Ushul Fiqih Bagian 04; Mujmal Dan Mubayyan

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

  1. Pendahuluan

Al-Quran merupakan sumber hukum utama bagi umat Islam, sedangkan hadits merupakan sumber hukum kedua. Sebagai sumber hukum Islam tentunya keotentikan isinya tidak diragukan lagi. Semua yang terkandung di dalamnya merupakan ajaran kebenaran untuk kemaslahatan umat manusia.
Keindahan bahasanya sudah tidak dapat dipungkiri lagi sebab ia mengandung nilai kesusteraan yang sangat tinggi. Apabila kita amati, terdapat banyak ayat dalam Al-Quran dan Hadits yang memiliki makna pasti, namun juga tidak sedikit terdapat nash yang membutuhkan penjelasan dan penafsiran untuk mengungkapkan memaknai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, untuk memahami isi yang terkandung di dalamnya diperlukan kaidah-kaidah ushul fiqih, seperti memahami kaidah mujmal dan mubayan.

  1. Pengertian Lafadz Mujmal

Pengertian Mujmal (المجمل):

Mujmal menurut bahasa ada beberapa arti menghimpun (الجمع), samar (الشبهة), dan tidak diketahui artinya (المبهم), yakni kata yang memiliki makna global atau umum.

Sedangkan menurut istilah mujmal adalah sesuatu menunjukkan terhadap beberapa makna (lebih dari satu makna) yang tidak ada kelebihan (keutamaan) bagi salah satu dari makna-makna itu terhadap (makna) yang lainnya, dan untuk mengamalkan salah satunya membutuhkan penjelasan terlebih dahulu.

Sedangkan mutlaq menurut beberapa ahli:

Menurut Prof. DR. Abdul Wahhab Khallaf ialah lafazh yang shighotnya tidak dapat menunjukan kepada pengertian yang dikandung olehnya, dan tidak terdapat qorinah-qorinah lafazh atau keadaan yang dapat menjelaskannya. Maka sebab itu kesamaran di dalam al-Mujmal ini bersifat lafzhi bukan sifat yang baru datang”.

Menurut Wahbah Al-Zuhaili ialah Lafaz yang samar maksudnya, yang tidak dapat diketahui kecuali dengan penjelasan dari pembicara sendiri. Tidak dapat diketahui dengan akal karena hanya bisa diketahui dengan dalil naqli dari pembicara itu. Maksudnya lafaz itu tidak dapat diketahui kecuali dengan adanya penjelasan dari yang me-mujmalkan atau al-Mujmil atau Syari’.

Dari definisi di atas dapat kita tangkap pengertian bahwa mujmal adalah;

Pertama lafazh atau kata yang tidak jelas (global) artinya,

Kedua tidak pula terdapat petunjuk atau qorinah yang menjelaskan arti global dari kata tersebut. Jadi ketidak jelasan atau kesamaran arti kata al-Mujmal berasal dari kata itu sendiri bukan karena faktor eksternal dari luar kata tersebut,

Ketiga kemampuan akal terbatas hanya pembuat kalam itu sendiri yang dapat mengetahuinya.

Contoh-Contoh Lafadz Mujmal;

Pertama lafadz mutlaq yang masih memerlukan lafadz lainnya untuk menentukan maknanya:Seperti kata ”rapat” dalam bahasa Indonesia misalnya memiliki dua makna: perkumpulan dan tidak ada celah.

Kedua lafadz mutlaq yang membutuhkan dalil lain dalam ta’yinnya: seperti firman Allah ta’ala:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’” (QS. Al-Baqoroh: 228)

Quru’ (القرء) adalah lafadz yang musytarok (memiliki beberapa makna) antara haidh dan suci, maka menta’yin salah satunya membutuhkan dalil.

Ketiga lafadz mutlaq yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan sifatnya: Firman Allah ta’ala:

وَأَقِيمُوا الصَّلاة

“Dan dirikanlah sholat” (QS. Al-Baqoroh: 43)

Maka tata cara mendirikan sholat tidak diketahui (hanya dengan ayat ini), maka membutuhkan penjelasan.

Keempat lafadz mutlaq yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan ukuran atau kadarnya: Firman Allah ta’ala:

وَآَتُوا الزَّكَاةَ

“Dan tunaikanlah zakat” (QS. Al-Baqoroh: 43)

Ukuran zakat yang wajib tidak diketahui (hanya dengan ayat ini), maka membutuhkan penjelasan.

Sebab-Sebab Adanya Mujmal

Pertama Ijmal terdapat dalam kata-kata tunggal, contoh;

Isim: Qur’un dengan pengertian suci atau datang bulan. Jaun dengan pengertian hitam atau putih

Fiil: Qaala dengan pengertian berkata atau tidur siang. Khataba dengan pengertian berpidato atau meminang.

Huruf: Wawu yang m,enunjukkan huruf athaf (penghubung) atu huruf isti’naf (menunjukkan permulaan kata), atau sebagai hal.

Ilaa yang menunjukkan ghayah atau berarti beserta (ma’a)

Kedua Ijmal terdapat dalam susunan kata-kata (jumlah atau tarkib), contoh;

أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

“atau memaafkan orang yang mempunyai ikatan perkawinan”. (QS. Al-Baqarah: 237)

Kategori Lafadz Mujmal

Menurut Abdul Wahhab Khallaf, ada beberapa kategori dari suatu lafaz yang Mujmal tersebut. Kategori-kategori yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama termasuk Mujmal ialah lafaz-lafaz yang pengertian bahasa dipindahkan oleh Syari’ dari pengertian aslinya kepada pengertian-pengertian khusus menurut istilah syara’. Seperti lafadz shalat , zakat, shiyam. Haji, riba dan lafaz-lafaz lain yang oleh Syari’ dikehendaki dengannya makna syara’ secara khusus, bukanmakna yang lughawi (menurut etimologi).

Maka apabila di dalam nash syara’ terdapat lafaz di antara lafaz-lafaz tersebut di atas, lafaz itu adalah mujmal (global) pengertiannya, sampai ada penafsiran terhadap lafaz itu oleh syari’ sendiri. Karena itu datanglah Sunnah yang berbentuk amal perbuatan dan ucapan untuk menafsiri atau menjelaskan arti shalat dan menjelaskan rukun-rukunnya serta syarat-syaratnya dan hai’ahnya (bentuk pelaksanaannya).

Rasulullah SAW bersabda:

 صلوا كما رايتمونى أصلى

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sedang shalat (seperti shalatku)”

Begitu juga beliau telah menafsir zakat, shiyam, haji, riba dan setiap lafaz yang mujmal (global) di dalam nash-nash al-Qur’an.

Kedua termasuk al-Mujmal ialah lafaz asing yang ditafsir oleh nash itu sendiri dengan arti yang khusus, seperti lafaz (القارعة) dalam firman Allah (Q.S al-Qari’ah: 1- 4)

القارعة ما القارعة و ما ادرئك ما القارعة يوم يكون الناس كالفراش المبثوث

“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu ?. Tahukah kamu apakah hari kiamat itu ? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran

  1. Pengertian Lafadz Mubayan

Pengertian Mubayyan (المبيَّن):

Mubayyan menurut bahasa adalah (المظهر والموضح) yang ditampakkan dan yang dijelaskan.

Sedangkan menurut istilah lafadz mujmal yang disertai dengan penjelasan tentangnya, baik berambung ataupun terpisah. Penjelasan tersebut ada pada dalil itu sendiri atau pada dalil lain yang terpisah dari dalil yang di daamnya terdapat lafadz mujmal. Suatu lafadz yang tidak mempunyai kemungkinan makna lain disebut mubayyan dan nash. Bila ada dua makna atau lebih tanpa diketahui yang lebih kuat disebut mujmal. Namun bila ada makna yang lebih tegas dari makna yang adda disebut dzahir. Dengan demikian yang disebut mujmal adalah lafadz yang cocok untuk berbagai makna, tetapi tidak ditentukan makna yang tidak dikehendaki, baik melalui bahasa maupun menurut kebiasaan pemakainya.

Sedangkan mujmal menurut al-Asnawi sebagai berikut:

“Mubayyan adalah lafaz yang jelas (maknanya) dengan sendirinya atau dengan lafaz lainya”.

Ada yang mendifinisikan Mubayyan sebagai berikut:

ما يفهم المراد منه، إما بأصل الوضع أو بعد التبيين

“Apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.”

Contoh yang dapat difahami maksudnya dengan asal peletakannya : lafadz langit (سماء), bumi (أرض), gunung (جبل), adil (عدل), dholim (ظلم), jujur (صدق). Maka kata-kata ini dan yang semisalnya dapat difahami dengan asal peletakannya, dan tidak membutuhkan dalil yang lain dalam menjelaskan maknanya.

Contoh yang dapat difahami maksudnya setelah adanya penjelasan :

Firman Allah ta’ala :

اقيمو الصلاة وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat” (Al-Baqoroh : 43)

Maka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, keduanya adalah mujmal, tetapi pembuat syari’at (Allah ta’ala) telah menjelaskannya, maka lafadz keduanya menjadi jelas setelah adanya penjelasan.

Dalam hubungannya dengan Mubayyan, maka dapat kita pahami ada tiga hal disini. Pertama adanya lafaz yang mujmal yang memerlukan penjelasan atau disebut Mubayan (yang dijelaskan). Kedua ada lafaz lain yang menjelaskan lafaz yang Mujmal tadi atau disebut Mubayyin (yang menjelaskan. Dan yang ketiga adanya penjelasana atau disebut Bayan.

Klasifikasi Mubayyan:

Mubayan berdasarkan sumber yang menjelaskan dibagi menjadi dua klasifikasi;

Pertama mubayyan muttashil, adalah mujmal yang disertai penjelassan yang terdapat dalam satu nash. Misal dalam surat An-Nisa: 176, lafadz “kalalah” adalah mujmal yang kemudia dijelaskan dalam satu nash; “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka …dst. kalalah adalah orang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. Maka inilah yang diambil oleh Umar bin Khattab, bahwa: “Kalalah = orang yang tidak mampu mempunyai anak.”

Kedua mubayan munfashil adalah bentuk mujmal yang disertai penjelassan yang tidak terdapat dalam satu nash. Dengan kata lain, penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal.

Mubayan berasal dari Al-Qur’an:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam imunya” adalah mujmal karena ambiguitas huruf waw, yaitu kata “dan”. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (ist’naf). Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung, maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Namun, jika kata “dan” dianggap sebagai permulaan kalimat baru, maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya-yang notabene tidak tahu takwilnya-berkata, “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. Hal ini memerlukan penjelasan. Maka penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash, di antaranya QS. An-Nahl: 89 “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.”

Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia, termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran: 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.” Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian.

Mubayan berasal dari Hadits:

Contohnya pada QS Al-Anfal 60: “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. Al-Anfal: 60)

Kata “kekuatan” pada ayat di atas masih mujmal, yang penjelasannya ada datang dari sunnah, yaitu hadits riwayat Muslim dari uqbah bin Amir: “Saya mendengar Rasulullah bersabda, -sementara itu beliau masih berada di atas mimbar- “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.’

  1. Dilalah/Hukum (Kehujjahan) Lafadz Mujmal Dan Mubayyan

Apabila terdapat perkataan mujmal baik dalam qur’an maupun hadits, maka kita tidak menggunakannya, sehingga datang penjelasan. Seperti kata salat, zakat, haji, dan lain-lain yang dijelaskan oleh Nabi SAW. Tentang cara-cara melakukannya. Demikian pula tentang batas-batas harta yang terkena zakat.

Dan lafaz (الهلوع) di dalam firman-Nya Q.S al-Ma’arij : 19 – 21 yang artinya :

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia bekeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir”.

  1. Kaidah Yang Berhubungan Dengan Lafadz Mujmal Dan Mubayyan

Kaidah Pertama

تَأْخِيْرُ الْبَيَانِ عَنِ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَيَجُوْزُ

’’Mengakhirkan penjasan pada saat dibutuhkan tidak dibolehkan’’

Contoh:Ketika Fatimah binti hubaisy bertanya kepada rasulullah:

يا رسول ا لله انئ امراة استحاض فلا اطهر افادع الصلا ة فقال لها ص م . لا انما ذالك عرق و ليست بالحيضة فاذا اقبلت الحيضة فدعى الصلاة و اذا ادبرت فاغسلى عنك الدم و صلى , (متفق عليه

’’ya rasulullah saya ini wanita yang berpenyakit (istihadhoh) yang belum mandi.apakah saya harus sholat’’nabi menjawab:Darah itu hannya keringat biasa bukan haid.Dari hadits ini dapat dipahami darah istikhadhoh tidak mewajibkan mandi besar.

