Adil Pada Diri Sendiri, Orang Lain, dan Pada Tuhan

Semua orang berharap untuk diperlakukan secara adil. Keadilan , sebuah kata yang manis di mulut dan merdu di telinga, namun sulit untuk diamalkan. Banyak sejarah konflik dunia disebabkan terjadinya ketidakadilan.

Banyak usaha yang dilakukan manusia untuk menegakkan keadilan, mulai dengan mendirikan sebuah negara, mendirikan sebuah lembaga pemerintahan, mendirikan organisasi, mendirikan lembaga peradilan, hingga turun ke jalanan dalam bentuk aksi-aksi masa. Semua dilakukan demi terciptanya keadilan.

Lalu bagaimana sebetulnya Islam memandang keadilan? Dalam Al-Qur’an secara tegas memerintahkan hambanya untuk senantiasa menegakkan keadilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Surat An-Nahl Ayat 90)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan keadilan bagi semua hambanya dalam sebuah ayat berikut;

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surat An-Nisa’ Ayat 58)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 8)

Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa bersikap adil dapat menghantarkan seseorang pada kedudukan manusia-manusia yang bertakwa. Apabila keadilan diterapkan dengan sempurna maka ketakwaan pun menjadi sempurna. Adil memiliki makna menunaikan hak kepada setiap pemiliknya. Adil juga bermakna meletakkan setiap perkara pada hak dan porsinya masing-masing.

Dzalim adalah lawan kata dari adil. Setiap pihak memiliki hak, sebagaimana diri sendiri memiliki hak seperti istirahat, memiliki hak untuk tidak kelaparan, dan lain sebagainya. Orang lain memiliki hak untuk tidak mengalami kerugian dari tindakan kita, memiliki hak untuk tidak terluka perasaannya, dan lain sebagainya. Sebagaimana Allah sebagai Tuhan punya hak untuk diesakan, memiliki hak untuk disembah, dan lain sebagainya.

Jadi, bila kita membebani diri diluar kemampuan fisik kita itu berarti tergolong dzalim pada diri sendiri. Bila tindakan kita membuat orang lain rugi dan tersinggung, berarti kita berlaku dzalim pada orang lain. Dan bila kita menyekutukan dan tidak menyembah Allah, berarti kita masuk kategori manusia dzalim kepada Tuhan.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke