Waktu Niat Untuk Berpuasa

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya Adi Setiawan dari Maluku hendak mempertanyakan beberapa hal terkait niat puasa;

  1. Apa kedudukan niat dalam berpuasa?
  2. Kapan seharunya niat berpuassa dilakukan?
  3. Apa konsekwensi bila niat berpuasa dilakukan melewati waktu subuh atau siang hari?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari Nomor 1, kedudukan niat berpuasa adalah wajib karena termasuk ke dalam bagian rukun puasa.
  2. Bila untuk berpuasa wajib, maka dilakukan pada malam hari. Sedangkan bila untuk puasa sunnah boleh dilakukan pada siang hari.
  3. Konsekwensi niat puasa wajib seperti Ramadhan bila niat dilakukan siang hari maka ibadah puasanya menjadi batal dan wajib mengqadha’. Sedangkan bila niat puasa sunnah bila dilakukan pada siang hari puasanya tetap sah.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PENJELASAN:

  1. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari Nomor 1, kedudukan niat berpuasa adalah wajib karena termasuk ke dalam bagian rukun puasa.

Hadits yang dimaksud adalah,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; (Hadits Bukhari Nomor 1)

Dengan begitu keabsahan suatu amal atau ibadah sangat tergantung pada niatnya.

  1. Bila untuk berpuasa wajib, maka dilakukan pada malam hari. Sedangkan bila untuk puasa sunnah boleh dilakukan pada siang hari.

Imam Tirmidzi yang bermadzhab Syafi’i mengomentari hadits Nomor 662 dalam kitab Sunan Tirmidzinya dengan ucapannya,

وَإِنَّمَا مَعْنَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ أَوْ فِي صِيَامِ نَذْرٍ إِذَا لَمْ يَنْوِهِ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يُجْزِهِ وَأَمَّا صِيَامُ التَّطَوُّعِ فَمُبَاحٌ لَهُ أَنْ يَنْوِيَهُ بَعْدَ مَا أَصْبَحَ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ

Maksud dari hadits ini (Nomor 662) menurut para ulama ialah “Barang siapa yang tidak niat sebelum terbitnya fajar di bulan Ramadlan atau ketika mengqadla’ puasa Ramadlan atau ketika puasa nadzar, maka shaumnya tidak sah. Adapun puasa sunnah, maka boleh berniat sesudah terbitnya fajar. ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.

Sedangkan untuk niat puasa sunnah, maka diperkenankan dilakukan pada siang hari, hal ini didasarkan oleh banyak Hadits di mana Nabi terbiasa tiba-tiba berniat puasa di siang hari manakala tidak ada satupun yang dapat dimakannya. Sebagaimana salah satu riwayat berikut,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

“dari [Aisyah] Ummul Mukminin, ia berkata; Pada suatu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun bersabda: “Bawalah kemari, sungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (Hadits Muslim Nomor 1951)

Imam Nawawi rahimahullah berkata,”Pada dalil yang terdapat di atas adalah ditunjukan bagi kebanyakan para ulama bahwa berniat puasa pada waktu siang hari tanpa disengaja dibolehkan asalkan sebelum memasuki waktu zawal (matahari bergeser ke barat) tetapi dalil tersebut hanya ditunjukan untuk seseorang yang melaksanakan puasa sunah tidak untuk puasa wajib”.

  1. Bila untuk berpuasa wajib, maka dilakukan pada malam hari. Sedangkan bila untuk puasa sunnah boleh dilakukan pada siang hari.

Berbeda dengan puasa sunnah yang diperbolehkan  niat puasa pada siang hari adalah puasa wajib seperti puasa pada bulan Ramadhan niat harus dilakukan pada malam hari. Jika tidak demikian maka puasa yang dilakukan batal dan wajib untuk mengqada’nya. Hal ini didasarkan pada sebuah sabda Nabi,

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah”.(Hadits Tirmidzi Nomor 662, Hadits Abu Daud Nomor 2098, dan Hadits Nasai Nomor 2293)

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 118
    Shares