Kaidah Kedua

تَأخِيْرُ البَيَانِ عَنْ وَقْتِ الخِطَابِ يَجُوْزُ

’’Mengahirkan penjelasan pada saat diperintahkan sesuatu dibolehkan’’

Contoh:perintah tentang sholat,puasa,zakat,dan haji.Semuanya dijelaskan secara bertahap dan mendetail.Tidak langsung dijelaskan tapi penjelasannya diakhirkan.

  1. Macam-Macam Bayan Terhadap Mujmal

Para Ulama Ushul membuat kategori daripada penjelasan atau bayan tersebut. Ulama Syafiiyah membagi bayan menjadi tujuh;

  • Penjelasan dengan perkataan ,

Contohnya, Allah SWT menjelaskan lafaz سبعة (tujuh) pada surat al-Baqarah ayat 196, tentang jumlah hari puasa bagi yang tidak mampu membayar dam (hadyu) pada haji Tamattu’. Dalam bahasa Arab lafaz tujuh sering ditujukan kepada arti ‘banyak’ yang bisa lebih dari tujuh. Untuk menjelaskan ‘tujuh’ itu betul-betul tujuh maka Allah SWT mengiringi dengan firman-Nya “itu sepuluh hari yang sempurna”.

  • Penjelasan dengan mafhum perkataan,

Contohnya, firman Allah SWT dalam surat al-Isra’ ayat 23, tentang larangan mengatakan اف”ah” kepada kedua orang tua. Mafhum dari ayat tersebut adalah melarang seseorang anak menyakiti orang tuanya, seperti memukul dan lain-lain, karena mengucapkan “ah” saja tidak boleh, apalagi memukul.

  • Penjelasan dengan perbuatan,

Contoh. Rasulullah SAW menjelaskan perintah mendirikan shalat, dalam ayat Al-Quran, lalu Rasulullah SAW mencontohkan cara melakukan shalat tersebut.

  • Penjelasan dengan Iqrar “pengakuan”

Contohnya, Rasulullah melihat Qayis shalat dua raka’at sesudah shalat Subuh, maka Rasulullah bertanya kepada Qayis, lalu Qayis menjawab dua raka’at itu adalah shalat sunat fajar. Rasulullah tidak melarang. Ini menunjukkan dibolehkan shalat sunat sesudah shalat Subuh.

  • Penjelasan dengan Isyarat,

Contohnya penjelasan Rasulullah SAW tentang jumlah hari dalam satu bulan. Beliau mengangkat kesepuluh jarinya tiga kali, yakni 30 hari. Kemudian mengulanginya sambil membenamkan ibu jarinya pada kali yang terakhir. Maksdunya bahwa bulan itu kadang-kadang 30 hari atau kadang-kadang 29 hari.

  • Penjelasan dengan tulisan,

Contohnya Rasulullah SAW menyuruh juru tulis beliau menuliskan hukum-hukum mengenai pembagian harta warisan dan lain-lain.

  • Penjelasan dengan qiyas,

Contohnya Rasulullah SAW menjawab seorang penanya melakukan haji untuk ibunya yang sudah meninggal. Rasullullah bertanya, ‘bagaimana kalau ibumu punya hutang, apa kamu bisa membayarnya?. Hadits tersebut menqiyaskan mengganti haji orang tua dengan membayar hutangnya.

Apabila terdapat perkataan mujmal baik dalam qur’an maupun hadits, maka kita tidak menggunakannya, sehingga dating penjelasan. Seperti kata salat, zakat, haji, dan lain-lain yang dijelaskan oleh Nabi SAW. Tentang cara-cara melakukannya. Demikian pula tentang batas-batas harta yang terkena zakat.

