga sangat dibenci oleh Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ فِي أُمَّتِي أَرْبَعًا مِنْ الْجَاهِلِيَّةِ لَيْسُوا بِتَارِكِيهِنَّ الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ فَإِنَّ النَّائِحَةَ إِنْ لَمْ تَتُبْ قَبْلَ أَنْ تَمُوتَ فَإِنَّهَا تَقُومُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهَا سَرَابِيلُ مِنْ قَطِرَانٍ ثُمَّ يُعْلَى عَلَيْهَا دِرْعٌ مِنْ لَهَبِ النَّارِ

“Ada empat perkara pada ummatku yang termasuk jahiliyyah yang belum ditinggalkan; berbangga dengan keturunan, mencela nasab orang lain, meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayit, jika seorang yang meratapi mayit tidak bertaubat sebelum meninggalnya maka pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan memakai baju panjang yang berwarna hitam kemudian bagian atasnya dikenakan kobaran api neraka.” (Hadits Ahmad Nomor 21830 dan Hadits Muslim Nomor 1550))

Bahkan Nabi sendiri tidak segan-segan menjatuhkan hukum syariat kepada putrinya Fatimah seandainya berani melanggar sayariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (Hadits Muslim Nomor 3196)

Dalam hadits tersebut sangat jelas kedudukan mulia dan keturunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun tidak terlepas dari hukuman manakala berani melanggar syariat agama Islam. Alangkah sayangnya bila seseorang memiliki keturunan mulia, namun tidak berperilaku mulia. Mengaku keturunan orang baik dan mulia, namun berperilaku buruk dan nista! Hanya berbangga dengan keturunan namun tidak meniru perilaku terhormat datuknya, hal itu merupakan perkara Jahiliyah. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

أَنَّ رَجُلًا اعْتَزَى بِعَزَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَعَضَّهُ وَلَمْ يُكَنِّهِ فَنَظَرَ الْقَوْمُ إِلَيْهِ فَقَالَ لِلْقَوْمِ إِنِّي قَدْ أَرَى الَّذِي فِي أَنْفُسِكُمْ إِنِّي لَمْ أَسْتَطِعْ إِلَّا أَنْ أَقُولَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا إِذَا سَمِعْتُمْ مَنْ يَعْتَزِي بِعَزَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَعِضُّوهُ وَلَا تَكْنُوا

“bahwa ada seorang laki-laki membanggakan nasabnya seperti perbuatan orang-orang Jahiliyah, namun ia menahan dan tidak menyatakannya secara fulgar. Orang-orang pun memandang ke arahnya, maka laki-laki itu pun berkata, “Sesungguhnya aku bisa memahami apa yang ada pada kalian, dan tiada yang bisa saya lakukan kecuali ini, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami: “Jika kalian mendengar seseorang membanggakan nasabnya seperti orang jahiliyah, maka tahanlah dan jangan kalian tampakkan dengan fulgar.” (Hadits Ahmad Nomor 20284)

Yang perlu diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat baik dan mulia. Jadi, bila merasa menjadi keturunannya, maka berperilakulah yang baik dan mulia sebagaimana yang telah dicontohkan datuknya. Yang menyebabkan seseorang menjadi mulia bukan karena nasabnya, namun ketakwaan, kebaikan, alkhlaq, dan cinta kasihnya. Karena itulah inti ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa (banyak negara) dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Sikap bijak menghadapi keturunan Nabi yang bermaksiat

Berdasarkan uraian di atas, maka muncullah sebuah pertanyaan, bagaimana sikap kita menghadapi ahli bait atau keturunan Nabi yang bermaksiat? Dalam hal ini kita kutip pandangan Syaikh Imam al-Ajurri Asy-Syafi’i,

هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَحَبَّتُهُمْ وَإِكْرَامُهُمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَحُسْنُ مُدَارَاتِهِمْ , وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ , وَالدُّعَاءُ لَهُمْ , فَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ أَوْلَادِهِمْ وَذَرَارِيِّهِمْ , فَقَدْ تَخَلَّقَ بِأَخْلَاقِ سَلَفِهِ الْكِرَامِ الْأَخْيَارِ الْأَبْرَارِ , وَمَنْ تَخَلَّقَ مِنْهُمْ بِمَا لَا يُحْسِنُ مِنَ الْأَخْلَاقِ , دُعِيَ لَهُ بِالصَّلَاحِ وَالصِّيَانَةِ وَالسَّلَامَةِ , وَعَاشَرَهُ أَهْلُ الْعَقْلِ وَالْأَدَبِ بِأَحْسَنِ الْمُعَاشَرَةِ وَقِيلَ لَهُ: نَحْنُ نُجِلُّكَ عَنْ أَنْ تَتَخَلَّقَ بِأَخْلَاقِ لَا تُشْبِهُ سَلَفَكَ الْكِرَامَ الْأَبْرَارَ , وَنَغَارُ لِمِثْلِكَ أَنْ يَتَخَلَّقَ بِمَا تَعْلَمُ أَنَّ سَلَفَكَ الْكِرَامَ الْأَبْرَارَ لَا يَرْضَوْنَ بِذَلِكَ , فَمِنْ مَحَبَّتِنَا لَكَ أَنْ نُحِبَّ لَكَ أَنْ تَتَخَلَّقَ بِمَا هُوَ أَشْبَهُ بِكَ , وَهِيَ الْأَخْلَاقُ الشَّرِيفَةُ الْكَرِيمَةُ , وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ لِذَلِكَ

“Mereka itulah ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajib bagi kaum muslimin mencintai, memuliakan, berbuat baik, bersabar atas mereka dan mendo’akan kebaikan bagi mereka. Barangsiapa diantara mereka, dari anak dan keturunan ahli bait yang bagus agamanya, maka dia telah berakhlak dengan akhlak pendahulunya yang mulia, yang terpilih lagi berbudi. Barangsiapa diantara mereka yang buruk akhlaknya, maka kebaikan, penjagaan dan keselamatan dido’akan baginya. Dan mereka yang berakal dan beradab hendaknya mempergauli mereka dengan baik seraya mengatakan kepadanya (ahli bait yang bermaksiat), “Kami ingin mensucikanmu agar engkau tidak berakhlak dengan akhlak yang tidak dimiliki oleh pendahulumu yang mulia dan berbudi. Kami cemburu kepada semisal dirimu jika berakhlak dengan akhlak yang engkau tahu bahwa pendahulumu yang mulia lagi berbudi tidak meridhainya. Dan termasuk kecintaan kami kepadamu, kami ingin agar engkau berakhlak dengan akhlak yang layak bagimu, yaitu akhlak yang agung dan mulia. Allah-lah yang mampu memberikan taufik.” [Asy Syari’ah 5/2276].

Dengan begitu, sikap kita dalam berinteraksi dengan mereka tidak ada bedanya sebagaimana kita berinteraksi dengan muslim yang lain. Kita tetap wajib menasehati mereka yang bermaksiat dan membenci perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at. Bukan berarti kecintaan kita pada seseorang kemudian kita boleh membiarkan dan membenarkan kemaksiatan dan kemungkaran yang dilakukan.

Hukum agama berlaku bagi semua kalangan, tidak terlepas juga kepada mereka yang memiliki kedudukan mulia, termasuk dari keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari kalangan orang biasa ada yang menjadi shalih dan juga ada yang fasik. Begitu juga dari keturunan Nabi ada yang bertakwa dan juga ada yang fasik. Di antaranya adalah anak dari Nabi Nuh yang kafir atas perintah Allah. Dalam Al-Qur’an telah digambarkan kisah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ. قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Surat Hud Ayat 42 – 43)

Kecintaan Nabi-pun terhadap Ahlul Baitnya tidak mampu menyelamatkan mereka dari kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Surat Al-Qasas Ayat 56)

Sudah sangat jelas bahwa kesesatan dapat menimpa kepada siapa saja dan tidak terkecuali juga kepada para keturunan Nabi. Maka bersikaplah seimbang kepada mereka. Janganlah kecintaan kita kepada mereka menjadikan kita fanatik buta dengan membiarkan dan membenarkan kemaksiatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh para Habaib.

Cintailah orangnya sebab kecintaan kita kepada Nabi. Namun bencilah dan lawanlah kemaksiatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian Habaib sebab ketakwaan dan ketaatan kita pada perintah Allah. Dengan sikap seperti itu, niscaya kita akan berpeluang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak di akhirat. Amin.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke