Ziarah Qubur Di Bulan Sya’ban

Amalan baik yang juga akan semakin baik bila dilakukan pada bulan baik seperti pada bulan Sya’ban adalah berziarah kubur, terutama kepada orang tua kita, kepada guru-guru kita, dan kepada orang-orang shalih semasa hidupnya. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh Nabi berziarah setiap tahun pada bulan Sya’ban untuk mengenang keluarga, kaum muslimin, dan jasa-jasa perjuangan dari mereka para syhuhada di pemakaman Baqi’. Hal ini dapat kita ketahui dari banyak hadits yang diriwayatkan oleh banyak sahabat berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“dari [‘Aisyah] ia berkata, “Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada (berziarah) di pemakaman Baqi’ menengadahkan kepalanya ke langit (seraya berdoa), beliau lalu bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?” ia menjawab, “Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. ” Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1379)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ فَقَالَ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“dari [‘Aisyah] dia berkata, Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu saya keluar, ternyata saya dapati beliau sedang berada (berziarah) di pemakaman Baqi’, beliau bersabda: ” Apakah kamu takut akan didzalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” saya berkata, wahai Rasulullah, saya mengira tuan mendatangi sebagian istri-istrimu, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu mengampuni manusia sejumlah rambut (bulu) kambing.” (Hadits Tirmidzi Nomor 670)

Terkait ada segolongan umat Islam yang mempersoalkan amalan orang lain yang lebih meningkatkan ziarah quburnya pada bulan Sya’ban karena mencontoh sunnah Nabi, hal tersebut tidaklah berdasar karena Nabi sendiri sangat jelas berziarah pada bulan Sya’ban. Di samping itu tidak ada larangan untuk kita berziarah pada bulan Sya’ban, apalagi hukum berziarah itu sendiri boleh dan bahkan sangat dianjurkan karena terdapat banyak hikmah di dalamnya.

Ziarah kubur akan menambah banyak kebaikan. Nabi bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari tiga hal; ziarah kubur, sekarang berziarahlah, semoga dengan berziarah akan menambah kebaikan. (Hadits Nasai Nomor 5559)

Dengan ziarah qubur akan mengingatkan kematian. Nabi bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (Hadits Abu Daud Nomor 2816)

Dengan ziarah qubur akan mengingatkan kita pada kehidupan akhirat. Nabi bersabda,

وَمَنْ أَرَادَ زِيَارَةَ الْقُبُورِ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

“Siapa ingin menziarahi kubur, maka itu akan mengingatkan kepada hari akhirat. (Hadits Nasai Nomor 5557)

Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa berziarah kubur sangat dianjurkan karena banyak kebaikan yang timbul darinya, apalagi dilakukan pada bulan mulia Sya’ban. Terkait ada sebagian besar kaum muslimin berziarah qubur dengan berbagai macam istilah seperti nyadran, arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar JawaTimur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Hal ini hanyalah perbedaan sebuah istilah di masing-masing daerah, namun hakikatnya adalah tetap ziarah kubur. Dan hal tersebut tidaklah mengurangi keutamaan ziarah kubur itu sendiri karena dalilnya sangat sahih dan sangat sharih.

Bagi golongan yang mempersoalkan ziarah kubur, lebih-lebih berziarah yang dikhususkan pada bulan Sya’ban juga tidak memiliki hujjah, mereka hanya menggunakan argumen yang dibuat-buat sendiri dengan mengatakan “amalan ziarah kubur pada bulan Sya’ban tidak ada pada zamanNabi”. Argumentasi semacam ini bukanlah dalil yang dibenarkan, namun ini disebut retorika yang mereka buat sendiri, padahal mereka seringkali menuduh amalan pihak lain tidak absah karena tidak menggunakan dalil. Padahal golongan mereka sendiri yang sering tidak konsisten dengan melarang-larang amalan pihak lain bukan menggunakan dalil namun hanya menggunakan nalar logika yang mereka buat-buat sendiri.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 68
    Shares