  1. Kedudukan Mutlaq Dan Muqayyad Dalam Ushul Fiqih

Kedudukan mujmal dan mubayan dalam ushul fiqih hampir sama dengan nash dan dzahir, namun ada sedikit perbedaan, prisipnya mubayan dan nash memiliki makna yang jelas dikarenakan hanya memiliki satu makna, dan mubayan dan dzahir memiliki banyak makna, namun mubayan dari makna yang dimiliki tidak ada yang tegas satupun sedangkan dzahir dari banyak makna yang dimiliki ada salah satu makna yang lebih menonjol/bermakna tegas. Yang tergolong lafadz mubayan adalah lafadz dzahir dan nash. Tingkatan lafadz dari segi kejelasannya ada dua kelompok pendapat tentang tingkat dilalah lafadz dari segi kejelasan, golongan hanafiyah dan golongan mutakalimin. Menurut golongan Hanafiyah lafadz yang tergolong jelas dari urutan teratas adalah dzahir, nash, mufassar, muhkam. Dan lafadz yang tidak jelas khafi, muskil, mujmal, dan mutasyabih. Sedangkan menurut mutakallimin yang tergolong lafadz yang jelas hanya dua dzahir dan nahs dan lafadz yang tidak jelas mujmal dan mutasyabih.

  1. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan,

  • Mujmal secara bahasa : (المبهم والمجموع) mubham (yang tidak diketahui) dan yang terkumpul.
  • Mujmal dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, al-Mujmal adalah lafazh atau kata yang tidak jelas (global) artinya. Kedua disamping tidak jelas artinya, tidak pula terdapat petunjuk atau qorinah yang menjelaskan arti global dari kata tersebut. Jadi ketidak jelasan atau kesamaran arti kata al-Mujmal berasal dari kata itu sendiri bukan karena factor eksternal dari luar kata tersebut. Ketiga, jalan untuk mengetahui maksud Mujmal tidak dalam batas kemampuan akal manusia, tetapi satu-satunya jalan untuk memahami adalah melalui penjelesan dari yang me-mujmalkan atau dalam hal ini Syari’.
  • Ulama Ushul fiqih sependapat bahwa lafaz yang Mujmal tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, sebelum ada dalil lain yang menjelaskannya.
  • Mubayyan secara bahasa : (المظهر والموضح) yang ditampakkan dan yang dijelaskan.
  • Menurut istilah Ulama Ushul fiqih Mubayyan adalah apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.
  • Ulama Ushul fiqh sependapat bahwa tidak boleh ada penundaan bayan dari waktu pelaksanaannya. Alasannya, tidak mungkin Allah SWT mengungkap suatu hukum yang mujmal kemudian masuk waktu pelaksanaannya, sementara bayan terhadap hukum yang mujmal itu belum ada. Hal ini tidak pernah dan tidak akan dijumpai dalam syari’at Islam.
  • Lafaz Mujmal yang telah diberi penjelasan tidak lagi dikategorikan lafaz yang mubham.
  1. Refrensi

Ahmad, Zainal Abidin. 1932 H. Ushul Fiqh. Jakarta : Departemen Agama RI
Al-Anshari, Saikh al-Islam Zakaria.2015. Lubbul Ushul. Terj. Saiful Muhit dkk. Kediri: Lirboyo Press.
Amiruddin, Zen. 2006. Ushul Fiqh. Surabaya : Lembaga Kajian Agama dan Filsafat
Bakry, Nazar. 1993. Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta : Rajawali Press
Djamali, Abdul. 1997. Hukum Islam. Bandung : CV Mandar Maju
Faqih, Allamah Kamal. 2006. Tafsir Nurul Qura’an. Terj. Hikmat Danaatmajaa. Jakarta : Penerbit Al-Huda
Hasbiyallah. 2014. Fiqh dan Ushul Fiqh. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Karim, Syafi’i. 2001. Fiqh-Ushul Fiqh. Bandung : Cv Pustaka Setia
Khallaf, Abdul Wahab. 2002. Kaidah-Kaidah Hukum Islam : (Ilmu Ushul Fqih). Cetakan ke-8. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Mardani. 2010. Hukum Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
Rifai, Moh. Ushul Fiqh. Bandung : PT. Al-Maarif
Satria Effendi dan M. Zein. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta : Kencana
Syafe’i, Rahmat. 2010. Ilmu Ushul Fiqh, cetakan ke 4. Bandung: CV Pustaka Setia
Syafe’i, Rahmat. 2015. Ilmu Ushul Fiqh. Cetakan ke-5. Bandung: CV PustakaSetia
Syarifuddin, Amir. 2012. Garis-Garis Besar Ushul Fiqh, Cetakan ke-1. Jakarta: Kencana